Meruntuhkan Tembok Prasangka dan Kebanggaan
Salah satu karya sastra lama (yang baru saya baca tahun lalu, dasar pemalas) yang membekas dalam pikiran saya adalah Pride and Prejudice. Karya Jane Austen ini pertama kali terbit pada tahun 1813. Cerita, karakter, dan nuansa abad 18 dalam novel ini disajikan dalam sudut pandang yang menurut saya modern. Mengapa saya menyebutnya modern? Hal ini dikarenakan pola pikir sang tokoh utama, Elizabeth Bennet, yang tidak seperti kebanyakan perempuan pada masa itu. Judul novel ini sangat mewakili karakter utamanya, Fitzwilliam Darcy yang penuh dengan kebanggaan akan dirinya dan Elizabeth Bennet yang penuh prasangka.
Pada masa itu, seorang gadis mulai dari umur belasan hingga awal umur dua puluh tahun sudah memulai memasuki usia pernikahan. Keluarga Bennet yang memiliki lima orang anak perempuan yang sudah cukup dewasa berharap bahwa putri-putri mereka segera memasuki kehidupan baru sebagai seorang istri dan ibu. Mrs. Bennet juga sangat menginginkan putri-putrinya dapat menikah dengan pria yang kaya dan terhormat agar kehidupan mereka lebih baik.
Keluarga Bennet merupakan keluarga menengah, tidak terlalu kaya, namun juga tidak terlalu miskin. Namun permasalahan pertama adalah, hak waris atas tanah Longbourn (lingkungan tempat tinggal keluarga Bennet) tidak akan jatuh ke tangan putri-putri mereka, melainkan keponakan Mr. Bennet, yaitu Mr. Collins.
Seluruh hubungan yang rumit dimulai ketika ada seorang bangsawan bernama Charles Bingley hendak menyewa rumah di dekat Longbourn, yaitu di Netherfield. Mrs. Bennet melihat kesempatan ini sebagai ajang untuk mendekatkan putri-putrinya dengan Mr. Bingley. Singkat cerita, pesta dansa pun diadakan, Mr. Bingley memang mulai tertarik dengan putri tertua keluarga Bennet, yaitu Jane. Sedangkan Lizzy justru merasa kesal karena bertemu dengan Fitzwilliam Darcy, sahabat Mr. Bingley, yang sombong dan angkuh dengan mengatakan bahwa Lizzy cukup cantik dan ceria, tapi tidak cukup menarik bagi Mr. Darcy.
Saya tidak ingin spoiler, jadi intinya sampai di sini, Lizzy langsung menaruh prasangka buruk terhadap Mr. Darcy. Menurutnya, semua pria kaya itu sombong dan angkuh, terlalu merasa percaya diri dan menganggap orang yang tidak satu level dengannya adalah rendahan. Sedangkan Mr. Darcy dengan segala kebanggannya atas status sosialnya, kekayaannya, dan ketampanannya, mulai merasa tertarik kepada Lizzy, yang meskipun tidak satu level dengannya tapi sama sekali tidak tertarik dengannya.
Konflik menarik kedua adalah hubungan Jane dengan Mr. Bingley yang juga tak kalah berliku-liku. Sejauh berjalannya cerita, kita langsung dapat memahami bahwa sebenarnya keduanya saling jatuh cinta, namun karena perbedaan status sosial membuat adik-adik Mr. Bingley kurang menyetujui hubungan keduanya.
Tokoh yang cukup menarik adalah Mr. Collins, Lady Catherine de Bourgh, dan Mrs. Bennet. Saya berkata mereka cukup menarik karena membawa âbumbuâ tersendiri bagi cerita ini. Mr. Collins yang kelewat sopan dan rasa bangga yang berlebihan terhadap patronnya, Lady Catherine de Bourgh yang kaya raya dan religius. Mr. Collins sempat mengajukan lamaran terhadap Lizzy, namun ditolak dengan penuh perjuangan oleh Lizzy.
