Happy Ending
Hei,
Hampir di setiap dongeng, menikah jadi akhir cerita bahagia. Nawang kecil dan remaja sempat berpikir begitu, semua yang menikah mendapatkan happy endingnya. Nawang dewasa menyadari bahwa dongeng nggak memasukkan kisah pascamenikah karena barangkali nggak semuanya happy setelah itu. Sisanya ternyata masih berupa puzzle berisi upaya-upaya ingin bahagia.
Kayak kita.
Waktu memutuskan untuk menikah sama kamu, dengan kesadaran penuh aku menyadari bahwa kamu sepaket dengan segala yang menyertaimu: Dito yang rendah hati, suka menolong, empati yang kadang gak tau diri, keinginan belanja yang tinggi, bahasa cintamu, ego, amarah, sedih, trauma-trauma, kesukaan dan ketidaksukaanmu, rahasia, juga dimensi-dimensi duniamu yang beberapa masih misteri. Memilih kamu karena kamu adalah Dito yang aku kenal, hon, tidak sulit. Yang sulit adalah meyakinkan diriku sendiri bahwa pada perjalanan yang menungguku setelah menikah, aku akan baik-baik saja. Yang akhirnya membuatku yakin adalah bahwa kalaupun dalam perjalanannya aku menemukan halang rintang, atau bahkan babak belur, aku punya teman dan aku senang itu kamu. Seseorang yang kuyakini bisa kuandalkan dalam setiap fase hidupku nanti.
Yang aku nggak pernah tahu, kamu juga pasti melalui proses berpikir dan menimbang-nimbang. Barangkali Nawang yang sepaket dengan mood swing, overthinking, gemar ngelamun dan ngebatin ini bukan pilihan yang mudah. Barangkali banyak pilihan-pilihan lain yang lebih mudah dan menjanjikan, lebih paham jadi temanmu, lebih pantas jadi pasanganmu, lebih bisa membuatmu bahagia. Aku nggak pernah tahu, nggak akan pernah, mungkin, apa kamu sayang aku kayak aku sayang kamu, apa kamu kagum sama aku kayak aku kagum sama kamu, apa kamu terima aku kayak aku terima kamu.
But here we are, enam tahun pacaran, hampir dua tahun menikah, dan hampir sebulan jadi orang tua buat bayi koala paling gemas, Kai. Sejauh ini baik-baik saja melalui segala halang rintang, lebam-lebam dikit, tapi aman.
Aku nggak tahu kamu gimana, tapi waktu menikah, aku berencana menjadikan ini selama-lamanya. Dan selama-lamanya adalah waktu yang panjang, hon.
Bisa nggak ya, kita baik-baik aja?
Bisa nggak ya, kita masih jadi temen akrab, jadi pacar yang mesra, jadi suami istri yang rukun, jadi orang tua yang baik? Bisa nggak ya, kita jadi manusia yang bahagia atas diri kita sendiri, dan berbagi kebahagiaannya bersama-sama sebagai keluarga?
Entahlah.
Tapi hidup emang gitu, isinya puzzle-puzzle berisi upaya kita sebagai individu yang berusaha bahagia dan baik-baik saja. Semoga apa pun jalannya nanti, kita selalu ingat alasan kita memilih satu sama lain. Semoga bagaimana pun ujiannya nanti, kita selalu memilih satu sama lain sekali lagi, setiap kali.
14 Desember 2023, @nawangrizky
Untuk perjalanan hidup jadi orang dewasa yang ternyata rumit dan runyem, aku masih bersyukur rekanku kamu, semoga kamu juga.
Cheers!















