Bahkan, jauh sebelum seorang Pecco Bagnaia besar di Ducati, aku sudah berada di armada ini. Dulu, banyak hal aku dengar tentang Ducati yang tidak bisa bersaing. Motor yang katanya punya power super tapi tidak bisa dikendalikan; motor yang katanya cocok-cocokan.
Era Dovizioso sepertinya jadi pertama kali aku mulai ngikutin MotoGP dengan pemahaman yang lebih baik dari cuma sekadar nonton. Masa itu, aku sudah tidak punya banyak kesibukan di kampus, sehingga punya waktu lebih untuk akses info soal MotoGP.
Di era Dovi, Ducati perlahan mulai bangkit dan sukses jadi juara dunia konstruktor. Dia seolah jadi ikon Ducati kedua setelah Stoner. Sampe ada sebutan Desmodovi karena dia bener-bener bisa mengendalikan Desmosedici.
Terus berlanjut sampe dia punya konflik internal dengan Ducati dan akhirnya memutus kontrak. Posisinya diganti Jack Miller. Dulu aku selalu jagoin mereka semata karena mereka adalah rider utama Ducati. Dan citra keduanya positif, nggak problematik.
Sampai pada tahun 2021, masuklah Pecco di tim utama, tandem bareng Miller. Di tahun itu juga, mulai bermunculan platform streaming balapan dan sampai kini jadi punya langganan link ilegal. Haha ini bukan hal yang baik, sih. Tapi seenggaknya nonton secara legal adalah sesuatu yang sudah aku semogakan untuk musim 2025.
Nah, mulai di zamannya Pecco, MotoGP lumayan naik lagi setelah dihantam Covid-19. Salah satu alasannya bisa jadi karena doi jebolan Academy VR46. Ditambah Ducati mulai menemukan arah pengembangannya.
Musim 2021 jadi tahunnya Quartararo VS Pecco, di mana Quartararo yang pake Yamaha jadi jurdunnya. Selama jadi penikmat MotoGP, aku gak pernah punya kecenderungan ke rider kecuali Pedrosa.
Sampai akhirnya menemukan sosok Pecco. Bermula dari "yang penting Ducati", akhirnya sedikit-banyak terpapar soal bagaimana Pecco berproses.
2021, doi sering banget crash. Kondisi mentalnya juga belum mateng. Dia punya masalah soal pemilihan ban dari kelas Moto3.
2022, awal musim dia juga masih sering crash. Dia belum klop sama Desmosedici. Nggak expect, dia jadi berubah banget di fly away round. Jarang crash dan beberapa kali juara. Sampe akhirnya, titel 2022 jadi puncaknya. Musim ini, Ducati bener-bener digdaya. Gak cuma juara dunia konstruktor, tapi akhirnya setelah 15 tahun puasa gelar, Ducati juga menang rider world champion lewat Pecco. Terlepas dari banyaknya drama team order, Ducati dan Pecco deserve it, sih!
2023, dominasi Ducati masih belum ada yang ngalahin. Mereka satu-satunya tim yang nurunin 8 rider sekaligus. Bodo amat pabrikan lain bilang kemaruk lah, Ducati Cup lah. Jagoan mah bebas! Mereka punya uang, punya insinyur keren, punya binaan rider-rider muda banyak pula.
Pecco di sini juga makin mateng. Motornya bener-bener menyesuaikan dengan gaya balapnya.
2024, Pecco masih jadi rider utama Ducati. Bebannya makin berat karena tuntutan pengembangan motor. Musim ini menuai banyak pelajaran banget, sih. Terutama soal ikhlas dan lapang dada. Mentalnya doi ku akui jempol, deh. Meskipun kadang terkesan banyak alesan. Haha. Dia punya citra positif. Kalo kataku, anak pesantren lah dibanding rider lainnya.
Belajarnya gak cuma dari Pecco tapi juga Ducati. Mereka bener-bener main marketting dengan ngontrak Marquez.
2025, baru di seri perdana, Thailand. Ngerasa kayak spotlight kenapa banyak di Marquez ya? Padahal jurdunnya si Martin. Dan rider acuan pengembangan di Ducati itu Pecco, loh!
Ya ampun, ujiannya Pecco belum kelar, ada aja. Kali ini ujiannya adalah teammate-nya. Marquez yang secara pasar jelas udah tinggi. Dan dia nih strategi psikology war'nya ngeri juga, loh. Tapi, aku bisa ambil positifnya : pasar MotoGP juga makin naik.
Aku, berhubung ngikutin gimana proses dan perkembangan Pecco, jadi punya keberpihakan ke doi. Meskipun secara keseluruhan tetep ke MotoGP nya.