Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hubby's Capsule Wardrobe by alamandawiriaatmadja featuring skechers mens shoes
Neil Barrett mens lightweight pants, 6.589.295 IDR / Woolrich mens light blue pants, 1.478.960 IDR / Uniqlo mens clothing, 575.800 IDR / River Island mens slim jeans, 866.590 IDR / Uniqlo mens sport jacket, 1.153.525 IDR / Birkenstock mens shoes, 1.649.965 IDR / Skechers mens shoes, 897.280 IDR / Timberland mens sperry topsider, 660.120 IDR / Ted Baker mens stainless steel watch, 2.046.775 IDR / Mens white shirt, 1.030.050 IDR / Uniqlo mens pullover shirt, 575.800 IDR / Uniqlo mens cotton shirt, 383.225 IDR / Uniqlo mens cotton shirt, 383.225 IDR / Uniqlo mens cotton shirt, 383.225 IDR / Uniqlo mens graphic t shirt, 196.755 IDR / Bioworld mens t shirt, 158.460 IDR / Uniqlo mens pink shirt, 94.360 IDR / Persol mens eyeglass, 2.970.160 IDR / Banana Republic mens leather belt, 382.945 IDR
Happy International Women’s Day to all brave women in this world!
Halo para perempuan terbaik sepanjang masa di luar sana! Senang berjumpa dengan kalian semua. Jauh dari lubuk hati terdalam saya sangat bangga dengan hakikat saya sebagai seorang perempuan. Bangga dan bersyukur. Tahun ini International Women’s Day masih mengusung hal ‘equality’ alias kesetaraan. Dalam banyak hal memang masih banyak hal miris terjadi pada kaum perempuan. Pelecehan/ kekerasan seksual hingga kekerasaan dalam rumah tangga masih banyak terjadi meskipun di sisi lain kita harus berbangga hati karena perempuan dapat mencapai puncak tertinggi baik dalam karir di pemerintahan, perusahaan besar, maupun berdikari sebagai pengusaha.
Berbicara masalah kesetaraan memang tidak ada habisnya. Kita, perempuan tidak mau dipandang sebelah mata dalam hal kemampuan. Saya sepakat, karena memang tidak ada korelasinya kodrat kita sebagai perempuan untuk melahirkan dan menyusui dengan tingkat produktivitas bekerja atau berkarya. Kita punya kesempatan yang sangat luas untuk mengekspresikan diri tanpa menerima embel-embel “cewe sih yang nyanyi, pantes laku”, “cewe sih, pantes gini pantes gitu”. Kita, perempuan berhak untuk dinilai secara objektif dalam lingkungan profesional.
Kita pun sebagai perempuan wajib mandiri secara lahir maupun batin. Secara lahir, sudah seharusnya kita perempuan mandiri secara finansial, karena hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri kita sebagai perempuan. Secara batin, perempuan juga harus mandiri, meskipun kita mendapatkan perlindungan dari orang tua atau suami, namun kita harus bisa melindungi diri kita sendiri dimana pun kita berada. Dalam Islam pun, perempuan dianjurkan untuk dapat menguasai berkuda, memanah, dan berenang. Bila disesuaikan pada masa kini, perempuan setidaknya dapat membawa kendaraan sendiri, menguasai ilmu bela diri dna kemapuan berenang yang sebenarnya ketiganya cukup esensial dalam kehidupan modern dengan tingkat mobilitas yang tinggi.
Namun, jangan sampai masalah kesetaraan ini membuat kita perempuan lepas kendali dan kehilangan keseimbangan yang berdampak pada disfungsi sistem semesta. Maksudnya adalah, sebagai perempuan yang mendapat pengakuan yang sama dengan laki-laki, jangan sampai merasa kita adalah makhluk super power. Karena selalu ada maksudnya mengapa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Kerja sama harus tetap terjalin, karena meskipun kita dan laki-laki dapat melakukan hal yang sama, tetap saja laki-laki tidak bisa menggantikan tugas kita untuk melahirkan dan menyusui.
