Aku ingat saat itu usiaku 19 tahun, kali pertama pula menikmati hingar bingarnya kota besar, kali pertama nyuci baju sendiri, kali pertama makan hasil keringet sendiri, sampai sampai tempat buat tidurpun aku beli sendiri.
Yang paling seru, klinik tempatku bekerja dekat dengan pantai. Tak heran setiap pulang bekerja aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar membasahi kaki atau hanya duduk menikmati angin malam pantai pulau dewata.
Seperti biasa, aku kepantai (lagi). Hingarnya diskotek menutup kesyahduan debur ombak, tapi itu tak mengusikku. Pikiranku masih menjelajah alam raya dengan khayalan tolol kekanak-kanakan.
Kubayangkan aku berbincang dengan pasir, berlarian diatas langit, makan permen awan, berenang di lautan coklat. Enak emang. Makanya aku bayangin
"Lagi mikir apa bahagia gt kak ?"
Kagetku luarbiasa, kutoleh siapa yanb berbicara. disampingku sudah ada laki laki kecil berusia 8 tahun, perawakannya agak kurus, rambut dan kulitnya terbakar matahari. Tanpa Kujawab aku hanya tersenyum. Diapun tersenyum balik dengan bahagianya. Disitulah aku pertama kali bertemu dengan kadek
Setiap malam pukul 7 aku dan kadek selalu berjanji untuk bertemu di tempat yang sama. Berbulan bulan sudah berlalu, dari situ aku mengetahui kadek tidak bersekolah, bapaknya masuk penjara gara gara gebukin emaknya yang selingkuh sampai mati. Dan si kadek sekarang tinggal sama neneknya. Aku tak pernah mencari tau dimana rumah kadek. Kita hanya selalu berjanji di tempat yang sama pukul 7 malam.
Ada saatnya aku harus lembur sampai pukul 12 malam. Aku hanya iseng untuk melihat tempat kami biasa bertemu kupikir kadek pasti tidak ada. Tapi, Kulihat sesosok anak kecil yang tengah duduk memandang laut. Kadek masih menungguku. Kudatangi dia, sambil meminta maaf dan membawa susu strawberry kesukaannya. Kadek tidak marah dia tersenyum, dia bilang gara gara aku tak kunjung datang dia bisa memungut botol bir dan botol minuman yang dia pungut di pantai untuk dijual lagi, dan dengan bangganya menunjukkan 2 kantong besar hasil jarahannya yang aku kira dia takkan kuat untuk membawanya sendiri.
Aku begitu kagum dengan pribadinya, dia tak mau dikasihani, dia selalu menolak jika aku atau orang memberinya uang. Tapi kalo ada yang kasih botol bir langsung disautnya. Kadang juga dia mengantar berkeliling bule bule yang sedang berwisata. Dengan bahasa inggris asal yes no serta bahasa isyarat dia bisa mendapatkan tips 50 dollar dari mereka. Kadang juga dia bantu tukang bersih bersih pemda buat bersiin pantai. Sekalian jarah botol bir. Begitulah aku mengenal sosok kadek.
Tak terasa sudah 6 bulan waktu berjalan dengan rutinitas yang selalu kita lakukan. Tiduran di pantai, bercerita ttg karangan kita, berbagi imajinasi. Sampai pada suatu ketika, aku dipindah tugas keklinik yang berjarak sekitar 10 km dari pantai kita biasa bertemu. Tempat tinggalpun disediakan oleh mess karena kebetulan aku naik pangkat saat itu. Kupikirkan untuk membeli motor dan bisa selalu pergi ke pantai. Tak akan ada masalah pikirku saat itu.
1 bulan pertama setelah kepindahan tak ada yang berubah, hingga di bulan ke2 aku harus lembur hampir setiap hari karena rekan kerjaku cuti melahirkan selama 3 bulan. Fisikku yang terforsir ditambah dengan masalah yang bertumpuk membuatku lupa akan kehadiran kadek. Tak terpikirkan sama sekali tentangnya. Semua termakan rutinitas tolol yang menggrogoti hal penting dalam esensi hidup.
Hari itu aku cuti selama 2 hari, tanpa pikir panjang aku menuju kepantai, kutengok jam masih menunjukkan pukul 3 sore hari, masih ada waktu untuk membeli cake strawberry dan susu strawberry kesukaan kadek sebagai permohonan maafku. Tepat pukul 4 aku sudah dipantai, tetap dengan imajinasiku. Aku masih menunggu kadek
Hari sudah menunjukkan pukul 12 malam, kadek tak kunjung datang. Begitupun seterusnya setiap hari aku terus kepantai selama 2 bulan kadek tak terlihat dipantai.
Aku mulai mencari, bertanya kebeberapa orang yang mengenal kadek. Jawabannya tetap sama. Kadek tak terlihat. Dia bagai hilang ditelan bumi
Sampai akhirnya, aku harus meninggalkan bali dan kembali kekota asalku. Untuk terakhir kalinya dengan harapan yang sangat tipis aku menuju kepantai. Membayangkan sosok kadek yang menyapaku dengan bahagianya.
"Kak aku kangen" suara yang tidak asing menyapaku. Aku menoleh dan menangis sejadi jadinya meminta maaf pada kadek karena tak memenuhi janji. Kadek tersenyum seolah memaafkan semuanya. Kami pun kembali bersama, bercerita, tapi kami tidak menyentil sedikitpun kenapa saat itu aku ataupun kadek menghilang. Kami tetap berimajinasi sesuka kami, tertawa bersama aku merasa bahagia. Sampai akhirnya aku bilang hari itu hari terakhirku bisa bertemu dengannya. Raut wajahnya tegang, dan dia mengucapkan selamat tinggal, berpesan agar tak melupakannya. Aku menangis, anak kecil ini begitu dewasa, tak seperti seusianya.
"Nis kamu ngapain ?" Teman kerja lamaku menyapaku. Aku menoleh dan menuju kearahnya sekedar untuk menyapa, dia kenal dengan sosok kadek karena kadek merupakan tetangganya. Kujelaskan aku sedang berbincang dengan kadek sebagai salam perpisahan.
Ekspresi wajah temanku mengernyit,
Aku tak mengerti apa yang di bicarakan, ku jawab dengan senyuman dan mengatakan kalau aku baik baik saja.
"Nis aku udah nyoba hubungi kamu, tapi no kamu gak aktif, aku juga udah hubungi mbak nana, buat kasih pesan ke kamu, aku pikir kamu sudah tau"
Aku semakin bingung dengan kata katanya
"Nis, kadek udah meninggal 5 bulan yang lalu. Kata orang dia mati kelaparan dengan neneknya, jasadnya ditemuin 3 hari setelah dia meninggal"
Aku diam, degup jantungku begitu kencang, tanganku basah. Aku duduk lemas tak percaya, kutoleh sosok kadek yang baru saja berbincang padaku. Tak ada.....