Kulihat Kamu
Kulihat kamu
sedang bersenandung di atas irama kata-kata
matamu kini telah membinarkan cahaya
padahal sempat redup setelah perpisahan kita
Jariku menggeser satu-satu potret tawamu
bibirmu yang tak lagi terkatup
cangkir kopimu yang tak lagi sendiri
kini bisa kuamati
hatimu sudah ada yang mengisi
“Apakah kau cemburu?” tanya kawanku di jendela pesan yang penuh dengan kata-kata usang kerinduan
Aku menggeleng yakin
karena tak mungkin
melanjutkan cerita yang ujungnya hanyalah kemustahilan
Senyummu yang bahagia
sudah cukup mengirimku tanda tamat
tak ada sesal yang memberat
kau berarti, namun geliat senangmu jauh lebih kuingini
meski
bukan
denganku
















