https://soundcloud.com/putricht/tak-sedetik-ndc-worship-cover
tumblr dot com
Three Goblin Art
KIROKAZE
h

@theartofmadeline
Not today Justin

祝日 / Permanent Vacation
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

★
i don't do bad sauce passes

#extradirty

titsay
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

roma★
Mike Driver
Show & Tell

tannertan36
Stranger Things
One Nice Bug Per Day
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from Japan
seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from India

seen from United States
seen from Bulgaria
seen from Chile

seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States

seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
@putric-blog
https://soundcloud.com/putricht/tak-sedetik-ndc-worship-cover

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
https://soundcloud.com/putricht/setia-menunggu-afgan-cover
high school mates
happy birthday, ibu. terimakasih untuk cinta, kemandirian yg kau ajarkan, dan untuk kekuatanmu menjaga kami. maaf belum bisa bahagiain lahir batin. sabar ya bu beberapa tahun lagi :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hello again
It's been a long time ya dude.. Sebenernya pengen banyak banget nulis cerita mulai dari yang touching sampai nggak penting. Tapi belum ada waktu dan mood yang pas buat nulis.. :(
Listening to Stronger Than a Thousand Seas by Planetshakers
– Preview it on Path.
if only I can ask Him why
kejadian Tuhan di dalam hidup saya sangat ajaib sungguh saya rasakan. mengingat kisah hidup saya satu tahun belakang ini,saya sangat yakin kalau Tuhanlah yang ada dibalik ini semua. tidak salah lagi bahwa itu Dia. sangat ajaib dan detil kalau boleh saya bilang untuk menggambarkan setiap rentetan kejadian yang telah saya alami. semuanya terjadi secara terpisah dan acak, tapi at the end saya tahu bahwa itu semua sudah di setting Tuhan, ya secara gamblang. saya merasa sudah terlalu banyak moment ajaib dalam hidup saya. I feel like didewasakan oleh cinta yang tepat, cinta dari Tuhan. bahkan saat menulis hal ini saya yakin kalau Dia ada disamping saya ini. bolehkah saya bertanya. jika Engkau bisa melakukan hal ini padaku tentu Engkau juga bisa melakukan hal yang sama pada orang yang saya juga cintai (yg tentu blm kenal Engkau). tapi kenapa mereka nggak bisa. kenapa harus saya, yang bahkan untuk mengungkapkan perasaan kepada orang lain saja mulutku tak kuasa. p.s. : dear dad, if once you know that Jesus loves you the best, it is me following Him to love you more.
Planetshakers - This Is Our Time (Full Album) Gospel song is always has it's own place in my heart. And for those questioning (even arguing) bout' this, I think you should taste how sweet is the holy presence pouring with brilliant man-made music, let God be glorified!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
libur telah tiba! libur telah tiba! pilih! pilih! pilih!
Di Balik Benteng Keyakinan
Baru saja aku mendapati pesawatku mendarat di Bandara Adisutjipto. Aku membuka mata dari balik kacamata coklat favoritku. Manis mungkin, orang lain melihatku mengenakan kacamata ini. Bukan apa, aku hanya sedang menutupi kelemahanku. Ya, aku tak kuasa menahan sakit di kepala saat menaiki pesawat terbang. Raut mukaku bisa nampak lemah dan pucat tanpa kacamata ini. Biasanya tak sesakit ini karena aku masih bisa bercanda dengan yang lain. Namun kali ini aku terpaksa pulang lebih dahulu dan terpisah dari yang lain karena tiket pesawat yang sulit sekali didapatkan. Iya, pulang. Akhir tahun 2018 ini aku diijinkan pulang kampung ke kota ini, Yogyakarta.
