A village on the mountains and a wonderful mosque in Indonesia
Known as Nepal Van Java or Nepal from Jawa due to its location in the highland, Kaliangkrik is located in Magelang Regency, Central Java. The mountain behind is the base of Mt. Sumbing.
occasionally subtle

izzy's playlists!
NASA
sheepfilms
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

tumblr dot com
Mike Driver

"I'm Dorothy Gale from Kansas"

if i look back, i am lost

PR's Tumblrdome

roma★
we're not kids anymore.

⁂
h
YOU ARE THE REASON

titsay
Today's Document
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Ecuador

seen from Türkiye
seen from Vietnam
seen from United States
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from United States

seen from Germany
seen from Australia
seen from United Kingdom
@muhammadrafi
A village on the mountains and a wonderful mosque in Indonesia
Known as Nepal Van Java or Nepal from Jawa due to its location in the highland, Kaliangkrik is located in Magelang Regency, Central Java. The mountain behind is the base of Mt. Sumbing.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Agar Doamu Begitu Kuat
Pernah tidak? Pada suatu waktu, Allah menempatkanmu pada titik terendah dalam hidupmu. Ia memberimu ujian pada hal-hal yang amat kamu sayangi. Ia menempatkanmu pada sesuatu yang dulu kamu sanggat bangga ketika memilikinya, sekarang semua itu seolah hilang tak bersisa.
Dan muara dari semua peristiwa besar yang mengguncang hidupmu itu, salah satunya adalah agar doamu semakin kuat. Doamu semakin mendalam. Doamu semakin berserah. Doamu semakin membuatmu menangis karena ketidakberdayaanmu.
Dan Ia adalah satu-satunya tempatmu bergantung.
Di tengah-tengah kekalutan itu, ia menghadiahkanmu sesuatu yang semua orang inginkan. Berdoa di tempat yang tak ada penghalang, di hari terbaik dan tempat yang terbaik. Di kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup.
Ia memperkenankanmu untuk berdoa di sana. Meski saat kamu merasa imanmu sedang compang-camping. Berdoa saat berada di titik terendah dalam hidup. Berdoa saat benar-benar memahami ketidakberdayaan diri.
Dan sekali lagi, muara dari semua peristiwa itu adalah untuk menguatkan doamu. Menghantam keyakinanmu selama ini, bahwa kamu bisa hidup dengan dirimu sendiri. Meluruhkan sifat angkuh dan sombong. Menata ulang cara pandang hidupmu.
Dan ini adalah titik balik yang selama ini kamu cari bukan? KG | 10 Mei 2026
Eid Al-Fitr Prayer In Indonesia
The mountain behind is Mt. Merapi viewed from the south side. Therefore, this picture location must be in a rural area in Yogyakarta.
I'm in love with this quote;
"To some, Allah gives things quickly, and for some, Allah wants to listen to their voice again and again."
Februari ‘F’ nya apa ?
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
"fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”
Fa idhaa faraghta fanshab.
Wa ilaa rabbika farghab.
(bisaa....biar move on)
Falyatawakkalil mu'minun..
"Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."
Menemukan kedamaian dalam janji-janji Nya..
Fashbir shabran jamiilaa
Jadi WNI yang apa apa sulit, sabarnya harus elit 🤣
fa may ya‘mal mitsqâla dzarratin khairay yarah.
"Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ilmu dan Karakter
Ada satu hal yang baru saja aku pelajari. Khususnya dalam proses belajar. Kemarin, saya lagi belajar tentang menata mindset soal uang bagi seorang muslim.
Alih-alih langsung ke materi, saya malah dapat fundamental landasan berpikir di awalnya dulu.
Ilmu itu penting, tapi ada satu hal yang kadang kita lupa untuk melihatnya dengan lebih dekat. Yaitu metodologi untuk mengambil ilmu tersebut. Metodologi itulah yang disebut karakter. Dan kadang, karakter ini melekat pada guru, tempat kita akan menimba ilmu.
Saat kita belajar, kita tidak hanya akan mengambil ilmunya, tapi juga mengambil karakter dari guru yang kita ambil ilmunya, dan itu akan sangat menentukan bagaimana kita nanti.