Saya pun berpikir bahwa kesetaraan itu pun sebenarnya juga harus dimiliki para laki-laki. Kalau kita menginginkan posisi yang sama dengan laki-laki dalam pekerjaan di kantor, kita juga seharusnya dapat mengajarkan anak laki-laki kita pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci piring. Terkadang tanpa sadar kita sendiri yang mengkotak-kotakan gender, namun disisi lain kita ingin disetarakan atau disamakan. Tidak ada pekerjaan yang cewe banget atau cowo banget. Pada intinya semua pekerjaan di muka bumi ini untuk manusia, bila ada yang tidak bisa dikerjakan oleh manusia berarti itu tugas alam untuk mengerjakannya. Namun ingat, fitrah bukanlah pekerjaan, melainkan amanah, perempuan mendapatkan amanah untuk melahirkan dan menyusui sebagai seorang ibu dan laki-laki mendapatkan amanah sebagai seorang bapak, dan itu semua tidak ada hubungannya dengan gender.
Pada akhirnya, sebagai manusia yang kita harus ingat adalah menjaga keseimbangan, tawazun, sehingga sistem alam semesta ini tetap berjalan dengan baik, manusia dan alam tetap bersahabat dengan baik. Demikian sedikit pendapat saya menyoal kesetaraan dalam rangka International Women’s Day yang diadakan setiap tanggal 8 Maret ini. Sejatinya, gerakan ini juga berawal dari maraknya kekerasan pada perempuan, jadi seperti semangat awalnya dulu, saya pun akan terus menebar semangat, yes we can!
Hari ini saya mau cerita sekaligus me-review sebuah brand kacamata dari Jepang, Owndays. Singkatnya sewaktu habis dari USS, kami mampir ke Vivo City dan menemukan butik kacamata ini. R memang sedang mencari kacamata yang bagus dan tahan lama, jadi tidak perlu 6 bulan ganti. Model juga penting, karena sepertinya suami saya satu ini lagi suka dengan model kacamata bulat. Tapi, harus diingat, kacamata bulat itu harus sesuai dengan wajah pemakainya, dan susah ternyata mencari model yang sesuai dengan wajah.
Owndays berbeda dengan optik lainnya. Mereka tidak menjual merek kacamata seperti biasa (baik frame dan lensanya). Mereka menjual produk mereka sendiri. Frame Owndays, lensa pun Owndays, ada juga yang bekerja sama dengan desainer kacamata tertentu, tapi tetap bermerek Owndays. Ternyata hal ini mereka lakukan untuk membuat harga kacamata mereka terjangkau namun tetap berkualitas. Mereka memangkas proses produksi dan panjangnya distribusi untuk efesiensi harga. Jadi, dari proses pembuatan hingga penjualan dilakukan oleh Owndays sendiri.
Kalau berbicara kualitas, jangan ditanya. Untuk lensa standarnya saja mereka menggunakan lensa High Index Aspheric Lenses (1,6), sedangkan kalau lensa yang biasa kita pakai itu berjenis Spheric Lenses. Efeknya, kaca Aspheric Lenses adalah lebih nyaman di mata, karena tidak membuat limbung akibat distorsi lensa dan lebih cerah. Karena saya juga pakai, saya bisa bilang yes untuk yang satu ini. Dari awal pakai tidak ada perasaan limbung atau pusing, amazing!. Untuk pemasangan lensa hanya 20 menit saja saudara-saudara!
Seru banget hunting frame di Owndays Vivocity, super buanyak!
