Geramannya berhembus kencang menerpa wajahku, nafasnya memburu, wajahnya terlihat begitu gelisah mungkin ia masih khawatir dengan ribuan pasukan yang masih mengejarnya.
Delapan matanya yang begitu mengkilap tak henti-hentinya menatap wajahku. Wajahnya yang dilapisi lendir tipis, berkilau tertimpa cahaya.
GRRRRR, HISHHHH, FFFUUHHHMM
Dia melenguh, kemudian terduduk, terlihat ia begitu lelah. Setelah meloncati berbagai gedung, menghalau puluhan mortar, ratusan misil dan ribuan peluru yang ditembakkan oleh para tentara yang berusaha menyelamatkanku dari genggamannya.
Setelah sejenak kuperhatikan, tiba-tiba aku merasa iba melihatnya, puluhan luka dengan darah berwarna biru mengalir disekujur tubuhnya. Tak henti-hentinya ia melenguh seperti hewan yang kesakitan. Ia kibaskan ekornya kesana kemari, lalu kemudian ia baringkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di sekelilingku. Ingin sekali aku membantunya, namun ia terlalu besar, bahkan sangat besar, aku hanyalah wanita seukuran cakar tangannya.
Apapun yang dia alami pastilah sangat berat, tergurat dari wajahnya yang kini terlelap. Mungkin sebelumnya dia hanyalah makhluk ciptaan Tuhan biasa seperti aku, seekor hewan atau bahkan mungkin seorang manusia. Sikapnya dan tingkahnya, mencerminkan sebuah perilaku familiar yang sepertinya sering aku jumpai.
Entah mengapa aku merasa tidak takut lagi kepadanya, ingin sekali aku menyentuh wajah damainya yang sedang tertidur. Perlahan ku dekatkan telapak tanganku ke wajahnya, dengusan nafas yang kencang berhembus sempat membuatku ragu untuk menyentuhnya. Namun setelah mengumpulkan keberanian kembali akhirnya aku dapat menyentuhnya, dan mengelus wajahnya yang licin.
Benarkah dongeng itu, pernahkah kau mendengarnya? Tentang seorang putri yang tinggal dengan seorang monster, lalu kemudian jatuh cinta? Lalu dengan sebuah kecupan lembut setulus hati ia berubah menjadi seorang pangeran dan akhirnya hidup bahagia selamanya. Bilakah itu terjadi kita berdua juga bisa hidup bahagia bersama?
Aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kupejamkan kedua mataku dan mencoba mengingat kembali bagaimana ia melindungiku dari bahaya, bagaimana ia bisa membawaku kesini. Kukecup dirinya, lalu kemudian ia terbangun dengan satu persatu membukan kedelapan matanya. Ia mengangkatku dengan tangannya, seiring ia berdiri dengan kedua kakinya. Ia menatapku beberapa saat, tanpa sedikitpun berkedip. Ia kemudian mendekatkan diriku pada wajahnya.
Ia membuka mulutnya, memperlihatkan puluhan taringnya yang berbaris rapi dan lidah ungu yang besar. Di melemparkanku kedalamnya.