mmmmmm, bagaimana dalam satu garis keluarga bisa tersimpan dua wajah yang begitu berbeda.
Ada yang sibuk mencari cela, ada pula yang sibuk menebar kebaikan. Ada yang mengira pendidikan membuat jarak, padahal justru ketidaktahuanlah yang menimbun dinding di antara hati. Ada yang terlalu sibuk menjaga gengsi, sampai lupa menjaga perasaan.
Aku melihat dengan mata sendiri, bahwa orang-orang yang benar-benar berilmu tidak pernah merendahkan.Mereka menolong tanpa banyak bicara, memberi tanpa membuat orang merasa kecil. Mereka tahu, kebaikan tak butuh sorotan, dan ketulusan tak perlu diumumkan.
Sementara yang merasa paling benar, paling tua, paling berhak, sering lupa bahwa lisan juga bisa menjadi ujian. Kadang yang paling banyak bicara justru paling sedikit mengerti, dan yang paling keras menilai, justru paling jarang menengok diri.
Aku belajar banyak dari dua sisi keluarga: satu mengajarkan tentang sabar menghadapi iri dan ujian hati, satu lagi mengajarkan arti ketulusan tanpa pamrih. Dari yang satu, aku belajar menahan diri agar tidak ikut menjadi sama. Dari yang lain, aku belajar bahwa kasih sayang tak perlu banyak alasan untuk hadir.
Dan mungkin, di situlah hikmahnya. Allah sengaja memperlihatkan perbedaan agar aku tahu, darah boleh sama tapi niat dan cara mencintai tak selalu seirama.
Maka kini aku memilih diam pada tempatnya, hadir seperlunya, dan berbuat sebaiknya. Tidak untuk membuktikan apa pun, hanya untuk menjaga hati agar tetap tenang.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar tinggi bukan suara yang meninggi, tapi hati yang mampu merendah tanpa kehilangan harga diri. Biarlah waktu berjalan dengan caranya. Yang menanam kebaikan akan memetik tenang, yang menebar luka akan berhadapan dengan sepi.
Dan aku? Cukup melangkah perlahan, tanpa menoleh — sebab aku sudah paham, tidak semua keluarga berarti sekeluarga.













