An honest red panda wants to know how you’re doing and is wishing you well. ❤️️
Chibird store | Positive Pin Club | Webtoon
art blog(derogatory)
Claire Keane

gracie abrams

Origami Around

Discoholic 🪩
The Stonewall Inn
EXPECTATIONS
Game of Thrones Daily
Sade Olutola
One Nice Bug Per Day
Monterey Bay Aquarium
hello vonnie

YOU ARE THE REASON
official daine visual archive
RMH

Jar Jar Binks Fan Club

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from New Zealand
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Colombia

seen from Germany
seen from Belgium
seen from United States

seen from South Africa
seen from United States
@rkrn01
An honest red panda wants to know how you’re doing and is wishing you well. ❤️️
Chibird store | Positive Pin Club | Webtoon

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
I scream for ice cream
Apa kabar?
Sampaikan saja.
Barangkali dia rindu.
Mungkin ada cerita yang ingin disampaikan.
Atau air mata yang tertahan.
Atau, ini yang terakhir(?)
Berjalan lah dikala muda, dikala sendiri, bukan karena berdua tidak mungkin apalagi berlima.
Melainkan kalian punya cerita, untuk mereka ketika nanti kalian berlima.
Saya masih suka dengar, cerita perjalanan papa saya hingga hari ini.
Yang rindu,
sini mendekat,
Sampaikan saja,
Jangan terlambat.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ruang Publik - Sebuah Retorika Politik
Jika ingin memiliki kekuasaan, kuasai dulu ruang publiknya. Begitu katanya.
Baiklah, kali ini saya mau berbagi analisa yang berkembang dalam tahun politik di Indonesia.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa Pak Joko tidak lagi blusukan?
Kenapa pula Pak Sandi yang turun ke masyarakat bukan Pak Prabowo?
Kenapa harus Pak Ma’ruf?
Lantas, program kerja mereka itu apa sih?
Ini akan terdengar seperti artikel tentang politik. Tapi gak kok, saya ga akan bawa tulisan itu ke ranah kepentingan. Hanya sekedar berbagi yang perlu dibagi agar jadi manfaat untuk kawan kawan.
Saya akan buka analisa ini dengan pernyataan:
“Kedua kubu melakukan pendekatan ruang publik dengan arah yang berbeda”
1. Kubu Pak Joko
Seiring berjalannya pemerintahan beliau, Pak Joko adalah kesayangan media. Tindak tanduknya diperhatikan, energi positif beliau pun selalu bisa tertular ke banyak orang. Bahkan ketika BBM naik, dolar naik atau masalah lain yang lebih kritis terjadi, pergolakan di masyarakat cenderung statis. “Ya sudah, memang kondisi dunia lagi gini,” katanya. Katanya juga, karena empunya demo jalanan sekarang ada dikubu pemerintah.
Karena kesayangan media itu lah, tidak sulit bagi Pak Joko menggaet dukungan tokoh tokoh dengan pengikut ribuan bahkan jutaan di Indonesia. One call away katanya. Lantas, dahan, ranting sampai akarnya pun menyebar. Kenapa demikian? Karena, siapa yang tidak kenal dengan Pak Joko dan kearifannya? Tinggal poles saja oleh para tokoh tersebut bikin konten di youtube, instagram, obrolan twitter. Suara pun mengikuti, toh kampanye/blusukan beliau sudah dilakukan sepanjang 5 tahun masa menjabat. Begitu pendekatannya.
2. Kubu Pak Sandi
Beda dengan Pak Sandi, beliau ini secara sosok tampan dan menyenangkan. Tapi, terlihat blunder dan oportunis. Tokoh tokoh kurang suka. Apalagi, dia diseberang Pak Basuki yang juga kesayangan media kala Pilkada. Tapi tidak dengan masyarakat, yang sebenar benarnya masyarakat yang tidak bicara soal demografi saja, tapi yang memang bisa melangkah ke TPS. Mereka yang ternyata, berhasil memenangkan Pak Anis dan Pak Sandi. Mereka, yang senang digenggam, bukan dijanjikan.
