Independen yang Bikin Spaneng
Mungkin, kalau saya ditanya hal apa yang paling saya tidak sukai akhir-akhir ini adalah wacana independen. Yah, independen kepengurusan asrama yang sudah saya tempati kurang lebih 7 tahunan lebih ini. Saya juga tidak tahu menahu mengapa lagi-lagi wacana tentang hal yang sentimentil ini gencar dikuak kembali.
Pertama saya dengar akan wacana ini saat rapat asrama pada bulan oktober lalu. Pimpinan asrama (Pak bung) menyampaikan bahwa pengurus asrama putra sempat didhikani salah satu jajaran pengasuh pesantren. Beliau (kyai) mengâintruksiâ bahwa kepengurusan lembaga kami sebaiknya dipisah antara laki-laki dan perempuan. Yah, intinya adalah kepengurusan ini mau tidak mau harus dipisah. Putra berjalan sendiri, begitu pula dengan putri. Wow, sungguh mengejutkan sekali bukan. Tidak ada angin, tak ada hujan moro-moro saja kami harus mendapatkan kabar yang membuat kami auto kaget dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan? Mengapa harus begitu? dan seabrek pertanyaan 5W 1H lainnya susul menyusul muncul dalam benakku.
Hingga pada penjelasan Pak Bung bahwa maksud kyai untuk mengâintruksiâ independensi kepengurusan asrama tidaklah tanpa alasan semata. Katanya, wacana ini berangkat dari keprihatinan kyai atas kepengurusan putri yang dinilai tidak bebas bergerak. Juga, berangkat dari alasan itulah mengapa beliau mengajukan agar putri dapat mengelola asrama dengan mandiri dan tak terlalu mengandalkan putra lagi. Selain itu, intensitas antar kepengurusan asrama baik putra maupun putri juga menjadi salah satu alasan wacana ini. Rencananya, sistem yang akan dicoba untuk diterapkan ini seperti halnya pondok lain misal Sidogiri, Gontor dan Al Falah Ploso.
Memang sih, saya akui selama saya turut andil dalam kepengurusan ini sejak tahun 2017 silam, pengurus putra maupun putri seakan tak berjarak. Hal apapun yang dibutuhkan asrama putri pasti larinya ke putra. Dan itu menurutku wajar, dan harus malah. Mengapa? Karena memang dalam segala urusan putri hanya terima jadi. Terdengar egois memang, namun tak mau dipungkiri itulah realitanya. Jadi, karena apa-apa selalu putra yang menghandle jadilah kepengurusan putri selama ini laiknya malam yang tak bisa berpisah dengan bintang. Bagai inai dengan kuku. Tak terpisahkan satu sama lain. Saling menopang dan membutuhkan.
Menurut KBII, kata independen mengandung makna berdiri sendiri, tidak bergantung dan tidak mengikat satu sama lain. Jelas sudah. Ini adalah upaya untuk mulai membuka lembaran baru sebagai dua lembaga yang saling berjalan bersisian. Saling berdiri tapi mandiri. Tetap satu visi misi namun beda aksi.
Saya tak bisa menerawang pasti bagaimana kedepannya. Apakah dengan wacana ini mampu membuat asrama better atau gak tau lah ya. Karena saya tidak punya kuasa apa-apa akan hal itu. Hanya saja, sebagai seorang yang akan menerima dampak dari wacana ini perlulah saya sampaikan beberapa kekhawatiran saya. Pertama, jika memang wacana ini akan-tetap dilaksanakan pastinya yang akan menguras otak kepengurusan putri-saya paparkan keadaan putri karena notabene yang saya tempati yakni asrama putri- . misal salah satu hal penting yaitu bagaimana mencetuskan kembali kurikulum asrama yang tak hanya butuh satu dua kali rapat. Karena tonggak utama asrama yang paling sakral terletak pada pendidikan-meskipun sebenarnya departemen juga tak kalah urgen bagi keberlangsungan asrama-, maka pendidikanlah yang akan kali pertama untuk dipermak total. Mulai dari sistem kurikulum, tenaga pengajar, administrasi dsb. Kedua, terkait adminstrasi. Yah, administrasi asrama juga akan menjadi PR terberat asrama putri karena selama ini seluruh kebutuhan asrama putri menjadi tanggungan putra. Ketiga, dan menurut saya yang menjadi kilas baliknya adalah eksistensi asrama putri kedepan. Apalagi dengan fasilitas yang masih jauh dari ideal tentu akan menjadi salah satu faktor yang entah mengapa saya khawatirkan. Karena jikalau fasilitas yang dimiliki putri tidak sebanding dengan putra tentu sangat tidak adil rasanya bagi kami.
Untuk itu, dengan pelbagai kekhawatiran yang sedang berkecamuk dalam pikiran saya. Tentu saya tidak akan hanya berpangku tangan sambil meratap saja. Ada beberapa hal yang saya kira bisa menjadi alternatif dan juga jalan keluar yang solutif. Pertama, persiapan yang patut kami mantapkan adalah mentalitas. Yah, siap mental untuk bekal. Saling merangkul dan menguatkan satu sama lain. Maka, bermental bajalah. Kedua, mulai mandiri dalam segala hal. Memang tak mudah. Susah malah. Namun, asal tetap ingat niat mengabdi pada pesantren utamanya untuk asrama ini semoga segala lelah yang sedang dirasakan semata-mata lillah. Ketiga, menguatkan pondasi dengan pengkaderan yang matang. Mengapa saya cantumkan tentang pengkaderan ini? menurut saya salah satu faktor untuk lembaga tetap menjaga eksistensinya yakni dengan pengkaderan yang baik. Dengan menyiapkan kader-kader yang hebat untuk melanjutkan estafet selanjutnya berarti kita sudah mampu menjadi pengurus yang baik. Karena seorang leader yang baik yakni leader yang mampu mencetak leader-leader yang jauh lebih baik dari dirinya.
Mungkin kalau dipikir-pikir lagi, keadaan asrama yang pelik kali ini merupakan keadaan yang baru kali ini terjadi. Siapa yang menyangka keadaan yang awalnya dikira baik-baik saja, bahkan seperti aman-aman saja bisa dengan mudahnya Allah bolak balikkan. Karena begitulah kehidupan. Penuh kejutan. Tak mudah untuk dibayangkan bagaimana kedepan. Semua yang terjadi tentu merupakan hak prerogatif Allah yang tak bisa kita ubah sedikitpun. Yang bisa kita rerima sebagai hamba adalah bagaimana menerima dengan lapang dada keputusan yang akan digaungkan nanti. Karena keputusan yang diambil kyai pasti sudah melalui pelbagai macam tahap dan pertimbangan. Tak mungkin kan, kita yang hanya berstatus santri ogah menerima, atau bahkan parahnya terang-terangan menolak. Ada adab yang harus kita pegang meski jauh terkadang tak sesuai dengan keadaan hati. Hikmahnya juga, selain belajar mandiri tanpa bantuan putra lagi kita toh juga sudah bisa lebih bergerak bebas menentukan haluan. Kita juga mampu meningkatkan potensi kita dengan lebih intens mendampingi siswi. Selama masih saling bergandengan tangan, saling bersisian antar pengurus intern insyaAllah kita pasti bisa membawa kapal faqihah fii diin ini tetap menjadi lembaga unggulan yang memilki integritas yang tinggi. Wallahu Aâlam.
باŮŮŮا٠: ŮŘŻŮ ŮءعŮŘŠ











