Tentang Changmin (titik) 1
Dulu perempuan itu pernah membayangkan tokoh-tokoh dalam poster yang ditempel di dinding kamarnya bisa hidup seperti dalam film Night at The Museum. Akan sangat menyenangkan kala malam tiba, tokoh-tokoh itu akan keluar dari poster dan berbicara bertingkah layaknya manusia seutuhnya yang bisa ia sentuh. Bicara apa saja. Mungkin tentang makanan yang ia masak, cuaca yang semakin panas, atau barangkali ia akan bicara tentang lelaki yang ia cintai.
Tapi untuk bisa melakukan semua itu, yang senyatanya adalah mustahil, ia butuh kekuatan di luar dirinya. Sebab ia sadar ia hanya perempuan yang tidak bisa apa-apa. Bahkan untuk sekadar menegur sapa dengan lelaki yang ia cintai saja ia tidak mampu. Kekuatan macam apa yang akan melakukan semua itu?
Setiap malam, entah sejak kapan, ia mulai memandangi tokoh dalam poster itu. Berjejer berhadapan dengannya saat ia tidur. Tokoh itu berdiri sempurna. Tatap matanya lurus memandang. Ia menatapnya lekat. Seolah ia bisa menyelami dalamnya mata dan hati si tokoh itu. Membayangkan ia dan si tokoh itu memang saling bertautan secara nyata. Saling menatap.
Makin lama. Makin dalam mata perempuan itu mengunci tatapan si tokoh. Berusaha menghidupkan tokoh itu dalam kepalanya. Membuat nyata dalam imaji. Memuaskan apa yang ia inginkan sama seperti yang biasa ia lihat dalam dongeng atau drama.
“Kamu berhasil menghidupkanku,” ujar si tokoh keluar dari kertas poster seperti keluar dari kurungan besi. “Lewat kepalamu.”
“Bagaimana bisa?” seru perempuan itu mendelik. Tajam. Terkejut. Ia kaku saat si tokoh itu keluar dari kertas poster lantas berjalan ke arahnya. kemudian duduk di atas tempat tidur tepat di dekat kakinya.
“Tentu saja bisa, Frey. Aku hidup karena tatapanmu menyakitkan. Apa menurutnya aku senang setiap hari selalu melihatmu mendelik padaku?” Changmin, si tokoh yang terbebas dari kertas poster itu dan mengetuk ujung mata Freya dua kali dekat pelipis. Ia tersenyum. Masih senyum yang sama seperti yang Freya lihat dalam layar di genggamannya. Indah. “Sekarang aku berdiri di depanmu, memenuhi apa yang ada dalam kepalamu. Aku Changmin. Dan saat ini aku sepenuhnya adalah diriku yang kamu bayangkan saat ini.”
Freya menggeleng. Tidak percaya. Ia sibakkan selimut yang semula menutupi setengah badannya. Tiba-tiba badannya memanas. Padahal di luar hujan lebat. Ragu, ia mendekatnya tangan kirinya ke arah Changmin. Perlahan. Changmin memperhatikan tingkah Freya yang mendadak kaku. Begitu tangan kiri Freya menyentuh lengan atas Changmin yang memperlihatnya otot bisepnya, ia bergidik. Ia mengalihkan pandangan ke arah dinding di mana kertas poster itu tertempel. Kosong. Karena tokohnya keluar dan duduk di hadapannya.
“Kamu masih tidak percaya?” tanya Changmin menyelidik. Ia menarik bibirnya sebelah. Sedikit menyeringai. “Kalau begitu, aku pergi.”
“Jangan!” cegah Freya. Reflek tangannya membuat Changmin tak jadi beranjak dari duduk.
Beberapa detik mengambang di antara keduanya. Tanpa percakapan. Hanya saling menyelidik. Bunyi air hujan yang tumpah di atas genting jadi latar suara yang bagus bagi keduanya.
“Apa yang kamu inginkan dari orang sepertiku yang hanya bisa kamu lihat dari layar? Mungkin kamu bisa menatapku dari kejauhan di ujung tempat duduk dalam sebuah venue konser. Tapi aku bahkan tidak tahu ada manusia sepertimu hidup di dunia.”
