Mengapa kita menemukan kedamaian di luar islam?
Seorang teman bertanya, mengapa ia menemukan kedamaian ketika berdoa dengan agama x, sementara ia sudah berkali kali beribadah dengan cara islam dan dia tidak menemukan kedamaian sama sekali. Dia sadar bahwa agama yang paling logis itu adalah islam, tapi kenapa dia tak kunjung mendapati kedamaian itu? (sengaja saya tidak sebutkan agama lainnya tersebut karena tidak ingin diskusi yang ditimbulkan oleh tulisan ini berkembang tidak sesuai dengan tujuan dituliskannya ).
Sahabat ini orangnya sangat logis, dan dia memiliki latar belakang kehidupan keluarga dan pertemanan yang cukup rumit sehingga saya memahami mengapa ia sampai pada pertanyaan tersebut. Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saya merasa abang jauh lebih berkompeten menjawabnya saya khawatir bila saya yang menjawab dengan kefakiran ilmu saya dan hanya mengandalkan logika, teman yang sedang bimbang malah makin bimbang hehe. Jadilah saya menelpon abang via imo (anw untuk kamu yang sedang LDM antar negara imo bisa jadi alternatif yang bagus dibandingkan via whatsapp #bukanpromosi).
Ada 4 premis yang bisa disimpulkan dari diskusi kami yang panjang kemarin. Dan saya coba kembali tuliskan dengan menambahkan perspektif saya juga membahasa ulangkannya dengan bahasa saya tentunya..
Pertama, kedamaian ada di mana mana.
Ya, kedamaian itu bukan cuma milik agama yang cara berdoanya diicip oleh teman saya ini. Tapi kedamaian ada di mana mana tentu juga islam memilikinya, sederhana saja ketika sahabat ini merasa tidak damai beribadah dengan cara islam, di luar dirinya ada begitu banyak umat muslim yang justru mendapatkan kedamaian dengan islam. Bahkan ada begitu banyak muallaf yang merasa jauh lebih damai dengan berislamnya mereka. Dan yah, nyatanya damai pun juga bukan hanya milik islam. Agama manapun memiliki kedamaian itu, jangankan agama, narkoba, alkohol, materi, juga menawarkan hal yang sama, yakni kedamaian. Lalu dimana letak istimewanya islam? Kedamaian yang ditawarkan dari semua hal itu berbeda dengan kedamaian yang ditawarkan oleh islam. Yakni kedamaian yang berdiri di atas kebenaran yang kokoh.
Simplenya, seorang suami yang berselingkuh dari istrinya juga mengalami kedamaian dan kesenangan yang sama ketika dia melakukan pelarian dari pasangannya yang memiliki begitu banyak kekurangan di matanya saat itu. Tapi apakah kedamaian tersebut dibenarkan? Sama halnya dengan yang dilakukan oleh sahabat ini. Dia mengalami begitu banyak kekecewaan dan rasa sakit yang ditimbulkan oleh orang – orang muslim yang dia kenal, dia dengan sadar mengatakan hal itu bukan salah Allah bukan salah islam. Sahabat yang malang ini berada di lingkungan yang salah, bertemu dengan orang – orang muslim yang juga masih harus belajar menjadi lebih baik lagi :). Ketika dia sedang kecewa dengan islam ketika dia membanding – bandingkan islam dengan sesuatu yang baru dia kenal dan dia mencoba berselingkuh dengan agama lain dan dia menemukan kedamaian di sana. Persis seperti seorang suami yang tidak puas dengan perilaku istrinya kemudian menemukan kesenangan lain dengan pasangan yang lain.
Selain itu, contoh lain orang yang bertahun – tahun miskin dan menderita, kekurangan materi yang begitu di dambakannya bertahun – tahun. Suatu ketika dia mendapatkan materi yang diidamkannya itu, bergelimangan harta dari yang tadinya tidak memilikinya tentu materi itu memberikan kedamaian dari rasa lapar yang selama ini terus dirasakannya.
Kedamaian ada dimana – mana, tapi kedamaian yang ditawarkan islam berdiri di atas kebenaran yang nyata. Kebenaran – kebenaran yang bisa dibuktikan melalui panca indera maupun di luar panca indera. Kebenaran – kebenaran yang membuat hati kita tenang untuk memilih islam secara sadar. Tapi untuk mencapai kedamaian bersama islam belum cukup sampai di situ .
Kedua, Kedamaian baru bisa di dapat bila langkah – langkahnya sudah tepat.