Dengan hampir 1.500 gaya frame, Owndays menawarkan fixed price untuk frame kacamata dan lensa yang super keren itu. Mulai dari harga 98 SGD - 198 SGD. Harga yang sangat reasonable untuk kualitas kacamata sebaik itu ya. Kalau kita hitung beli di optik biasa, frame bagus dari desainer ternama anggpalah 1 juta - 2 juta ditambah dengan lensa aspheric lenses juga 1 juta sendiri, totalnya bisa 2 - 3 jutaan juga. Lucunya, kemarin itu niatnya cuma mau beli untuk R, tapi ada promo pembelian kedua diskon 50%, tertariklah untuk ganti kacamata juga. Ternyata, karena minus saya dan R diatas 5, harus ditipisin lensanya dan masing-masing kena 100 SGD, karena merasa diluar bajet, jadi saya membatalkan kacamata saya, yah mungkin lain kali. Ternyata, setelah 20 menit R kembali ke toko untuk mengambil kacamatanya, jeng-jeng dia kembali dengan dua kacamata. Yup! kacamata saya yang tadi dibatalkan. Hahaha, jadi mengetahui saya batal beli kacamata saya, mereka memutuskan untuk memberikan diskon kepada kacamata saya dan juga menggratiskan keduanya biaya lensa tipis tadi. Jadi kami dapat dua kacamata idaman dengan lensa aspheric yang tipis dengan harga super murah! Sepanjang jalan kami ngakak setidaknya bersyukur menjadi turis karena promo dan diskon yang diberikan khusus.
Yang ini punya Manky
Tertarik? Sayangnya Owndays baru ada di Jepang, Australia, Thailand, Taiwan, Singapura, dan Filipina. Saya tidak promosi, tidak juga dibayar oleh Owndays, hanya saja saya rasa info ini menarik untuk dibagikan terutama untuk manusia bermata empat seperti saya. Permasalahan kita kan selalu sama, mencari kacamata bagus modelnya tapi kualitas lensa dan framenya juga bagus, yang paling penting harganya terjangkau. Mata kan jendela dunia, investasi untuk mata adalah investasi kita untuk melihat dunia.
Dimulai dengan terdampar di tol pukul tiga pagi, kami menanti sambil mencoba tidur ayam. Bus pengganti pun tiba, sebenarnya busnya cukup bagus, bus tingkat (double decker), R pernah bilang ingin merasakan naik bus seperti itu, eh doanya terkabul meskipun dengan cara yang kurang menyenangkan. Ini seninya pelesiran, kadang ada saja yang tidak sesuai rencana, tapi masih menyenangkan untukdinikmati. Bus yang ini lebih nyaman, karena kursinya lebih luas dan bisa ditidurkan sampai ke belakang. Busnya juga gelap lebih nyaman untuk tidur. Kami naik bus pengganti sekitar pukul setengah lima pagi dan tiba di Johor pukul 5 pagi. Kami turun untuk urusan imigrasi keluar Negara Malaysia. Setelah itu naik bus lagi dan lima menit kemudian kami sudah menyebrangi pulau dna tiba di Singapura. Kami kembali turun di Woodlands untuk urusan imigrasi dan kembali naik bus sampai ke pemberhentian terakhir bus. Seharusnya bus kami turun di Beach Road, dekat dengan daerah Bugis, tapi karena ganti bus, kami di turunkan di Kovan. Dimana itu Kovan? Yah lumayan lah kalau sampai ke daerah hotel kami, harus naik tiga jalur MRT untuk turun di stasiun Aljuneid.
Untungnya stasiun MRT tidak jauh, kami pun turun ke stasiun yang masih super sepi, ya iya lah ya masih pukul setengah 6 pagi, masih gelap kalau di Indonesia masih setengah 5 pagi. Kami membeli tiket dan akhirnya dengan selamat tiba di stasiun MRT Aljuneid. Tip: Untuk membeli tiket MRT uang yang diperlukan adalah pecahan kecil, karena mesin tidak mau mengembalikan lebih dari 4 SGD.