Terhuyung aku berjalan menuruni tangga pesawat, ketika mendadak udara sejuk sisa hujan menyentuh leher sisi kananku. Segera aku ikatkan syal merah besar ke leher dan menyangkutkan kacamata di atas kepala. Hilang sakit kepalaku saat ini juga, udara di sini yang membuatku sembuh. Segera ku ambil koper-koperku lalu berjalan keluar dari bandara sumpek ini. Banyak tawaran orang rumah yang hendak menjemputku dari bandara, namun kali ini tidak. Udara Yogyakarta sore itu terlalu sayang untuk di lewatkan. Aku memutuskan untuk menumpangi bus Trans Jogja untuk pulang ke rumah, kebetulan rumahku tidak jauh dari halte pemberhentian bus milik pemerintah Kota Yogyakarta ini. “Selamat datang di trayek 1A Trans Jogja, selamat menikmati perjalanan anda.” kata seorang awak bus kepada setiap penumpang yang memasuki koridor. “Awak bus yang lucu” gumamku kecil. Bagaimana tidak, seorang laki-laki sebayaku mengenakan topi santa claus lengkap dengan jenggot palsunya memberi salam kepada setiap penumpang bus. Tidak heran memang, berhubung lima hari lagi natal segera dirayakan di seluruh dunia.
Hujan deras kembali turun di kota ini, aku memilih untuk duduk di dekat jendela bus, sengaja mencari moment, sih. Ku arahkan pandanganku kepada salah satu toko buku yang kulewati saat itu. Toko buku Grafika namannya, toko yang biasa saja, di setiap kota ada. Tapi tidak untukku, toko buku ini seperti teman lama. Memoriku mulai menyusuri lini masa dimana aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Saat itu aku sering mampir di toko buku itu, hampir setiap hari malah. Bukan untuk membeli beberapa judul buku, tapi hanya numpang membaca saja. Aku sangat suka bau kertas yang masih baru. Selalu menarik hati untuk membaca tulisan di atasnya. Suatu hari sepulang sekolah, aku hendak pergi ke toko buku itu, seperti biasanya. Sial, hari itu hujan deras. Sama persis dengan hari ini hujannya. Aku mendongakan kepalaku ke arah jendela bus, butiran airnya masih sama dengan hari itu. Butiran besar air yang turun tidak kunjung berhenti. Memaksaku harus menunggu cukup lama di bawah halte bus seberang sekolah. Saat itu adalah kali pertamaku mengenalnya. Claudio Tristan biasa disapa Dio oleh teman-temannya. Aku sudah tahu orang ini, secara dia kakak kelasku. Saat itu juga kami terpaksa berkenalan. “Hmm.. nggak terpaksa juga sih” gumamku sambil tersenyum kecil. “Nunggu bus, mas?” ucapku sok kenal “Hehe.. enggak, nunggu hujan reda” “Eh, kenalan dulu dong, aku Ana” “Oh, aku Dio” kami berdua berjabat tangan layaknya pertemuan sok penting gitu. “Mau kemana Yas, hujan-hujan begini?” “Mau ke Grafika, mas” “Wah, sama dong..” ada hening sejenak kala itu, waktu yang cukup untukku melihat telefon genggam, sekedar untuk melihat jam. “Udah reda nih, Yas. Jadi ke Grafika,kan?” Sela Mas Dio yang melihatku memperhatikan layar telefon. “Oh iya, Mas” Aku langkahkan kaki sedikit demi sedikit sambil menghindari genangan air di trotoar. Tiba-tiba ada air yang mengenai sepatuku. Air itu datang dari hentakan kaki Mas Dio. “Mau cari buku apa, Yas?” Aku tersentak terkejut “E.. e.. anu.. Cuma mau baca-baca doang sih, Mas mau ke sana juga?” Obrolan kecil itu berlanjut hingga akhirnya kami tiba di toko buku itu.
Segera aku menuju ke rak buku bagian biografi tokoh. Dasar orang usil, Mas Dio iseng juga mengikutiku melihat rak tersebut. Mungkin mau mencoba membaca isi otakku dari caraku memilih buku. Sambil mengambil salah satu buku dia berkata “Coba kamu baca yang ini” kudongakkan kepalaku ke arah buku yang ia pegang “Hah? siapa itu? selera membacaku belum seberat itu, Mas” terang saja aku bilang begitu ketika ia menyodorkan biografi tokoh asing masa perang dunia ke dua. “Mas Dio berat banget suka baca begituan?” “Haha, enggak kok, aku suka komik dan novel fiksi,Yas” “Cuma ya buku seperti ini aku baca pas pengen aja” Celotehan itu berlanjut sampai negara di ujung belahan bumi ini ia sebutkan. Dari dulu orang ini memang aneh, dia suka membaca komik dan novel tetapi isi otaknya tidak main-main. Mungkin sampai saat ini juga. “Penumpang bus Trans Jogja tujuan halte Diponegoro kami persilakan untuk bersiap” sapaan dingin awak bus segera membuyarkan lamunanku, karena aku harus turun di halte Diponegoro untuk berganti armada bus. “Mau