Hey, V!
V, teman saya sejak SD. Kami bersahabat mulai kelas 1 SMP. Bisa dikatakan, dia adalah orang yang tahu saya--sepenuhnya. Hingga 25 ini, kami masih berteman meskipun tidak pernah ada jadwal khusus bertemu, bermain apalagi curhat. Namun seperti biasa, ketika bertemu tidak pernah ada batas. Suasana persis seperti zaman SMP. Ia selalu menjadi tempat pulang. Seperti pertemuan siang kemarin.
***
“Mau minum apa? atau makan apa? Nanti kita beli. Aku lupa minuman kesukaan kamu sih”
Ujarnya sambil memalingkan muka ke jendela mobil. Saya tersenyum. Pernah, saya takut jika saya tidak tahu apa-apa tentang sahabat saya. Makanan, minuman dan warna kesukaan. Film yang sangat disukai. Hingga akhirnya, saya memaksakan diri saya terjun mencari tahu: Biar diam-diam saya memahaminya. Namun ternyata salah, dari sahabat saya satu ini. Saya belajar untuk tidak--atau belum tahu. Untuk belajar bahwa itu sebuah kewajaran.
“Kamu suka baca novel, kan? Duh lupa! Novel genre apa yang disukai. Tapi salah satunya aku punya yang New York Best Seller. Nanti kita ketemu, aku bawa ya!”
Ia bertanya dengan mata yang berbinar. Lagi-lagi, saya tersenyum melihat tingkahnya. Tulus.
V masih menjadi dan akan tetap sahabat saya paling terbaik. Ia masih dengan ciri khas polosnya. Ia selalu ingat apa-apa yang pernah saya ceritakan. Ia masih menjadi orang yang kaku menunjukan perhatian dan sayang. Ia yang dengan senang hati membeli jajanan pinggir jalan untuk saya. Yang memberikan payungnya pada saya padahal dia bisa basah kuyup. Ia yang sorot matanya langsung redup ketika saya bilang,
“Aku pulang karena sakit, Mey. Di punggung. Saya kira awalnya baik-baik saja, ternyata nggak”
Tidak ada sepatah kata. Namun tangannya menggenggam jemari saya. Erat.
“Kalau kamu nikah, gak ada alasan aku ga datang deh. Iya nggak? Buat sahabat sih pasti. Asal jangan di Tokyo aja. hahahahaha”
“Jauh amat Tokyo! Rumah kita aja jauh dari mana-mana loh. Lupa? hahaha Kamu pun, kapan sih nikahnya tahun ini? Apa mau sama kita, 30 Tahun keatas? Kan aku mau datang! Mau jadi panitia di Gereja juga”
“Jadi panitia? Itu pasti!”
Ada satu hal yang selalu saya suka darinya. Selalu ubah kekhawatiran menjadi hal yang biasa saja. Bahwa semua akan baik-baik saja. Semua bisa dilalui.
“Eh? Suka jambu gak? atau pisang? hm... manggis? Aku bawa dari rumah. Katanya, makanan dari rumah itu beda tahu rasanya. Mau ya? Tahu ga beda rasanya kenapa?”
“Nggak tahu. Kenapa?”
“Ya karena lebih enak. kan gratis! hahahahaha!”
V, yang biasa saya panggil Mey. Jika boleh jujur, saya pengin sekali minta maaf untuk komunikasi kita yang hanya sebatas like dan seen di Instagram. Untuk jarangnya saya menanyakan kabar, tapi saya selalu berdoa sama Tuhan supaya kamu selalu sehat, banyak orang yang sayang. Terima kasih ya Mey untuk segalanya. Kamu terbaik. Bersama kamu, saya nggak pernah takut sendiri. nggak pernah takut saya punya masa lalu. nggak pernah takut mengambil keputusan-keputusan besar. Saya sayang kamu, sayang sekali.
Janji ya, setelah saya sembuh kita ke Museum Geologi!
Bandung, 22 April 2019 Wida.