Lain lagi dengan Lady Catherine de Bourgh yang merupakan bibi Mr. Darcy. Lady Catherine sangat menyayangi keponakannya itu dan berniat menjodohkan Mr. Darcy dengan putrinya. Namun di satu sisi, dia selalu meremehkan siapapun yang tidak satu level dengannya. Apalagi melihat Lizzy yang dianggapnya kurang sopan bagi gadis yang tidak berasal dari keluarga bangsawan.
Sedangkan Mrs. Bennet adalah tipikal ibu-ibu, baik di jaman dahulu maupun di jaman sekarang yang menginginkan putri-putrinya segera menikah, terutama dengan calon yang mapan. Dalam cerita ini Mrs. Bennet digambarkan sebagai karakter yang heboh, bertindak gegabah, mudah panik, dan berpikiran sederhana.
Hal tersebut terlihat dari permasalah yang ditimbulkan oleh Lidya, putri bungsu keluarga Bennet. Lidya terlibat kawin lari dengan George Wickham, anak baptis ayah Mr. Darcy yang membuat banyak masalah terhadap keluarga Mr. Darcy dan menghambur-hamburkan uang.
Kisah menjadi semakin menarik saat Lizzy mengunjungi sahabatnya, Charlotte Lucas, yang akhirnya menikah dengan Mr. Collins. Tempat tinggal mereka, Kent, berdekatan dengan Rosings yang merupakan kediaman Lady Catherine. Melalui kunjungan Lizzy inilah dia bertemu kembali dengan Mr. Darcy yang tanpa disangkanya melamar dirinya. Mr. Darcy mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya kepada Lizzy. Namun Lizzy yang sempat terkejut justru menolak lamaran tersebut karena tidak masuk akal baginya. Selain itu ada alasan-alasan lain yang sebaiknya Anda baca secara langsung. Mr. Darcy yang tersinggung dan marah karena lamarannya ditolak kemudian pergi begitu saja.
Tidak butuh waktu lama bagi Mr. Darcy untuk mendinginkan kepala, ditulisnya sebuah surat untuk Lizzy yang berisi pengakuan, meluruskan tuduhan dan prasangka yang selama ini dilakukan oleh Lizzy, terutama perihal Mr. Wickham yang pernah menjelek-jelekkan namanya dihadapan Lizzy. Inilah hal pertama yang dipertimbangkan oleh Lizzy.
Hal kedua yang menjadi pertimbangan Lizzy untuk mengubah penilaiannya terhadap Mr. Darcy adalah saat kasus kaburnya Lidya dan Mr. Wickham. Mr. Darcy, yang dengan segala kehormatannya dan pernah âditusuk dari belakangâ oleh Mr. Wickham justru menolong mereka berdua dari jurang masalah. Hal ini disampaikan oleh paman Lizzy yang juga dihormati oleh Mr. Darcy, yaitu Mr. Gardiner. Mr. Gardiner mengetahui hal tersebut secara langsung karena Mr. Gardiner juga berperan untuk mencari dimana persembunyian Lidya dan Mr. Wickham.
Dinding prasangka Lizzy terhadap Mr. Darcy perlahan runtuh. Kebanggaan diri Mr. Darcy telah lama buyar karena Lizzy tidak hanya cantik dan ceria saja, namun bebasnya gaya berpikir dan kecerdasan Lizzy sangat menarik perhatian Mr. Darcy.
Kisah ini merupakan salah satu best of the best dimata sayaâmungkin juga dimata Anda. Banyak hal yang bisa kita ambil dari sini, terutama tentang sikap, manner, pendidikan, sistem sosial, kekayaan, gaya patriarki yang masih kokoh, dan banyak lagi. Konfliknya rumit karena banyaknya karakter yang saling berhubungan. Namun tidak sulit untuk menghubungkan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, dan tentunya karena diceritakan dengan sangat apik dan menarik. Worth to read! (mirtsa6)