Kami menginap di daerah Geylang. Katanya adalah tempat prostitusi di Singapura. Tapi kalau membayangkan tempat prostitusi seperti di Indonesia, Geylang ini jauhhh banget, bahkan kalau tidak tahu ini tempat prostitusi, saya pasti tidak akan tahu ada apa di tempat ini. Lingkungannya tetap bersih tidak ada sampah, jalanannya rapi tidak ada pedagang kaki lima yang membuat suasana kumuh, banyak food court dari makanan Chinese sampai makanan India (Indonesia juga ada), harganya cukup murah. Daerahnya tidak menyeramkan, kalau pagi buta seperti ini malah sepi, ramai kalau jam pergi dan pulang kantor. Banyak apartemen tinggal juga. Yang membuat saya yakin ini tempat prostitusi adalah banyak ibu-ibu yang menjual obat kuat (pil biru) hahaha, selebihnya saya tidak melihat tanda-tanda apapun soal prostitusi, tidak ada perempuan-perempuan seksi yang berjejer di jalan (ciri khas red light district), semuanya biasa saja, bahkan banyak klenteng hahaha. Hotel - hotel di daerah sini cukup murah (jangan dibandingkan dengan di Malaysia yang jauh lebih murah), bintang tiga tapi tidak dapat sarapan, kamarnya luas dan nyaman, buat kami sudah cukup sih, kan memang hanya sebagai tempat tidur saja.
Karena belum bisa masuk kamar, kami akhirnya hanya menitip koper dan pergi jalan-jalan pagi. Mencoba sarapan prata dan kari di food court dekat hotel. Kami berencana jalan-jalan pagi di sekitar Esplanade sampai ke Marina, tapi sebelumnya harus membeli dulu Singapore Tourist Pass, yang lumayan , menghemat budget karena ternyata sekarang kalau ngeteng MRT mahal dan kaki sudah cukup pegal untuk terlalu banyak jalan jadi enak rasanya bisa naik bus kota kapan saja. Tip: Bagi yang akan banyak jalan dan suka nyasar, saya sarankan membeli Singapore Tourist Pass, untuk dua hari 16 SGD dan untuk tiga hari 20 SGD ditambah deposit 10 SGD yang akan dikembalikan saat mengembalikan kartu. STP bisa digunakan untuk MRT, LRT, dan Bus bebas deh selama jangka waktunya. Kami membeli STP di stasiun City Hall, dari situ sudah dekat kalau mau ke Esplanade, Merlion Park, Marina Bay Sands, Garden By the Bays juga. Karena hari ini CNY jadi toko-toko di mall City Link semuanya tutup dan akan buka lebih siang. Jalanan juga sepi sekali, semua orang seperti menghilang. Tapi masih banyak juga yang olahraga pagi dan jalan-jalan pagi. Dari daerah pinggir laut, kami menuju Orchard Road, menggunakan bus kota (Hamdalah ada STP!) Orchard begitu-begitu saja, tidak banyak berubah, ION mall juga masih seperti itu, sama seperti empat tahun yang lalu. Lucky Plaza juga tidak banyak berubah, sejujurnya agak membosankan karena tidak banyak toko yang buka dan atraksinya juga belum banyak, mungkin nanti siang atau malam baru seru. Kami hanya menumpang makan di ION dan beranjak ke Bugis.
Karena kami belum mandi dan agak kucel jadi kurang semangat foto-foto. Di Bugis juga masih sepi, toko-toko di Bugis Junction masih banyak yang tutup, padahal banyak banget toko yang lucu-lucu, hiks. Saya hanya mampir untuk membeli baju, karena lagi-lagi kehabisan pakaian. Setelah selesai, kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih.
Kami lanjut jalan lagi setelah mandi dan bersih-bersih, kali ini memang mau menghabiskan waktu di daerah Arab Street. Foto-foto di gang ini sudah pasti kayak hal wajib yang harus dilakukan. Tapi saya sih kagum saja dengan bagaimana gang kecil begini bisa sangat menarik dan toko-toko di dalamnya juga lucu-lucu banget, meskipun banyak yang tutup, tapi terharu karena mereka menjual karya seniman lokal dan rata-rata handmade. Harganya kalau dikonversi ke rupiah pasti mahal, tapi kalau memposisikan diri sebagai orang lokal termasuk murah ya, secara itu handmade dan keren banget. Setelah puas foto-foto, kami kembali ke Bugis dan jalan-jalan di mall yang sudah ramai. Belanja beberapa barang lagi yang pasti gak ada di Indonesia, kami memutuskan pulang dan istirahat untuk persiapan besok! Ada apa besok?
