mengamati beberapa keluarga yang aku kenal sekilas, masyaallah mereka "cemara" sekali. pernah terbersit di benakku, "kira-kira suaminya pada kerja apa ya?"
para ibu ini, sambil menunggu anak-anaknya bersekolah, punya segudang kegiatan untuk diri sendiri (yang kebanyakan adalah cost center). nge-gym dengan personal trainer, club hopping (untuk olahraga ya), kajian, pengajian, arisan, pijat refleksi, ke salon, perawatan wajah dan badan, belanja, ngopi-ngopi cantik, mencoba makanan lucu-lucu. kalau sedang tidak menunggu anaknya bersekolah, mereka jalan-jalan jauh. kadang dengan keluarga, kadang dengan geng-nya, kadang sendiri saja.
para ibu ini, bahagianya memancar ke mana-mana. setiap diskusi dan mengobrol dengan mereka, isinya daging semua. tentang parenting dan pengasuhan, bahas hasil kajian, ide bisnis dan sejenisnya, bahkan setidaknya adalah rekomendasi ini itu (resto, hotel, dll.) hampir tidak pernah membicarakan orang lain.
para ibu ini, ada yang bekerja dan berpenghasilan. ada juga yang masih bersekolah. ada yang penuh menjadi ibu rumah tangga. tapi mereka punya kesamaan: sama-sama bahagia dan bisa punya gaya hidup yang mungkin hanya dimiliki 1% istri-istri di Indonesia.
sekali lagi, "kira-kira suaminya pada kerja apa ya?"
setelah kuamati, ternyata para suaminya punya pekerjaan yang sama: membahagiakan istrinya. harga dirinya naik ketika bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. tidak pernah sekalipun suami berhitung telah memberi apa kepada keluarga. mereka punya provider mindset, ke-qawwam-an, maskulinitas yang sebenarnya.
jika istrinya ibu rumah tangga, kewajiban sang istri adalah mengantar jemput anak-anak sekolah. itu pun istrinya disediakan kendaraan terbaik plus supirnya. di rumah tetap ada ART yang mengerjakan hampir semua urusan domestik. tugas istrinya di rumah apa? menjadi cantik dan bahagia.
jika istrinya bekerja atau berpenghasilan, dukungan suaminya tidak kaleng-kaleng. modalnya dari suami, untungnya semua untuk istri. bekerja atau berpenghasilan bukan untuk menafkahi keluarga, melainkan untuk aktualisasi diri sang istri. di luar urusan kantor atau bisnis, para ibu ini tetap dapat queen treatment dari suami, tak cukup istilah "yang penting setia."
akhirnya baru kupahami. para istri ini bisa punya gaya hidup seperti itu, bukan karena suaminya kaya. justru, karena suaminya mengusahakan yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya, Allah berikan rezeki yang melimpah ruah kepada sang suami. para suami ini, tak sedikit yang rela menurunkan tingkat kenyamanan diri demi istri dan anak-anak yang hidupnya lebih nyaman.
para ibu ini, pekerjaan mereka juga hanya satu: berbahagia. dan aku yakin tidak ada kebahagiaan yang hadir begitu saja tanpa dirinya sendiri susah payah menghadirkan ketenangan hati. kebahagiaan mereka adalah hadiah dari Allah untuk maaf yang terus mereka berikan, kasih sayang yang terus mereka semaikan, serta ketaatan yang terus mereka tegakkan.
semoga keluargamu adalah keluarga yang bahagia. di depan publik, di dalam rumah, juga di belakangmu.