Mereka yang ketika pulang dari kampanye Pak Sandi akan mengajak anaknya atau tetangganya yang lain untuk, “pilih Pak Sandi ya. Udah ganteng, pinter ngomong, rendah hati banget. Mamak suka!”
Pendekatan yang jelas sekali perbedaannya.
3. Pilih Pasangan
Lain lagi perkara pilih pasangan, karena satu calon memiliki kedekatan dengan beberapa organisasi masyarakat, isu yang dikembangkan pun tumpah ruah. Termakan lah isu bahwa masyarakat religi mendukung salah satu calon. Kebetulan, pasca 2016, isu ini hangat sekali. Makanan instan yang tetap lezat walau sudah berkali kali digoreng-dingin-dihangatkan. Plot twist! Semua heran, heboh sebentar, tapi karena beliau kesayangan media, gelombang positif tidak berhenti datang. Isu hilang. Anggapannya, lebih efektif ajak imam daripada pengaruhi makmum.
Tim pemenangan sadar, boss nya suka keselip lidah, ya namanya orang tua. Beliau, butuh pasangan yang elok dipandang mata dan tertata bicaranya. Singkatnya, diambil lah pebisnis egaliter yang memang hasrat berpolitiknya besar. Terlihat dari bagaimana dia sowan kemana mana jauh sebelum pilkada DKI berlangsung serta rela diposisi dua agar niat politiknya tercapai. Tapi siapa lah babang tampan ini? Dia tidak bisa dipromosikan, maka... dia harus jualan dirinya sendiri, kemana mana, mencitrakan dirinya depan umum. Di kantong kantong suara yang banyak pemilih baru, yang “masih nurut sama orangtua”.
4. Program Kerja
Tulisan ini berujung di sini. Dan jawabannya, “saya tidak tahu”. Tim pemenangan terlalu sibuk mencari celah agar masyarakat membenci calon lainnya vise versa. Pemilu kali ini mencari sosok bukan mencari eksekutor. Sosok yang pun nanti kepilih akan sibuk menjawab tudingan pihak lawan. Iya, keduanya akan seperti itu. Ditambah lagi, pendekatan media tidak kepada pemberitaan tentang “seberapa hebatnya calon presiden” melainkan, “seberapa kerennya mereka”.
Tulisan ini mungkin menjadi kritik bagi media yang lebih mementingkan popularitas calon daripada harapan untuk Indonesia yang lebih baik 5 tahun kedepan. Kawan saya bilang, “karena masyarakat sendiri ga butuh program, yang kayak lo itu sekarang jumlahnya sedikit.” “Kalau pun ada program, ga seksi untuk dibahas, Ron.”
Gawat, aib dan fitnah sudah jadi komoditas.
Semoga Allah lindungi negara ini dari mara bahaya.
Ya, anggaplah saya minoritas. Kaum minor yang berharap sebuah teritori di pimpin sosok yang kompeten. Kompetensinya pun jelas toh, bukan sesuatu yang utopis. Bukan malah disibukan dengan tontonan fitnah memuakan kedua kubu.
Kalau kita, memilih pemimpin yang tidak kompeten di bidangnya, agama saya bilang; itu dzalim namanya.
Sekian.
Jakarta, 31 Januari 2019
[Stop Motion] be careful while driving
Belum lelah? Ya sudah, main lagi sana. Aku jalan pelan pelan, aku yakin kamu menyusul walau itu ditikungan terakhir.
Mr. Rights
Man: Dear you, thank you for listening all of my story. thank you for your time. Thank you for never leave me no matter how bad the topic was.
Girl: That’s fine. After all, i am just a girl who sits down next to you and never look away.
Hai, ini aku, yang selalu kamu sentuh dikala sedih. Yang menari dikala kamu bahagia. Memerah ketika kamu jatuh cinta. Terluka… karena dipatahkan. Tapi satu hal, seberapa hebatnya aku dihujam, Aku tetap hatimu, Yang meski hancur lebur berkali kali, tetap menyatu denganmu. Apapun alasannya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
OBJEKTIFITAS (?)
