Pagar mangkok lebih aman dari pagar tembok. Pagar piring lebih aman dari pagar beling
Pepatah itu disitir minggu lalu dari kajian seorang ustaz muda yang tengah naik daun. Di depan puluhan orang yang duduk bersila, ia mengetengahkan manfaat berbagi dengan para tetangga sebagai saudara yang ditakdirkan dekat karena kerapatan tempat tinggal.
“Distance is a bad excuse for not having a good relationship with somebody”. Lucunya, kita gampang mengingat hubungan yang jauh namun melupakan hubungan yang dekat. Selucu mengkhawatirkan masa depan untuk luput menikmati masa kini. Kita lalai dengan kenyataan bahwa yang menjauhkan silaturahmi bukan tembok luar bangunan, melainkan tembok dalam diri yang dibangun dari keengganan.
Ada cerita tentang seorang rekan yang merintis mata pencaharian sebagai pedagang alas kaki. Sebagai awalan, ia mengontrak sepetak rumah mungil untuk gudang penyimpanan. Dalam hitungan bulan, bisnisnya melesat dan perputaran barangnya bertambah cepat. Sayangnya semakin seru berbisnis, semakin ia malah mengabaikan hubungan dengan penduduk sekitar.
Di suatu malam yang melelahkan selepas memenuhi persediaan barang, ia kontan terlelap di ruang tengah. Betapa kagetnya saat ia terbangun di keesokan pagi dan mendapati tumpukan barang yang sebelumnya tersusun rapi di ruang penyimpanan, ludes enggak bersisa. Jelas, terjadi pencurian. Namun pihak pemasok enggak menerima dalihnya dan kerugian puluhan juta rupiah harus dibayarkan.
Musibah itu membukakan matanya. Susah menelusuri peristiwa lewat lingkungan sekitar karena pondasi hubungan enggak diletakkan dengan baik sejak awal. Rasa sesal timbul belakangan lantaran enggan membaur dengan warga. Rugi pendapatan, rugi pergaulan. Ia berserah pada urusan takdir-Nya walau timbul secuil kecurigaan pada pelaku kejahatan yang hidup enggak jauh dari rumah kontrakan. Terlihat dari waktu, metode dan jejak kejahatan yang penuh pengamatan.
Karena waktu kecil saya pernah tinggal dengan nenek, baru saya paham sekarang kenapa dulu beliau rajin sekali mengirimi kerabat dekat dengan masakan atau buah tangan hasil bepergian. Enggak heran kalau mereka membalas hal itu dengan perbuatan serupa. Kebiasaan baik yang menggejala. Akhirnya, lingkungan terkecil kami enggak pernah kekurangan makanan karena mangkok dan piring selalu terisi.
Kita sering menjumpai rumah-rumah asri dengan pagar tinggi, pos patroli, anjing pemberani, kamera pengintai dan kawat berduri yang disiapkan jadi pengaman properti. Tapi, perlukah? “We build too many walls and not enough bridges. The walls we build around us to keep sadness out also keeps out the joy”. Saat kita hidup untuk menjaga keluarga dari marabahaya, ada mereka yang mengakrabi marabahaya supaya keluarganya tetap hidup - salah satunya dengan terpaksa berbuat jahat. Kita sibuk meninggi, lupa menjembatani.
Berbagi enggak sekedar membagikan, tapi juga mencukupkan. Mencukupkan enggak sekedar mengurangi apa yang dimiliki, tetapi juga mengamankan. Berbagi jadi muara untuk mereka yang ingin saling menjaga. Ada kekurangan yang diselesaikan bersama, ada jembatan yang dihubungkan dengan sesama.
Rukunkan yang rapat. Rapatkan yang dekat. Dekatkan yang jauh.