Antara Code Blue dan Fajar
Suara itu membuatku terperanjat, dan dalam sekejap mata aku terbangun. Nyawa yang baru saja hendak memasuki mimpi kini terpanggil kembali untuk sadar dan membersamai raga.
Suara itu menggema di seluruh sudut rumah sakit. Sungguh membuatku trauma.
Code blue, namanya.
Dalam satu malam, aku mendengar sirene itu dua kali berturut-turut. Dua panggilan yang akhirnya mengantarkan dua nyawa kembali pada Sang Maha Kuasa malam itu. Semalaman aku terjaga. Tak sekejap pun terlelap. Merinding, takut, dan khawatir menjalari tubuhku tanpa ampun.
Suara roda-roda peralatan medis darurat bergema di sepanjang lorong menuju ruang yang hendak dicapai. Dua? Atau tiga alat? Mungkin lebih. Lima atau enam langkah kaki berlarian? Mungkin lebih.
Raungan, teriakan, dan isak tangis pecah tak terbendung. Erangan tak terima atas kondisi yang terjadi memantul di dinding-dinding lorong. Tak ada yang mampu menahannya. Tak ada yang mampu mencegahnya. Mana mungkin ada yang siap merasakan kehilangan sebelum akhirnya takdir memilihnya sendiri?
Semua terjadi begitu cepat—dalam hitungan menit. Namun peristiwa itu membekas selamanya. Iya, selamanya. Bahkan bagiku yang malam itu hanya seorang pasien tetangga kamar. Untuk pertama kalinya, aku merasakan kematian begitu dekat.
Desiran darah dan detak jantung membuncah di dada, seolah mengalir hingga ke kepala. Aku lemah, aku gelisah, aku khawatir.
Aku hanya berharap matahari segera bercumbu di langit timur, membawa sedikit rasa aman pada diriku, agar aku bisa memulai kembali hari meski hanya dengan terlelap selama enam puluh menit.
Dan pagi itu akhirnya datang. Namun rasa yang tertinggal tak sepenuhnya pergi. Ada sesuatu yang berubah. Ada jarak yang kini terasa begitu tipis antara hidup dan pulang.
Malam itu mengajarkanku satu hal, bahwa waktu tak pernah benar-benar milik kita. Dan detik yang masih berdetak di dada adalah anugerah yang tak boleh lagi dianggap biasa.












