Mereka yang berkhianat
Terkadang menjadi baik itu sering dimanfaatkan oleh orang lain,
Tapi itu tidak membuatku berhenti untuk berbuat baik.
Dulu aku juga pernah melakukan kesalahan, aku pikir dia adalah teman ternyata dia hanyalah partner bisnis saja. Yang aku tawarkan waktu itu hanyalah pertemanan, tapi aku lupa bahwa dia tidak pernah ingin menjadi teman.
Aku bodoh tapi dari situ aku belajar untuk mengenal orang. Dari saat itu aku tidak lagi dengan mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Aku melakukan hal baik, ketika aku memang ingin melakukannya bukan untuk menyenangkan orang lain.
Mungkin sedikit terdengar egois, tapi aku sadar bahwa aku juga harus bahagia.
Aku sadar bahwa untuk memberi, aku harus memiliki lebih. Jika aku tidak memiliki lebih, bagaimana aku bisa memberi. Ibaratnya kalau aku tidak sehat, bagaimana aku merawat orang sakit.
Aku mengerti mereka yang datang tak semuanya tulus. Mereka yang datang, terkadang hanya ingin menikmati suka cita saja. Tanpa ingin menikmati badai kita. Tapi tetap tak mengapa, karena begitulah hidup. Disatu sisi, aku beruntung karena diantara semua yang datang, ketika badaiku datang aku jadi tahu siapa yang ada disana menemaniku dan dari saat itu aku lebih fokus kepada mereka, daripada orang yang hadir hanya sesaat.
Dengan begitu aku tahu, aku tidak akan pernah lagi merasa tersakiti oleh mereka yang berniat untuk berkhianat karena aku tahu, aku sudah merasa cukup dengan apa yang aku punya dengan orang terdekatku yang selalu hadir dan tulus kepadaku.
Untuk kamu yang hanya hadir untuk berkhianat, aku hanya ingin berpesan “Semesta tidak pernah tidur, semua akan ada karmanya masing-masing. Aku hanya ingin kamu untuk cepat sadar dan jangan pernah lagi memanfaatkan orang lain untuk kesenangan sendiri karena pada akhirnya, semua sakit akan kembali kepadamu dan kita yang punya niat baik akan terus menerima hal baik dan bertumbuh, belajar menjadi lebih baik lagi. Hati-hati dengan perbuatanmu karena apa yang kamu tabur itulah yang kamu tuai.”
















