Anjing (2)
Aku mau bicara. Tentang sesuatu, yang besar, bukan bentuknya tapi masalah yang ada didalamnya. Mengenai negeri yang besar, kaya, dan karna saking kayanya, sekarang menjadi tambun. Bukan Cuma negerinya yang jadi tambun, tapi orang-orangnya juga sama. Asal merata saja, semua akan baik, hidup sejahtera, dan sudah tentu bahagia. Tapi masalahnya, hanya pejabat-pejabatnya saja yang tambun sedang rakyatnya semakin ciut isi perutnya.
Aku ingat, ada yang pernah bertanya, kenalanku dari luar negeri. Begini katanya; ‘Hei, apa kau bahagia hidup disana. Ditempat kelahiranmu yang katanya orang-orang disini tempatmu itu mempunyai alam yang indah, pantainya bening-kaca, sumber daya alam yang melimpah dan hasil perkebunannya sangat mahal nilai jualnya dinegara barat. Apa benar begitu?’
‘Benar.’ Jawabku singkat.
‘Apa benar negaramu yang kaya raya sumber daya alam-nya itu tapi masyarakatnya masih hidup prihatin ?’
‘Benar.’
‘Apa benar negaramu yang kaya raya itu membiarkan anak-anak kecil menyeberangi sungai yang deras arusnya dengan jembatan ala kadarnya demi ilmu?’
‘Benar.’
‘Seperti ingin mengantarkan nyawa pada Tuhan saja.’
‘Memang benar.’
Sebuah negeri yang besar. Sayang, sistem birokrasinya bertele-tele sehingga banyak yang mati karna kelamaan menunggu. Ada ketidak jelasan yang hinggap dinegeri ini. Sistem pemerintahannya semrawut, kebijakan yang tidak berakal, ditambah oleh pejabat-pejabatnya yang selalu memikirkan isi perut sendiri. Negeri yang sangat kaya sumber alamnya sebenarnya bisa membuat masyarakatnya hidup sejahtera. Tapi ladang-ladang emas dan berlian yang berpotensi malah diberikan oleh manusia-manusia asing. Juga hasil perkebunannya seperti pala, merica, ketumbar, cengkih dan bumbu dapur lainnya yang menjadikan negeri ini semakin dikenal dunia. Jika kita balik lagi kebelakang, puluhan tahun islam, tidak heran para perlente-perlente asing datang ribuan mil untuk menguasai segala aspek di negeri ini. Ada yang bilang, negeri ini tidak akan maju karna tidak ada karakter pada elit. Ada yang bilang negeri ini selalu terbelakang oleh negeri-negeri lainnya karna birokrasinya tidak pernah mau maju alias jalan ditempat. Ada yang bilang negeri ini memelihara tikus yang kelakuannya lebih hina dari pada tikus got dan makanannya adalah uang rakyat. Ada yang bilang negeri ini dipegang oleh oknum-oknum yang tidak tahu malu yang sukanya bercumbu dengan ‘pk’. Ada yang bilang perempuan-perempuan di negeri ini bisa dengan mudah mendapat mobil asal mau saja diajak kencan malam mingguan yang berlanjut diatas ranjang. Ada yang bilang negeri ini kelakuan pejabat-pejabatnya sangat serakah sehingga yang berada diatas semakin kaya dan yang miskin semakin melarat. Ada yang bilang kalau anak-anaknya pejabat hidupnya akan bahagia tanpa harus takut dengan ancaman pidana. Ada yang bilang anak-anaknya pejabat selalu mendapatkan apa yang mereka ingin sekalipun itu bukan haknya. Tentu kamu masih ingat dengan tulisanku beberapa hari yang lalu, tentang seekor anjing, yang ingin berubah jadi manusia. Aku belajar dari situ, dari tulisannku sendiri. Manusia yang seperti ini memang pantas disebut ‘anjing’.
Aku yakin kalian tahu apa nama negeri yang aku sebut kebusukan-kebusukannya diatas. Sepertinya perputaran roda kehidupan negeri ini telah tersendat. Namun bukan itu yang menjadi permasalahan utama, masalahnya sekarang adalah apakah kau akan diam saja melihat negerimu perlahan-lahan hancur atau kau memilih berkomitmen untuk merubah negeri ini dimulai dari dirimu sendiri? Semua kembali pada kemauan pribadi. Tidak ada paksaan. Tapi jika boleh bersaran, jangan terlalu sering berdiri dibalik cermin mengagumi kemolekan tubuhmu tapi berdirilah diatas gedung yang paling tinggi agar kamu bisa melihat seperti apa keadaannya sekarang (negerimu).
