Hari ke – 5
Yap! Hari ini kami akan ke Universal Studio Singapore! Hamdalah adalah karena dapat tiket promo dua tiket 111 SGD saja (normalnya 67 SGD satu orang dewasa). Tip : Sering-sering browsing dan cari tahu promo-promo, lumayan banget. Niatnya sudah di Sentosa dari pukul 9, telat bangun malah jadi sampai di Sentosa pukul 10. Kami sampai di Vivo City dan memutuskan untuk menyeberangi Sentosa dengan Sentosa Walk, bukan Sentosa Express (monorel). Tip: Bagi yang mau menghemat bisa pulang pergi pulau Sentosa lewat Sentosa Walk, seru kok, bahkan ada escalator datar kalau pegal, banyak spot foto juga,lumayan loh gratis, kalau ingin naik monorel bisa membayar 3 SGD sekali jalan.
Sampai di Sentosa, gate-nya dibiarkan terbuka, biasanya harus bayar 1 SGD, mungkin karena CNY jadi masuk sentosa gratis! Yeay! USS sudah ramai, tempat tiket sudah mengular, untung sudah beli dari Indonesia jadi tidak perlu antri langsung masuk. Kami mencoba permainan yang kami anggap sesuai umur saja, kalau dirasa tidak ada tantangan berarti untuk anak-anak (seperti carousel). USS terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Madagascar, Far Far Away (Shrek), The Lost World, Egypt, Science Fiction, New York, dan Hollywood. Di Madagascar kami tidak menaiki permainan karena semuanya zona anak-anak. Kami mulai di Far Far Away, nonton 4D, naik Puss in Boots dan beli minuman (ini karena botolnya lucu hahaha). Tip: Kalau jalan ke USS lagi musim liburan sudah pasti permainannya penuh, apalagi yang bisa dinaiki oleh anak kecil, jadi harus pintar-pintar memilih permainan agar waktunya tidak hanya habis karena antrian. Sebisa mungkin naik dulu permainan orang dewasa, karena antriannya lebih pendek baru naik yang antriannya panjang.
Beranjak ke zona The Lost Word, Jurrasic Park, di sini kami naik rapid adventure, mirip seperti arung jeram, tapi memang lebih menantang saja. Kami sudah siap membawa jas hujan plastic dari Indonesia, selain untuk hujan, permainan ini juga akan basah, daripada menyesal ke drying pod 5 SGD keluar, mending keluar kering kan. Kalau beli di sini harga jas hujan plastic 4 SGD (di Indonesia paling mahal 10 ribu rupiah). Setelah rapid adventure, kami lihat hamper semua permainan di zona ini antriannya mengular, jadi kami memutuskan untuk mencari makan sambil melihat-lihat permainan apa lagi yang menantang. Kami makan siang di zona Hollywood, di USS banyak kok tempat makan yang halal salah satunya tempat kami makan Mel’s Diner. Tempat makan yang paling sepi sejauh ini. Memang makan di dalam USS super mahal sekitar (11 – 15 SGD) tapi ini jadi pengalaman berbeda bagi kami, jadi saya putuskan untuk membeli pengalamannya juga. Total makan siang kami 19 SGD (kalau beli warteg sudah dapat makan sampai besok dengan lauk berlimpah hahaha).
Sesudah makan kami masuk wahan yang dibuat Stephen Spielberg, isinya tentang efek dalam film yang berasa nyata. Kami disuguhkan tornado level 4 yang menyerang New York, sungguh, seperti nyata, apinya, barang jatuh , cukup menarik.
