Di usia saya yang baru menginjak 15 tahun ini, saya baru tau kalo penyakit anak ilang kronis yang saya derita ini memang suatu kondisi. Kondisi di mana otak saya gak mampu membuat peta di kepala. Saya kaget kalo ternyata bagi orang lain, masuk mall dan keluar lagi itu bahkan gak perlu mikir apa-apa. They just knew.
Selama ini saya kira semua orang berusaha keras menemukan jalan seperti saya, cuma karena saya agak stupid dan kurang memperhatikan sekitar jadi nyasar terus. My whole life is a lie. 😭
Mengetahui ini saya jadi pengen nangis. Otak langsung dibanjiri dengan cuplikan memori memori "oh pantes" yang menjelaskan kenapa saya begini dan orang lain begitu.
Jadi gini, saya tuh nyasarnya parah banget. Kayak Zoro gitulah. Jadi bukan karena sekip terus salah jalan, tapi emang begitulah otaknya.
Saya bisa nyasar dengan meskipun di hp buka google maps. Saya bisa nyasar meskipun udah nanya orang-orang di jalan. Saya bisa nyasar setelah ngelewatin jalan yang sama ratusan kali. Separah itu sih.
Btw saya paling sebel sama instruksi, "Lurus aja tinggal ikutin jalan." Kemungkinan 99.9% saya akan nyasar kalo disuruh ikutin jalan. Kita diekspektasikan tau gitu jalan benar yang harus kita ikutin? Jalan aja semua sama di mata saya.
Biasanya kalo instruksinya gitu doang, saya akan bilang, "Jangan remehkan kemampuan nyasarku."
Ternyata, orang bukannya ngeremehin kemampuan nyasar saya. Tapi mereka gak tau gimana otak saya bekerja. Sebenernya sih wajar, karena saya juga gak tau otak mereka bekerja ternyata kayak GITU. Kayak di kepala udah ada map yang bisa tau posisi kita ada di mana macem kotak kecil navigasi di game yang ada kanan kiri atas bawah itu.
Wow, menurut saya menarik banget sih. Meskipun saya gak punya kemampuan itu. Sangat menarik mengerti gimana otak orang lain bekerja. Misalnya kalo ke mall, ternyata semudah itu orang lain meraba-raba ruang dan arah terus nemu exit.
Sementara kalo saya, saya tidak berpikir ke sana. Saya gak mungkin kepikiran ngambil jalan pintas nanti nembus ke sana. Hahahay. Kalo saya HANYA mengandalkan diri saya sendiri. Sejak saya masuk saya akan berusaha mengingat tadi saya belok di toko apa, jalan ke kiri atau ke kanan, sampai toko apa, dan seterusnya.
Apakah saya akan berhasil keluar? Tidak juga. Biasanya saya terdistraksi dan lupa sendiri. Terus muter muter sampai ketemu "landmark" yang tadi saya ingat.
Apakah habis itu saya berhasil keluar? Tidak juga. Biasanya habis itu saya udah capek banget dan udah gak nyari exit lagi tapi nyari security buat ditanya.
Apakah habis nanya security saya berhasil keluar? Tidak juga. Setelah saya ikuti instruksinya. Entah kenapa saya jadi ada di parkiran basement. Jadi saya hanya berjalan dan berjalan mengikuti sumber cahaya sampai akhirnya sampai di luar mall. Yah, yang penting udah di exit.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Akhirnya saya kalo ditanya umur bisa bilang 33. Sebenernya umur hanyalah angka dan 33 itu bukan milestone. Tapi lebih ke... kemaren sepanjang umur 32 itu, saya kek krisis identitas. Lebih tepatnya lupa umur. Kalo COVID membuat umur saya berasa berhenti di tahun 2019, umur 31-32 itu bikin saya kek harus ngitung dulu tahun sekarang dikurang tahun lahir.
Aneh. Padahal umur saya gak banyak-banyak banget untuk sampe di tahap itu. Tapi sekarang saya jadi bisa rilet sama orang yang kalo ditanya umur mending jawab lahir tahun sekian. Males ngitungnya. Suka lupa, saya 31, 32, apa 33, ya...
Nah, sekarang udah lebih gampang diinget. 33. Jangan lupa lagi.
Meskipun sebenernya yang nanya juga paling cuman form kuesioner.
Btw, saya mulai percaya teori keistimewaan umur 33. Yaitu, konon katanya, di umur 33 itu biasanya ada breakthrough atau sesuatu hal istimewa yang terjadi dan mengubah hidup seseorang ke arah yang lebih positif bagi dirinya atau sekelilingnya.
Sebenernya ini teori yang saya bikin sendiri. Baru aja semalem kepikiran pas mau tidur.
Suami saya, umur 33 naik jabatan, setelah sekian lama mengumbi sampe ke akar. Bapak saya, umur 33 jadi bapak karena saya lahir. Saya adalah breakthroughnya bapak saya!!!
Entah apa breakthrough yang akan saya alami, pokoknya saya yakin aja dulu. Optimis aja dulu menghadapi rencana yang Allah sudah siapkan dari dulu banget untuk diriku ini.
Siapa tau di umur segini saya bakal menang undian 10M atau dicasting jadi artis. Meskipun agak susah sih ya jadi artis, soalnya saya nggak terlalu pengen masuk tv. Jangankan masuk tv, dikirimin foto pertemuan ortu murid di grup WA aja saya gak mau donlot. Mungkin kalo cuma jadi influencer yang sekali posting 50 juta, saya pertimbangkan.
Tapi seandainya gak ada breakthrough juga saya gapapa kok, saya cukup puas dengan hidup yang gini-gini aja. Doa ucapan suami saya juga gak macem macem harapannya buat saya, cuma pengen saya sehat, panjang umur, dan bahagia. Aamiin.
Kemarin saya berniat nulis. Saya HARUS nulis! Tapi gak ada ide yang seru. Pikiran saya dari kemaren tuh tertutupi kedengkian pada anggota DPR karena ini:
Masuk akal Saudara bilang? Ibaratnya ada nenek-nenek sakaratul maut didatengin battosai yang nempelin pedang samurai di leher nenek itu seraya berbisik, "Pilih harta atau gigi?" Dan nenek-nenek itu tiba-tiba nyanyi ending song.
Masuk akal gak? Tunjangan anggota DPR segede itu lebih gak masuk akal lagi.
Mana masuk akalnya 50 juta buat rumah dinas, 12 juta buat beras. Kalian kan perwakilan rakyat, yah. Harusnya bisa relate dong sama rakyat. Jangan rakyat top 0.1% doang, remah-remahnya ini yang hidup nelangsa gak ngerasa diwakilin. Misal ada forum gen-z sedunia tentang struggle hidup di negaranya tapi dari Indonesia yang mewakili Ole Romeny. Ya WNI sih tapi gak rilet bos. Umur paspornya ama umur anak saya juga tuaan anak saya.
Saking keselnya, saya sampe mikir, coba ya anggota DPR dan keluarganya ada tandanya gitu. Misal mereka mau lewat jalan, dari kejauhan udah keliatan bersinar. Biar rakyat bisa ludahin dulu jalanan yang mau mereka lewati. Biar kalo ketemu di mall mereka mau masuk lift, buru-buru kita tutup pintunya. Biar kalo mereka belanja kita selak pake bilang, "Saya duluan, saya buru buru anak saya mau sekolah."
Bodo amat.
Nah, dari pikiran itulah cerpen ini hadir.
---
"Buapakmu koruptorrrr!"
Adalah kata-kata terakhirku sebelum aku ditampar, didamprat, dan disuruh guru ke ruang kepala sekolah (untuk dimarahi, tentu saja). Ani masih menangis tersedu-sedu, sepenglihatanku dari balik jendela. Aku mendengus sebal sembari menyilangkan tanganku, badanku setengah bersandar di tembok kelas.
Mereka semua tidak paham. Aku itu tidak sedang merundung Ani. Aku cuma menyampaikan fakta kalau bapaknya Ani koruptor.
Dari mana aku tahu, katamu?
Simple, aku punya kekuatan super. Aku bisa melihat angka korupsi orang. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku serius. Angka-angka itu melayang di atas kepala mereka. Biasanya aku cuma melihat angka itu di televisi setiap kali ada pejabat muncul, tapi kali ini aku lihat langsung di atas kepala Ani.
Memang, bapaknya Ani baru saja menang pemilihan anggota dewan. Tidak kusangka secepat itu dia memberi makan anaknya dengan uang haram. Macam gaji halalnya kurang banyak saja.
"Ani, kenapa bapakmu mau masuk partai sih?" tanyaku waktu dulu itu. "Bukannya sudah enak jadi kiai? Dihormati orang, jadi panutan, halal dan berkah lagi."
"Abi ingin jadi orang yang lebih bermanfaat buat masyarakat," jawabnya dengan mata berbinar, "kata Abi-ku, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain."
"Itu sih kata Nabi."
"Abi kan memang meneladani Rasulullah."
Meneladani Rasulullah gundulmu.
Aku benar-benar tidak habis pikir. Orang sealim bapaknya Ani bisa-bisanya korupsi. Bukannya dia tahu makan hak orang lain itu dosa? Bukannya dia mencalonkan diri jadi anggota dewan itu supaya jadi orang yang bermanfaat?
Keesokan harinya, ketika aku sedang menghitung selisih angka di atas kepala Ani antara hari ini dan kemarin, tiba-tiba aku disuruh ke ruang kepala sekolah lagi. Katanya, bapaknya Ani ingin bertemu denganku dan orang tuaku. Digaji segitu besarnya tapi lebih nganggur daripada bapakku yang cuma pegawai ruko, kulihat-lihat.
"Orang tua saya sibuk, Pak, kalau ada yang mau disampaikan, mohon ke saya saja," ujarku mantap. "Kalau saya salah, saya minta maaf."
Tapi aku tidak salah, jadi sebenarnya aku tidak minta maaf.
Bapaknya Ani memberikan gestur supaya kepala sekolah keluar ruangan. Dikira ruangan punya dia kali?
Kepala sekolah menurut, sambil membungkuk ia keluar dan menutup pintu. Aku mencoba mengingat-ingat tindak-tanduk bapaknya Ani, apakah dulu sudah se-arogan ini. Tapi angka-angka di atas kepalanya mendistraksiku.
Gila. Segitu? Besar sekali. Padahal baru juga dilantik.
"Ani cerita, kamu menuduh saya korupsi di hadapan banyak orang. Saya bisa laporkan pasal pencemaran nama baik."
Ah, aku tidak suka langsung tembak begini. Tapi karena baru muncul sudah main ancam, terpaksa langsung kukeluarkan.
"Ehm. Lima miliar. Ehm."
