Sungguh saya terkesima dengan kebaikan masyarakat di desa saya. Bagaimana tidak, beberapa kali saya berkesempatan bertamu, atau dolan ke rumah warga. Disana saya disuguh hidangan, entah itu snack, nyamikan, juga tak jarang makan malam (tergantung waktu). Dalam hal itu, saya selalu memilki ketertarikan ketika tuan rumah berkata hahwa,
"ini buatan saya sendiri, monggo disambi" atau saya yang gatal bertanya "niki damelane kiyambak?". Ini buatan sendiri?
Dan saya selalu dengan ketulusan hati tanpa dibuat-buat akan memuji masakan tersebut "enak" ketika masakan itu enak, dan seringkali si pembuat makanan tak siap denga pujian yang saya lontarkan, dan hanya membalas dengan senyuman tipis disusul suara ketawa yang lirih.
Lalu tiba saatnya waktu saya berpamitan, menyalami bapak pemilik rumah. Dari kejauhan saya memandang ibu mebawai saya plastik yang belum tahu apa isinya, dan tak jarang saya juga langsung batin,
"waiki mesti digawan-gawani"
dan benar saja, dibawailah saya dengan hidangan yang saya puji tadi. Sembari berjabat tangan, ibu berkata ramah,
"Ini dibawa, katanya tadi rasanya enak".
Waduh, jadi tidak enak hati saya sebenarnya, lhawong niat tulus saya memuji, dan kadangkala tanpa sadar berucap, lha kog palah di oleh-olehi.
Hal seperti ini cukup sering terjadi. Mungkin ini sebuah bukti bahwa ketulusan berbuah kebaikan, atau bukti bahwa saya harusnya tidak boleh langsung bludas-bludus memuji sesuatu, lihat situasi dan kondisi, heuheu.
Lalu ditengah jalan sambil mengendarai motor yang sudah menemani saya selama 11 tahun ini, tiba-tiba saya jadi was-was dan membayangkan; semisal nanti ada situasi dimana saya naik mobil, disopiri yang punya mobil, melewati jalan gronjal, tapi mobil ini tetap nyaman, terus dengan tulusnya dan tanpa sadar lagi saya bilang,
"wahh, mobilnya enak ini" suara lantangku yang tanpa tiding aling-aling menggema.
lalu sesampainya kita ditujuan si pemilik bilang,
"monggo, sekarang mobil ini buat jenengan saja, nanti saya yang disopiri".
Waduh, mak jegagik, belum siap jawab apa-apa, dan hanya bisa membalas dengan senyuman tipis disusul suara ketawa yang lirih.
~ Rumah Menoreh, 08 Maret 2026, dalam suasana Ramadhan