di hari minggu setelah berdandan dan memakai minyak wangi,
Tuhan masih orang yang sama,
aku mengucap syukur atas makanan yang Kau berikan,
keselamatan dalam perjalanan, pekerjaan yang aku tidak yakin aku inginkan..
di bawah bunyi musik dan timpa tari bersama rebana,
aku meminta hal yang sama dalam lima tahun:
campuran menjadi jenazah atau hati yang lapang—Tuhan pernah merasakan semuanya
di bawah musik pengampunan dosa,
tantrum, tantrum, tantrum,
seperti anak lima tahun: aku tidak meminta maaf
aku bertanya kepada-Nya: dan jika memang,
Dia mengasihi dan memahami: mengapa yang terjadi bukan sesuai cita-cita
Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus:
maka terjadilah seperti yang Engkau inginkan,
sebab aku percaya, Kau mengetahui kapasitas
dan tidak pernah salah.
Lantas, mengapa dunia begitu lambat sementara orang lain sedang menikmati angin tahun baru dengan kupu-kupu? Aku mencabik diri, seperti roti dan darah—memaksa memberi pipi kanan tiap ditampar pipi kiri,
jika memang Tuhan mengasihi,
dan bukan kehendakku ya, Bapa.
Amin.