Ini relevan dengan apa yang kualami. Ilmunya sama, tapi belajar dari dua karakter guru yang berbeda, saya mendapatkan cara pandang yang berbeda. Saya menyadari itu bukan untuk menilai apakah itu salah atau benar, melainkan membuatku menyelami lebih dalam tentang bagaimana perjalanan hidup seseorang membentuk karakter. Dan semua ilmu yang ia sampaikan, akan memiliki karakter tersebut.
Akhirnya saya memahami, saya perlu menentukan untuk memilih belajar kepada seseorang dengan karakter seperti apa. Karena, saya tidak hanya ingin ilmunya, tapi juga karakternya.
It's not only the skill, but the person.
Mas gun, aku bertanya bukan karena ingin tahu jawabannya. Aku bertanya karena ingin memastikan keputusanku benar. Juga memastikan hatiku tak salah memilih. Aku sudah tahu jawabannya, sekali lagi kukatakan.
Diujung pantai yg pulaunya penuh gemerlapan harta, aku bekerja dengan hasil yg didapatkan dari pungutan. Resmi? Tanyaku dalam hati, oh tentu saja tidak. Dengan seragam hitam putih itu aku meyakini, ini halal, ini halal, berkali kali kukatakan. Tapi ternyata sanubariku menolaknya, pekerjaanku halal kataku, karna yg memungut remah remah rupiah itu bukan aku. Aku hanya bekerja pada penguasa yg memeras keringat anak buahnya dan membayarnya dari pungutan dari rerumputan liar.
Mas gun, kuputuskan untuk berhenti dari jalan yg penuh dengan keabu-abuan ini, aku yakin keputusan ini benar. Apapun yg terjadi nantinya aku tak menyalahkan siapapun. Berada pada kubangan emas ini sungguh menyilaukan, tapi hatiku tak kuasa untuk terus berontak. Setidaknya, hatiku menolaknya
Hai Anon, Saya salinkan sebuah ayat : Al Ankabut : 69 "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik." Selamat meneguhkan hati. Hikmah dan hidayahNya memang perlu diupayakan. Memilih jalan hidup tentu bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Apalagi kalau Dia mengatakan bahwa ia bersama orang-orang yang berjuang untuk terus berbuat baik. Bismillah, Anon!
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363)
May Allah strengthen your ways, aamiin.
Vulnerable
Kamu takut orang tahu rahasia terbesarmu. Sesuatu yang apabila itu terbuka, maka kamu takkan berdaya. Takut orang tahu kelemahan yang kamu miliki.
Kamu menyembunyikan rapat dan erat, menggenggamnya seumur hidup dalam rasa takut yang dibungkus keceriaan dan keteguhan. Ditutupi dengan rapi sehingga orang hanya mengetahui apa yang kamu tampilkan dan izinkan. Kamu membawa rahasia itu sampai sekarang. Sampai kemudian hari, kamu bertemu seseorang yang kamu yakini bisa berbagi kerentananmu. Seseorang satu-satunya yang mengetahui rahasia besarmu. Dan sejak saat itu, hidupmu lebih ringan karena ternyata ia tak masalah dengan itu.
Kamu pun punya tempat pulang yang aman. Tempat kamu bisa menjadi dirimu sendiri, tanpa ada yang menghakimi. Tanpa kamu takut dipandang lemah, dipandang rendah. Tempat yang membuatmu yakin bahwa ia adalah rumahmu seumur hidup. Tapi mungkin juga, kamu akan bertemu dengan orang yang kamu kira bisa kamu titipkan rahasia. Kamu membukanya dengan harapan bahwa ia akan menerimamu apa adanya. Tapi kemudian ia tak memiliki ruang yang cukup untuk menampung ketakutanmu, tak cukup kuat untuk bersanding dengan kelemahanmu. Tidak apa-apa. Tidak mudah untuk berbagi selimut saat kita tertidur. Tidak mudah untuk berbagi ruang dalam rumah yang berbatas dinding. Tidak mudah seumur hidup menyimpan rahasia. Bahkan bagimu, kamu tahu, tidak mudah menyimpan rahasiamu sendirian, kan? Ia menggerogoti keyakinanmu, menghapus perlahan kepercayaan dirimu. Kamu hanya bertopeng setiap hari, untuk bersembunyi. Tidak mudah menerimamu. Tidak mudah untuk bisa hidup denganmu. Apalagi dengan segala kerentananmu. Apabila suatu hari kamu bertemu, ada yang bersedia menerima semua itu. Apakah kamu siap untuk tak membiarkan dirimu melukai? Sebagaimana rahasiamu selama ini melukaimu.