"Apa maksud kamu?"
"EHM. Tiga ratus empat juta. EHM."
"SAYA TANYA--"
"UOHOK DUA PULUH LIMA RIBU. UOHOK UOHOK."
Masih ada 137 rupiah yang belum kubacakan, tapi sepertinya Bapaknya Ani sudah sadar apa yang kukatakan. Buktinya ia terdiam. Aku menatapnya sengit. Tajam tanpa berkedip.
Baru kali ini soalnya aku bertemu dengan koruptor di depan mata kepalaku sendiri. Ternyata memang tidak bisa tidak emosi. Marah rasanya. Gara-gara mereka sibuk memperkaya diri sendiri, keluargaku miskin.
Tebakanku, dia bakal gelagapan tanya aku tahu dari mana. Yang pasti aku tidak akan membocorkan rahasiaku soal kekuatan super. Mungkin dia akan menawarkan uang tutup mulut. Tapi aku juga tidak akan mau menerima uang itu. Mana sudi aku terima uang hasil korupsi. Angka-angka itu akan abadi melayang di atas kepalaku seperti aib.
Tapi dia tidak gelagapan.
Bapaknya Ani, tiba tiba tertawa keras.
"HAHAHAHAHA--"
Terkekeh.
"--HAHAHAHAHAHA--"
Terbahak.
"--HAHAHAHAHAHAHA--"
Tergelak.
"--HAHAHAHAHAHAHAHA--"
Terpingkal-pingkal.
"--HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA--"
Menggila dalam tawanya.
Bapaknya Ani sudah gila.
Sekitar dua menit lebih sedikit dia tertawa. Sampai akhirnya berhenti, membenarkan peci dan kacamatanya, menarik napasnya yang nyaris habis karena terlalu banyak tertawa. Dengan tangannya, dia membuat isyarat untuk menyuruhku pergi.
Aku mengernyitkan dahi. Bingung. Tapi aku tidak mau berlama-lama dengan orang gila ini, jadi aku kembali ke kelas dengan bingung sendiri.
Sepulang sekolah, aku baru tahu apa yang dimaksud bapaknya Ani. Bapakku biasa pulang malam, tapi masih sore begini, sudah kulihat bapakku tidur di atas dipan dengan setengah badannya ditutupi sarung. Wajahnya kusut, jadi aku cuma berani tanya lewat ibu.
Salah satu kebiasaan orang dulu--atau mungkin generasi sekarang juga--adalah minta sesuatu dengan bercanda. Kalo di Betawi, ini sering disebut dengan banyolin. Saya gak tau kenapa celetukan minta-minta ini disebut banyolin. Banyol itu kan artinya bercanda yah, banyolin tuh pengen ngelucu gitu.
Apa yang lucu dari kalimat, "Widih mo jalan-jalan nih, boleh dong dibawain oleh-oleh," coba? Kenapa ngelucunya kayak gitu? Kenapa gak pake pantun aja, masak aer biar mateng, atau apa kek.
Nanti begitu udah dibawain beneran. "Ya Allah pake beneran dibawain, orang cuman banyolin doang."
Maksudnya apa. Anda minta minta tapi giliran sekarang ngakunya kemaren cuma bercanda. Maksudnya apa?
Saya gak tau kalo perasaan orang lain, tapi kalo saya yang digituin, jadi pressure loh. Tentu ada juga orang yang bisa bales dengan banyolan juga.
"Widih mo jalan-jalan nih, boleh dong dibawain oleh-oleh?"
"Iye tar gua kasih baju kotor."
Tapi itu baru bisa terjadi kalo mereka setara dan emang suka saling bercanda gak sih? Coba kalo relasi kuasanya timpang. Misal seorang uwak ngomong begitu ke ponakannya. Dibeliin, sebenernya ngerepotin. Gak beliin, nanti dikira apa...
Terus begitu beneran dibeliin, bilangnya cuma banyolin, seolah-olah si ponakan gak bisa diajak bercanda. Kayak, "Bercanda doang malah diseriusin wkwkwk tapi makasih deh :v"
Ya kan....... maksudnya.................. bisa bercanda kayak.....
Atau kalo mau bercanda minta sesuatu ya bikin lucu.
"Lu mau ke Bali ye, jangan lupa oleh-oleh buat uwak, kostum barongsai." [mencoba lucu]
Atau kalo emang gak bisa ngelucu, tunjukkan kalo perkataan itu cuma bercanda.
"Lu katanya mau ke Bali? Pie susu 2 kotak. Just kidding. LOL. IJBOL. LMAOOO."
Ibu saya adalah orang yang sering menggunakan 'teknik ngebanyol' ini buat mendapatkan apa yang diinginkan dari orang, entah tetangga, sodara, atau ponakan. Nanti begitu beneran dikasih, ibu saya cengar-cengir bawa masuk sambil ngomong, "orang mama cuman banyolin doang."
Saya dalam hati ingin berteriak: Tidak itu bukan banyolin karena mama gak lucuuuuuu aaaaa
Ya bagi Anda ya, itu banyolin. Bagi sepupu saya, itu tekanan pasif agresif. Banyolin tuh kayak implying tidak serius, dikasih sukur, gak dikasih gapapa. Tapi kenyataannya kalo udah dibilang gitu, kita kan jadi kayak diminta memenuhi suatu ekspektasi. Ekspektasi yang bahkan datengnya dari orang yang ngomong ngasal.
Menurut saya kalo emang pengen sesuatu, mending ngomong serius aja deh. Minta baik-baik, biar bisa ditolak baik-baik di awal juga kalo emang gak bisa.
Sekarang saya kalo sodara atau keluarga saya kek gitu, saya gak anggep serius. Kan banyolin doang? Kalo bercanda ya saya bales iya iya tapi bercanda juga. Fair kan?
Tapi anehnya begitu saya udah gak anggep serius, mama saya akan mengangkat lagi isu ini ke permukaan. Misal kayak saudara saya bilang mau xxx [tidak serius], saya akan ayok-ayok aja [tidak serius]. Lalu semuanya menguap seperti aer mateng.
Kemudian mama saya akan nanya, "Kapan jadi mau xxx, si anu udah banyol banyolin tuh di grup."
Ya orang dia banyolin??? Kenapa kita harus seriusin sampe jadi? Anggep aja bapak bapak sharing jokes xixixi yang dibales, "bisa ajah," udah cukup. Kita tidak harus mewujudkan banyolan.
Tsk. Susah banget kehidupan sosial ini kalo dilogikain.
Analisis lagu Alasanmu (Mencari Alasan) - Exist dalam konteks profesionalisme perkantoran
Sebenernya ini udah di draft saya lama banget, 2 tahunan ada kali dari sejak saya resign PNS. Tapi karena panjang banget, gak kelar-kelar nulisnya. Akhirnya dalam rangka memperingati hari reptil nasional 21 Oktober 2024, saya lanjut nulis ini lagi dan bertekad posting di hari ini juga.
Sepemahaman saya, Band Exist ini aslinya dari Malaysia terus mengeluarkan lagu Alasanmu. Di Indonesia lagu ini dipasarkan dan booming, judulnya diganti jadi Mencari Alasan dan liriknya diganti di beberapa bagian disesuaikan dengan pasar Indonesia. Nanti kita coba bahas dan bandingkan sedikit, ya. Kalo saya pribadi lebih suka lirik versi Malaysia karena interpretasinya lebih dalam dan beresonansi dalam jiwa karyawan (jati diri-qu dulu). Jadi referensi utama saya di sini adalah versi Malaysianya.
Ikhlasnya hati sering kali disalah arti
Tulusnya budi tidak pernah engkau hargai
Berlalu pergi dengan kelukaan ini
Ku mengalah, ku bersabar
Bertentang mata seolah-olah tiada apa
Berpaling muka, ada saja yang tidak kena
Mencari sebab, serta alasan yang kukuh
Supaya tercapai hajatmu
Manis di bibir, memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Siapa terlena, pastinya terpukau bujukmu, rayumu, suaramu
Yang menagih simpati dan harapan
Engkau pastinya tersenyum dengan pengunduran diriku
Tetapi bagiku pula suatu ketenangan
Andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
Selagi tidak kau rubah cara hidupmu
Ada rahmatnya bila tidak lagi bersama
Terasa jauh diriku ini dengan dosa
Ku tinggalkanmu walau tanpa kerelaan
Yang nyata, kau tidak berubah
Alasanmu (Mencari Alasan) - Exist
Pertama kali denger lagu ini waktu saya masih awal-awal jadi CPNS, ada pengamen yang nyanyi di metromini. Saya sangat terpukau sama melodi dan liriknya jadi langsung saya tanya ke rekan kerja saya yang udah berumur. Terus terpaparlah saya dengan lagu ini. Dan ternyata lagu itu adalah soundtrack hidup saya sebagai PNS. Kalo 7 tahun pengabdian saya dijadikan film, inilah salah satu ostnya.
Oke, langsung aja kita bahas dari bait pertama.
Ikhlasnya hati sering kali disalah arti
Tulusnya budi tidak pernah engkau hargai
Berlalu pergi dengan kelukaan ini
Ku mengalah, ku bersabar
Sebenarnya cukup jelas dan mudah dipahami, ya. Dari bait pertama ini sudah menggambarkan rasa sakit hati dan kekecewaan tokoh ‘aku’. Gimana gak sakit hati? Kebaikan hatinya gak dihargain, niatnya baik tapi orang lain ambil jeleknya. Tokoh aku di sini selalu berusaha mengalah dan bersabar menghadapi tokoh ‘engkau’.
Siapa tokoh engkau? Nah, di sini ini masih belum jelas karena bisa siapa aja. Maknanya sangat luas, apalagi untuk orang-orang yang senantiasa berbuat baik pada siapapun.
Versi Indonesia, di baris kedua ini liriknya adalah:
Tulusnya cinta tidak pernah engkau hargai
Perhatikan dari tulusnya budi berubah jadi tulusnya cinta.
Why? Saya gak tahu. Mungkin karena pasar Indonesia lebih senang lagu cinta-cintaan. Jadi ‘engkau’ dalam versi Indonesia ini seperti dipersempit hanya menjadi seorang love interest dari aku.
Inilah kenapa saya lebih suka versi Malaysia dari lagu ini. Karena cinta itu perasaan yang gak harus bersambut. Ngapain u sok mengalah dan bersabar karena gak dihargain cintanya? Move on. Beda kalau kebaikan, ekspektasinya kalo orang baik sama kita, sudah sewajarnya kita juga baik sama orang itu. Kalo kita nggak balik bersikap baik, yang jahat adalah kita.
