Jaminan Rizqi dan Ibadah Kerja
"Jika kau bisa menekan sebuah tombol yang akan membunuh acak setengah populasi dunia, akankah kau melakukannya? Jika kau tidak menekan tombol itu sekarang juga, seluruh umat manusia akan punah dalam seratus tahun ke depan. Maukah kau menekannya? Bahkan jika itu berarti kau barangkali akan membunuh teman, keluarga, atau dirimu sendiri? Maukah kau membunuh setengah populasi hari ini demi menyelamatkan spesies manusia dari kepunahan?"
Pertumbuhan populasi mengikuti deret ukur: 1, 2, 4, 8, 16, 32, dst," demikian Thomas Robert Malthus, seorang pendeta Inggris di era Revolusi Industri berteori. "Sedangkan pertumbuhan produksi dan ketersediaan pangan mengikuti deret hitung: 1, 2, 3, 4, 5, 6, dst." Ini artinya, menurut Malthus dalam esainya yang termasyhur, The Essay on The Principle of Population, ada bahaya yang mengancam masa depan manusia terkait daya topang bumi terhadap kehidupan insan.
Sebenarnya, esai Malthus adalah jawaban terhadap beberapa karya cendekiawan lain di zamannya yang bertema "Masyarakat Ideal". William Godwin dalam tulisannya yang terbit pada 1793, An Enquiry Concerning the Principal of Political Justice and Its Influence on General Virtue and Happiness, menyatakan bahwa ketika dunia mencapai fase tidak ada lagi peperangan dan permusuhan, serta saat pengetahuan tentang pertanian dan perindustrian mulai berkembang pesat, maka pada saat itu akan tercapai kondisi ideal dalam kehidupan bermasyarakat.
Anggitan lain yang mengungkapkan optimisme tentang masa depan adalah karya Marquis de Condorcet, seorang ekonom, matematikawan, sekaligus filsuf asal Perancis, yang bertajuk Esquisse d'un Tableau Historique des Progres de l'Esprit Humain. Dalam tulisan tersebut, Condorcet menegaskan bahwa karena manusia merupakan makhluq berfikir, maka ia akan terus mengembangkan eksistensinya di dunia dan membuat lingkungan tempat tinggalnya menjadi lebih baik.
Malthus meragukan itu. Dengan menelah data pertumbuhan penduduk Amerika Serikat selama 50 tahun, tercetuslah teori terkenalnya yang telah kita sebut di awal. Namun, ada pula susulan preposisi dalam teori tentang populasi ini. Bahwa "alam" punya caranya sendiri untuk mengimbangi ketimpangan itu. Bisa saja dengan wabah penyakit, atau peperangan. Wabah hitam di abad pertengahan hingga Perang Dunia I dan II dirujuk sebagai contohnya. Novel karya Dan Brown, Inferno, yang kita kutip di awal bahasan, memusarkan alur ceritanya pada penalaran ini. Kenyataannya, hari-hari ini justru negara-negara maju mengalami krisis kependudukan yang serius dalam pola sebaliknya. Orang kian enggan menikah. Pasangan sejenis makin banyak. Angka kelahiran turun drastis. Piramida penduduk menua dan membentuk pola nisan. Angkatan kerja semakin menurun. Negara bahkan harus memberi banyak subsidi dan stimulus agar orang mau punya anak. Krisis kelangsungan generasi terjadi.
Ledakan populasi yang menjadi krisis karena tak cukupnya sumber daya bumi seperti dikhawatirkan teori Malthus tidak–atau katakanlah belum–terjadi. Adapun kita yang beriman kepada Allah, perlu pula merenungkan hal berikutnya. Seandainya kita adalah seekor cicak, mungkin sudah sejak dulu kita berteriak, "Ya Allah, Kau salah rancang dan keliru cetak!"