kemana,mbak? bawaannya kathah nggih?” ucap seorang kakek di belakangku yang mungkin heran melihatku membawa dua koper besar seorang diri, saat hujan deras seperti ini. “Hehe nggih, Pak, pulang kampung niki.” ucapku sok ramah. Ternyata kakek tersebut juga turun dari bus untuk berganti armada, sama sepertiku. Sembari menunggu bus kami masing-masing kakek ini bercerita banyak tentang kehidupannya. Ia gemar menyusuri Kota Jogja ini dengan bus, persis seperti yang sedang ia lakukan saat itu. Aku tersenyum kecil sambil mengucapkan salam “Bus saya sudah datang, Pak. Saya duluan nggih.” Sambil membereskan dua koper besarku di dekat kursi bus, senyuman kecilku tak juga berhenti. Teringat akan kebiasaan kakek tadi yang hampir sama dengan kebiasaan Mas Dio. Selalu menaiki bus kemanapun ia bepergian, kecuali bila sedang bersama keluarganya tentunya.
Saat itu kami berdua berada dalam bus yang sama pada satu deret kursi yang berdekatan. Waktu pulang sekolah kami habiskan bersama, tidak melulu di toko buku tapi juga menyusuri kota Jogja dengan bus. Kemana saja kami pergi, asalkan belum dipelototi sang kondektur tanda disuruh segera turun dari bus. Dalam kerumunan bus itu Mas Dio tiba-tiba berbisik kepadaku “Kamu tahu, lebih dari lima puluh persen orang menemukan jodohnya di usia 16 – 18 tahun, Yas.” aku tertawa menanggapi kalimatnya, saat itu kami berdua memang sudah berkomitmen untuk membagi cerita hidup kita berdua dalam hubungan pacaran. Ya, sewajarnya anak SMA yang lain. “Wah, pas dong sama usia kita sekarang?” sahutku sambil tertawa. “Ah.. semoga deh ya, Mas” imbuhku sambil bercanda. Aku belum berani menanggapinya serius saat itu. Otakku belum benar-benar rasional untuk menerima hasil survey yang Mas Dio dapatkan saat itu. Bukan hanya otak yang belum rasional saat itu, semua keadaan terlihat tidak rasional untuk kami berdua melanjutkan hubungan kami. Keyakinan agama kami masing-masing yang membuat hubungan kami tidak rasional. Satu-satunya hal yang mampu mempertahankan hubungan kami berdua adalah keyakinan kami akan satu sama lain, I am all into him and so does him.
Sampai pada akhirnya hubungan kami harus benar-benar berakhir. Ketika itu Mas Dio sedang duduk santai di teras rumahku, ku tinggalkannya sebentar bersama setumpuk kertas ujianku. Ibu tiba-tiba datang membawakannya secangkir teh premium kesukaannya, Ibu tidak akan benar-benar memberikan teh kesukaannya itu kepada sembarang orang. Mereka berdua banyak membicarakan masa depan rupanya, hingga ada satu titik dimana Ibu dengan serius menanyakan tentang masa depan kami berdua. “Minyak dan air, mau diapakan dan sampai kapanpun juga tidak akan pernah bisa bersatu” ucap Mas Dio kepadaku, menirukan omongan Ibuku saat itu.
Bus yang kunaiki berhenti cukup lama di perempatan Jalan Sudirman, entah kenapa tapi sangat lama. Membawaku kembali berkutat dengan ingatan masa lalu ku. Semua hal di kota ini terlalu berkesan untukku, bahkan perempatan jalan ini. Tempat dimana aku berboncengan dengan Mas Dio untuk pertama kali menuju rumahnya. Ya, rumah Mas Dio memang tidak jauh dari perempatan ini. Hujan di luar sudah sedikit mereda, namun dingin semakin menjadi bahkan di dalam bus ini. Aku sadar, dingin ini adalah perasaan rinduku untuk dia, Mas Dio. Degup rindu ini bahkan sama dengan degupku sesaat sebelum aku sampai di depan rumahnya, untuk pertama kali berkenalan dengan ibu Mas Dio. Ah.. apa kabar dia sekarang. Masihkah dia ada di kota ini? atau mungkin sudah ada orang lain yang mengajaknya beranjak dari kota ini? untuk meneruskan kehidupan bersama? Kedua bola mataku panas, tak mampu lagi aku menahannya. Semua rindu ini kejam, membuat benteng pertahananku rontok. Ku kenakan kembali kacamata manisku di atas batang hidung.