Misalkan Anda tukang cilok terus Anda naksir sama seorang ibu-ibu wali murid anak SD yang biasa jajan cilok Anda. Tentu kalau ibu-ibu itu gak menghargai cinta Anda ya wajar, kripi, istri orang ditaksir. Tapi kalo Anda baik, ramah, ngasih bonus cilok, eh malah si ibu kalo ngasih duit dilempar, nah itu baru posisi Anda adalah korban. Di posisi ini kalo ngaku Anda mengalah dan bersabar adalah kata yang tepat.
Di sini kita bisa memahami tokoh ‘aku’ ini sebagai tokoh orang yang baik. Seorang protagonis. Kita bisa mulai bersimpati dan relate kepada beliau karena dalam hidup ini pasti ada kalahnya kita baik ama orang tapi orang itu jahat sama kita.
Bertentang mata seolah-olah tiada apa
Berpaling muka, ada saja yang tidak kena
Mencari sebab, serta alasan yang kukuh
Supaya tercapai hajatmu
Ini sambil saya jelaskan artinya berdasarkan google translate. Bertentang mata itu maksudnya bertatap mata. Ada saja yang tidak kena itu maksudnya ada yang salah. Hajat itu maksudnya keinginan.
Tokoh engkau di depan memperlakukan si aku ini seperti sosok yang bukan siapa-siapa alias gak penting. Udah dibaikin, ditolongin, tapi gak ada timbal baliknya. Tentu hal ini menimbulkan ketidaknyamanan buat si aku. Kayak apa salah saya? Kenapa saya diginiin?
Dan ini tidak mesti ada hubungan romantika, ya. Karena siapapun akan merasa gak tenang kalo diperlakukan seperti ini. Kita dijudesin kasir aja suka kepikiran. Sementara ini seseorang yang sering kita ketemu, sering bertemu mata, selalu kita berikan kebaikan dan respect. Tapi kok gitu banget balasannya.
Btw, di versi Indonesia, baris keduanya lagi-lagi dikaitkan dengan cinta-cintaan:
Berpaling muka bila saling bertatap mata
Seolah kita tiada pernah saling menyinta
Lah siapa tau emang gak pernah saling menyinta? Orang pacaran aja belom tentu selama ini gak bertepuk sebelah tangan. Kata saya sih lirik versi Indonesia ini terlalu pede. Saya gak suka. Di sini kita sudahi aja bahas lirik versi Indonesia dan istiqomah membahas lirik versi Malaysia sampe abis.
Baris selanjutnya mencari sebab serta alasan yang kukuh ini kalo saya mencoba memahami, justru tokoh engkau ini kelakuannya sangat gak makes sense. Tapi cuma bisa memberikan alasan yang dibuat-buat, karena ybs memang tidak punya alasan yang tepat secara moral mengapa memperlakukan orang lain kayak gitu. Alasan yang sebenarnya adalah karena si engkau ini memiliki hajat, punya keinginan, desire. Yang sepertinya hajat tsb tidak bisa dibenarkan oleh moral dan nilai-nilai AKHLAK.
Lanjut...
Manis di bibir, memutar kata
Malah kau tuduh akulah segala penyebabnya
Siapa terlena, pastinya terpukau bujukmu, rayumu, suaramu
Yang menagih simpati dan harapan
Kita pasti kenal minimal satu orang seperti ini di lingkungan kita. Entah di sekolah, di rumah, di kantor. Pokoknya tipe tipe ular yang pandai memutarbalikkan fakta untuk menjatuhkan kita. Ya ini yang dideskripsikan sama bait lagu ini.
Kalau dilihat dari bagaimana si engkau yang orangnya simpatik dan bisa bikin orang terpesona, si ular ini adalah sosok yang lumayan disegani orang lain. Mungkin teman kita tapi yang lebih populer dari kita. Mungkin atasan kita. Mungkin guru kita. Entah, yang pasti sosok engkau ini gak 100% setara sama si aku sehingga aku gak punya pilihan selain mengalah dan bersabar. Apalagi sosok ini punya keinginan (hajat) yang mana kita ini adalah batu sandungan untuk hajatnya.
Kalo buat saya, sosok engkau ini seringnya adalah seorang pejabat gak beres di tempat saya kerja. Namanya pejabat, pasti punya power, ada orang orang yang lebih denger mereka daripada denger saya. Dan karena saya tipe-tipe orang yang sangat sesuai aturan, saya beberapa kali berada pada situasi di mana saya tidak disukai oleh pejabat. Makanya saya sangat relate dengan lagu ini. Saya udah kerja bener, saya berbudi, saya berdedikasi, tapi kenapa saya jadi tumbal kalo ada masalah? Kenapa saya dijelek-jelekin?
Di sini terasa kefrustrasian tokoh aku. Dari bait pertama dan kedua sudah digambarkan kalau si aku ini tidak diperlakukan dengan baik. Dizhalimi. Tapi justru tidak bisa melawan. Di bait ketiga, baru terbuka penyebabnya. Semua orang berpihak sama si engkau. Entah karena karismanya, entah karena powernya. Yang jelas si aku ini gak bisa berbuat apa-apa. Akibatnya, dia terpojok dan terpaksa melakukan apa yang dideskripsikan di bait ke-empat.
Engkau pastinya tersenyum dengan pengunduran diriku
Tetapi bagiku pula suatu ketenangan
Andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
Selagi tidak kau rubah cara hidupmu
Ya, aku mengundurkan diri.
Ini gong-nya sih. Menurut saya ini bait yang sangat sedih sekaligus melegakan. Kadang kita harus mundur untuk mengalah. Mengalah mungkin terdengar cupu, lemah. Tapi sebenarnya, dengan kita mengalah sama orang itu, kita sudah memenangkan pertandingan melawan ego kita sendiri.
Buat apa kita memupuk ego memaksakan diri harus di situ terus, harus merasa kuat, merasa bisa handle, bisa sabar... motivasinya apa? Apa karena ngira suatu saat akan ‘menang’? Apakah worth it bertahan? Nggak selalu, guys. Ini yang disampaikan oleh aku di baris keduanya, bagiku pula suatu ketenangan. See? Kalah tidak mesti negatif. Ada hal positif dari mengalah dan memutuskan mundur.
Aku mendapatkan ketenangan.
Ketenangan itu belum tentu didapat kalo dia terus mengikuti egonya untuk bersama. Orang si engkau belum tentu berubah kok.
Ingat, manusia itu nggak segampang itu berubah, guys. Kita hidup di dunia nyata, bukan di cerita fiksi yang--iya, kalo di fiksi karakter jahat dapet backstory dan character development. Di dunia nyata, orang jahat emang dari sananya jahat dan kemungkinan besar akan mati sebagai orang jahat juga. Lagian kata siapa kita karakter utama di cerita? Kita ini figuran. Kita tidak penting-penting banget dalam hidup orang lain sampe bisa ngubah hidup dia.
Makanya kalo ada yang bilang mau mengubah sistem dari dalam... wah, good luck aja deh. Pernah ada pengalaman mengubah apa kira-kira? Berhasil mengubah bapak jadi berhenti ngerokok? Berhasil ngubah kebiasaan suami ngambil baju diangkat dulu? Ngubah kebiasaan sendiri berhenti begadang dan rajin olahraga? Ngubah satu orang aja belom tentu bisa apalagi ngubah sistem. Mungkin bisa, kalo kita presiden. Atau ketua parpol. Atau siapa deh yang punya jabatan lebih tinggi, saya gatau.
Sayangnya kita hanya debris yang kalo kita resign, kantor nggak akan kehilangan apa-apa. Malah di lagu digambarkan bahagia tuh atasannya akhirnya staf yang menjadi batu sandungan ini mundur juga. Akhirnya bisa rekrut staf yang lebih nurut, lebih gak rewel, lebih ikhlas dibayar rendah, bebas.
Oke, lanjut lagi...
Ada rahmatnya bila tidak lagi bersama
Terasa jauh diriku ini dengan dosa
Ku tinggalkanmu walau tanpa kerelaan
Yang nyata, kau tidak berubah
Yak, lagi-lagi ini adalah sisi positif pengunduran diri yang tadi. Jauh dengan dosa. Di sini sepintas sudah tergambar kalau si aku banyak melakukan perbuatan yang tidak baik selama bersama si engkau.
Dalam konteks dunia perkantoran, ini hal yang sangat familiar kalau kita staf dan bekerja sama atasan zhalim. Apalagi kalo di pemerintahan. Adaaaa aja hal-hal yang bikin nurani kita mempertanyakan. Ini gapapa saya bikin kayak gini? Ini bukannya gak boleh, ya? Ini disuruh sama bos sih tapi...
Ya begitulah. Mungkin ketenangan yang disebut di bait ke-empat tadi adalah efek dijauhkan dari dosa. Minimal banget kalo nggak pernah disuruh berbuat aneh tuh dijauhkan dari dosa ghibah dan mengumpat si engkau.
Meski ada perasaan tidak ikhlas pergi karena ada karir yang dibangun atau fasilitas yang oke, saya paham perasaan itu, saya yakin orang-orang lain yang resign juga paham. Tapi memang, kenyataannya, si engkau tidak berubah. Jadi mungkin memang ini pilihan yang terbaik, jalan yang terbaik.
Terakhir,
Katalah apa yang kau ingin selagi kau dapat berkata
Memang begitu sikapmu semenjak dahulu
Andainya kita terus bersama, belum tentu kita bahagia
Selagi tidak kau rubah cara hidupmu
Ini epilognya.
Di sini tokoh aku sudah pasrah. Terserah apa yang dikatakan oleh si ular munafik ini begitu aku sudah mundur. Ingat, bait ketiga, si engkau ini pandai memutarbalikkan fakta. Sementara orang yang udah resign nggak tahu lagi omongan macam apa yang akan disampaikan ke orang lain. Aku udah tidak bisa membela diri lagi, tapi yaudahlah terserah. Kita jalani hidup masing-masing.
Menutup lagunya dengan mengulang baris yang sangat powerful ini. Si aku menguatkan diri akan keputusannya. Seandainya mereka terus bersama--seandainya aku tetap bertahan kerja sama si engkau, juga nggak akan ada jaminan suatu saat si aku akan bahagia. Karena si engkau begitu aja dari dulu. Tidak berubah.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ketika saya masih kuliah dulu, nonton anime shonen tuh merasa tergelitik. Masa iya demi perdamaian dunia yang usahain harus anak-anak usia SMP-SMA, si MC shonen ini. Kalian kan masih anak sekolah, mengapa beban seberat itu harus kalian yang mikul? Orang dewasanya pada ngapain? Gak masuk akal ini. Emang gak ada polisi? Tentara? Dewan keamanan dunia? Negara superpower dengan teknologi mutakhir, persenjataan lengkap, dan SDM superior terlatih sejak PAUD untuk bertarung begitu ada monster di bumi?