Sebab cicak adalah binatang dengan kemampuan terbatas. Dia hanya bisa merayap meniti dinding. Langkahnya cermat. Jalannya hati-hati. Sedang semua yang ditakdirkan sebagai makanannya, memiliki sayap dan mampu terbang kesana kemari. Andai dia berfikir sebagaimana manusia, betapa nelangsanya. "Ya Allah," mungkin begitu dia mengadu, "bagaimana hamba dapat hidup jika begini caranya? Lamban saya bergerak dengan tetap harus memijak, sedang nyamuk yang lezat itu melayang di atas, cepat melintas, dan ke mana pun bebas." Betapa sedih dan sesak menjadi seekor cicak.
Tapi mari kita ingat sejenak bahwa ketika kecil dulu, orangtua dan guru-guru mengajak kita mendendang lagu tentang hakikat rizqi. Lagu itu berjudul "Cicak-Cicak di Dinding".
Bahwa tugas cicak memang hanya berikhtiar sejauh kemampuan. Karena soal rizqi, Allah-lah yang memberi jaminan. Maka kewajiban cicak hanya "diam-diam merayap". Bukan cicak yang harus datang menerjang. Bukan cicak yang harus mencari dengan garang. Bukan cicak yang harus mengejar dengan terbang.
Allah Yang Maha Mencipta, tiada cacat dalam penciptaan-Nya. Allah Yang Maha Kaya, atas-Nya tanggungan hidup untuk semua yang telah dijadikan-Nya. Allah Yang Maha Memberi rizqi, sungguh lenyapnya seisi langit dan bumi tak mengurangi kekayaan-Nya sama sekali. Allah Yang Maha Adil, takkan mungkin Dia bebani hamba-Nya melampaui kesanggupannya. Allah Yang Maha Pemurah, maka Dia jadikan jalan karunia bagi makhluq-Nya amatlah mudah.
Allah yang mendatangkan rizqi itu. Betapa dibanding ikhtiar cicak yang diam-diam merayap, perjalanan nyamuk untuk mendatangi sang cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku dan lebih dahsyat. Jarak dan waktu memisahkan keduanya dan Allah dekatkan sedekat-dekatnya. Bebas si nyamuk terbang ke mana jua, tapi Allah bimbing ia supaya menuju pada sang cicak yang melangkah bersahaja. Ia tertakdir dengan bahagia, menjadi rizqi bagi sesama makhluq-Nya, sesudah juga menikmati rizqi selama waktu yang ditentukan-Nya.
"Dan tiada dari segala yang melata di bumi, melainkan tanggungan Allah-lah rizqinya. Dia Maha Mengetahui, di mana tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata." (QS. Huud [11]: 6)
"Daabbah," demikian menurut sebagian Mufassir, "adalah kata untuk mewakili binatang-binatang yang hina bersebab rendahnya sifat mereka, terbelakang cara bergeraknya, kotor keadaannya, liar hidupnya, dan bahkan bahaya dapat ditimbulkannya." Allah menyebut daabbah di ayat ini, seakan-akan untuk menegaskan; jika binatang-binatang rendahan, kotor, liar dan berbahaya saja Dia jamin rizqinya, apatah lagi manusia.
Dalam ungkapan Ibrahim 'alaihissalam, "Dan Dialah yang memberiku makan dan memberiku minum." (Q.S. Asy-Syu'araa [26]: 79)
Allah tidak menciptakan satu pun makhluq dengan sia-sia. Setiap yang melata di atas bumi pasti Dia jamin penghidupannya. Setiap yang berjiwa, takkan dimatikan hingga digenapkan seluruh rizqinya. "Dialah Penciptaku, demikian Imam Ibn Katsir menulis dalam Tafsir-nya, "maka Dia yang menjamin rizqiku dengan pengaturan-Nya.
"Dia memudahkannya dengan sebab-sebab langit dan sebab-sebab bumi," lanjut beliau. "Dialah yang membelah awan, menurunkan hujan, lalu Dia hidupkan dengan air itu, bumi sesudah matinya untuk Dia keluarkan darinya segala buah-buahan sebagai rizqi bagi segenap makhluq. Pun Dia pancarkan air yang sejuk, yang menjadi minuman bagi manusia dan binatang-binatang."
