Sudut kota
Setiap tempat mempunyai kesan tersendiri, tak peduli seberapa pandang tempat itu dari manusia, terkadang menyakitkan, dulu punya ide untuk meninggalkan sebuah kota karena sesuatu dan alasan nya tak masuk akal, sampai... Aku tak menjawab jika ada yang menyakan,sudah ku tutup rapat, kecuali dengan beberapa orang.
Tapi, aku tetaplah aku, berpegang teguh pada prinsip yang mengekang sebagian orang.
Apakah aku yang terlalu mengenang Sudut kota itu? Semesta, adilkah? Terlalu riuh untuk mengendap disebuah sudut kota. Kenapa ada aku disitu? Kenapa kenangan itu harus tercipta? Apakah ditakdirkan atau hanya aku yang menginginkan sebuah diksi yang tak pernah tuntas, lembaran itu belum berakhir, walaupun kita telah mengakhirinya, tulisan ini masih tentang kamu, belum yang lain, belum kuganti tokoh utamanya.













