Hari itu, kuasa Allah memisahkan kita. Ada rasa yang memang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Dunia serasa terhenti, lidah seakan kelu dan berfikir logika tak mampu menemukan titik temunya. Betapa, hari itu menjadi hari paling berat, namun harus menjadi hari yang ringan untuk ikhlas melepas.
Kaki harus tetap melangkah, deras alir air mata harus diseka, demi mengantarkanmu ke ujung cerita terbaik. Maha Baik Allah, mengizinkan aku yang masih mengeja ilmu tuk memimpin shalat terakhirmu di dunia yang fana ini. Sebuah janji anak laki-laki yang memang tidak akan pernah sampai kepadamu. Satu janji yang paling rahasia.
Hari itu, meski tertatih, perlahan aku menghapus kata “seandainya” untuk takdir yang tidak mudah ini. Karena sudah sepantasnya manusia menerima dengan lapang dada skenario yang dipilih Allah untuk kita.
Hari itu, sederet kisah 30 tahun lebih bersama, terasa teramat sangat singkat. Beruntung, hari-hari yang terlewati telah Allah izinkan menjadi hari-hari terbaik. Hari-hari sejak menjadi buah hati, tumbuh sebagai anak lelaki yang takut akan malam, hingga remaja yang mencoba mengendarai mimpi-mimpinya sendiri.
Pun ketika mulai melangkah bertanggung jawab dengan karya sebagai kerja, lantas untuk sebuah keputusan yang terbilang nekat mengambil tanggung jawab seorang putri dari ayahnya, menjadi suami, lalu Allah amanahkan menjadi seorang ayah di lautan samudera belajar tiap detiknya.
Hari itu, aku kehilangan sayap bidadari dunia. Sang penopang fondasi kehidupan dengan doa-doa yang menembus langit. Tak lain untuk kesejahteraan anak-anaknya.
Hari itu, terbukti, bahwa pelajaran paling berharga bagi seorang anak laki-laki adalah caranya menghadapi kehilangan cinta abadi bernama ibu.
Ma, maaf atas banyak waktu yang mungkin terlewat begitu saja tanpa makna membahagiakanmu. Maaf selalu saja merepotkanmu dengan perasaan yang tak tentu rudu.
Beruntung, banyak waktu yang kita isi dengan saling bertukar kata sayang. Sering pula mencium keningmu saat aku pamit melanjutkan perjalanan. Beruntung, aku bisa leluasa meminta do’a darimu. Do’a untuk setiap keputusan dan pilihan dalam hidup yang dijalani. Walau sebenarnya, setiap keputusan itu sejatinya adalah pilihanmu, pilihan dari Allah, karena do’a terbaik untuk anak-anakmu.
Yang tidak pernah berkata tidak untuk anak-anaknya. Karena bagi seorang ibu, pinta anak-anaknya selalu ingin dijawab “iya”. Iya, boleh. Iya, tapi yang ini. Iya, tapi nanti.
Namun, diatas semua keberuntungan itu, sudah barang tentu, segala apa yang ada di dunia ini terbatas oleh waktu. Dan lagi-lagi, kehilanganmu yang tak mungkin aku peluk lagi, mengajarkan tentang inti dari dunia yang tak mungkin dipecahkan dengan logika matematika. Dunia tak abadi sebagai tempat tinggal. Karena nyatanya, banyak kisah dari dunia ini adalah tentang meninggalkan atau ditinggalkan.
Allah Maha Baik. Untuk kita yang terpisah dimensi ini, masih ada caraku untuk terus memelukmu. Maka, Semoga Allah pun meridhai dan memudahkan amal-amal jariyah yang masih terbatas ini, mengalir pahalanya kepadamu, atas izin dari-Nya.
Ma, rindu ingin kadang jatuh dalam ruang yang begitu dalam. Terima kasih, karena meski tidak sering, namun senyuman yang hadir lewat mimpi menjadi satu-satunya obat rindu.
Sebagaimana hari ini. Hari yang seringkali Mama tunggu untuk mempersiapkan sesuatu di tahun-tahun sebelum ini. Entah itu makanan dan kue enak. Atau yang istimewa, seuntai doa serta pelukan hangat di 3 April, yang boleh jadi tidak akan pernah sama lagi.
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.” Al-Fatihah.
@ridhobrilliant | Pontianak, 3 April 2022
Tiga April paling sunyi, di awal Ramadan yang diberkahi.