Setelah hubunganku dengan Mas Dio berakhir, aku tidak lagi segera mencari sosok penggantinya. Terlalu sulit untukku menggantikannya dengan sosok lain. Aku memutuskan untuk melindungi perasaanku saat itu dengan benteng yang sangat tinggi. Terlalu tinggi bahkan, hingga mengubahku menjadi wanita yang sok kuat. Aku merasa bisa menyelesaikan segala sesuatu sendirian, memilih menjadi seorang yang serba bisa. Hingga saat ini, aku tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Aku yakin dengan kekuatanku sendiri dan kacamata ini aku akan kuat menghadapi semua pandangan orang lain. Aku tidak akan membiarkan orang lain memandangku penuh iba, tidak akan bisa.
Entah sudah berapa jam aku berkeliling kota dengan bus ini. Aku segera menyadarkan diri dan membereskan barang bawaanku. Lima belas menit sejak aku tersadar, ku bawa dua koper besarku menuruni halte di depan kompleks rumah orang tuaku. Masih dengan kacamata yang tersangkut di batang hidungku, aku mencoba menyeret dua koper ini sendirian. Aku tidak peduli bila tetangga lain melihatnya, terlihat angkuh mungkin aku saat ini. “Monggo mbak, selamat datang di rumah, nggih.” ucapan itu datang dari Mamak, begitu aku menyebutnya sejak dulu. Mamak adalah partner Ibuku di rumah sejak aku masih duduk di bangku SMP, orang ini sudah hafal semua peringai ku sejak dulu bahkan sarapan kesukaanku yang selalu ia siapkan. “Iya, Mak.. yang lain dimana?” “Ibu sedang ke rumah Bu Tuti, mbak. Mengantar parcel natal, katanya tadi.” Tersentak aku oleh omongan Mamak barusan, semua suara di telinga bagai angin yang lewat tiada berarti bahkan koper-koper besarku sudah berpindah ke tangan Mamak pun tidak aku sadari. Tatapan kosong ini membawaku duduk termenung di kursi rotan yang ada di teras rumah. “Mbak, ini teh nya diunjuk dulu, Mbak Ayas masih pusing to dari pesawat?” kata Mamak sembari menyodorkan secangkir teh manis hangat, mungkin ia mengira aku masih sakit kepala, secara sampai di dalam rumah ini pun aku masih berkacamata. Aku masih hening dengan pikiranku. Satu yang tidak bisa aku hilangkan dari benak, Ibuku sedang berada di rumah Bu Tuti, seorang bunda dari orang yang membuat hati berkecamuk sejak tadi, Mas Dio.
Kuteguk sedikit teh buatan Mamak, sekejap udara di telingaku hilang berganti hangat. “Ibu sudah lama kesana, Mak?” “Sudah ada setengah jam barangkali, Mbak. Tadi di antar Mas Bani” mas Bani adalah supir pribadi keluarga kami. “Oh..” sahutku menggantung. Pikiranku semanik kacau, rindu ini seolah diberi harap. Aku ingin sekali menyusul ibuku untuk datang ke rumah Mas Dio. Sekedar untuk menanyakan kabar atau apalah yang penting rindu ini bisa terjawab. Satu putaran lagu Home milik Michael Buble menemaniku sore ini hingga pada akhir lagu ini aku sudah siap. Tekadku sudah bulat untuk menyusul Ibu ke rumah Mas Dio. “Mak, tolong telefonkan Mas Bani sekarang, suruh pulang saja.” “Lha kenopo to, Mbak?” tanya Mamak. “Saya mau jemput Ibu, Mak. Kunci mobil satunya dimana?” Aku sudah tidak keruan, aku harus tahu kabar Mas Dio. Dia harus bertanggung jawab untuk rindu ini. Untuk semua keangkuhan yang tercipta dalam diriku selama ini. Panas dan degup dalam dada ini mengiri langkah kaki ku menuju garasi mobil ibu. Langkah kakiku terasa mengambang, langkah yang sama dengan langkah itu. Delapan tahun yang lalu, langkah ini juga ada ketika aku hendak berkenalan dengan bunda Mas Dio di rumahnya. Kacamata sudah tak mampu membentengiku lagi, air mataku jatuh. Semua pikiranku tertuju hanya pada satu tujuan kali ini,mobil dan rumah Mas Dio.
Semua suara di sekitar rumah bagai deru angin di telingaku, tidak berarti lagi, tidak dapat ku dengar dan pahami. Tiba-tiba sepasang lengan yang hangat merangkulku dari samping, tepat satu langkah sebelum pintu mobil. Pelukan seorang yang tidak asing lagi, Rama. “Udah.. nggak usah sok kuat,kamu” kalimat yang sama ia ucapkan tiga tahun lalu saat meyakinkanku. Rama kemudian menyeka air mataku dengan tangan kanannya yang lembut “Kamu lelah,kan?” dikira nya aku masih sakit kepala mungkin.
