Istriku memang pelupa, sering banget dari lupa kunci, lupa kalau lagi masak sampai panci gosong, lupa naruh barang, dan lain-lain. Tapi itu sama sekali tidak mengurangi nilainya dariku sebagai orang yang amat bersyukur ditakdirkan menikah dengannya.
Melalui tulisan ini, aku ingin sekali mengabadikan rasa syukurku agar nanti - kalau lagi sebel karena dia lupa lagi - aku tahu, aku selalu punya alasan yang lebih besar untuk tetap mencintainya.
Agar tulisan ini juga bisa dibaca siapapun yang sedang dalam perjalanan mencari pasangan hidup, yang dilanda ketakutan "salah pilih pasangan".
Karakter itu akan melekat, kita nggak akan bisa mengubah pasangan kita karena cinta, nggak akan bisa mengubahnya sehari semalam. Untuk itu, sejak awal. Sadari bagaimana karakternya. Aku pun sulit mengubah karakter istriku yang sering lupa, akhirnya aku berdamai dengan mengubah kunci-kunci rumahku dengan kunci elektronik. Aku yang menempatkan dan mengatur barang-barang di rumah. Menyiapkan keperluanku dan keperluannya jika bepergian. Dia juga mungkin sulit mengubahku pada hal-hal yang ia kurang berkenan. Tapi, ia mampu menerimaku yang demikian itu bukan hal yang mudah. Bukankah ia luar biasa? Ia berlapang dada menerimaku yang penuh kekurangan. Bukankah ia begitu luas penerimaannya?
Sembilan tahun ke belakang, perjalanku dengannya penuh dinamika. Setiap tahun selalu ada. Dan obrolan kami beberapa waktu terakhir menyimpulkan bahwa kami selalu berhasil melewatinya, dan hikmahnya, setiap dinamika itu membangun pondasi keluarga kami semakin kuat. Ibarat kata, mau bikin "rumah tangga" 100 lantai sama 2 lantai, tentu pondasinya berbeda. Kami menyadari bahwa mimpi kami berdua, sejak awal kami membuka pembicaraan sebelum menikah, mimpi kami begitu besar. Kini kami sadar kalau mimpi besar itu konsekuensi-nya mahal sekali untuk bangun pondasinya. Mirip sekali kayak bangun rumah. Di tahun kesembilan ini, ternyata kami masih bangun pondasi. Jadi, kalau kamu punya mimpi - carilah pasangan yang bersedia untuk ikut bersama-sama menanggung risiko dari mimpi itu, tidak hanya bersedia mewujudkannya, tapi juga menanggung risikonya :)
Salah satu hal terbaik yang kami miliki saat ini adalah kepercayaan. Aku percaya dia mampu, begitupun sebaliknya. Aku percayakan semua hal kepadanya, begitupun sebaliknya. Belajar untuk saling bergantung, bukan justru merasa harus "independen" - berdiri sendiri-sendiri. Agar rasa cinta, rasa kasih, terus bertumbuh. Karena membangun keluarga membutuhkan kesalingan.
Selama sembilan tahun terakhir pula kami hidup dengan mode freelancer, sebuah pilihan yang membuat kami terbiasa dengan ketidakpastian. Tapi, kepercayaannya padaku saat kondisi finansial lagi naik dan turun adalah hal yang amat berharga. Karena menyadari bahwa keluarga ini adalah satu tim. Bukan masing-masing. Akhirnya keyakinan kita tumbuh, kita nggak menyadarkan diri pada materi. Ketidakpastian telah menempa kami bahwa rezeki akan datang dari banyak arah, dan arah-arah yang tak terduga.
Sembilan tahun dan seterusnya, aku merasa banyak sekali hal yang telah kami pelajari. Apa ditulis jadi buku tersendiri aja ya? (melanjutkan buku Menentukan Arah yang ditulis 9 tahun yang lalu saat kami menikah)
Oh ya, sama satu hal lagi. Jangan pernah iri sama keluarga orang lain. Karena, hal yang bisa kita kendalikan adalah keluarga kita sendiri. Fokuslah untuk menjadi apa yang kita impikan. Fokuslah untuk membuka jalan, memulai pembicaraan, mewujudkan keluarga impianmu sendiri. Karena kalau kita hasad/iri sama keluarga orang lain, kita akan menghabiskan banyak energi yang sebenarnya bisa kita pakai untuk memperbaiki keadaan diri dan keluarga.
Tugas laki-laki sebagai kepala keluarga itu berat banget (Surah At-Tahrim ayat 6Β ), maka kalau kamu mau berkeluarga, siaplah sama tugas itu (kalau kamu cowok), dan bantulah tugas itu (kalau kamu cewek). Pasangan yang baik itu menenangkan, sama-sama belajar bisa menjadi orang yang menenangkan. Karena gejolak kehidupan luar sana, jangan sampai menggoyahkan ketenangan keluargamu :)
Semangat!