Catatan Harian : Menikah Muda
Sudah tiga hari berlalu, semenjak saya menapaki kantor dan pekerjaan baru dengan lingkungan yang sama sekali baru, jauh berbeda dari kantor lama. Saat ini usia saya 24 tahun, dan rekan-rekan kerja saya tidak berhenti melontarkan pertanyaan: “Kenapa lo nikah muda?”
Bagi mereka, menikah muda mungkin bukanlah sesuatu hal yang biasa. Sebab mereka pun mengakui, diusia yang sama, yang mereka pikirkan adalah bagaimana mencari uang untuk (pertama) mencukupi kebutuhan hidupnya, (kedua) menabung, dan (ketiga) untuk mempersiapkan pernikahan.
Lalu saya berpikir lagi, bertanya pada diri saya sendiri: “Iya, ya. Kenapa saya mau menikah muda?” Sedangkan pada saat itu, kami berdua belum memiliki pekerjaan yang jelas. Saya tidak punya tabungan sepeserpun, dan dia belum lulus skripsi. Segalanya serba tidak jelas. Serba tidak memenuhi berbagai kriteria orang-orang tentang kemapanan sebelum menikah.
Tapi diantara semua lelaki yang memberi kode, hanya dia satu-satunya yang memberikan saya kejelasan. Kami hanya kenal selama tiga bulan, tanpa tedeng aling-aling, dengan yakinnya ia mengatakan bahwa ia mau menikahi saya. Dan di bulan keenam perkenalan kami, ia datang melamar saya.
“Nekat betul.” Kata Bapak saya waktu itu. “Memang kamu punya usaha apa?” Tanya beliau.
“Saya jualan karpet dan boneka, Pak.” Jawabnya mantap. Bapak hanya tersenyum. Sepulangnya ia dari rumah, Bapak berpesan, “Tidak ada yang salah dengan apa pekerjaan dia. Sebab dulu Bapak pun masih pengangguran, bahkan tidak punya penghasilan tetap ketika melamar Ibumu. Tapi Mbah, adalah satu-satunya orang yang yakin, bahwa Bapak mampu memberikan kehidupan yang baik dan layak untuk Ibumu. Begitupula Bapak, kepada Mukhlis. Bapak yakin, dia anak yang baik dan mampu menjadi lebih baik, lebih sukses dari ini.”
Aha! Saya jadi ingat, kenapa saya akhirnya memutuskan untuk menikah muda, dan memilihnya sebagai pasangan sehidup sesurga. Bukan, bukan hanya karena kejelasan, melainkan satu hal lain yang tidak pernah bisa diberikan lelaki lain pada saya, pada Bapak saya, pada keluarga saya, pun pada keluarganya: Keyakinan.
Keyakinan bahwa ialah yang mampu memberikan hidup yang lebih baik untuk saya. Keyakinan bahwa bersamanya, hidup saya akan tenang, tak peduli jatuh bangunnya membangun rumah tangga, tak peduli seberapa besar penghasilannya. Keyakinan yang tidak melibatkan fisik, materi, dan jabatan dalam perhitungan ‘kesiapan menikah’. Keyakinan bahwa semuanya akan jelas pada waktunya. Keyakinan yang begitu kuat dan muncul tanpa perlu perkenalan yang lama, tanpa hubungan apa-apa. Dan semakin kuat tentunya dengan segala permunajatan yang kami sampaikan kepada-Nya.
“Abi, kenapa sih mau nikah sama ibuk?” Sudah satu tahun satu bulan usia pernikahan kami, dan pertanyaan itulah yang masih selalu saya tanyakan setiap hari.
“Hmmm. Ga tau. Yakin aja pas lihat ibuk.” Katanya, setiap hari. Lalu melihat saya, mencium kening dan memeluk saya. Kadang saya gemes kenapa jawabannya gitu doang, kok bukan karena saya cantik (pengen banget wkwk), dan karena saya begini dan begitu. Tapi, itulah yang juga terjadi pada saya.
It is simply because I believe in him, and he believes in me.
Saya kembali menatap teman-teman saya, belum menjawab apa-apa. Saya hanya kembali bertanya,
“Kalo lo sendiri, kenapa lo belum nikah-nikah?” dengan nada bercanda. Untungnya teman-teman saya bukan tipe orang-orang yang baper dengan pernikahan. “Masih banyak yang mau gue persiapkan.” Jawabnya, lalu berlanjut pada becandaan-becandaan lainnya yang tidak pernah serius dan tidak pernah bawa perasaan.
Tidak ada yang salah dengan kenapa menikah muda atau kenapa belum menikah. Sebab bagi saya, jawabannya tentu sama saja: Masing-masing punya jalan, pandangan, dan prinsip hidupnya sendiri. Masing-masing punya keyakinannya sendiri. Dan tentang keyakinan orang lain, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan, dipertanyakan, apalagi diperdebatkan.
Tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika kita mempertanyakan keyakinan orang lain, tanpa mempertanyakan, mengoreksi dan memperbaiki keyakinan kita sendiri.
Depok, 22 September 2017.
Jam 7 pagi dan masih sempat menulis.