(C)kurniawangunadi
There is a cruel asymmetry in times of crisis. When governments make reckless decisions, or when corruption runs deep within the system, who carries the heaviest weight? Not the decision-makers. It is always the ordinary people.
For the elite, risk is buffered. Even when scandals erupt or protests spread across the streets, their personal safety nets remain intact:
Bank accounts already full.
Political networks ready to protect them.
Lawyers, foreign visas, and exit strategies.
And if trials ever happen, they are often selective—symbolic rather than systemic.
For the poor and working class, risk is immediate and brutal:
Prices go up overnight.
Jobs and daily income vanish.
Transport, healthcare, and schools collapse first.
Violence during protests hits them directly.
And they have little to no protection.
It is a pyramid of consequences: decisions travel downward, but immunity flows upward.
Why Justice Rarely Balances the Scale?
Not everyone can be put on trial. Not every corrupt official will be held accountable. The system itself is too entangled with patronage and selective enforcement. To prosecute “everyone” would mean dismantling the very structure holding the country together.
So, punishment becomes spectacle. A few people are sacrificed to appease public anger, while the deeper machinery remains untouched.
The only way to make governments less reckless is to force them to share in the consequences. Skin in the game is not just a slogan—it is a principle of fairness:
If public hospitals are failing, politicians should have no private hospitals to escape to.
If schools are collapsing, their children should not be abroad.
If corruption drains state resources, personal assets should be seized, not just reputations stained.
Without this, power remains a one-way street: benefits are privatized, but losses are socialized.
And yet, here is the paradox: when the people demand radical change—say, the president steps down, or parliament is dissolved—the first to suffer chaos again are the same ordinary people. Prices spike, governance freezes, and the old elite may quietly return through another door.
This is the trap of asymmetry:
When the elite stay, they are insulated.
When the elite fall, the public bleeds first.
If governments truly carried skin in the game, the distance between rulers and ruled would shrink. Decisions would be made with greater care, because the pain of failure would not be outsourced. Until then, every crisis will repeat the same story: The top survives, the bottom absorbs.
benefits are privatized, but losses are socialized.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
People’s condition fluctuates between closeness to Allah and comfort, and distance from Him and unease. However, blessed is the one who is endowed with a self-reproaching soul( Nafs ul lawammah) that cannot tolerate disobedience. Such a person’s soul quickly feels distressed when committing sin and finds relief only in repentance.
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
Bertahan
Tuhan, semoga raga yang Engkau berikan ini akan terus bertahan meniti waktu sampai amanah usai. Sebagaimana Engkau memberi kekuatan untuk berjuang melewati hari-hari sukar dan bertahan dari keringnya kerongkongan. Keyakinan bahwa ada kekuatan yang abadi, ada pendorong yang tidak akan pernah berhenti, dan ada penjaga yang tidak pernah tertidur, yang setia menemani sepanjang waktu.
Tidak ada yang tahu pasti sampai kapan berhentinya waktu. Juga tidak ada yang mampu menahan setu detiknya saja sekadar untuk beristirahat, karena waktu berjalan sendiri. Segala kuasa yang ada di langit dan dunia, Tuhan belum pernah aku kecewa dalam berharap. Seperti pada hari-hari yang telah berjalan, hari ini di mana aku tetap bertahan, bergeming, dan bersabar. Mencoba bersabar dengan sebaiknya-baiknya karena Tuhan melihat dan mendengar doa-doa.
