Toples perasaan
Tahun ini seperti Desember yang tergenang hujanādingin, dan mencari perlindungan. Pada telapak tangan yang berdoa dan memejam, ada juang yang benci menyerah dan ada langkah yang enggan mengenal lelah.
Tahun ini seperti gelas yang tiba-tiba pecah, ada tumpahan emosi yang menyayat nurani dan pelajaran besar perihal bersearah antara kesabaran dan pasrah. Mimpi-mimpi tertunda jauh, tapi nyala harapan tetap tumbuh dalam tangisan yang terpendam di sudut hati. Terisak dalam hening dan basah dalam pejam. Percaya bahwa ditunda, sebab hendak disempurnakan oleh Tuhan.
Tahun ini beberapa garis takdir bertaut tak sengaja, menjadi jalinan indah. Meneduhkan dalam jarak yang masih belum bisa direngkuh. Terasa ajaib dan membuat hati kehilangan bahasa untuk menjelaskan makna baiknya semesta. Bahwa setiap perkenalan menemukan hikmah pelajaran.
Tahun ini seperti suara ombak dan angin yang bersatu, impian dan kepasrahan sedang melebur dalam kumpulan doa yang harap-harap dan cemas. Lilin ulang tahun yang pilu telah padam, ditiup dengan banyak pendewasaan. Bahwa bijaksana sesekali harus dipaksakan.
Tahun ini seperti langit mendung berwarna abu-abu. Masih banyak sketsa takdir yang menunggu tersingkap tabir sebagai sebuah lukisan yang mewujudkan mimpi-mimpi baik. Tahun ini, aku masih terus bertumbuh, dengan banyak perbaikan dan nasihat yang menguatkan. Tahun ini aku menangis dan bersyukur sebab mampu melaluinya dengan tabah.
Semoga pada tahun dua ribu dua puluh satu, kebaikan meliputi kita yang senatiasa percaya bahwa;
Tuhan senantiasa memberi yang terbaik, akan, terus dan selalu.
Tetaplah hidup dan teruslah bersyukur, semoga kamu senantiasa sabar ya diriku! :)
Pagi minggu, 20 Desember 2020 09.25