Begitu saya jadi bagian orang dewasa, saya melihat betapa uselessnya orang dewasa ini. Apalagi yang inisialnya PBB. Udah 100 hari lebih Palestina digenosida. Kok bisa gak ada langkah konkret yang diambil buat menghentikan bencana ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya? Voting doang tapi gak jalan-jalan. Dikira dia KPU kali, pungut suara doang tapi nyatanya gak ada perubahan.
Mungkin orang yang ahli di bidang perang atau hubungan internasional baca tulisan ini ngerasa kayak, "Alah, orang ini asbun doang, lu itu gak ngerti apa-apa soal konflik ini, Cil."
Saya gak peduli, brow. Saya gak peduli fafifu wasweswos orang mau analisis konflik pake pendekatan apa, teori apa, ilmu apa. Yang penting itu bukan sejauh mana ilmu u pada. Yang penting adalah apa yang bisa u lakukan untuk menghentikan genosida di Palestina. Situ mau pake ilmu rawa rontek apa domain expansion gak peduli, sumpah. Gak ada gunanya kalo emang gak ada gunanya.
Saya bisa paham perasaan orang-orang di shonen yang alih-alih berharap pada pemerintah dan polisi, malah ngarepin anak umur 17 tahun. Kalo saya kenal Naruto udah saya buka segel kyubi biar ngamuk di markas IDF.
Para pembaca punya gak sih satu barang yang beli di olshop terus gak sesuai ekspektasi jadi gak kepake? Barang barang yang gak berguna dan menuh-menuhin tempat doang itu. Nah, PBB dan dewan keamanan tetapnya itu lebih gak berguna lagi. Barang murah olshop itu gak berguna karena memang mereka gak berguna, bukan ada segenap power dan resource untuk melakukan sesuatu tapi memilih untuk menjadi seonggok limbah organisasi.
Mungkin banyak yang tau kalo saya nih paling gak bisa hafalan. Saya sangat kasihan sama saya di masa lalu yang harus cape-cape ngapalin tugas dan fungsi PBB buat sekolah. Kek ngapain saya hafalin nama nama sekjen PBB Kofi Annan. Ya Allah. Lima negara anggota dewan keamanan tetap. Hadeehh. Tolong yang ngerancang kurikulum, hapusin aja itu dari materi sekolah.
Dulu saya gak mikir panjang karena saya ngapalin aja udah susah. Sekarang baru kepikiran kenapa negara-negara yang jadi dewan keamanan tetap adalah negara yang dulunya (mungkin sampe sekarang juga) penjajah dan hobi bikin ketar-ketir negara orang. Kayaknya gak masuk logika aja gitu. Masa mau jadi dewan keamanan tapi punya catatan kriminal. Emang ada preman bisa diterima masuk kepolisian? Mentok-mentok paling jadi pemuda pancasila aja itu mah.
Menurut saya, orang-orang mending pada nabung buat biaya sekolah anak deh dari sekarang. Mau belom berencana punya anak, belom nikah, belom punya pacar, belom lulus SD juga gak ngaruh. Nabung.
Saya gak tau gimana orang-orang yang punya anak banyak bisa nyekolahin anaknya di zaman sekarang. Kayaknya sekarang SPP & uang pangkal sekolah udah pada gak masuk akal deh. Udah SPP kayak gitu, gaji guru segitu-segitu aja, fasilitas juga biasa aja. Gak tau ya, duitnya buat apa, mungkin ketua yayasannya pengen datengin Mbappe kali, ya.
Mungkin saya kurang riset karena saya akuin buat nyari sekolah anak saya, saya gak keliling datengin sekolah satu-satu. Saya cuma kontak CP dari sekolah yang ada titiknya di google maps aja (karena saya baru pindah, masih kurang tahu daerah sini). Itu pun saya gak nyari yang elit. Gak musti sekolah Islam, gak butuh kurikulum internasional, gak usah tahfidz, yang penting mau nerima anak di bawah 6 tahun aja.
Saya shock sekolah SD dalem gang yang masuknya musti jalan kaki uang pangkalnya 20 jutaan. Dulu tuh saya pikir uang pangkal 20 juta tuh buat sekolah yang minimal punya lapangan golf. Ini mah ada yang ruang kelasnya aja gak pake plafon, tapi uang pangkal 20 juta. Tolong lah duit yang masuk dipake buat masang plafon 😭
Apa iya karena inflasi? Saya gak bisa bandingin sama SD saya dulu karena saya sekolah di madrasah murmer di bawah standar. Tapi di sini ada gak sih yang dulu uang pangkal SD-nya seharga motor? Bukan tidak mungkin 20 tahun yang akan datang uang pangkal udah seharga mobil.
Sejak saat itu saya melihat orang yang anaknya banyak tuh kayak udah respect (campur kasian dikit). Berapa uang yang per tahun dia keluarin buat daftar ulang? Berapa per bulan buat SPP?
Lagian siapa sih yang bikin ide tiap tahun orang musti daftar ulang dan bayar lagi? Kayak akal-akalan banget gak sih? Keperluan administrasi apaan. Kan sekolah punya semua datanya. Kan gak ada data penting yang berubah. Emang pas naik kelas tiga tiba-tiba bapak kandungnya berubah jadi Surya Paloh gitu?
Saya pas SD gak ada tuh daftar ulang. Pas SMP disuruh daftar ulang bingung banget. Kenapa kalo gak daftar ulang dianggap mengundurkan diri? Itu kan sekolah tiap jenjang udah jelas periodenya, SD 6 tahun, SMP SMA 3 tahun. Emangnya wali murid mana yang iseng banget tiap tahun ganti sekolah?
Sekolah yang ada komponen uang gedung aja udah aneh. Kenapa ada nomenklatur uang gedung padahal gedungnya milik sendiri. Konsepnya gimana sih? Yayasan yang beli tanah, murid yang patungan bayar? Harusnya kan kita bayar ya udah satu kesatuan fasilitas, yaitu SPP. Mana ada kita ke ngegym kena charge biaya sewa biar dalem mall jugaan. Ada gak sih institusi selain sekolah yang nagih uang gedung?
"Ah, gampang lah, ntar sekolahin anak di sekolah negeri aja."
Good luck aja dah. Mungkin banyak yang belum familiar sama sistem zonasi untuk penerimaan sekolah negeri sekarang. Di mana untuk keterima sekolah negeri itu syarat paling utamanya adalah rumah deket sekolah. Makanya banyak keluarga jin yang tinggal di selokan belakang sekolah negeri meminjamkan alamat mereka buat daftar sekolah negeri. Tentu gak adil, di mana kita tinggal di rumah dan mereka tinggal di selokan persis belakang sekolah. Jelas deketan mereka dong alamatnya.
Tapi ya itulah, persaingan masuk sekolah negeri yang begitu ketat membuat orang jadi begini. Bagi yang tidak yakin bisa bersekutu dengan jin, balik ke paragraf pertama saya tadi, nabung dari sekarang.
Saya udah pernah cerita di tumblr belom, ya, kalo saya tuh sebenernya di awal pernikahan gak berminat punya rumah. Mungkin karena latar belakang saya sebagai orang Betawi, di mana sebagian besar sepupu saya yang udah nikah, tinggalnya di situ-situ aja. Ntar dibikinin rumah kontrakan di tanah bekas kebon ama bapaknya.
Waktu abis nikah kami ngobrol ngobrol, suami saya pengen punya rumah, mobil. Saya orangnya nggak banyak mau kalo barang mahal. Selama bisa hidup tanpa barang itu, gak kepengen. Cuma kalo mau beli, ya gapapa sih saya ngikut aja, tapi harus cash. Saya gamau ngutang. Jadi kita berencana ngumpulin duit total 6 tahun. 1 tahun buat mobil, dan 5 tahun buat rumah.
Saya pas itu cuma tau rumah itu mahal. Tapi gak tau seberapa mahal dan kejamnya kenaikan harganya per tahun. Maklum, gak berminat beli. Cuma saya masih inget muka suami saya pas itu masih polos banget, berbinar-binar membayangkan nanti pas kita seumuran Mbak R (PNS seangkatan kami yang lebih tua 7 tahun dari saya).
"Nanti pas kita seumuran Mbak R udah punya rumah sendiri," kata dia.
"Wah, kasian bener ini bocil ngarep banget," pikir saya.
Waktu itu kami masih muda, polos, dan penuh semangat. Kawan-kawan saya yang lebih tua dan berpengalaman dalam hidup banyak yang merasa kalo saya gak realistis. Mana bisa ngejar harga tanah? KPR itu udah paling bener! KPR bukan riba, KPR itu kebutuhan, KPR itu solusi!!!
"Tabungan doang banyak tapi gak punya aset chuaksss."
Saya emang hobi nabung, jadi saya gak merasa berat hidup prihatin. Sebenernya saya malah gak merasa terlalu hardcore sih, nyaman-nyaman aja. Tapi ada kali 73648302 kali suami saya ngeluh kenapa dia mau beli apa-apa susah, gak kayak temen-temennya yang bisa jajan, bisa jalan-jalan, gonta-ganti hp dan sebagainya.
"Dasar bocil, ini semua kan karena ente yang pengen," batin saya.
Kadang kalo malem saya gak bisa tidur, saya bikin simulasi tabungan dan kenaikan harga properti per tahun. Saya makin gak bisa tidur.
Kadang kalo saya males berangkat kerja, saya langsung buka mbanking ngecek saldo dan ngitung berapa duit lagi buat bisa beli rumah. Saya makin males berangkat kerja.
Tantangan beli properti cash itu di mana mana sama. Kenaikan harga rumah tidak diikuti kenaikan penghasilan. Harga rumah naik terus, gaji PNS gak naik-naik. Kalo pun naik kagak berasa. kayaknya sejak saya nikah sampe sekarang gaji suami saya cuman naik 200 ribuan. Belum lagi COVID yang bikin tunjangan PNS dipotong 50%. Belum lagi saya resign sebelum tanah aja kebeli. Tapi alhamdulillah (anehnya) target pas awal nikah dulu tercapai juga.
Perjalanan dari dulu sampe sekarang tuh panjaaaang banget. Dari nabungnya, nyari tanahnya, ngurus legalitasnya, bangun rumahnya. Kayak lari marathon. Penuh keringat dan air mata.
Ya alhamdulillah juga akhirnya 1 Agustus kemaren bisa nempatin rumah yang baru selesai dibangun. Bahkan setelah pembangunan pun masih ada hal-hal yang belum diperbaiki. Tiga hari lalu kami ulang tahun pernikahan yang ke-6, tapi gak bisa merayakan karena kontraktornya dateng buat benerin cat yang bermasalah. Agak sedih tapi gak apa-apa.