“Penelitian terbaru menyatakan, permasalahan x bukan lagi hal yang menyimpang, tapi udah dikategorikan sebagai ‘gaya hidup’”
Kemudian otak ini berputar mencari jalurnya supaya ga mampet dan menghambat logika lantas mengedepankan emosi daripada realitas.
Dan baiklah, saya berpendapat begini:
“Tidak ada objektivitas dalam sebuah hasil penelitian. Objektif ada karena kumpulan dari subjektifitas yang sama atau dipersamakan.”
Sederhananya begini, kita bicara soal orang yang belaga kebanci bancian. Dari puluhan tahun lalu, ‘banci’ sudah ada di masyarakat, entah mereka yang berpakaian berlawanan dengan identitasnya atau pun berperilaku yang tidak sesuai.
Ada masa dimana mereka diacuhkan, direndahkan, dijauhkan dari pergaulan. Jumlah mereka tidak sedikit, walau tidak bisa disebut ramai. Di zaman itu, masyarakat menilai mereka secara “objektif”, adalah golongan yang terpinggirkan dan menjadi lelucon.
Apa iya objektif? Kalau objektif itu ada, mereka akan dinilai sebagai kondrat mereka manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama, bukan?
Maka dapat dikatakan, di jaman itu, kumpulan subjektifitasnya, “banci adalah hal yang menyimpang dan berbahaya”. Dan kesimpulan itu membentukan paradigma di masyarakat dan lantas menjadi standard.
Puluhan tahun kemudian, tanpa harus menyebut nama, dari era 90’an sampe hari ini, ‘banci’ selalu ada ikon di dunia hiburan.
Bagaimana nilai tersebut bisa bergeser? Padahal mereka tidak bertumbuh secara pesat, tidak ada sekolah formal ataupun ‘lokalisasi’ untuk mereka.
Hal tersebut dapat terjadi, karena penilai, peneliti, pelaku ataupun pemodal melihat dari sudut pandang yang berbeda dari era Warkop DKI “Gengsi Dong” dimana banci adalah monster pemangsa yang akan mencium siapa saja yang mereka temui.
Nilai berubah, pandangan terhadap mereka berubah, mereka komoditas menjanjikan di dunia hiburan, sehingga bobot data yang dikumpulkan dan diolah (yang sebenernya tidak jauh berbeda dengan yang dulu) menjadi lebih condong ke arah ‘permisif’ terhadap fenomena ini.
Perbandingan 3:7 untuk negatif banci menjadi 7:3 untuk positif banci di zaman ini.
Salah? Bukan soal itu, ini hanya soal buka tutup keran. Keluar masuk data. Mana data yang akan menjadi mayoritas mana yang akan dijadikan minoritas. Beda era, beda penilaiannya. Padahal mah datanya sama.
Ragu? Begini, kalau ragu, ada satu landasan berfikir yang tidak mungkin salah karena ditulis bukan untuk mengakomodir kepentingan satu kaum atau pun dunia saja. Bahkan sampai ke akhirat dan seluruh makhluk di muka bumi.
Iya, iqra’ (bacalah)...
Agama apapun kamu, ketika mulai ragu terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat, coba balik lagi ke pedoman hidup kamu.
Tidak mungkin keliru. Jika masih keliru, otakmu yang seperti butir beras di lautan sedang bekerja terlalu keras...
...untuk mengelabui Tuhan.
Shall we dance?
Meet Ms. Elepherina, beautiful elephant who dream about to dance, ballet.
Ms. Elepherina is you. The one who dream big, as big as you could.
Who ever see elephant with tutu and dancing ballet?
Dream it, persue it.
Never let somebody says you it is impossible until you figure it out by yourself that impossible is the only way possible.
Just put your ambition as high as the sky, when you fall, you will fall among the star.
Well, at least, at the end, you find different perspective about dancing elephant.
Kesalahanku? Karena aku terlalu mencintaimu, bukan sangat mencintaimu.
Karena rasa itu muncul setelah semua hilang, bukan pada saat mencoba bertahan.
Untuk itu, aku minta maaf, senja...
Mr. Rights