Dalam islam sudah pasti ada kedamaian, bahkan Allah sendiri yang mengatakan dalam quran surat Al Baqarah, “Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati.” (2:113). Allah SWT yang langsung menjamin bila seseorang berbuat kebajikan dan menyerahkan diri kepada Allah maka terhapuslah kekhawatiran mereka dan mereka tidak bersedih hati. Tapi lagi – lagi semua hal itu ada syaratnya, ada langkah – langkahnya. Seperti kita saat sekolah dulu, ingin dapat nilai 100 tentu tidak serta merta ada di depan mata tanpa belajar dengan benar dan melakukan cara – cara yang benar. Begitu pula seseorang yang mengharapkan kedamaian melalui sholatnya dan ibadah lainnya, maka syaratnya sholat dan ibadah tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar. Mengerjakan semua rukunnya, melakukan semua gerakkan dengan sesuai, juga tak lupa menundukkan hati kepada Allah. Mungkin saja damai tak kunjung tiba di hati kita padahal sudah berakaat rakaat sholat karena hanya fisik kita yang bersujud namun hati kita lupa tunduk. Sehingga kebenaran memiliki arti yang sangat penting dibanding kedamaian. Sebab kedamaian adalah bonus dari kebenaran yang diyakinin hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan oleh jasad kita.
Ketiga, kedamaian yang benar haruslah berdiri di atas kebenaran. Dan kebenaran tidak bisa di dapat melalui perasaan, melainkan logika.
Kekecewaan, luka karena tersakiti, dan pengalaman yang buruk kadang membuat kita lupa untuk bersikap adil dan menilai sesuatu dengan logika. Misalnya pada kasus teman saya ini dia kerap kali mendapatkan kekecewaan yang dilakukan oleh orang muslim, pernah juga oleh perempuan berjilbab. Hal ini membuat dia menganggap bahwa orang berjilbab itu semuanya buruk. Atau ia menyaksikan beberapa orang yang memiliki label ustadz bersikap yang tidak seharusnya, akhirnya membuat ia berkesimpulan bahwa semua orang alim seperti itu. Padahal kalau kita mau menggunakan logika kita, tidak ada hubungannya jilbab dengan sikap yang dilakukan pemakainya. Tidak ada hubungannya label ustadz dengan sikap yang dia lakukan. Jilbab sendiri adalah objek, manusia yang menjadi subjeknya. Maka baik buruknya citra yang ditimbulkan teramat ditentukan oleh manusia yang mengenakannya. Jika yang mengenakannya berusaha memperbaiki dirinya maka ia akan menjadi orang yang baik. Namun, bila pemakainya tak juga berusaha menjadi baik maka jilbab tetaplah melekat, label tetaplah dimiliki namun orang tersebut jugalah tak kunjung baik.
Untuk mencari kebenaran dalam islam bahkan jika ingin membandingkannya dengan hal – hal di luar islam. Maka kita harus secara sadar menggunakan logika kita, karena kebenaran tidak bisa di dapat hanya dengan perasaan semata. Sederhana saja, lebih logis mana keberadaan Tuhan dengan ketiadaan Tuhan. Apakah mungkin kehidupan yang sungguh teratur ini, matahari yang datang tepat waktu, bentuk manusia yang persis sama tapi juga sekaligus unik untuk masing – masing orang, apakah mungkin terjadi dengan sendirinya. Jika memang dunia tercipta dengan sendirinya maka mengapa kita sama – sama memiliki kaki, tangan, mata dan telinga. Mengapa kita tak memiliki bentuk yang berbeda - beda saja? Mengapa begitu teratur jika memang tak ada yang mengatur?
Dengan menggunakan akal kita, kita dapat menimbang secara adil tidak hanya sekedar merasa – rasa. Kita gunakan logika untuk mempelajari langsung kitab suci suatu agama karena dari sana kita dapat mempelajari ajaran otentik agama tersebut tanpa dicemari oleh subjektivitas kita terhadap orang tertentu. Nyalakanlah akal kita, lalu bandingkan secara sadar mana yang benar. Maka saya yakin kita akan menemukan kebenaran itu adalah islam.
Keempat, bila kebenaran sudah di dapat maka berislamlah secara kafaah (menyeluruh).
Merasakan kedamaian tidak lantas berhenti hanya sampai saat kita menemukan kebenaran. Melainkan kita perlu menjaganya. Dari proses penjagaan itu, komitmen kita untuk berislam secara keseluruhan yang akhirnya membuat keyakinan kita menjadi tumbuh subur mengakar menghasilkan buah manis dalam kehidupan kita. Ibadah – ibadah yang kita lakukan dengan benar, meyakini islam sebagai sebuah sistem sempurna yang mengatur segala urusan kita mulai hal – hal kecil hingga sampai hal hal yang bersifat kenegaraan akan semakin mendekatkan kita kepada Allah swt. Kita tidak bisa merasakan damai bila hati kita hanya menerima sebagian dari islam lalu menolak sebagian yang lain. Kadang kala ketidak sukaan kita terhadap syariat yang ada dalam islam adalah karena kekurangan pengetahuan dan ketidak tahuan kita. Penolakan yang dilakukan pada sebagian syariat islam dan lupa untuk mencoba memahami syariat tersebut yang sering kali menumbukan kebencian di hati seorang muslim. Kebencian dan ketidak sukaan tersebut yang membuat damai sulit menetap di hati. Ah rasanya, kita memang perlu terus menatar diri, memperbaiki jiwa kita agar kedamaian yang benar senantiasa menyenangi hati kita untuk singgah :)
Jika kamu memiliki pertanyaan yang serupa dengan sahabat ini, semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaanmu itu. :)