Setelah itu kami mau naik The Mummy’s Return, ini semacam roller coaster indoor tanpa cahaya, jadi mau buka mata atau tutup mata sama gelapnya. Sudah diberikan peringatan, roller coaster ini super cepat dengan berbagai manuver yang dramatis bahkan sampai terdorong ke belakang. Sama seperti roller coaster Human v. Cyclone di zona Sci-Fic, hanya saja ini di dalam ruangan gelap, sudah pasti anak-anak tidak boleh masuk, walhasil wahana sepi. Ternyata bagi saya percuma indoor atau outdoor, karena saya selama itu Cuma tutup mata dan berteriak hahaha. Saya dan R tidak tahu akan seseram itu wahananya, jadi kami kaget sendiri dan tertawa sendiri, kalau tahu seram mungkin R menolak naik. Kalau naik wahana seram sendirian itu rasanya mending gak usah deh, masa mau teriak-teriak di muka orang lain, hahaha. Tip: beberapa permainan tidak memperbolehkan membawa barang seperti tas, salah satunya The Mummy ini, jadi barang-barang harus dititipkan di loker. Untuk 40 menit pertama lokernya gratis, untuk selanjutnya bayar 2 SGD.
Keluar wahana kami agak shock, tapi tidak percaya bisa keluar selamat. Kami menenangkan diri dengan berjalan-jalan dan berfoto di jalan-jalan yang sepi. USS punya banyak spot foto yang sangat menarik. Selanjutnya kami berencana untuk naik Transformer 3D, tapi wahana ini punya waktu antrian hingga 80 menit, untung kami taruh di akhir, jadi sudah tidak akan naik wahana lain, kalau di awal pasti sudah lelah mengantri. Wahana ini hanya 5 menit saja, seru juga seperti naik mobil yang sedang off road tapi lebih parah off roadnya sampai dibanting-banting segala. Jadi mengantri 80 menit untuk naik wahana 5 menit. Fiuuhh.
Setelah itu kami memutuskan keluar USS karena masih ingin jalan-jalan di Vivo City. Mampir sebentar di toko Hersheys, sumpah rasanya mau borong hahahaha. Teringat sakit gigi jadi sebal. Kami kembali melewati Sentosa Walk, perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat. Kami tiba di Vivo City dan kembali melakukan hal yang sangat turistik, yaitu belanja. Dari di Malaysia kami sudah ingin membeli kacamata. Kacamata di sana sepertinya sedang nge-tren yang fixed price harga lensa plus bingkainya. Modelnya bagus-bagus. R sangat ingin membeli, sedangkan saya sedang membandingkan harga dan menyesal kenapa tidak membeli di KL saja (karena jauh lebih murah, meskipun memang toko yang berbeda, namun sejenis). Pada akhirnya toh dibeli juga, dengan beberapa keajaiban. Cerita lengkapnya akan hadir tersendiri (sekalian review kacamatanya). Hari ini pun selesai dengan bahagia.
Hari ke – 6
Ini hari terakhir, kami yang sudah sangat lelah memutuskan untuk bangun siang saja. Setelah subuh kami kembali tidur, sampai rasa lapar yang membangunkan kami. Karena sudah siang kami keluar sekaligus check out. Kami memutuskan untuk mencari makan di mall saja sekalian jalan. Rencananya kami mau ke City Hall, mengembalikan STP, kemudian jalan ke arah Merlion Park (belum foto-foto, soalnya waktu itu kan belum mandi dan super kucel). Dari situ kami akan berjalan-jalan saja di mall dan langsung menuju Changi. Kami melewati Esplenade Theater, saya sempat melihat-lihat pameran karya seniman Singapura dan Korea Selatan. Menggetarkan jiwa, entah yang lain bagaimana tapi bagi saya, sangat senang rasanya berada di Negara yang tingkat apresiasi seninya sangat tinggi. Sama seperti perasaan saat berada di Perancis atau Belgia, rasanya semua dibuat dengan seni, ruang apresiasi seni yang gratis juga sangat banyak, wajar kalau senimannya juga lebih banyak dan bebas berkarya. Menarik.