Diikuti suara ‘bruk’ keras dokumen-dokumen tebal yang, yah, memang sepertinya sengaja dibanting, ke atas meja. Yang dipanggil mengernyit, melihat juniornya Zee memasang tampang muram.
“Udah semua?” katanya tidak begitu peduli dan langsung lanjut fokus ke layar laptopnya lagi.
“Kan cuma segini nih”, ia menepuk gunungan berkas setengah meter di atas meja, “boleh gak aku cuti seminggu--no, tiga hari. Tiga hariii aja, Mbak.”
“Gak.”
“Please, Mbak. Gue butuh healing.”
Millen berhenti mengetik di laptopnya. Dialihkan pandangannya pada Zee seraya tersenyum lebar. “Lo butuh? Gue juga butuh. Lo mau gila? Gue juga. Tapi deadline-nya minggu depan, Zee. Kalo gue back-up kerjaan lo juga, gue harus bersekutu dengan iblis buat perpanjang nyawa gue biar gue gak cepet mati.”
“Tapi, Mbak, Mental health gue lagi gak baik-baik aja. Aku depresi ringan.”
“Lo kenapa? Gara-gara omongan Pak Bumi? Cuekin aja lah. Itu sindrom pra-pensiun. Lo tau kan ibu-ibu kalo mau menopause ada perimenopause syndrome, marah-marah mulu. Nah, Pak Bumi lagi di fase mirip-mirip itu.”
“Gak tau, Mbak. Mungkin burnout aja gue. Baru lulus kuliah terus kerja, kerjaannya kayak gini. Gak ada work-life balance-nya. Bosnya toxic. Gaji juga cuma UMR gak dua digit kayak orang-orang.”
“Yaelah, Zee. Lo tuh harusnya bersyukur baru lulus udah kerja. Lo mah mending gaji UMR karena fresh graduate, lah gue tujuh tahun kerja gaji segitu-segitu aja,” Millen mendengus.
“Depresi tuh bukan masalah bersyukur atau enggak, Mbak. Aku juga gak mau depresi kok.”
Tangan Millen meraih punggung Zee, ditepuk-tepuknya pelan. “Lo ke psikiater apa ke psikolog? Dikasih obat?”
“Belum, Mbak.”
“Maksudnya?”
“Aku tuh udah 2 hari ini susah tidur. Rasanya overthinking terus, sediiiih terus, gak tau kenapa. Badan capek padahal aktivitas sama aja. Aku coba googling, katanya sih mild depression gitu,” ujar Zee serius sambil mencoba menunjukkan history browser-nya.
“Zee...”
“Hm?”
“Jadi lo diagnosis sendiri?”
“Enggak kok, Mbak, ini ada mental health quiz--”
“Zee,” Millen melembutkan suaranya, “Lo tuh mungkin bukan depresi.”
“Depresi, Mbak, cuma belom ke psikiater--”
“Lo tuh kena efek Venus konjungsi Saturnus,” Millen mengambil kertas dan pensil kemudian membuat titik titik dan garis. Ditunjukkannya gambar itu pada Zee.
“Ini apaan, Mbak?”
“Posisi Venus lagi sejajar Saturnus, ini yang bisa bikin orang merasa sedih. Belum lagi bulan juga lagi sejajar sama Pluto...”
“Apaan sih, Mbak. Kalo gara-gara itu semua orang pada berobat dong, RSJ penuh. Gak masuk akal.”
“Tiap orang beda-beda, tapi karena lo virgo, dampaknya lebih parah di elo, Zee.”
“Zodiak gue aja libra.”
“Mungkin moon atau sun sign lo virgo. Coba cek deh.”
Zee cuma bisa mengernyitkan alisnya.
“Lo tuh sebenernya virgo banget, Zee. Lo aja kemaren kesel banget waktu planning yang lo susun berantakan.”
“Mbak... Gue begadang nyusun schedule yang superrr mepet biar agenda semua jalan sesuai kemauan klien, terus tau-tau Pak Bumi minta semua direvisi gara-gara dia salah ngasih tanggal. Menurut lo zodiak aries atau gemini kesel gak kalo digituin, Mbak?”
“Yaudah, intinya kan elo baik-baik aja, cuma kena efek Venus sejajar Saturnus.”
“Apa siiih? Please, Mbak, mental health aku gak baik-baik aja, aku butuh cuti.”
“Kalo elo cuti, mental health gue yang gak baik-baik aja!”
Zee melirik jam di ponselnya. Kemudian mulai gelisah. “Mana sih, Pak Bumi, udah jam sepuluh belom dateng. Katanya pagi mau meeting. Gimana mau ngajuin cuti deh?”
Tring.
Panjang umur. Suara notifikasi pesan masuk di whatsapp web Millen dari Pak Bumi. Zee ikut mengintip.
‘Saya ke kantor sorean, ya. Ada urusan, jam tangan saya rusak. Matot. Mati total. Haduh. Ada2 aja. Mana mahal lagi. Meeting kamu handle dulu.’
Millen meletakkan telunjuknya di depan mulut Zee. Ia menggeleng sekali, mengisyaratkan pada juniornya yang kurang pengalaman itu bahwa sikapnya kurang tepat. Tangannya kemudian mengetikkan balasan di laptopnya dan sengaja menunjukkannya pada Zee; begini caranya seorang profesional merespons pesan dari atasan.
Sering kita melihat drama di mana orang kaya memberikan sejumlah uang kepada pacar anaknya untuk putus. Hal ini membuat orang orang suka ngayal dan berandai-andai, bagaimana seandainya kita ada di situasi pacar itu? Taro lah uangnya nilainya 10 M. Apakah kita ambil uangnya? Atau menolak karena cinta pada pacar lebih besar?
Ini adalah situasi hampir 100% gak akan terjadi pada hidup kita yang gini-gini aja. Tapi karena saya udah terlanjur ngebayangin, saya akan memberitahukan langkah yang perlu diambil sebagai bahan pertimbangan kalau kejadian nyaris mustahil ini menimpa Anda.
Yang pertama, kita harus cek dulu apakah uang 10 M itu ditransfer/cek atau dalam bentuk fisik hard cash kek duit gepokan sekoper.
Kalo dalam bentuk fisik, coba tanya, “Bu, apa gak bisa ditransfer aja?”
Uang kalo dikasih dengan jalur-jalur begitu mesti ada apa-apanya biar gak bisa kelacak. Emang mo transaksi narkoba apa. Kalo duitnya halal sih mending, tinggal urus pajak. Kalo duitnya gak halal? Nanti kesangkut paut di pengadilan kasus korupsi gimana? Belom kalo harus berurusan ama polisi. Males. Mana bawanya juga ribet. Di jalan gak tenang, takut dirampok, kena begal. Ahhh, ga enak lah pokoknya.
Lagian 10 M itu kan banyak banget, ya. Harus diitung dulu dong. Gimana kalo ternyata isinya cuma 9,9 M? Rugi 100 juta yang seharusnya bisa jadi milik kita.
Kalo ternyata gak bisa ditransfer, red flag. Sebaiknya ditolak. Maaf ini, ini urusannya bukan cinta atau harga diri, tapi ketenangan hidup setelahnya. Anda jangan naif berpikir ini rezeki nomplok, jangan-jangan Anda yang diperdaya dijadikan alat cuci uang orang kaya.
Pokoknya orang kalo nyimpen duit cash dalam jumlah besar, ngeri. Nah, seandainya ini uangnya transfer, kemungkinan besar didapat dari cara-cara yang aman. Meskipun masih mungkin kesangkut paut urusan sama polisi dan pengadilan, tapi seenggaknya dia lebih berani transparan. Kita bisa masuk ke verifikasi berikutnya.
Yang kedua, cek harga jadinya. Tanya, “Ini udah nett atau masih bisa nego?”
Jangan cepat tergiur pada nominal yang besar. Karena siapa masih bisa dinaikin lagi. Anda bisa membuat nota perhitungan buat menghitung biaya biaya yang Anda butuhkan untuk meninggalkan anaknya. Sebagai contoh:
Lalu tinggal berargumen kalo ini adalah hal-hal yang minimal dan esensial untuk menjauhi anaknya. “Untuk menjauh saya perlu pergi ke luar kota, makanya saya perlu rumah seharga 5 M di luar kota. Belum kalo saya mental breakdown, harus ke psikolog, konsumsi obat penenang. Supaya anak ibu move on, saya juga harus meyakinkan anak ibu kalo saya bahagia tanpa dia. Makanya saya perlu healing mandiri ke Singapur 3 bulan. Itu aja sebenernya ngepas, Bu. Tapi saya kasih murah aja mah biar cepet beres urusannya.”
Oiya, di contoh di atas saya kasih item biaya pajak dan bea meterai. Saya bukan ahli perpajakan tapi saya yakin nerima duit gini PASTI ADA PAJAKNYA! Bisa dibicarakan dulu pajak-pajaknya nanti siapa yang nanggung. Kalau masih bisa dikasih spare 1-2 M lagi buat pajak, tentu akan memudahkan urusan kita ke depannya.
Yang ketiga, pastikan untuk urusan surat-suratnya.
Oke. Ini untuk menjamin legalitas duit yang kita dapet biar gak bermasalah ke depannya. Kita perlu urus surat-surat ke notaris. Ini berkaitan dengan item sebelumnya, coba didiskusikan lagi, notarisnya siapa yang bayar. Lumayan lho biaya notaris itu. Abis itu baru deh urus suratnya, mungkin bisa dibuatkan akta hibah.
Kalo ada itu kan lebih aman. Sekalian dibikin pasal aja kalo uang yang dikasih gak akan diminta balik kalo seandainya udah menjauh tapi anaknya tetep deketin. Ya kan kita gak bisa berbuat apa-apa kalo gitu. Mungkin harus negosiasi ulang dan nambah biaya lagi.
Kalo ibunya keberatan ke notaris? Dengan berat hati, harus kita cancel.
Tolong banget buat orang yang ada di posisi ini, jangan dengan cepat iya-iyain aja apa kata si ibu itu. Mungkin kita merasa posisinya kalah power karena si ibu lebih kaya dan sebagai calon mertua. Tapi kalo dipikir lagi, sebenernya yang butuh itu kan dia. Harusnya kita yang punya power untuk negosiasi. Jangan gampang gentar. Masih banyak ikan di laut, tapi anak ibu itu cuma yang pacar kita itu.
