Ayah, Aku Masih Mencarimu di Banyak Hal
Ada satu jenis rindu yang nggak pernah benar-benar selesai.
Rindu kepada seseorang yang pergi jauh mungkin masih bisa diobati dengan telepon, video call, atau janji untuk bertemu. Tapi rindu kepada ayah yang sudah tiada? Rasanya beda. Nggak ada tombol "hubungi", nggak ada pesan yang bisa dibalas, dan nggak ada lagi suara yang bisa kita dengar secara langsung.
Yang ada cuma kenangan.
Kadang rindu itu datang tanpa aba-aba. Saat melihat seorang ayah menggendong anaknya di pasar. Saat mendengar seseorang memanggil "Yah". Atau bahkan saat berhasil mencapai sesuatu yang dulu ingin sekali kita tunjukkan kepadanya.
Dan anehnya, semakin dewasa, justru semakin sering kita merindukan ayah.
Dulu waktu kecil, kita mungkin menganggap ayah adalah sosok yang selalu ada. Yang pulang kerja membawa cerita. Yang diam-diam memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi. Yang jarang mengeluh meski lelahnya nggak pernah benar-benar kita pahami.
Tapi setelah beliau pergi, baru terasa ada ruang kosong yang nggak bisa digantikan siapa pun.
Kadang aku ingin bercerita.
Tentang hari-hari yang berat.
Tentang pencapaian kecil yang membuatku bangga.
Tentang banyak keputusan hidup yang membuatku bingung.
Aku sering membayangkan, kalau ayah masih ada, kira-kira beliau akan bilang apa ya?
Mungkin nasihat sederhana. Mungkin candaan khas yang selalu berhasil membuat suasana lebih ringan. Atau mungkin hanya kalimat singkat, "anak ayah bisa"
Dan itu sudah cukup.
Ada hari-hari ketika aku terlihat baik-baik saja. Tertawa, bekerja, menjalani aktivitas seperti biasa. Tapi di dalam hati, ada bagian yang masih berharap bisa melihat ayah sekali lagi.
Bukan untuk waktu yang lama.
Cuma sebentar.
Cukup untuk mengucapkan, "Aku kangen."
Namun hidup mengajarkan satu hal yang berat: tidak semua kerinduan bisa dipertemukan di dunia.
Sebagian harus disimpan dalam doa.
Maka sekarang, setiap kali rindu datang, aku memilih mengirimkannya lewat doa-doa yang lirih. Berharap setiap Al-Fatihah yang terucap menjadi hadiah kecil yang sampai kepadanya.
Karena meskipun ayah sudah tidak ada di dunia ini, cinta seorang ayah ternyata nggak ikut pergi.
Ia tetap hidup.
Di dalam nasihat yang masih kuingat.
Di dalam nilai-nilai yang beliau tanamkan.
Di dalam keberanian yang kupakai untuk menjalani hidup.
Dan di dalam doa yang tak pernah putus.
Ayah, kalau rindu ini bisa berubah menjadi surat, mungkin isinya sederhana:
"Aku masih mencarimu di banyak hal. Di langit senja, di aroma hujan, di setiap keberhasilan yang ingin kuberitahukan. Dan sampai kapan pun, aku akan tetap menjadi anak yang merindukanmu."
"Ada orang yang meninggalkan dunia, tetapi tidak pernah meninggalkan hati orang-orang yang mencintainya. Ayah adalah salah satunya."
