Kembali
Karena Ibu Kota bukan Ibu Tiri juga bukan Ibu Peri.
Dimana hari ini diberi nasi, lantas esok dibuat mati.
Hanya untuk jaga diri, bawa terus itu peti.
Sendiri, disakiti, bangkit lantas mati.
Berjalan kaki, remuk redam, dipecut cemiti amar rasuli.
Berdiri lagi, layaknya sang pemberani.
Ibu Kota bukan Ibu Tiri apalagi Ibu Peri.
Mengasihi tidak tertulis dari jemari.
Simpan jati diri dalam almari.
Imitasi, duplikasi, terjadi hanya untuk publikasi.
Hilang pergi, patah berganti.
Di sini, tidak ada yang abadi.
Bahkan untuk toko tropi Jaya Abadi.
Patah hati, minta dikasihani.
Berlari ke tebing tinggi, mencari amunisi.
Cari kambing hitam, namanya globalisasi.
Terpuruk padahal kamu yang banci.
Rakyat, priayi, semua ingin jadi selebriti.
Berhenti, kita ludahi, sudahi.
Berdiri, bangkit, melawan, karena kami...
Tidak mau mati...
Hari ini...
Mungkin esok, kalau tidak hujan..
Hikmah
Of course it broke your heart into pieces...
Bad career...
Awful boss...
Bad lover...
Broke up...
Got rejection...
Sad ending...
Leave and being left...
But God leave each good piece on you (lesson) and let the bad pieces (sorrow) wash away...
Keep it and be grateful...
Then, at the end of the puzzle,
you gonna find the reason,
“why you still keep the good pieces on your sweaty hand for years”.
In my believe, we know it as hikmah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Berdoa
“Kalo kita didzalimin orang, boleh kan kita doain dia celaka?”
Tujuan doa itu apa sih?
Mendapat kebahagiaan, mendapat hidayah dan mendapat keselamatan, bukan?
Pertanyaannya kemudian, kalau orang tersebut celaka,
apa kita akan bahagia?
Hidayah apa yang kita dapat?
Keselamatan macam apa yang diterima?
Sejatinya, berdoa itu agar terkabul, doa itu pasti didengar, karena Allah maha mendengar.
Maka berdoa lah yang baik, bagaimanapun buruk yang kita terima.
World Wide Web Raping your Body, Sucking your Soul and Destroying your Grave, so Bad.
No, this is not a click bait. I just want to remind you, in this online world, i name it: social media, news portal or messenger, there is no such genuine things.
Why?
Here is thing:
1. Before you post picture or video, you can retouch by using 12 different apps to make you look more gorgeus than Beyonce or Justin.
2. You can delete anything at anytime you want, if... you don’t get “like” as you need. Or, when you get negative feedback from your netizen.
3. Before you texting, you can prepare draft like, “hey, wanna meet up? I missed you so bad” then you send it like, “how are you?”
4. When you feel inappropriate to send the message after it sent, simply you can say, “sorry, somebody using my device irresponsibly.”
Thus, you can do anything before it goes online and you can erase it in a blink of eyes after goes online, just like that.
But, before you do those kind of things...
there is somebody,
some asshole,
Come from nowhere,
who just capture yours.
Then, they share it,
put some spieces and chilly,
burn it as hell,
put ‘special’ caption then it goes viral.
And congratulation people,
your body got raped without scratch,
your soul is sucked before judgement day and
when you hide in your grave, well, they will hunt you and broke your stone.
After all, i just want to say that, never share you naked picture if you don’t want yourself got rip.
Say something important like it is important.
Call her, say you love her, say you missed her directly, without wall, screen or fuckin code in instagram.
You are not Da Vinci and they are not Prof. Langdon.