Rama memang sosok suami yang sangat baik untukku, ia selalu datang di saat yang sangat tepat. Sama seperti saat itu ia selalu menemaniku. Saat aku masih kokoh dengan benteng pertahanan perasaanku. Ia yang selalu sabar menemaniku kemanapun aku pergi, dia mencintaiku namun aku tak bergeming. Aku terlanjur mengunci hatiku saat itu, sekuat tenagaku. Aku sadar Rama memang sosok yang sangat pas untuk dijadikan pendamping hidup, terlebih kepercayaan iman kami sama. Namun aku tetap berdiri dengan kekuatanku sendiri saat itu. Hingga suatu saat aku disadarkannya dengan ucapan yang baru saja ia ucapkan. Ia selalu berhasil menggebrak benteng keyakinanku, bahkan keyakinanku akan Mas Dio. “Maaf ya aku terlambat, tadi pesawatnya delay dua jam.” Aku semakin terisak dalam pelukannya, perasaan rindu dan bersalah ini semakin menyesakkan dadaku. Rama dan aku sudah menjalani rumah tangga selama tiga tahun dan selama tiga tahun pula aku meninggalkan Kota Jogja ini dengan semua kenangannya untuk membangun kehidupan baru di Jakarta.
Aku yang memang sok kuat dengan semua ini. Aku yang memang terlalu yakin dengan kunci dan benteng pertahananku sendiri. Aku yang belum mampu pulang ke kota ini, mengingat semua kenangan itu. Dan saat ini, hanya Rama yang mampu menghapus semuanya. Aku sadar, aku tidak cukup kuat menghadapi diriku sendiri. Bersyukur aku memiliki orang sebaik Rama dalam hidupku, yang tidak aku temukan dalam usia 16 – 18 tahun seperti kata Mas Dio. Yang mampu meyakinkan aku untuk mematahkan keyakinanku. Isak tangisku berakhir ketika tiba-tiba Kia, anak laki-laki ku menangis dari balik gendongan baby sitter kami. Mereka datang satu rombongan bersama Rama. Kami terpisah satu penerbangan karena jadwal penerbangan akhir tahun yang begitu kacau.
TULUS - Tuan Nona Kesepian Sekitar satu tahun yang lalu, saya dikenalkan sama mas-mas ini oleh salah satu teman. Saya cuma bilang "oh.." cukup tahu aja. Beberapa bulan kemudian, saya ketemu lagi sama mas-mas ini di mobil dalam sebuah perjalanan panjang yang lumayan membosankan. Menarik dan tidak menjenuhkan memang, but still "oh.." Lama kelamaan semakin banyak yang bilang ini itu tentang mas yang satu ini, Tulus, menegaskan kalau mas-mas ini well qualified dijajarkan dengan soloist beken Indonesia lainnya. Semakin banyak yang recommend, semakin muak rasanya. Sama sekali nggak ada ketertarikan, bahkan untuk mengarahkan pointer pada salah satu saja judul lagunya di YouTube. Di saat orang lain banyak memasangkan loudspeaker dengan perangkat komputer, saya lebih prefer headphones. Di saat orang lain lebih suka berbagi lagu apa yang ia sukai dengan orang lain disekitarnya, saya lebih prefer untuk menikmatinya sendirian. Dentuman khas dari headphones ini membawa saya nggak sengaja streaming lagu 1000 tahun lamanya dari mas Tulus ini. "Eh lha kok bagus?" "Ah mungkin kebetulan, coba lagu lain" gumaman itu terus membawa saya streaming tiga atau empat lagunya lain. Ya sudahlah, akhirnya saya nggak bisa bilang "oh.." lagi sama mas ini. Jadi suka deh sekarang. Nggak sedikit yang bilang saya aneh, saya sering bilang "nggak" saat banyak yang bilang "iya". Maaf kalau saya harus nggak-langsung-percaya dulu dengan apa kata orang. Saya punya cara pandang sendiri, punya cara penginderaan sendiri. Saya punya cara mendengar yang beda dengan cara orang lain. Masalah saya berbeda juga dengan orang lain, kalau yang lain bisa mendengar lagu dari loudspeaker, mana tahu mereka kalau loudspeaker saya rusak atau terbakar sehingga saya cuma bisa mendengar memakai headphones? Fokus masing-masing orang berbeda, cara orang mendengar dan merasakan juga berbeda, masalah pun begitu. Dan mungkin itu juga yang membuat setiap orang memiliki sikap hidup berlainan. Maaf, kalau beda.
auto-reblog-ism

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
my very own design.lupa bikinnya kapan
be good people, be good Indonesia! ngerasa paling bener emang gampang.. saat nya berlapang hati menerima keadaan #pemiludamai #IndonesiaDamai #pathjugaharusdamai – View on Path.