Berbahagialah yang jadikan iman di atas rasa dan logika. Karena siapa yang bertuhan pasti akan bertahan!
(via senyumsyukur)

@theartofmadeline

bliss lane

titsay
Not today Justin
The Stonewall Inn

roma★
noise dept.
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Interview Vampire Daily
YOU ARE THE REASON
occasionally subtle
RMH
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Cosmic Funnies
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
$LAYYYTER
almost home
Noah Kahan

tannertan36

Product Placement
seen from Australia
seen from Brazil
seen from Georgia
seen from Finland
seen from China
seen from France
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Venezuela

seen from T1
seen from Chile
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
@najibzamronyarestu
Berbahagialah yang jadikan iman di atas rasa dan logika. Karena siapa yang bertuhan pasti akan bertahan!
(via senyumsyukur)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Listening to Donna Donna by Sita Nursanti
How the winds so laughing? The laugh with all their might – Preview it on Path.
“sebagai tanda
pada 18 November 2014
atas tewasnya sahabatku, Suruju Yusupa
di persimpangan jalan sebelah kiri
oleh kaki-kaki yang tidak manusiawi
sebagai tanda cinta buatnya dari sahabat sejati.”
Anjing (2)
Aku mau bicara. Tentang sesuatu, yang besar, bukan bentuknya tapi masalah yang ada didalamnya. Mengenai negeri yang besar, kaya, dan karna saking kayanya, sekarang menjadi tambun. Bukan Cuma negerinya yang jadi tambun, tapi orang-orangnya juga sama. Asal merata saja, semua akan baik, hidup sejahtera, dan sudah tentu bahagia. Tapi masalahnya, hanya pejabat-pejabatnya saja yang tambun sedang rakyatnya semakin ciut isi perutnya.
Aku ingat, ada yang pernah bertanya, kenalanku dari luar negeri. Begini katanya; ‘Hei, apa kau bahagia hidup disana. Ditempat kelahiranmu yang katanya orang-orang disini tempatmu itu mempunyai alam yang indah, pantainya bening-kaca, sumber daya alam yang melimpah dan hasil perkebunannya sangat mahal nilai jualnya dinegara barat. Apa benar begitu?’
‘Benar.’ Jawabku singkat.
‘Apa benar negaramu yang kaya raya sumber daya alam-nya itu tapi masyarakatnya masih hidup prihatin ?’
‘Benar.’
‘Apa benar negaramu yang kaya raya itu membiarkan anak-anak kecil menyeberangi sungai yang deras arusnya dengan jembatan ala kadarnya demi ilmu?’
‘Benar.’
‘Seperti ingin mengantarkan nyawa pada Tuhan saja.’
‘Memang benar.’
Sebuah negeri yang besar. Sayang, sistem birokrasinya bertele-tele sehingga banyak yang mati karna kelamaan menunggu. Ada ketidak jelasan yang hinggap dinegeri ini. Sistem pemerintahannya semrawut, kebijakan yang tidak berakal, ditambah oleh pejabat-pejabatnya yang selalu memikirkan isi perut sendiri. Negeri yang sangat kaya sumber alamnya sebenarnya bisa membuat masyarakatnya hidup sejahtera. Tapi ladang-ladang emas dan berlian yang berpotensi malah diberikan oleh manusia-manusia asing. Juga hasil perkebunannya seperti pala, merica, ketumbar, cengkih dan bumbu dapur lainnya yang menjadikan negeri ini semakin dikenal dunia. Jika kita balik lagi kebelakang, puluhan tahun islam, tidak heran para perlente-perlente asing datang ribuan mil untuk menguasai segala aspek di negeri ini. Ada yang bilang, negeri ini tidak akan maju karna tidak ada karakter pada elit. Ada yang bilang negeri ini selalu terbelakang oleh negeri-negeri lainnya karna birokrasinya tidak pernah mau maju alias jalan ditempat. Ada yang bilang negeri ini memelihara tikus yang kelakuannya lebih hina dari pada tikus got dan makanannya adalah uang rakyat. Ada yang bilang negeri ini dipegang oleh oknum-oknum yang tidak tahu malu yang sukanya bercumbu dengan ‘pk’. Ada yang bilang perempuan-perempuan di negeri ini bisa dengan mudah mendapat mobil asal mau saja diajak kencan malam mingguan yang berlanjut diatas ranjang. Ada yang bilang negeri ini kelakuan pejabat-pejabatnya sangat serakah sehingga yang berada diatas semakin kaya dan yang miskin semakin melarat. Ada yang bilang kalau anak-anaknya pejabat hidupnya akan bahagia tanpa harus takut dengan ancaman pidana. Ada yang bilang anak-anaknya pejabat selalu mendapatkan apa yang mereka ingin sekalipun itu bukan haknya. Tentu kamu masih ingat dengan tulisanku beberapa hari yang lalu, tentang seekor anjing, yang ingin berubah jadi manusia. Aku belajar dari situ, dari tulisannku sendiri. Manusia yang seperti ini memang pantas disebut ‘anjing’.
