PAF Religious Diversity Index 2016
Perhitungan nilai indeks dilakukan dalam beberapa langkah.
Pertama, nilai persentase agama dikuadratkan kemudian dijumlahkan.
Pada sekolah yang homogen (e.g, tabelnya Muhi),
langkah pertama ini akan menghasilkan nilai sebesar 10.000 (100 2 = 10.000)
Sebaliknya, pada sekolah yang ideal dimana seluruh siswanya terbagi ke dalam keenam agama secara merata,
langkah ini akan menghasilkan nilai sebesar
(16,67 2 +16,67 2 +16,67 2 +16,67 2 +16,67 2 +16,67 2 ) = 1666,67
Langkah kedua adalah membalikkan nilai,
dengan demikian skor rendah akan menyatakan keberagaman agama yang rendah,
sementara skor yang tinggi menyatakan keberagaman agama yang tinggi.
Untuk membalikkan nilai, dilakukan pengurangan nilai pada tahap pertama terhadap nilai yang mencerminkan tidak adanya keberagaman beragama (10.000).
Dapat dilihat pada contoh (tabelnya Muhi),
sekolah yang homogen akan memiliki skor 0 (10.000-10.000 = 0).
Sedangkan sekolah yang ideal akan memiliki skor 8333,33 (10.000-1666,67 = 8333,33)
Pada tahap ketiga, skor yang didapat pada langkah sebelumnya dibagi dengan 833,33
(Sepersepuluh dari nilai yang didapat sekolah heterogen ideal pada tahap sebelumnya).
Nilai yang dihasilkan berupa nilai indeks keberagaman agama yang memiliki rentang nol sampai sepuluh.
Dapat dilihat pada contoh, Muhi (sebagai sekolah yang homogen sempurna) mendapatkan nilai indeks 0,00.
Sedangkan sekolah ideal yang siswanya terbagi ke dalam enam agama secara merata akan memperoleh nilai indeks 10,00.
Versi asli dari metodologi yang digunakan dapat dilihat pada tautan berikut.
Lebih kurang sama, hanya saja di sini perhitungan dilakukan dengan menggunakan enam agama yang diakui di Indonesia,
sedangkan pada riset aslinya perhitungan dilakukan dengan mempertimbangkan lima agama besar dunia + tiga kelompok tambahan.
Studi ini melibatkan 11 SMA Negeri dan 5 SMA Swasta di Kota Yogyakarta,
ditambah De Britto yang terletak beberapa meter dari batas kota.
Data agama siswa diambil dari data Kemendikbud yang dapat diakses melalui alamat sekolah.data.kemdikbud.go.id
Sebagai pembanding, turut dihitung juga indeks keberagaman agama dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Data persebaran agama di DIY merupakan data Kanwil Kemenag DIY tahun 2014 yang dapat diunduh pada tautan ini.
Dan inilah dia hasilnya~ (ノ `・∀・)ノ゙
Ranking Sekolah Persentase Agama Index
Islam Protestan Katolik Hindu Buddha Konghuchu 1 SMA Bopkri 1 Yogyakarta 10,61% 59,05% 26,39% 1,90% 2,04% 0% 6,84 2 SMA Bopkri 2 Yogyakarta 15,01% 64,89% 18,64% 1,21% 0,24% 0% 6,26 3 SMA Stella Duce 1 Yogyakarta 3,00% 29,41% 66,08% 0,63% 0,88% 0% 5,71 4 SMA N 3 Yogyakarta 76,83% 8,99% 13,26% 0,61% 0,30% 0% 4,61 5 SMA N 10 Yogyakarta 84,28% 8,81% 6,60% 0,31% 0% 0% 3,33 6 SMA N 8 Yogyakarta 84,32% 6,08% 9,19% 0,41% 0% 0% 3,32 7 SMA N 9 Yogyakarta 85,99% 5,95% 7,36% 0,70% 0% 0% 3,02 8 SMA N 6 Yogyakarta 87,99% 5,61% 6,40% 0% 0% 0% 2,62 9 SMA N 4 Yogyakarta 88,28% 5,19% 6,13% 0,40% 0% 0% 2,57 10 SMA N 7 Yogyakarta 90,36% 3,04% 6,47% 0,13% 0% 0% 2,14 11 SMA Kolese John de Britto 0,85% 6,82% 91,62% 0,28% 0,43% 0% 1,87 12 Daerah Istimewa Yogyakarta 91,97% 2,99% 4,71% 0,22% 0,11% <0% 1,81 13 SMA N 11 Yogyakarta 92,33% 3,42% 4,01% 0,24% 0% 0% 1,74 14 SMA N 2 Yogyakarta 94,08% 2,67% 3,65% 0% 0% 0% 1,36 15 SMA N 1 Yogyakarta 96,68% 1,78% 1,54% 0% 0% 0% 0,78 16 SMA N 5 Yogyakarta 98,02% 1,19% 0,66% 0% 0,13% 0% 0,47 17 SMA Muhammadiyah 1 100,00% 0% 0% 0% 0% 0% 0 18 SMA Muhammadiyah 2 100,00% 0% 0% 0% 0% 0% 0
Tabulasi selengkapnya dapat dilihat di sini
Wow, it comes as no surprise kalau kedua SMA Muhammadiyah akan dapat skor paling rendah dalam pemeringkatan ini.