"Allah-lah yang menciptakan makanan dan minuman bagiku," ujar 'Aidh Al-Qarni dalam Tafsir Al-Muyassar, "maka Dialah Pemberi rizqi, sendiri tiada sekutu dan mampu tanpa pembantu. Dialah yang memberikan nikmat, terhadap segala yang Dia nikmatkan."
Maka, tidak sempurna kehambaan kita pada Allah tanpa kepasrahan sejati dalam urusan rizqi. Di lapis-lapis keberkahan kita menginsyafi bahwa bekerjanya kita bagian dari rizqi; mempergunakan segala sumber daya juga merupakan rizqi; untuk menjemput sesuap pendapatan yang ianya bagian dari rizqi. Dalam soal rizqi; perencanaan kita adalah rizqi, pelaksanaannya adalah rizqi, dan hasilnya adalah rizqi.
Sebab, bahkan diri kita ini pun adalah rizqi; hati yang bersih, fikir yang jernih, dan raga yang tak ringkih.
Maka betapa zhalim yang merasa mampu diri menanggung rizqi, bahkan memberi makan anak dan istri. Jika hati penuh yakinnya akan rizqi, maka Allah ringankan fikir dan jasadnya dalam upaya. Namun, jika hati merasa bahwa rizqi adalah semata pekerjaan dan pendapatannya, Allah akan bebankan penghidupan yang terasa sempit, sesak, dan berat.
Maka sesudah itu, justru sebab rizqi kita telah dijaminkan, maka makna kerja kita adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Justru sebab kita tahu bahwa bekerjanya kita maupun karunia yang dilimpahkan melaluinya, keduanya sama-sama anugerah Allah Ta'ala, maka bekerja sudah seharusnya ditunaikan dalam gembira. Justru sebab kita tahu bahwa kerja kita bukanlah penentu dari apa yang kita nikmati, maka bekerja sudah seharusnya merupakan bentuk luapan syukur kita pada Dzat Yang Maha Bijaksana.
Maka bekerja adalah ibadah, sehingga bekerja semestinya ditekunkan dengan itqan, bahkan seyogiyanya diperjuangkan sampai ihsan.
"Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang berkarya dan itqan (tekun-terampil). Barang siapa mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang yang berjuang di jalan Allah." (H.R. Ahmad)
Penting untuk kita fahami bahwa berkah bukan hanya terdapat pada rizqi yang Allah karuniakan pada kita. Lebih dari itu, ia justru teranugerahkan dalam kesungguhan kita menekuni pekerjaan hingga berketerampilan. lalah berkah, sebab cinta Allah terjanji pada hamba yang demikian. lalah berkah, sebab mencari nafkah adalah sebentuk ibadah. lalah berkah, sebab susah payahnya bernilai jihad fi sabilillah.
Bukan hanya pada rizqinya, berkah itu lebih-lebih justru ada di dalam kerjanya.
"Sesungguhnya di antara dosa-dosa," demikian Sang Nabi bersabda dalam riwayat Imam Ath-Thabrani, "ada satu dosa yang tidak terhapus dengan tebusan pahala shalat, puasa, haji, dan 'umrah." Lalu para shahabat bertanya, "Maka dengan apakah ia terhapus, ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Dengan kelelahan bekerja, menjemput rizqi menafkahi keluarga."
Hingga dosa-dosa yang menghitamkan hati luruh bersama tiap butir keringat yang mengucur.
Dan semoga kita dikaruniai kekuatan untuk menjadi seorang mukmin yang ihsan dalam kerjanya. Yang menjadikan Allah sebagai pengawas setiap karyanya. Yang menjadikan Allah sebagai sumber semua tenaganya. Yang menjadikan Allah sebagai yang paling diharapi ganjaran dari-Nya. Dengannya, semoga kita mampu bekerja melampaui apa yang diharapkan manusia, baik atasan, rekan, maupun bawahan.