Aku yakin kalian tahu apa nama negeri yang aku sebut kebusukan-kebusukannya diatas. Sepertinya perputaran roda kehidupan negeri ini telah tersendat. Namun bukan itu yang menjadi permasalahan utama, masalahnya sekarang adalah apakah kau akan diam saja melihat negerimu perlahan-lahan hancur atau kau memilih berkomitmen untuk merubah negeri ini dimulai dari dirimu sendiri? Semua kembali pada kemauan pribadi. Tidak ada paksaan. Tapi jika boleh bersaran, jangan terlalu sering berdiri dibalik cermin mengagumi kemolekan tubuhmu tapi berdirilah diatas gedung yang paling tinggi agar kamu bisa melihat seperti apa keadaannya sekarang (negerimu).
Anjing
Seekor anjing mengkhayal. Betapa enaknya jadi manusia. ‘Anjing mana mungkin jadi bos,’ pikirnya. ‘Aku hanya selalu jadi hewan piaraan. Aku selalu jadi objek. Tak banyak punya pilihan. Duniaku, kebebasanku, sudah dijatah. Manusia lain. Manusia bisa mandiri, bisa bebas, bisa menuntut, bisa jadi maling tanpa kena hukuman, bisa menggarap manusia lain, bisa menipu manusia lain dan tetap dihormati, bisa menuntut apa saja termasuk yang bukan miliknya. Bisa menyulap kebenaran. Bisa main politik. Dan lain-lain. Masih banyak lagi.’ Protes, Putu Wijaya, Agustus 1992.
Siang ini, saat keriuhan kembali dan sekolah jadi hingar, aku menepi. Diujung tempat ini aku menyendiri. Di pojokan ruang perpustakaan sekolah aku biasa menyendenkan tubuh ke sebuah rak besar berisi buku-buku paket mata pelajaran program sosial. Ada sosiologi, ekonomi, geografi, serta buku panduan manajemen dan wirausaha. Aku memang suka berada disitu, ditempat ini, yang mana aku bisa mendapatkan ketenangan dari hingar-bingarnya sekolah dan segala tetek-bengek suaranya yang membuatku jenuh. Aku bukannya diam saja, dipojokkan ini aku ditemani buku kecil warna merah dengan tulisan disampulnya ‘Protes’ karya Putu Wijaya yang berisi kumpulan cerpen-cerpen yang pernah ditulisnya dulu. Buku yang kaya akan imaji dan simbol, sugestif dan dinamis, dan kerap seperti protes pada bentuk pengucapan literer yang konvensional. Buku yang berkonsep dengan ‘teror mental’-nya yang menggemaskan. Aku benar-benar diajak masuk kedunia yang tidak biasa tapi membangun. Tentang suatu kebenaran yang harusnya sudah ada dimasyarakat sejak dulu sehingga pertumbuhan manusia Indonesia akan baik. Di buku ini, aku menemukan satu bab yang membuatku tercengang. Tentang seekor anjing yang ingin menjadi manusia. Apa enaknya jadi manusia? Pikirku saat itu. Asalkan dia tahu jadi manusia itu tidak mudah, kelihatannya saja gampang. Ada yang sok berkuasa, menghukum yang tidak bersalah lalu membebaskan yang sebenarnya salah, banyak sekali pengingkaran yang terjadi dimuka bumi, pengkhianatan, penindasan, kesombongan, banyak pengambilan-keputusan yang tidak didasar pada hukum yang sebenarnya, semua kalah dengan kucuran uang dari oknum yang sangat menggiurkan yang sekiranya cukup untuknya bersenang-senang, mabok, main perempuan, atau nambah bini pun bisa, asal mau saja. Tapi ternyata anjing itu mempunyai pandangan lain. Menurutnya jadi manusia itu menyenangkan. Banyak hal yang bisa ia kerjakan bila benar bisa jadi manusia. Punya mobil mewah, pekarangan yang luas dengan taman-taman yang indah berhiaskan tanaman-tanaman mahal, bunga-bunga mahal, dan yang paling seru bisa dimanjakan oleh tubuh perempuan yang dapat membuatnya merasa seperti disurga. Semuanya memang sangat seru dan mengasikkan. Tapi, tentu harus ada izin dari pencipta semesta dulu yang mengatur kehidupan semua makhluk hidup untuk mendapatkan semuanya. Namun, disaat aku menemukan tentang kisah seekor anjing yang ingin jadi manusia, pada kenyataannya sekarang malah (sudah) banyak manusia yang (ingin) jadi anjing. Bukan karna bentuknya yang lucu dan menggemaskan yang jadi soal, tapi sifat serakahnya yang jadikan masalah. Sudah tahu sendiri tingkah-kelakuan anjing ketika diiming-imingi tulang ia akan bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan tulang kesayangannya itu walau dilempar jauh kedasar jurang sekalipun. Sekarang, kita ibaratkan anjing itu, (maaf saja), ‘Penegak Hukum (hakim, polisi, orang-orang yang ada di kader partai)’ dan tulangnya adalah ‘uang’. Lalu, salah satu dari mereka sedang menyelesaikan suatu kasus, contoh, ‘korupsi’. Gampang saja cara mainnya. Cukup beri uang yang banyak, masalah selesai. Jeruji besi menangis karna mangsanya direbut oleh mesin-mesin tidak tahu diri berwujud manusia. Dalam konteks seperti ini, sudah tidak salah lagi kita menyebut manusia serakah. Sangat serakah.
Aku berusaha keras menyakinkan anjing itu bahwa jadi manusia itu bukanlah kesenangan yang harus dicita-citakan. Lebih baik tidak dilahirkan. Sudah syukur bisa jadi anjing. ‘Bukankah nasib terbaik menurut filsuf Yunani adalah tidak dilahirkan?’ Aku terus berusaha memasuki alam bawah sadarku tentang anjing itu. Aku berhenti membaca pada halaman 34 dimana anjing itu sedang asyik-asyiknya mengkhayal betapa enaknya jadi manusia. Aku mulai menebak-nebak apa yang akan terjadi pada kelanjutan ceritanya. Apakah anjing itu tetap teguh pada pendiriannya untuk menjadi manusia, atau ia akan menerima saranku, lalu berubah pikiran untuk tidak bermimpi lagi menjadi manusia? Bisa saja. Semua bisa terjadi. Sesuka Putu, penulisnya. Aku melanjutkan membaca ke halaman 35. Namun, anjing itu tetap saja teguh pada pendiriannya, menjadi manusia. Aku semakin putus asa. Tapi rupanya, ia mempunyai maksud lain. Ia berjanji akan jadi manusia yang baik. Tapi itu tetap saja membuat perasaanku tidak enak. Aku terus menyakinkan anjing itu, dengan kata-kata yang sama seperti diawal. Aku balik lagi kehalaman selanjutnya, halaman 36. Aku takut apa yang akan terjadi disini. Jangan-jangan anjing itu… ‘Tidak-tidak. Apapun bisa terjadi.’ Pikirku sekali lagi menyakinkan. Mataku menatap lekat-lekat kertas putih yang sudah mulai menguning itu. Aku baca pelan-pelan. Pelan-pelan… pelan-pelan… dan… ‘tidak ada perubahan apa-apa’. Anjing tetap teguh-pendirian. Tapi aku senang. Sebab pendirian anjing kali ini berbeda. Pendirian yang baru saja muncul dari otaknya itu membuatku lega. Anjing ini memutuskan untuk tetap menjadi apa yang sudah digariskan penciptanya. Ia memilih untuk tetap menjadi anjing. Hanya seekor anjing. Tidak lebih. Ia pikir, jadi anjing ternyata lebih menyenangkan. Bisa dibawa keman-mana oleh presiden, dibuatkan kontes, naik keruang angkasa dalam percobaan semesta, dan lain-lain. Menjadi anjing tenyata nikmat. Ia tidak usah perlu berpikir tentang keadaannya, sebab manusia sudah berfikir untuk dia. Dan itu berarti bahwa manusia adalah... ‘budak anjing’.
Sudah pukul 10:30 tepat. Suara bel tengah bergema. Ini berarti aku harus kembali ke ruangan semestinya aku berada disekolah ini, untuk belajar. Sebaik-baiknya belajar supaya kelak aku bisa menjadi putra bangsa yang besar, lalu membawa pertiwi jalan-jalan keliling semesta.
Tentang anjing itu, tentang bab ini, benar-benar memberikanku banyak pelajaran. Kita tidak perlu jadi orang lain atau makhluk lain, kita jadi saja diri sendiri. Sebaik-baiknya diri kita sendiri, agar kita tahu cara mensyukuri anugrah yang diberikan oleh Tuhan kita. Barangkali aku setuju dengan Soe Hok Gie; ‘Tidak semuanya jadi kapten. Tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar-kecilnya tugas yang menjadikan tinggi-rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu , sebaik-baiknya dirimu sendiri.’
Aku semangat sekali pagi ini.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Disini memang tak ada air mata, sayang. Tapi kesedihanku sedang kau baca.
Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat...
Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
Soe Hok Gie.
source : Catatan Seorang Demonstran.
(via justforsoehokgie)
Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukan, tapi belukan terbaik yang tumbuh di tepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukan, jadilah saja rumput, tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.
Soe Hok Gie (via naafifathar)
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Anantha Toer