Btw, ini tips saya buat kawan-kawan yang mungkin ingin menyikapi situasi ini dengan pendekatan orang BU. Saya pribadi sih gak akan melakukan hal ini. Detik di mana ibu itu nyuruh saya jauhin anak, saya udah ilfil sama keluarganya dan gak bakalan mau punya mertua kayak gitu. Gak usah dikasih duit juga saya gak mau berurusan ama keluarganya. Ogah amat ambil duit u, kek halal aja. Kalo misal dia lempar duit ke muka saya, bakal saya pungutin duitnya, terus saya lemparin balik duit itu ke muka dia. Kalo perlu saya tambahin 2 ribu buat biaya parkir motor saya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Waktu saya masih kerja jadi analis data, atasan saya pernah ngasih surat edaran dari BPSDM tentang usulan diklat yang diminati/diinginkan. Saat itu saya isi “Data Analysis and Machine Learning with Python” biar kesannya kek susah banget. Dalam hati saya “mamam tuh BPSDM, gak bakalan kan kalian ngadain diklat ini???” Waktu saya ngelaporin isian form saya, berasa kek keren banget saya. Padahal pemahaman saya tentang apa itu machine learning cuma sebatas penjelasan Dosan ke Dalmi di episode awal Start-Up. Python (salah satu bahasa pemrograman) aja pas itu saya gak paham. Ya untung nemu aja sih ide nulis diklat gitu pas gugling gugling dikit meskipun cuman asal-asalan.
Emang manusia itu harus berhati-hati mengucapkan apa yang diinginkan. Karena sekarang saya adalah punya sertifikat Tensorflow dari Google, yang mana merupakan library machine learning. Baru aja ambil examnya (Tensorflow developer certificate) kemaren sore. Yang paling kaget lulus tensorflow certification exam ini justru adalah saya sendiri. Hidup memang suka ga disangka-sangka.
Habis nulis usulan diklat sok-sokan itu emang saya belajar bahasa pemrograman Python secara mandiri. Saya memang tipe orang yang butuh belajar dengan pace saya sendiri jadi otodidak adalah jalan ninjaku. Ada masa-masa di mana saya gak bisa berhenti push rank di website challenge python, saya sempet bikin game sederhana juga pake python. “Ini nih! Ini dia nih bahasa pemrograman yang enak! Andai dulu saya belajar python pas kuliah, pasti saya gak murtad jadi anak IT,” pikir saya pas itu.
Tapi abis itu seperti saya pada minat saya yang lain, saya males sendiri dan gak ngulik-ngulik lagi.
Baru tahun ini keknya, setelah saya ngajuin resign, saya mulai belajar python yang buat data analisis. Tadinya pas kerja narik-narik/bersihin tipis tipis ya paling SQL. Kalo datanya kecil, cukup excel. Di situ saya mulai melirik data science. Maka mulailah saya ikut dari satu course ke course lain. Berkat Reni, saya jadi tau kalo saya bisa ambil course gratisan di coursera pake mode audit. Buat yang keknya keren kalo saya punya sertifikatnya, saya ajuin beasiswa. Gitu-gitu aja saya belajarnya, pada prinsipnya gimana biar gak usah keluar duit. Karena saya mungkin ilang minat di tengah jalan.
Sekitar bulan April atau Mei, saya ikutan program pelatihan salah satu kementerian. Saya pilih program machine learning with tensorflow karena satu alasan: mitra sertifikasinya Google. Ya dibanding mitra-mitra lokal, kalo punya sertifikat yang berlaku global kan lebih keren. Apalagi google terkenal. Yaudahlah saya ikut meskipun pas saya daftar saya gak tau apa itu tensorflow. Pengetahuan machine learning saya masih dasar banget dan course-course gratisan yang saya ikutin itu pakenya sklearn.
Waktu itu yang jadi peserta ada seribu orang lebih dan gak semua bakal dapet sertifikat Google. Cuma top 5% peserta aja. Saya masih inget pas hari pertama kelas saya pake perkenalan. Peserta di kelas saya banyak orang profesional di bidangnya, orang-orang yang emang kerja di bidang IT, beberapa ada dosen IT juga. Saya merasa, kalo saya bisa rata-rata aja udah bagus, karena saingannya orang-orang pinter. Tapi saya terusin pelatihan tiga bulan lamanya karena ini gratis.
Ada masa-masa di mana saya susah tidur karena belom ngerti konsep proyeksi vektor pada plane lain. Ada masa-masa saya ngerjain tugas esai sambil nonton badminton dan meracau soal Viktor Axelsen di esainya. Ada masa-masa saya skincare-an sambil nanya suami, “Mas, aku berenti pelatihan aja apa? Aku udah ga ada harapan.” Ada masa-masa selesai pelatihan dan gak kunjung dapet kabar, saya udah ikhlasin aja.
Tapi akhirnya saya masuk list orang yang dapet sertifikasi Google.
Harusnya top 5%, tapi di list mungkin lebih ke arah top 10%. Entah, mungkin karena anggaran masih banyak atau apa. Yang jelas saya hoki wqwqwq *emot nangis*
Habis itu saya mati-matian belajar Tensorflow yang udah saya lupakan abis pelatihan (pelatihan selesai Agustus, pengumuman terpilih baru November). Ini adalah bentuk terima kasih saya pada diri saya di masa lalu yang tidak menyerah. Padahal saya ini enggak pinter ngoding, pemahaman saya soal machine learning pun mungkin ga ada 10% dari para praktisi. Setiap belajar, saya ngerasa selalu kek aduh, ini saya masih jauh dari siap. Ada banyak, banyaaak banget hal yang saya gak ngerti dan harus dipelajarin.
Tapi karena saya udah pengen merasa plong, saya nekat ambil test kemaren. Mungkin ada orang yang nemu entri ini karena googling “tensorflow certification exam” karena kemaren-kemaren emang saya banyak bacain blog orang soal ini, berharap ada tips atau guide yang bisa membantu saya. Biar kuota kalian ga sia-sia, akan saya kasih sedikit tips dari pengalaman saya.
Jadi tau kan kalo sebelum test disarankan ngecek apakah di virtual environment pycharm bisa install sesuai requirement.txt tensorflow examnya? Ada di pdf "Setting Up TF Developer Certificate Exam” list library yang dibutuhkan berikut versinya. Sehari sebelum exam itu saya udah coba dan bisa keinstall semua (ada masalah minor tapi berhasil juga). Tapi di hari exam, TERNYATA requirementnya beda versi dari guide di pdf tensorflow itu. Dan parahnya justru tensorflownya yang gak keinstall di venv saya :’))
Panik lah saya. Saya udah ikutin troubleshoot dari pycharm, upgrade pip, dll. Di pdf guide, Tensorflow versi 2.9.0, tapi pas saya ujian dia minta install versi 2.10.0 dan gak bisa-bisa. Saya googling tapi ga keluar masalah kayak gitu. Saya mau wa trainer aja rasanya tapi saya gatau nomor wa-nya. Saya mau restart tapi takut keitung udah ambil exam dan malah gak lulus tanpa mulai ngoding. Setengah jam gagal terus install padahal waktunya cuma pengerjaan cuma lima jam buat lima soal.
Akhirnya saya install manual Tensorflow 2.11.0. Saya gak tau bisa apa enggak. Mana tombol submit di manaaa saya gak ketemu. Liat soal nomor 5 duluan, mata saya berkunang-kunang mana textnya panjang banget. Mau mikir masih panik karena masalah tensorflow tadi. Waktu ujian udah berjalan dua jam tapi saya ngerasa, “Ah, udahlah gak lolos ini mah.” Tapi yang penting berjuang dulu. Akhirnya saya fokus, ngerjain satu-satu soal. Tombol submit sudah ketemu, dan mulai berjalan lancar ujian saya.
Jadi itu tips dari saya, kalo gagal install requirement, jangan panik. Coba install versi lain. Insya Allah bisa.
Tips satu lagi, saya pake google colabs buat training. Tapi ternyata ada suatu masalah yang error terus di collab tanpa penjelasan yang jelas masalahnya apa. Akhirnya saya keidean pindah training ke kaggle. Kaggle ngasih notif error yang lebih jelas sampai akhirnya saya bisa debug kodenya.
Itu tips lainnya, usahakan punya resource lain buat notebooknya. Kalo buntu di collab, coba kaggle, atau coba apa kek yang punya notebook juga.
Alhamdulillah saya lulus dengan semua model dapet 5/5. Waktu ujian masih sisa sejam lebih. Trainingnya agak lama, tapi kayaknya lebih lama waktu dihabiskan buat saya panik di awal ujian. Panik ga ada hasilnya. Soal paling gampang aja saya gak bisa selesain pas panik. Kuncinya memang harus tetap tenang, fokus, kerjain satu-satu yang bisa dikerjain. Makin banyak latihan ngerjain dataset, makin familiar dan bakal lancar ngerjain soalnya. Semangat buat yang mau ujian. Jangan sia-siakan seratus dollar itu.
Aku dan Damon (Story of Seasons: Pioneers of Olive Town)
Waktu kecil saya gak main Harvest Moon. Saya cuma sering denger orang ngomong Harvest Moon Harvest Moon tapi saya gak ngerti itu apa. Saya gak relate sama pembahasan soal Popuri atau nostalgia theme songnya. Soalnya kan saya gak punya PS. Saya baru main Harvest Moon itu tahun ini, di bawah bimbingan suami saya. Bahwa Story of Seasons itu ya sebenernya Harvest Moon juga. Cuman kan saya gak tau the real Harvest Moon kek apa.
Pertama kali main, chara saya cowok, default. Waktu awal awal saya rajin bertani dan menambang sampe akhirnya saya cepet kaya. Setelah banyak duit, saya nggak tau lagi harus ngapain. Esensi gamenya apa? Kapan saya tamatnya? Kata suami saya, itu belom kaya, rumah belom diupgrade, sawah masih segitu. Tapi saya gak berminat. Hidup secukupnya aja yang penting kalo mau beli apa ada duitnya. Rumah buat apa bagus-bagus yang penting ada, toh yang berguna cuma kasurnya doang. Terus kalo semakin kaya, semakin banyak yang diurusin. Ah, ribet. Mana saya gak bersosialisasi dan kurang tertarik ngejar cewek. Akhirnya lama saya ga lanjut mainin.
Beberapa waktu lalu saya mulai mainin lagi. Kali ini saya pake karakter perempuan. Kalo perempuan siapa tau saya bisa lebih emotionally involved. Jadi lebih fresh juga. Saya gak banyak nanem biar ga terlalu cepet kaya. Dan karena saya perempuan, saya bisa cari cowok yang menarik hati.
Ini namanya Damon, anak tukang hewan. Kenapa saya suka Damon? Satu, karena dia tsundere. Dua, secara tampang dan style tipe saya banget. Tiga, dia oniichan. UGH. Hatiku tertancap panah asmara.