Freya menunduk. Ada banyak hal yang tidak ia pahami. Salah satunya adalah makhluk yang ada di depan matanya. Nyatakah ia?
“Kamu hanya salah satu dari pelarianku. Dari hidup yang pelik, rasa sepi dan kecewa, cita-cita yang jadi debu, juga mimpi yang tak pernah terwujud. Menatapmu, menikmati lagu-lagumu, seringkali membawaku pada satu renungan. Apa sebenarnya yang membuatku tetap hidup meski berulang kali aku memohon untuk mati.”
Changmin menghela napas. “Pernah dalam sebuah acara aku bertanya. Kenapa banyak orang senang sekali melihat oranglain makan lewat sebuah acara atau channel youtube? Meskipun aku tidak terlalu menyukainya, aku tetap makan di depan kamera karena banyak orang menyukainya. Tapi inilah aku, seperti yang kamu lihat.”
Akhirnya, Freya bisa dengar suara tawanya yang khas. Changmin tertawa. Renyah. “Tentu saja pernah. Memangnya siapa orang yang tidak pernah kesepian? Aku pernah dikuntit oleh seseorang yang tidak kukenal. Aku juga pernah melihat seseorang yang berharga bagiku hampir mati di depan mata. Aku pernah datang berkonsultasi. Setidaknya itulah cara untuk membuatku tetap sehat. Percayalah, hidup yang selalu disorot kamera juga terkadang tidak menyenangkan.”
Tawanya. Freya selalu suka tawa Changmin. Renyah dan ringan seperti keripik kentang.
“Jika kamu merasa senang mendengarkan laguku, dengarkan satu lagu malam ini sebagai alasan untukmu menjalani esok hari. Dengarkan laguku, jalani harimu, dengar laguku lagi, jalani hari lagi. Menangislah saat kamu merasa terhimpit. Tersenyumlah saat kamu merasa jatuh cinta. Tapi bertahanlah untuk hidup sampai besok,” kata Changmin seraya menggeser tubuh tegapnya.
Keduanya saling menerka kedalaman mata. Cara menatapnya atau juga perasaan apa yang terkandung di dalam sana.
“Dan satu lagi, temukan seseorang dan cintailah ia.”
Sekarang Freya menyeringai. Seseorang, katanya. Siapa? Dalam hati, ia tertawa.
“Sampai sekarang aku tidak yakin akan menemukan seseorang itu. Semakin lama, aku semakin khawatir hal apa yang akan aku hadapi esok hari. Pada akhirnya aku tidak ingin memikirkan apa pun.”
“Lupakan lelaki itu,” ujar Changmin dengan suara yang sedikit ditekan. “Jangan berharap lagi padanya. Ia sudah bersama dengan perempuan dari seberang sana.”
Benar. Benar sekali apa yang Changmin katakan. Freya menunduk. Lesu. Tak ada yang bisa lagi ia harapkan dari lelaki itu saat ia tahu lelaki itu beberapa kali terlihat jalan bersama perempuan dari seberang. Ya, mereka pasangan yang sempurna. Justru ia kasihan jika lelaki itu berakhir dengannya. Keduanya hanya akan mati dalam percakapan yang kering. Dan si perempuan dari seberang itu mampu memberikan perhatian sepenuhnya yang tak bisa ia berikan.
“Yang terakhir, aku tidak bertanggung jawab pada hidupmu. Jadi hiduplah sebaik-baiknya. Lakukan semua tugasmu terlebih dahulu, lalu datanglah padaku. Cintainya seperlunya. Perlakukan aku seperti vitamin yang akan menguatkanmu. Sekarang kamu bisa memelukku seperti yang biasa kamu bayangkan dalam tidur.”
Changmin merentangkan kedua tangannya. Membuka dirinya dalam sebuah pelukan. Dada yang tegap dan rengkuhan tangannya yang lebar jadi sebaik-baiknya tempat pulang. Tak perlu waktu lama untuk berpikir, Freya jatuh di dalam dada itu. Dan tangisnya pecah. Meluapkan segalanya. Lagu-lagu yang dinyanyikan Changmin jadi detak saat ia tertawa atau menangis. Setiap harinya.
Ditulis menjelang TVXQ! genap berumur 16 tahun di bulan Desember 2019 buat penyemangat saat hati sedang kalut.