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ratusan tahun lamanya Indonesia dihisap oleh negara-negara utara. Bukan hanya Indonesia, tapi semua negara-negara kulit berwarna sehingga barat menjadi kuat, menjadi makmur menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Sekarang didikte oleh IMF, oleh Bank Dunia. Negeri yang begini kaya diubah menjadi negeri pengemis, Indonesia. Karena tidak adanya karakter pada elite.
“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”
Kita belajar untuk berkeyakinan, dan tidak mudah memelihara keyakinan. Semakin mudah keyakinan itu kita terima, semakin mudah pula hilang ia.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anak muda dan resolusi tahun barunya
“Kamu tahu hal yang paling sia-sia dimuka bumi? Adalah menasihati orang yang sedang jatuh cinta.” kata Punokawan Semar.
Rasa-rasanya memang benar, menasihati orang yang sedang jatuh cinta seperti berkata terhadap tunarungu. Selfish. Ya, dalam hal ini anak muda cenderung bertindak sesukanya. No think smart, rash, and reckless just for their love. Memang tidak bisa dipungkiri oleh kita, bahwa kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya. Barangkali aku setuju dengan Soe Hok Gie: Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan; ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.’ Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita kehilangan itu, maka absurd-lah hidup kita. Kata-kata yang bernilai.
Anak muda selalu identik dengan kesenangan. Apalagi menjelang tahun baru seperti sekarang ini, mereka sedang disibukkan dengan rumusan-rumusan yang akan dilakukan pada malam tahun barunya. Sebuah resolusi. Yah, kita biasa menyebutnya seperti itu. Berbeda dengan resolusi orang dewasa, resolusi yang dirumuskan para anak muda cenderung mengarah pada sang pujaan hatinya dan itu sudah pasti. Bisa saya tebak yang ada dalam pikiran mereka sekarang adalah apa dan kemana. Anak muda akan lebih memilih untuk menikmati malam tahun baru dengan kekasih pujaan hatinya. Saat ini pikiran mereka tengah terbesit dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Mereka mempunyai bermacam-macam rumusan dan gagasan yang akan ia lakukan bersama orang yang dicintainya. Apa dan kemana? Dalam hal ini apa dan kemana menjadi sesuatu yang sangat penting untuk difikirkan. Adalah apa yang akan dilakukan bersama kekasihnya dimalam tahun baru, dan kemana mereka akan menghabiskan waktu tersebut. Mengunjungi kedai makan mewah, nonton konser dialun-alun kota, dinner sambil menikmati alunan music jazz dan akustik yang merdu di sebuah café, atau jalan-jalan keliling kota sambil menyaksikan keriuhan pesta kembang api dilangit. Memang tidak gampang rasanya memasuki pikiran kaum muda-mudi yang sulit ditebak. Itupun karna mereka yang masih labil dan cenderung berubah-ubah pikiran setiap saat. Namun, satu yang pasti resolusi yang dirumuskan anak muda pasti sangat mengasikkan. Because the youngers, love with life.