Malam malam berlalu seperti biasa, sepulang kerja aku masih menyempatkan untuk mampir dulu di warung yang saban hari aku santronin. Cuma untuk nikmatin gorengan harga Rp. 500 dan kopi seharga Rp 2.000, tak lupa juga rokok eceran 5000 dapet 4. Sampai pukul 11 malam, lelahku mulai terasa, sedotan rokok terakhir pun aku habiskan dengan hembusan yang ku enak-enak an sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk pulang.
Selama perjalanan pulang, ujung mataku diusik sesosok putih yang berada di tenggah jalan. Hampir saja ku tabrak tapi ku belokkan sedikit jadi gak kena tabrak. Kuperhatikan sosok putih itu, seperti sedang tertidur. Bulunya putih, perutnya buncit, dan kakinya kurus. Kucing kecil yang munkin di buang oleh empunya. Terlihat dari jenis bulu dan warnanya yang tidak seperti kucing kampung kebanyakan.
Kupinggirkan motorku, kuangkat siputih yang sudah tertidur ditengah jalan. Agar tak di tabrak orang pikirku. Setelah kupindah di pinggir, dengan mengeong lemah dia menatapku. Seolah ingin berbicara dan marah padaku. Kembali dia di tengah jalan. Tertidur lagi
Kuamati dia, dengan tenang tanpa takut tertidur di tengah ancaman. Kuambil langkah lagi, kuangkat lagi sampai 5 kali. Siputih tetap kekeh kembali ke tengah jalan.
Aku menyerah, kustater motorku dan melanjutkan perjalanan pulangku.
Tak selang berapa detik, Suara decitan motor dan teriakan wanita membuat ku menoleh. "Ah, mati" siputih sudah di bawah ban, lengkap dengan darah dan tubuhnya yang hancur.
Air mata menetes, tunggu dulu. Air mata siapa ? Ku toleh kaca spion. Air mata mengalir deras dari mataku. Tanpa kuketahui kenapa.
Kupilih untuk segera pergi, pulang menikmati kasur selamanya. Isi otakku berputar, mempertanyakan kenapa air mata terus saja keluar.
Kubayangkan siputih, dengan perutnya yang buncit dan bau feses. Dia tau, tubuhnya tak lagi bertahan dalam dunia. Dia kesepian dibuang oleh tuannya, di tinggal induknya. Dia kelaparan berhari hari, mengeong ke manusia manalagi tak ada beri makan dia, belum lagi bertarung dengan kucing lainnya untuk sebuah tulang ikan yang kadang sama manusia pun di makan sampai habis. Dia tau dia akan mati, tapi Hari ini dia memilih mati dalam tidurnya.
Tapi, aku menghancurkan impian mati dalam tidurnya.