Barangkali kita memang perlu jeda, terutama pada gairah yang menggebu, pada hidup yang menderu, pada sengkarut soal yang tak akan bisa kita pecahkan. Pada jeda itu kita bisa berharap–atau tidak berharap, sekadar membuka peluang stop pada sesuatu yang belum usai–kita bisa kembali kepada sesuatu yang sudah lama kita lupakan: harum pagi, bening embun, atau bau tanah basah sehabis hujan yang sebentar. Hanya pada jeda kita bisa meresapi, mungkin malah bisa memasuki keheningan—barangkali kesunyatan: sebuah sumber energi untuk kita bisa mengambil jarak pada yang ada dan tiada.













