Antara Menjadi Tiang dan Menjadi Peluk: Catatan Seorang Ibu yang Belum Pernah Menikah
Banyak orang melihatku sebagai wanita yang sibuk. Di antara deru mesin fotokopi, atau di sela-sela tumpukan laporan keuangan yang harus aku rapikan setiap bulannya. Mereka mengenalku sebagai sosok yang mandiri, yang logikanya selalu selangkah lebih maju, dan yang bicaranya tegas jika menyangkut prinsip.
Tapi di dalam rumah ini, di balik pintu yang tertutup rapat dari hiruk-pikuk dunia luar, aku punya nama lain.
Aku adalah "Ibu".
Bukan karena aku sudah melangsungkan pernikahan atau pernah melewati proses melahirkan. Garis takdir menarikku ke peran ini lebih cepat dari yang pernah aku bayangkan. Sejak Mama dan Bapak berpulang di tahun 2025, aku tidak punya pilihan selain tumbuh menjadi rahim bagi keberlangsungan rumah ini.
Keponakan-keponakanku adalah duniaku. Mereka tinggal bersamaku, tumbuh di bawah pengawasanku karena orang tua mereka sedang berjuang di tempat lain. Bagi mereka, aku adalah tangan yang menyuapi, pelukan yang menenangkan saat mereka menangis, dan suara yang mendongengkan cerita sebelum tidur. Aku mencintai mereka dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata; sebuah cinta yang lahir dari keharusan, namun tumbuh menjadi pengabdian yang tulus.
Di rumah ini, aku juga adalah "Bendahara".
Setiap rupiah yang masuk dan keluar harus melewati pertimbanganku. Aku harus memastikan dapur tetap mengebul, kebutuhan rumah tercukupi, dan masa depan adik-adikku tetap terjaga. Aku harus menjadi manajer yang dingin sekaligus kakak yang hangat dalam waktu bersamaan. Sering kali aku harus menekan keinginanku sendiri, mengubur dalam-dalam rasa lelahku, hanya agar pilar-pilar rumah ini tidak goyah.
Kadang, di saat sepi, aku menatap cermin. Aku melihat sisa air mata yang baru saja aku hapus karena merindukan almarhum orang tuaku. Tapi anehnya, sedetik kemudian aku bisa langsung tegak berdiri, memoles senyum profesional, dan melayani orang-orang seolah tidak pernah ada beban seberat gunung di pundakku. Aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak bisa menangis, tapi tahu kapan harus berhenti menangis karena ada orang-orang yang bergantung padamu.
Aku menulis ini untukmu seseorang yang mungkin suatu saat nanti akan Allah hadirkan untuk berjalan di sampingku.
Aku ingin kamu tahu bahwa aku adalah wanita yang sudah "selesai" dengan ego-nya. Aku sudah terbiasa menjadi tempat bersandar, menjadi pengambil keputusan, dan menjadi pelindung bagi keluargaku. Aku tidak mencari seseorang untuk memikul beban ini untukku, karena aku sudah cukup kuat untuk membawanya sendiri.
Yang kucari adalah "Rumah".
Seseorang yang cukup dewasa untuk memahami bahwa di balik ketangguhanku sebagai "ibu" dan "bendahara", aku tetaplah seorang wanita yang butuh didengar. Seseorang yang tidak merasa terancam oleh kemandirianku, tapi justru bangga karena aku telah membuktikan kesetiaanku pada keluarga. Seseorang yang bisa memberiku ruang untuk menjadi Salma yang biasa, yang boleh lelah, dan yang boleh bercerita tentang hal-hal kecil yang selama ini aku simpan sendiri.
Allah itu luar biasa baik. Dia memberiku pundak yang lebar untuk menampung semua amanah ini. Dan aku percaya, Dia juga sedang membimbing langkahmu untuk menemui wanita yang sudah teruji oleh badai, namun tetap memilih untuk tetap berdiri dan mencintai.
Sampai waktu itu tiba, aku akan tetap di sini. Menjaga cahaya di rumah ini tetap terang.
— Kupang, 2026.


