Salatiga, 2 Mei 2025. Muhammad Rafi.
Biarkan mereka terus menerka isi ataupun latar belakang rasa dari tulisan-tulisanmu. Tidak peduli anggapan benar atau salah mereka, tetaplah menulis.
Semoga bulan ini bisa kembali rutin menulis.
masih belum rutin menulis, kembali.
Biarkan mereka terus menerka isi ataupun latar belakang rasa dari tulisan-tulisanmu. Tidak peduli anggapan benar atau salah mereka, tetaplah menulis.
Semoga bulan ini bisa kembali rutin menulis.
Iman kepada Takdir
Kamu lagi resah nggak sama masa depanmu sendiri? Bingung sebenarnya nanti akan seperti apa, sehingga sekarang hati dan pikiran diliputi sama kekhawatiran dan ketakutan akan hari esok. Apakah akan menikah dengan psangan yang baik? Atau bahkan, apakah akan menikah? Apakah nanti bisa punya rezeki buat beli rumah, bayar anak sekolah? Nanti kerja jadi apa, sesuai passion apa enggak? Dan semua pertanyaan yang muncul secara sekilas di kepala.
Dewasa ini semakin sadar, karena beriman kepada Takdir Allah itu ternyata nggak mudah sama sekali. Dulu waktu kecil, aku bertanya-tanya kenapa harus ada iman kepada takdir?
Kini setelah dewasa dengan segala shick-shack-shock nya baru tersadar dan tertampar. Hidup ini ternyata memang rumus dasarnya adalah uncertainty kecuali beberapa hal yang udah dijamin sama Allah. Dan kita sebagai manusia selalu ingin bisa mengendalikan sesuatu, bahkan kalau bisa mengendalikan masa depan sendiri. Sayangnya tidak.
Untuk bisa memahami dan meresapi dengan bersungguh-sungguh bahwa ini adalah takdir yang terbaik juga tidak mudah. Sama sekali bukan hal yang mudah. Kita menjalaninya tertatih-tatih, menangis dalam sunyi, susah tidur, susah makan. Bagaimana caranya melihat itu sebagai takdir terbaik? Jawabannya cuma satu, iman. Lihatlah dengan keimanan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Allah knows what your silent heart wants. Even when you can't find the words to express your deepest desires and needs, He understands. Trust in His wisdom and timing, and have faith that He is always listening and will provide what is best for you.
Ever have I been in my prayers voiceless, but He is The All-Hearing.
Berapa Umurmu?
Berapa umurmu sekarang? Dua puluh? Dua puluh lima? Tiga puluh? Apakah kamu tahu apa yang dirasakan oleh ibumu dan ayahmu di umur yang sama denganmu sekarang? Apakah mereka merasakan keresahan yang serupa?
Apakah mereka merasakan kekhawatiran yang sama?
Apakah mereka setakut dirimu saat ini?
Atau justru kamu lebih berani dari mereka di umur yang sama? Lebih bisa mengambil risiko.
Apakah kamu pernah bertanya kepada mereka, di umur yang sama denganmu sekarang? Apa yang mereka alami, yang mereka rasakan? Dan bagaimana cara mereka melalui semua tantangan itu? Hingga bisa terus menjalani hidup bahkan mampu membesarkanmu seperti hari ini? Apakah kamu pernah bertanya? (c)kurniawangunadi
Ada periode saat ibu dan bapak berjuang untuk kenyamanan keluarga kecilnya. Saat bapak berusia 27 tahun, sama seperti usiaku saat ini serta melihat apa yang beliau hadapi saat itu jauh rasanya untuk sekadar dibandingkan dengan putranya. Entah keyakinan apa yang beliau simpan, juga kesabaran yang ibu berikan, kok rasanya aku belum ada apa-apanya. Belum pernah aku bertanya, namun yang kuingat adakah masa kecilku yang sempat mengalami satu dekade perjuangan mereka, hingga akhirnya kenyamanan itu mulai hadir. Mas dan aku adalah saksi betapa gigihnya mereka, kenangan yang tidak mungkin bisa adik-adik rasakan karena mereka tumbuh saat keluarga ini telah mencapai kestabilan ekonomi dan sosial. Rasanya aku ingin bercerita, entah nanti, yang pasti tidak untuk saat ini. Bahwa, anak laki-lakinya ini, sedang dan akan selalu mengusahakan yang terbaik, seperti yang dulu pernah ibu dan bapak lakukan. Bismillah...