Saya jadi rajin nambang karena Damon suka batu berharga. Tiap pagi setelah ngurus sawah dan kandang, saya ngejar-ngejar Damon ke kuil buat ngasih hasil tambang kemaren sore. Harus bermodal sekali memang, ngejar Damon-kun ini. Tapi semua terbayar dengan event-event yang mengojlok-ojlokkan hatiku.
Abis jadian sama Damon, saya mulai bingung harus ngapain lagi, karena tetep aja saya kaya juga meskipun kerja seadanya. Suami saya menyemangati supaya saya terus main, “Masih banyak yang bisa dikerjain. Kawin sama Damon aja belom.”
Saya jadi mikir wah iya juga. Enaknya kali kalo nanti serumah sama Damon, mungkin nanti berladang dibantuin Damon. Mayan buat harvest-harvest. Akhirnya saya terus push rank sampe heartnya full dan, ya, saya berhasil menikah sama Damon.
Sungguh sangat happy rasanya menunggu hari pernikahan, sampe udah jam 18.20 itu saya belum sholat maghrib karena baru selesai upacara pernikahan sama Damon. Kayak orang gak jelas, naksir sama NPC. Tapi saya menantikan masa-masa berumah tangga sama Damon.
Ternyata kehidupan setelah menikah tidak seperti bayangan saya. Pengantin baru harusnya masih mesra. Ini apa. Begitu bangun tidur, Damon makan duluan. Saya sedih kenapa dia ga makan bareng saya. Tapi yaudah, kata-kata manis Damon bikin saya luluh. Ketika saya sibuk berladang, Damon malah keluyuran. Masih aja dia main sama Lars kek masih bujangan. Malem dia di rumah lagi, makan duluan. Saya tinggal tidur juga gak peduli saya tidur duluan.
Yang paling bikin nyes sebenernya pas saya ada di sawah terus dia keluar rumah, jalan gitu aja gak pake ngomong, gak pake izin. Namanya juga NPC, kalo saya gak ajak ngomong, dia gak ngomong. Saya bersabar dan terus bersabar, tapi lama-lama saya gak kuat juga.
Semalem saya cerita sama suami saya kalo saya sedih karena merasa gak dianggap sebagai istri. Istrinya Damon maksudnya. Saya curhat kelakuan Damon ke suami saya. Boro-boro dibantuin di sawah. Orangnya aja kelayapan gak jelas. Mending kalo dia jadi bapak rumah tangga gapapa. Gapapa saya macul, ngapak, nambang, tapi dia di rumah nungguin saya pulang dan siapin makanan. Ini mah enggak. Musti disusulin ke kuil. Itu juga kalo dia lagi jalan ya udah lewat aja, saya gak diwaro.
Terus apa gunanya nikah??? Damon sayang gak sih ama saya???
“Bukannya Damon gak sayang, tapi dia NPC, diprogramnya gak secanggih itu,” kata suami saya. “Jangan pake hati. Ini kan bukan dating sims. Emang fokusnya bukan di situ.”
Lah terus kenapa saya dimotivasiin terus supaya nikah sama Damon???
“Yaudah cere aja sama Damon.”
“Enteng banget, ya! Aku gak mau! Aku udah capek-capek ngejar...”
Rumah tangga saya jadi ribut gara-gara rumah tangga Harvest Moon.
Saya harus gimana... Inikah perasaan ibu-ibu Kahatex yang suaminya cuma sibuk ngurusin burung? Tapi seenggaknya ibu-ibu itu dianter jemput suaminya yang pengangguran itu. Lah saya, bener-bener gak diaro-aroin. Apa saya salah pilih jodoh? Apa Damon sebenernya belom siap nikah sama saya? Paling enggak kasih perhatian lah kek Jumin Han. Emang gak bisa ya dibikin tiap hari event biar yang main happy gitu? 😭😭😭
Kalau ada orang yang lagi viral, terkenal, pasti ada aja orang yang komen,
“Kok yang kayak gini viral. Emang prestasinya apa?”
“Gak punya karya kok bisa banyak fansnya.”
Sebut saja Tumenep (bukan nama asli), salah satu netizen yang kerap tidak terima kalau ada orang tanpa karya dan prestasi bisa masuk tv. Di balik ketikan, “Ini siapa, ya? Yang gak ada prestasinya gini kok viral?” sebenarnya ada pikiran, “kok dia bisa terkenal aku tidak, padahal kita sama-sama level terbawah rantai makanan?”
Minimal, kalo ada orang lain yang secara nyata lebih oke daripada dia (misal lebih pinter, lebih kaya raya, dst) dia bisa beralibi. “Oh, ya, pantes dia terkenal soalnya dia juara Olimpiade.” Tapi kemudian Tumenep akan cari alasan lagi.
“Ya wajar sih dia juara olimpiade. Pft. Orang berprivilege. Bapaknya kan pak RT. Dari sejak bisa duduk, ibunya udah daftarin dia les catur.”
Kira-kira begitulah gambaran netizen kita yang semakin kritis. Zaman sosmed gini, tingkat turnover orang viral itu tinggi. Orang gampang cepet terkenal, tapi juga cepet dilupain. Yang terkenal banget minggu ini, belom tentu minggu depan bakal laris. Tentu gak heran kalo sesekali kita ketinggalan update dan gak tau siapa yang trending topic minggu ini, terus kita nanya orang, “Ini siapa? Terkenalnya gara-gara apa?”
Gak aneh sih kalo cuma nanya terkenalnya gara-gara apa. Karena orang sekarang bisa terkenal karena banyak hal. Karena parodi, karena nyanyi, karena stand up, karena lipsync, karena makan lumpur, macem-macem. Dan gak ada yang salah dengan bermacam cara untuk menjadi viral, selama cara yang dipake gak problematik atau ngerugiin orang (viral karena jadi pelakor atau viral karena suka ngeludahin orang, misal).
Yang menjadi aneh adalah kalo orang udah viral terus ditanya prestasinya apa. Itu adalah hal yang gak relevan karena gak semua orang tertarik sama prestasi orang lain, orang berprestasi juga belom tentu tertarik keluar masuk talkshow pamerin medali. Orang main sosmed rata-rata mau cari hiburan, kalo dia cari edukasi mending donlot ruang guru. Sok banget nanya-nanya prestasi orang lain, emang kalo rapotnya bagus mo dicariin beasiswa apa gimana.
Sebel banget saya.
Yang gak kalah aneh lagi kalau ditanya soal karya. Seolah-olah manusia itu cuma boleh disukai orang lain berdasarkan karyanya. Padahal gak semua orang sempat meluangkan waktu buat rekaman full album solo atau membintangi judul film yang menjadi box office. Orang-orang yang belakangan ini viral itu kan sebelumnya orang biasa. Kebanyakan dari kita hidup biasa aja menjalani hari yang biasa juga.
Ada orang yang karyanya sebatas indomie telor (aa warmindo), nota dinas (PNS), cucian bersih (mbak laundry), dan sebagainya. Itu karya, ya. Kayak artis yang kerjaannya sehari-hari berakting, itu kerjaan orang biasa sehari-hari untuk dapet duit. Tapi sepanjang saya bikin nota dinas, kadang mendapat pujian dari atasan, tapi gak pernah tuh ada orang yang bilang ngefans sama saya karena nota dinas saya menginspirasi dan menjadi semangat hidupnya.
Bagus lah kalo manusia itu punya karya. Tapi saya rasa, orang bisa suka sama orang lain tuh gak mesti karena karya. Sah-sah aja suka sama orang berdasarkan satu atribut yang positif bagi kita. Misal dia kocak, dia jago masak, dia cantik. Bebas. Saya aja nih, misalkan saya punya kolega yang fast respons kalo diwhatsapp, saya rasa saya bakal ngefans ama dia. Saking susahnya mencari orang fast respons di lingkungan kerja saya waktu itu, saya sangat mendambakan punya kolega yang fast respons.
Yang terpenting adalah, kalo kita gak suka, kita tuh bisa skip aja gitu lho. Kita bisa gak usah repot-repot ngurusin dia, nanyain prestasinya apa, dan mempertimbangkan apakah dia layak viral atau enggak.
Suami saya kadang pulang ke rumah di jam istirahat siang untuk makan siang bersama saya. Kadang juga tidak pulang kalau lagi sibuk kerjaan. Beberapa hari yang lalu ybs tidak pulang. Sebagai gantinya, pagi-pagi dia membelikan bawang merah dan bawang putih di pasar, beserta seplastik kecil isi enam buah tahu isi digantung di sepeda depan. Pesannya, supaya siang nanti saya bisa masak nasi goreng.
Setelah makan nasi goreng, saya menghabiskan enam buah tahu isi itu sambil membatin berkali-kali, “Saya ini makhluk lemah! Lemah! Gak bisa kontrol hawa nafsu!”
Malam harinya, saya batuk batuk hebat. Tenggorokan saya gatal karena kebanyakan makan tahu isi.
Benarlah kata pepatah latin: Mens sana in corpore sano. Artinya, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
Tubuh saya renta dan gampang sakit, pantes jiwa saya lemah.
Kemaren saya nemu gambar ini:
Saya kan lemah. Kalau aja saya ikut berperang melawan Madara, mungkin Madara gampang dikalahin karena begitu jijiknya ama saya. Kayak saya kalo liat kecoak. Jijik. Gak bisa saya apa-apain saking jijiknya. Bukan cuma lemah secara jasmani, tapi juga secara rohani. Gatel-gatel kali Madara ngeliat saya saking alerginya. “Idih, idih lemah banget, belom diapa-apain dengkul dah lemes kayak orang kurang kalium.”
Btw, begini-begini saya fans badminton. Fans olahraga tau lah, senang memacu adrenalin dengan menonton pertandingan.
Tapi saya tidaaaak.
Saya sering bilang, hati saya ini terbuat dari saripati oncom. Tau kan oncom? Terlihat firm dari luar tapi sebenernya gampang diobok-obok sampe ambyar.
Saya gak bisa menghandle yang berat-berat, saya mau hidup yang ringan-ringan aja. Genre favorit saya itu kalo ga romcom ya slice of life. Dan seperti itulah hidup yang saya mau. Saya gak mau genre drama, hati saya gak kuat. Saya juga gak mau genre action. Andai saya punya kekuatan super kayak spiderman, mohon maaf saya gak ikutan ngejar penjahat. Lebih baik spiderweb saya gunakan untuk ambil botol minum tanpa geser dari kasur.
Kadang saya malu bener akan keadaan ini. Suami saya sih udah biasa ngeliat saya terkapar rebahan meskipun seharian gak ngapa-ngapain. Tapi orang kek emaknya Zaenab kalo masuk kamar ngeliat saya mungkin bakal langsung negor, “Lumpuh layu, lu?”
