Kembang Api yang Kita Mainkan
Saat kembang api meledak di langit, aku melihat kita disana— indah, singkat, dan tak bisa disentuh. Cahaya itu seperti perasaan yang kembali menyala, namun hanya dititipkan pada langit, bukan untuk digenggam. Kita dulu hanya dua orang teman yang terlalu sering pulang bersama, terlalu nyaman berbagi cerita, terlalu berani menyebut rindu, tanpa pernah memberi nama. Hubungan itu berjalan di antara tawa dan diam, tanpa status, tanpa janji, namun penuh makna yang kita pura-pura tidak pahami.
Hingga suatu hari, kau berkata dengan suara paling pelan yang pernah kudenger: "Ini tidak pantas." Bukan karena kita tidak saling suka, melainkan karena dunia tidak memberi ruang pada cara kita bersama. Kau memilih pergi, dan aku memilih diam, karena tau, mempertahankanmu berarti melawan batas yang aku percaya.
Empat tahun berlalu seperti halaman yang sengaja tidak kubaca ulang. Kita tumbuh, berubah, belajar mencintai orang lain— atau setidaknya berpura-pura sudah sembuh. Sampai suatu malam, takdir mempertemukan kita kembali di bawah langit yang sama, dan waktu mendadak kehilangan arah.
Kita kembali bermain, tertawa pada cerita lama, menyentuh tanpa bertanya, menghindari kata "kita" seolah itu bom yang bisa meledak kapan saja. Kedekatan itu terasa familiar, menenangkan, namun juga berbahaya.
Saat kembang api kembali dinyalakan, aku sadar, kita tidak benar-benar kembali, kita hanya mengulang rasa yang belum sempat selesai. Cahayanya sama terang, detaknya sama cepat, namun akhirnya tetap sama: padam, dan meninggalkan langit kosong.
Aku tak lagi memintamu tinggal, sebab aku tau kita hanya pandai menyala, bukan menetap. Hubungan ini mungkin tidak pantas untuk diperjuangkan, tapi terlalu indah untuk dilupakan.
Dan malam itu ketika kembang api terakhir menghilang, aku menyimpan satu hal dalam hati: bahwa pernah ada seseorang yang tidak menjadi milikku, namun selalu tahu caraku untuk pulang.
-omorfiadara










