“We can accept an imperfect dad. Let’s face it, the idea of a good father was only invented like 30 years ago. Before that fathers were expected to be silent and absent and unreliable and selfish. And we can all say we want them to be different, but on some basic level, we accept them. We love them for their fallibilities, but people absolutely don’t accept those same failings in mothers. We don’t accept it structurally and we don’t accept it spiritually. Because the basis of our Judeo-Christian whatever is Mary, Mother of Jesus, and she’s perfect. She’s a virgin who gives birth. Unwaveringly supports her child and holds his dead body when he’s gone. And the dad isn’t there. He didn’t even do the fucking. God is in heaven. God is the father and God didn’t show up. So, you have to be perfect, and Charlie can be a fuck up and it doesn’t matter. You will always be held at a different, higher standard. And it’s fucked up, but that’s the way it is.”
— Marriage Story (2019), written and directed by Noah Baumbach
Selain scene Nicole dan Charlie berantem tunjuk-tunjukan terus akhirnya pelukan, scene Nora ngomelin Nicole yang ini juga salah satu kesukaan gue. I mean, what a word.
Mau menolak atau tidak, a mother or a wife, has to be perfect. They can easily forgive a fvcked up dad but not a fvcked up mom. There could be Duda Keren but it’s Janda Ganjen for the most of the time. Makanya speech Nora yang ini bikin pengen tepuk tangan banget. Sungguh intriguing. Rasanya pengen kasih cuplikan adegan ini ke seluruh perempuan yang sedang bertarung dalam pernikahan kacrut atau keribetan perceraian.
-
Gue menonton Marriage Story selama tiga malam berturut-turut, karena selalu ketiduran di 30-40 menit. Romance genre isn’t my thing dan gue seringkali mudah bosan. Apalagi adegan awal-awal lumayan lambat dan bertele-tele.
I’m sorry but for me, this movie isn’t as tearjerking as they said. Gue nontonnya malah lebih ke… capek.
Di 40 menit terakhir film, gue mulai pusing menyaksikan dua pasangan yang tentu saja awal menikah modalnya ada cinta, seperti sudah saling kenal dari ujung rambut sampe ujung kuku, tapi bisa berakhir seperti ngga kenal sama sekali begitu. Sisanya cuma benci doang. This, is, what I haven’t wanted to endure. Love is overrated, commitment isn’t.
Jangankan yakin buat hidup sama satu orang yang sama bertahun-tahun dan ketemu setiap hari, kebayang juga ngga. Ketemu tiap hari selama seminggu aja gue cranky, malah jadi marah-marah mulu. Sampe hari ini aja gue masih ngga ngerti sama orang-orang yang bisa tahan bales-balesan chat every single minutes, 24/7 pagi siang malem, disertai telponan setiap hari. I was so heavily in love once upon a time, tapi gue tetep muak kontakan tiap hari. Apalagi, selama bertahun-tahun seumur hidup, dalam pernikahan.
But anyway, it’s just my preference. Ya terserah aja sih kan orang beda-beda visi misi hidupnya.
Film ini, dan film-film tentang kegagalan pernikahan lainnya, harusnya bisa jadi gambaran singkat bagaimana sebuah kehidupan yang isinya lebih dari satu kepala itu, butuh kerja keras luar biasa. Ngga segampang dongeng dan legenda. Lebih ke kisah-kisah oh mama oh papa (wow age-related sekali analoginya).
I’ve seen many broken marriage during my life. Gue punya beberapa temen janda dan duda. The hardest part is not when I saw them living separated or their poor kids suffered, but when I saw two human who used to stick together, become a total stranger to each other, bahkan jadi benci banget sebenci-bencinya.
Lagi heboh-heboh film ini, muncul pulak berita dari Jawa Barat yang katanya mau bikin aturan tiap pasangan mau cerai harus nyetor 100 apa 10 bibit pohon gitu. Sinting.
Perceraian itu sendiri udah exhausting, ditambahin pula lagi bebannya. Biar apa, bgst? Biar orang ngga cerai? Biar so called patuh norma? Bodo amat hidup dalam toxic relationship? Bersama pasangan abusive? Bersama orang yang sudah tidak dikenali lagi? Menanggalkan semua ketenangan dan kebahagiaan hidup? Hadeh.
Dah ah. Tidur lagi aja, sejam lagi kerja.

