Tapi saya pengen sih meningkatkan stamina. Minimal kalo abis belanja bulanan, gak kecapean kek abis ikut triathlon. Ingat, mens sana in corpore sano.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Usia semakin dewasa, tumblr ini semakin gak mampu menahan kebijaksanaan yang menguar-nguar dari tulisan saya. Umur hanyalah angka. Tapi kalian yang merasa sedih, merasa gagal, merasa di usia sekarang belom jadi apa-apa, kalian bisa tersenyum dan bilang kepada ibu kalian:
“Liat nih, Mah, nih orang umurnya udah 30 tahun tapi masih nganggur.”
Iya saya nganggur tapi bukan sembarang nganggur. Bulan Agustus kemaren, SK pengunduran diri PNS saya baru terbit selesai penandatanganan (meskipun harusnya tanggal berhentinya per tanggal 1 Mei 2022, tapi tauk dah tanda tangan SKnya dicicil seminggu segaris kali). Tapi tetap aja, kasta saya adalah kasta pengangguran. Saya bahkan merasa gak pantas ngaku-ngaku sibuk jadi IRT karena gak banyak kerjaan rumah yang saya lakukan (baca: hampir ga ada).
Meski begitu, nganggur adalah cita-cita saya sejak saya kuliah. Jadi meskipun saya nganggur, saya menikmati momen saat ini, belum tentu tahun depan atau bulan depan saya masih nganggur. Sekarang sih belom kepikiran ngelamar kerja. Ah, emang enak banget ya gak ngapa-ngapain selama ada duitnya.
Jujur, sebelum umur 30 tahun ini (saya baru 30 tahun akhir Agustus kemaren btw), ada beberapa hal yang saya takutkan. Yang paling besar adalah ketakutan gak bisa ngaku-ngaku masih muda lagi. Ini sangat menyakitkan buat saya yang seumur-umur selalu jadi anak bawang. Jiwa saya masih bocah, badan aja yang udah jompo. Coba liat bio tumblr saya, masih merasa remaja. Tapi setelah saya pikir-pikir, sebenernya bisa aja saya ngaku-ngaku masih muda kalo sekeliling saya orang usia lanjut. Ini hanyalah masalah perspektif. Ingat teori relativitas Einstein? Saya sih tidak ingat.
Beban ekspektasi umur 30an juga gak mudah. Di umur ini, kamu diharapkan sudah matang secara jasmani maupun rohani. Gak mudah tersulut emosi. Gak terlalu idealis, lebih baik kalo gampang kompromi dengan lingkungan. Beda banget dengan jati diri saya sehingga saya kayak harus pura-pura dewasa supaya bisa memenuhi ekspektasi umur.
Mungkin gak sih sifat “dewasa” yang dielu-elukan itu sebenernya cuma efek samping dari cepet capek? Kita (audiens seumur saya) udah gak punya banyak energi udah kek HP iphone, dikit-dikit low batt. Jadi, kita harus memilih melakukan sesuatu yang secara fisik dan mental gak terlalu melelahkan. Apalagi banyak urusan yang harus kita pikirin jadi hal-hal kecil mestinya bisa kita abaikan.
Kebalikan dari dewasa itu kan kenakakan. Kekanakan, dasarnya dari anak. Anak-anak itu makhluk yang energinya banyak sekali, batrenya gak abis-abis. Mereka gak khawatir melakukan hal-hal yang buang-buang tenaga dan tidak efisien, karena energinya masih banyak. Orang dewasa akan mikir 17x buat numpahin piring nasi, karena kita gak mau capek beresin nasinya. Tapi anak-anak meskipun harus menerima omelan dan hukuman, mungkin bakal berani menantang maut numpahin piring nasi depan ibunya sendiri!!!
“Dewasa dikit, dong!” artinya “Jangan buang-buang energi buat hal-hal gak penting kayak gini, dong. Mending lakuin A B C aja biar cepet kelar.”
Menurut saya, fase umur 30-an ini seperti remaja. Usia peralihan. Kalo remaja kan dibilang anak-anak bukan, dewasa juga belum. Nah, umur 30-an ini asa ketuaan buat menjadi kaum dewasa muda, tapi juga belom tua-tua amat untuk masuk golongan orang tua. Jadi umur segini masih masa peralihan lah. Di mana kita masih ingin bertingkah seperti anak umur 20an yang adventurous, tapi makan martabak aja leher pada kaku. Duit ada untuk difoya-foyakan, malah disuruh mikirin dana pensiun di masa tua.
Gak tau juga sih, saya kan cerberus newbie.
Tapi intinya gak salah kalo saya masih ngaku remaja. Remaja phase two.
Semalem saya melakukan diskusi yang cukup sengit sama suami saya mengenai interpretasi lagu ini. Ini lagu Jawa, sementara saya bukan orang Jawa dan gak bisa bahasa Jawa sama sekali, jadi terjemahan lagu Ojo Dibandingke ini saya berusaha gali dari website-website. Karena saya non penutur bahasa Jawa, pemahaman saya terbatas, gak bisa menganalisis makna yang tersirat, gak bisa menafsirkan kalau ada yang perlu dipelajari lebih lanjut. Makanya saya awalnya diskusi sama suami saya yang keturunan Jawa.
Ada satu bagian yang menurut saya mengganjal:
Wong ko ngene kok dibanding-bandingke
(Orang seperti ini kok dibanding-bandingkan)
Saing-saingke yo mesti kalah
(Saing-saingkan ya pasti kalah)
Jadi saya memastikan ke suami apakah ‘mesti’ ini artinya ‘pasti’. Suatu kepastian dan keniscayaan? Absolutely will surely and definitely kalah? Soalnya menurut saya gak mesti. Kenapa kalo dibanding-bandingkan pasti kalah? Dasarnya apa? Emang kenapa gak ada kemungkinan menang?
Suami saya yang udah ngantuk banget karena udah jam setengah 12 malem berargumen kalo menang gak bakal dibandingin dari awal. Seseorang itu punya kecenderungan ngebandingin kalo pembandingnya adalah sosok yang lebih.
“Misalnya, kalo aku orangnya pendiem, tapi dibandingin sama suami lain yang pinter ngomong, aku kalah,” kata suami saya sambil setengah merem.
Saya belum bisa sepakat. Karena manusia itu ada kelebihan dan kekurangannya. Mana bisa jadi menang cuma karena dia pinter ngomong? Itu kan cuma satu hal. Kalo kita nilai secara overall, saya yakin menurut saya pribadi suami saya lebih bagus dari suami siapa gitu. Saya rasa suami saya insecure, terlalu fokus pada kekurangan dirinya dan merasa sedikit kelebihan dari orang lain bisa menggeser posisinya sebagai juara umum.
Oleh karena itu saya berusaha menjelaskan dari POV saya kalo dibandingin itu belum tentu kalah.
“Yaudah, coba bandingin aku sama orang lain,” kata saya, menjadikan diri saya sebagai objeknya, supaya suami gak fokus sama insecure-nya dia dan bisa melihat situasi ini dari sudut pandang yang lebih objektif.
“Gak mau.”
“Bandingin cepetan.”
“Gak mau, apaan sih!”
“Coba bandingin, cepetan. Emang aku mesti kalah??”
“Ya justru menang makanya aku gak bisa bandingin sama orang lain!”
Susah. Suami saya entah terlalu bucin atau terlalu ngantuk jadi udah gak bisa diajak diskusi secara sehat.
Tapi pembaca ngerti kan poin yang saya permasalahkan dari lagu itu?
Mungkin, karena saya terlalu banyak dibandingin dalam hidup saya.
Mama saya itu sangat-sangat pandai melihat kelebihan orang lain dan mencari kekurangan saya. Okelah kekurangan saya gak perlu susah susah dicari karena terpampang nyata dan emang banyak. Tapi hal sepele dari orang lain aja bisa jadi suatu hal positif yang bisa dibandingkan ama saya.
Contoh, mama saya nonton berita, ada artis yang nilai matematikanya bagus. Saya juga nilai matematikanya bagus. Tapi mama saya dengan cerdasnya mencari hal positif yang bisa bikin dia lebih dari saya. “Tuh dia nilai matematikanya bagus padahal sibuk kerja jadi artis, tapi dia suka matematika.”
Terus saya harus gimana? Jadi artis dulu terus battle matematika gitu di lokasi syuting?
Mama saya nonton pildacil, ada anak umur 5 tahun udah hafal quran sekian juz. “Tuh liat tuh anak kecil udah hafal quran.”
Terus saya harus gimana? Hidup saya harus restart lagi gitu idup saya biar umur 2 tahun udah start ngapalin quran biar saya menang dari anak itu?
Mama saya ketemu temen saya yang sekolahnya asal asalan, jarang masuk sekolah, terus dateng ke rumah balikin seragam olahraga saya yang dia pinjem. “Tuh liat tuh, sopan banget anaknya, baju seragamnya dicuci wangi banget, mama dipanggil ‘tante’.”
Terus saya harus gimana? Manggil ‘tante’ juga ke emak saya sendiri? Yang namanya minjem baju seragam orang, wajar kalo pas dibalikin dicuci. Kecuali kalo dibeliin baru lagi dua lusin, baru dah takjub.
Saya yakin kalo pemirsa ada yang kenal mama saya terus pernah kontak, pasti pernah minimal sekali mama saya bandingkan saya dengan pemirsa. Saya gak paham, ini penyakit apa ya yang suka banding-bandingin orang segitunya banget. Apa love languagenya ngebandingin orang, ya? Gak ada cara yang bagusan apa. Gumoh saya.
Cuma karena mama saya begini, balik lagi ke tema lagu Ojo Dibandingke, saya jadi gak merasa kalo dibandingin itu mesti kalah. Karena saking semua orang, seeemua orang, dibandingin sama saya, hasilnya gak selalu saya kalah. Ada saat saat di mana saya mbatin, ah enggak lah, kerenan saya ke mana-mana.
Saya malah di tahap kalo ada orang bandingin saya ama Raisa pun saya masih bisa mikir saya gak kalah. Meskipun saya gak cakep, gak tinggi, gak populer, dan gak bersuara bagus, pasti ada lah kelebihan saya yang gak Raisa miliki. Ya apa kek, kelebihan saya pasti ada lah. Entah secara overall pemenangnya siapa, tapi kalo suami saya yang nilai, pasti saya yang menang.
Tapi jujur karena saya dibesarkan dengan cara dibanding-bandingin begini, saya takut kalau saya juga secara sadar gak sadar banding-bandingin suami saya atau anak saya ke orang lain. Saya takut banget. Mungkin saya perlu menekankan ke mereka kalo dibandingin ama siapa pun juga, mereka mesti menang.
Mager darahku, prokras tulangku. @rintihan-galau - Tumblr Blog | Tumlook