Hari ini Kamis, 9 Mei 2024 merupakan tanggal merah bertepatan untuk memperingati kenaikan Isa Almasih. Tentu suamiku sedang libur kerja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hari liburnya dengan di rumah saja. Aku ingin memanfaatkan hari liburnya dengan healing kalau bahasa sekarang mah. Kami memutuskan untuk menghabiskan hari libur dengan pergi ke pantai di Gunungkidul. Pantai yang kami tuju adalah Pantai Watu Kodok.
Perjalanan menuju Pantai Watu Kodok menghabiskan waktu perjalanan ±1,5 jam dari daerah rumah kami di Godean. Kami melakukan perjalanan menggunakan motor. Berangkat pukul 06.30 wib setelah sarapan. Ini tidak sesuai dengan rencana awal yang ingin berangkat lebih awal. Kami sempat dilema karena aku sedang tidak enak badan. Tiba-tiba semalam flu, sesekali mual dan kepala terasa berat. Suamiku ingin aku istirahat tapi di sisi lain aku masih ingin melanjutkan rencana karena kondisiku sudah cukup baik meskipun tidak seoptimal biasanya. Akhirnya aku memintanya untuk tetap berangkat. Rencana ini sebenarnya sudah lama diinginkan tapi ada hal lain yang lebih prioritas sehingga belum kunjung direalisasikan. Karena kondisi badanku yang kurang fit dan pilihan pantai di Gunungkidul akan banyak maka kami mencari pantai dengan jarak tempuh tidak sampai 2 jam, jalan yang dilalui aman dan nyaman, jarak parkiran ke pantai dekat. Bertemulah kami dengan Pantai Watu Kodok. Dalam perjalanan kami sempat berhenti sekali di sebuah masjid cantik, bersih dan wangi untuk sekedar mengistirahatkan badan sejenak.
Setibanya di pantai, kami bersyukur bahwa syarat pantai yang ingin kami kunjungi benar adanya. Oiya, tiket masuk pantai berjumlah Rp10.000,-/orang ditambah biaya parkir sejumlah Rp3.000,- untuk motor. Ada cerita menarik dalam pertiketan ini, kami sebenarnya bebas dari biaya masuk pantai. Jadi, di pemberhentian loket tiket kami merasa ragu dan menganggap bahwa para petugas sedang pungutan liat meskipun memang berseragam. Kami memang ikut mengantri seperti kendaraan lainnya tapi kami berhasil menembus batas bahkan ketika mendahului antrian kami sempat ditanya oleh petugas, "sudah bayar?". Kami menjawab, "Sudah, (di depan)". Di depan tersebut kami sampaikan dengan pelan bukan bermaksud berbohong namun kami masih menganggap bahwa di depan akan bertemu loket lagi yang lebih pasti. Ternyata tidak. Namun, perjalanan dari loket masuk ke pantai masih menempuh jalanan yang cukup besar dan jauh. Tidak terlihat seperti daerah kawasan pantai yang pintu loketnya terdapat gapura. Bagaimana jika orang-orang yang melewati jalan tersebut yang ditagih untuk membayar karcis tidak bermaksud ke pantai, rugi dong. Setibanya di pantai kami hanya membayar biaya parkir dan di situlah kami menyadari bahwa ternyata yang kita temui bukanlah petugas pungutan liar.
Indah sekali pantainya. Sesampainya di sana sudah banyak tenda yang berdiri. Rupanya banyak yang camping dan bermalam. Seru sekali. Parkiran dengan bibir pantai tidak jauh. Pantainya terlihat leluasa karena tidak ada batu karang di tengah sehingga ombak yang datang terlihat besar. Kami tetap bisa bermain air namun harus tetap hati-hati. Pasirnya tentu berwarna putih. Ah, indah sekali. Tanpa berlama-lama kami langsung bermain air.
Jika di pantai sebelumnya yaitu Pantai Jungwok anak kami masih terlihat menangis ketika terkena ombak yang mana ketika itu bepergian tanpa suami dan hanya dengan mertua juga ipar maka di hari ini aku tidak melihat tangisan itu. Ekspresi wajahnya biasa saja ketika badannya dicelupkan di air.
Kami bermain air dan pasir kurang lebih selama 1 jam lalu kami membersihkan diri. Usai membersihkan diri kami memesan mie rebus untuk sekedar menghangatkan diri dan makan bekal makanan yang kami bawa. Tips low budget ketika ke pantai bagi kami adalah dengan membawa bekal makanan sendiri meskipun sedikit riweh mempersiapkannya.
Lalu, kami pulang. Pengalaman ke pantai bertiga yang menyenangkan. Alhamdulillah. Terimakasih, suami.