Sebab kita yakin, andaipun mata ini tak melihat Allah, sungguh Dia senantiasa menyeksamai kita. Sebab kita yakin, andaipun tak ada manusia yang mengawasi kita mengerahkan daya dan mencurahkan tenaga; ada Allah yang lengkap catatan-Nya dan teliti perhitungan-Nya. Sebab kita yakin, andaipun ada jam kerja yang tak terhitung dalam gaji dan penghargaan manusia, balasan di sisi Allah jauh lebih kita harap dan kita suka.
Dengan ibadah sebagai kerja yang di dalamnya ruh ihsan menyala, kita menjadi insan dengan nilai tambah dalam karya yang insya Allah bermanfaat bagi sesama.
"Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibanding seorang mukmin yang lemah. Dan pada keduanya terdapat kebaikan. Senantiasa berusahalah untuk melakukan segala yang berguna bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menjadi lemah. Dan bila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata: 'Seandainya aku berbuat demikian, demikian, niscaya akan terjadi demikian dan demikian', tetapi katakanlah: 'Allah telah mentaqdirkan, dan apa yang Dia kehendakilah yang Dia lakukan', karena ucapan 'seandainya' akan membukakan pintu godaan syaithan." (H.R. Muslim)
Namun, jika kerja adalah ibadah, bagaimanakah sikap hati kita kepada gaji?
Seorang lelaki mengadu kepada Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, "Ya Imam," ujarnya sendu, "gajiku 5 dirham sehari. Itu cukup besar bukan? Namun, rasanya hidup kami sempit sekali. Uang selalu kurang. Keperluannya ada-ada saja. Istriku tak henti mengeluh dan marah-marah. Anak-anakku susah diatur, sukar dimintai tolong, membantah jika dinasihati. Berikan bimbinganmu, ya Imam!"
"Bagaimana jika kau kurangi saja bayaranmu jadi 4 dirham?"
"Itukah petunjukmu, ya Imam? Lima dirham terasa sesak, dan kauminta aku hanya mengambil 4 saja?"
"Ya," ujar Sang Imam sambil tersenyum.
Mungkin karena dia menyadari bahwa kata-kata Sang Nashirus Sunnah bukan sembarang petuah, dia ikuti juga betapa pun tak masuk akalnya. Beberapa waktu kemudian dia menghadap Sang Imam dengan wajah yang tak lagi tertekuk dan gurat kesusahan yang tampak berkurang.
"Sudah kulaksanakan nasihatmu. Kini gajiku 4 dirham dan rasanya sungguh pas-pasan. Benar-benar ketat antara pemasukan dan pengeluaran. Istriku tinggal gerutuannya yang sesekali. Anak-anak sudah mulai menurut meski kadang berdebat dulu. Adakah petunjuk lagi, ya Imam?"
"Tentu. Kurangi lagi jadi 3 dirham."
Seperti sebelumnya, lelaki itu patuh meski petuah sang guru terasa lucu. Beberapa waktu berselang, dia kembali menghadap dengan wajah berseri-seri. "Alhamdulillah, ya Imam. Sejak gajiku hanya 3 dirham, justru rasanya kami amat berlimpah. Semua keperluan terpenuhi. Bahkan, kami bisa bershadaqah. Istriku juga jadi begitu ramah dan penuh perhatian. Anak-anakku taat dan menyejukkan mata. Apa rahasia semua ini? Mengapa 5 dirham kurang, sedang 3 berlimpah?"
Sang 'Alim Quraisy menjawab dengan sebuah syair.
جمع الحرام الى الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
"Dia kumpulkan yang haram pada yang halal untuk memperbanyak. Padahal, jika yang haram merasuki yang halal, maka ia akan merusak."
Kisah ini bukan anjuran—apalagi bagi para majikan—untuk mengurangi gaji bawahannya. Namun, ia adalah renungan agar kita senantiasa memastikan bahwa bayaran kita telah sesuai itqan dan ihsannya kerja, halal dan thayyib dalam ridha-Nya. Lalu sesudah itu hanya berkah yang berlimpah-limpah, kebaikan yang dalam apa pun keadaan selalu bertambah.
dalam buku #mncrgknskl: Mencurigai Diri Mengokohkan Masa Depan