Mona
Pagi ini, aku akan membuka pintu lebar-lebar sambil menyunggingkan senyum termanis yang pernah seisi kota ini lihat. Lalu, dengan ransel bertengger di bahu, aku berjalan menyusuri trotoar yang penuh asap knalpot dengan binar seakan sedang mendaki hutan pinus--lengkap dengan nyanyian burung mengiringi gumamanku. Kemudian setelah menyeberang, kusapa pak polisi yang tengah melamun memerhatikan mobil yang berjalan disitu-situ saja. Wajahnya akan berubah ceria karena ada sepotong salam yang ditujukan padanya, lalu kami tersenyum dan aku melanjutkan perjalananku. Begitupun dengan abang gorengan, tukang ojek, ibu sapu, dan semua yang menghiasi keindahan hari ini. Aku akan menabur benih-benih keceriaan, mungkin dengan sesuap pujian atau sepotong kue tak seberapa yang dikemas dengan tulus. Lalu dunia akan menyambut remah-remah kebaikanku dengan dekap yang tidak dapat kugambarkan dengan kata-kata.
Pagi ini aku akan membuka pintu lebar-lebar sambil menyunggingkan senyum termanis yang pernah seisi kota ini lihat. Lalu dunia akan menyambut remah-remah kebaikanku dengan dekap yang tidak dapat kugambarkan dengan kata-kata.
Ucapku di depan cermin, lalu menangis sekencang-kencangnya.