(Ya iya lah, mereka kan siswanya 100% Muslim)
Yang menarik adalah, dari 17 sekolah dalam studi ini,
sekolah paling beragam agamanya adalah kedua SMA Bopkri,
yang notabene merupakan Christian counterpartnya Muhbros sekaligus partner tubir mereka
Tiga sekolah paling heterogen dalam beragama ternyata bukan sekolah negeri,
melainkan sekolah swasta yang ketiganya juga berafiliasi dengan agama tertentu (゚∀゚ )
Bosa, sebagai sekolah di bawah yayasan Kristen,
ternyata keluar sebagai sekolah yang memiliki kehidupan beragama paling majemuk. ( ゚▽゚)/
Sebagian besar siswanya beragama Kristen Protestan,
tapi dia juga punya cukup banyak siswa Katolik dan Islam.
Di samping itu,secara persentase, siswa Hindu dan Buddha di Bosa adalah yang paling banyak dibanding sekolah-sekolah lainnya dalam daftar. (ノ*゜▽゜*)
Boda dan Stece juga memperoleh skor indeks yang cukup tinggi.
Menarik sekali, Mimin rasa hal ini terjadi karena cukup banyaknya siswa beragama Katolik yang bersekolah di sekolah milik yayasan Kristen,
dan juga sebaliknya.
Persentase siswa Katolik di Bopkri dan siswa Kristen Protestan di Stece berkontribusi besar bagi skor indeks keberagaman mereka bertiga.
Anyway, now let’s talk about sekolah negeri.
Sekolah-sekolah yang supposedly menjadi neutral ground bagi siswa dengan latar belakang apapun. ( ´ ▽ ` )ノ
Kecurigaan Tebakan Mimin ternyata tepat,
Padz adalah SMA negeri dengan peringkat paling tinggi diantara sekolah negeri lainnya.
Dia adalah SMA peringkat keempat dalam hal kemajemukan beragama,
dengan skor indeks agak jauh di bawah Stece namun juga secara signifikan lebih tinggi dibanding Smuten yang menduduki peringkat kelima. (^▽^)
Ironically fitting, sekolah peringkat keempat dari bawah dalam daftar ini adalah rival abadinya Padz, yaitu Teladan. (゜▽゜;)
Mengingat apa yang terjadi dengan Teladan serta dinamika hubungan Padz dan Teladan,
sepertinya cukup aman untuk mengatakan bahwa posisi mereka berdua dalam ranking keberagaman beragama ini bukanlah suatu kebetulan.
Omong-omong, sebagai benchmark,
Mimin juga menyertakan hasil perhitungan indeks keberagaman beragama Daerah Istimewa Yogyakarta.
Logikanya adalah, andai agama para calon siswa terdistribusi sempurna,
dan nilai UN mereka juga terdistribusi sempurna, serta tidak ada faktor lain yang mempengaruhi pilihan sekolah calon siswa,
harusnya sih indeks keberagaman sekolah-sekolah negeri tidak akan jauh beda dengan indeks keberagaman Daerah Istimewa Yogyakarta. ( ̄▽ ̄)ノ
Faktanya adalah, tujuh dari sebelas SMA Negeri memiliki situasi beragama yang lebih beragam daripada Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mimin belum menggali lebih dalam mengenai fenomena ini,
namun mungkin hal tersebut adalah ekses dari banyaknya sekolah swasta yang berafiliasi dengan agama Islam.
I mean, SMA Muhammadiyah aja ada tujuh di Jogja ( ゚▽゚)/
Sedikit banyak pasti hal tersebut mempengaruhi demografi anak-anak yang sekolah di SMA negeri.
Di sisi lain, empat SMA negeri memiliki skor indeks lebih rendah dibanding indeks keberagaman agama milik DIY.
Dengan kata lain, di sekolah tersebut situasi keagamaannya lebih homogen dibanding di masyarakat luar, dalam hal ini DIY.
Tepat di bawah peringkat DIY ada Eleven,
dengan skor terpaut sedikit dari skor DIY.
Di bawahnya lagi, agak jauh sedikit, ada Smada.
Kemudian, dua SMA Negeri dengan peringkat paling buncit adalah, unsurprisingly, Teladan dan Mache.
the so called SMA Muhammadiyah Negeri,
yang dalam studi ini juga terkonfirmasi bahwa indeks mereka berdua cukup dekat dengan indeks milik SMA Muhammadiyah. (_´ω`)
Anyway, pada akhirnya hasil studi ini marilah kita bawa santai saja ( ´ ▽ ` )ノ
Data yang Mimin gunakan adalah data yang diambil pada tanggal 23 Mei 2016.
Dua bulan lagi sudah penerimaan siswa baru, dengan kata lain data-data di atas besar kemungkinan akan berubah lagi.
Hasil studi ini cukup dijadikan informasi saja,
siapa tau di antara pembaca ada anak SMP yang ingin cari SMA,
dan mempertimbangkan kemajemukan beragama sebagai salah satu pertimbangan?
Mimin harap data yang Mimin sajikan bisa menjadi tambahan referensi ヾ(^∇^)
Dan akhirnya, marilah kita merayakan keberagaman~
Mayoritas sekolah negeri di Jogja memiliki kondisi keberagaman yang lebih baik dari Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri. °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°
Dengan kata lain, bagi siswa sekolah-sekolah tersebut akan lebih mudah belajar tentang kemajemukan beragama di sekolah mereka sendiri dibanding dengan di masyarakat luar.
Mimin berharap semoga kalian semua semakin mengenal satu sama lain ( ´ ▽ ` )ノ