Mengapa Muslim Harus Cerdas?
Kemarin, saya dan beberapa orang sejawat berkesempatan untuk menghadiri sebuah diskusi dan presentasi hasil penelitian tentang neurosains dan psikologi di sebuah ruang temu di Jakarta. MasyaAllah, bukan hanya datang untuk belajar, tapi saya juga datang untuk melepas kerinduan sebab rasanya sudah lama sekali tidak bercengkrama dengan penelitian ilmiah, riset, diagnosa, dan obrolan-obrolan semacamnya. Disana ada dua orang psikolog dan dua orang dokter, yang tanpa saya duga menjelaskan berbagai pembahasan psikologis dan kinerja otak manusia dalam sudut pandang Islam. Panjang rasanya jika diceritakan, tapi intinya, MasyaAllah, ternyata Allah itu keren banget!
Ada satu hal penting yang disampaikan oleh salah satu pembicara kemarin yang sangat menarik bagi saya, saya simpulkan begini:
“Saat ini, pertarungan antara haq dan bathil semakin jelas terlihat. Kita sebagai muslim tidak boleh tinggal diam dan tidak mengambil bagian. Belajar, memperkaya diri dengan ilmu, melakukan penelitian, atau apapun itu yang ada dalam tataran akademis seharusnya memang tidak terpisah dari peran kita sebagai hamba Allah karena sebenarnya ilmu adalah bekal bagi kita untuk bisa melakukan amar ma’ruf nahi munkar bagi ummat.”
Nah lho? Kalau begitu, kenapa ya kita kok seringkali terjebak dalam dikotomi-dikotomi yang kita buat sendiri? Jadi mahasiswa ya jadi mahasiswa, jadi hamba Allah ya beda lagi. Jadi akademisi ya jadi akademisi, jadi hamba Allah ya beda lagi. Jadi praktisi ya jadi praktisi, jadi hamba Allah ya beda lagi. Seolah-olah mendekatkan diri dengan ilmu adalah sesuatu yang berbeda dan terpisah dari kehidupan kita sebagai hamba, padahal tidak demikian. Siapapun kita dan apapun profesi kita saat ini, kita kan hamba, ya? Hmm, setelah mendengar kalimat-kalimat tadi, diam-diam saya bertanya dalam hati, “Nooooov, hidupmu ini gimana, sih? Jadi selama ini emangnya kamu pikir psikologinya kamu itu engga bersambungan dengan tugasmu sebagai hamba? Tercecer-cecer, gitu? Astaghfirullah, kamu memang kudu banyak belajar.”
Intinya, dari pertemuan kemarin saya belajar mengapa muslim harus menjadi sosok cerdas dan berpengetahuan luas, karena itu bisa dijadikan bekal untuk melaksanakan ibadah kita sebagai hamba kepada Allah, sebab biasanya semakin kita mengetahui sesuatu, semakin kita bisa memahami kalau Allah Maha Keren. Selain itu, ilmu juga adalah bekal untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. MasyaAllah. Tabaarakallahu.
Kalau begitu, apakah ini berarti ilmu harus didapat dari tingkatan-tingkatan pendidikan formal saja? Tentunya tidak, tidak harus selalu begitu. Sebab, menurut saya, ilmu dan kesempatan belajar itu tersebar sangat luas dan tidak terbatas pada dinding-dinding persegi empat ruang kelas. Silahkan memilih akan dengan cara apa kita menuntut ilmu, akan bagaimana kita memanfaatkan ilmu itu, dan akan seperti apa kontribusi kita untuk bisa bermanfaat dengan ilmu tersebut. Semangat, semuanyaaa! Selamat belajar, selamat mengajar. Semoga Allah senantiasa memudahkan agar kita tidak berjarak jauh dengan ilmu dan kebermanfaatan. Baarakallahu fiikum.