Kami akhirnya memutuskan untuk membeli makan siang take away saja, karena masih kenyang. Membeli burger McD ala carte menjadi lebih murah, karena tidak butuh kentang atau minuman. Kami akan minum tap water di bandara. Setelah semua terbeli (lagi-lagi tergoda belanja barang yang tidak ada di Indonesia), kami membeli tiket MRT ke Changi, yang mana hanya ditempuh kurang dari 30 menit.
Kami sampai di Changi dan menuju ke terminal 1 dengan kereta. Changi yang super besar ini memang tidak bisa dijelajahi seharian. Kami berangkat dari terminal 1, karena menggunakan maskapai Perancis, Air France. Seperti biasa, karena mereka tidak ingin rugi tiba di Jakarta dengan penumpang sedikit, mencari penumpang saat transit adalah hal yang cukup menguntungkan. Bagi kami, sangat menguntungkan, dengan harga tiket yang sama murahnya dengan LCC, dapat merasakan kenyamanan terbang dengan Boeing 777-300 ER. Tip: Mencari penerbangan jauh-jauh hari selain lebih murah juga membuat kita lebih banyak pilihan.
Tepat pukul 4 sore kami boarding, selesai sudah pelesiran kami, rasanya tidak ingin selesai, tapi ingin pulang juga, hahaha. Bye Singapore!
Tips: Untuk merencanakan liburan memang harus jauh-jauh hari, apalagi kalau liburannya membutuhkan visa dan biaya yang tidak sedikit. Tapi sebelum itu tentukan dulu tujuan liburannya, saya dan R memang ingin wisata kuliner dan melihat apa yang tidak ada di Indonesia alias membeli pengalaman. Kalau tujuannya adalah untuk belanja lebih baik fokus untuk wisata belanja daripada main di USS/ Sentosa. Selain itu budgeting juga sangat diperlukan agar pulang-pulang tidak bangkrut. Kami tidak mengambil uang lagi selama perjalanan ini, uang yang kami tukar di Indonesia kami cukupkan, tapi memang kami menggunaka kartu kredit untuk membeli beberapa barang yang tidak bisa kami temukan di Indonesia dan harganya cukup mahal.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Setiap orang pasti senang melakukan perjalanan, bagi saya perjalanan bukan hanya sekadar menghabiskan uang dan waktu untuk meminjam sementara kenikmatan menjadi ‘orang asing’ di negeri orang. Perjalanan bagi saya seperti sebuah jalan-jalan batin. Nah, kebetulan saya dapat kesempatan berpelesir ke dua negeri tetangga sekaligus merayakan hari jadi saya yang ke-26! Ini kali kedua saya berulang tahun jauh dari rumah, jauhnya bukan sekadar jarak Jakarta – Bandung ya. Ketika jauh dari rumah rasanya seperti tujuan kamu begitu jelas, yaitu pulang, dan saya suka perasaan ‘akan pulang’ dari berpelesir, jadinya selalu menikmati setiap detik yang kita habiskan dalam berpelesir itu.
Perjalanan ini kami lakukan berdua (bersama suami), jadinya bukan hanya birthday trip, tapi juga second honeymoon hahaha. Perjalan kali ini tidak sepenuhnya menggembel, karena kami memilih hotel yang layak untuk beristirahat dan tidak sungkan untuk wisata kuliner kapan pun kami mau. Namun kami tetap memilih transportasi publik dan bukan naik taksi kemana-mana. Hamdalah, dua Negara ini sangat baik kualitas transportasi publiknya. Nanti, mungkin saya akan membagi tips budgeting untuk berpelesir. Sebenarnya saya juga gak jago banget, Cuma berbekal pengalaman saja hehehe. Oke, mari kita lihat saya melakukan kebodohan apa saja dalam 6 hari yang lalu.
Hari ke- 1
Berangkat! Sudah semangat dari malam, seperti biasa kami sulit tidur kalau sedang ‘excited’ karena kadar adrenalin meningkat hahaha. Kalau soal ini saya dan R sama, seperti anak kecil. Kami berangkat sangat pagi padahal pemberangkatan masih sekitar 6 jam lagi, tapi kami memutuskan untuk sholat subuh di bandara, hanya karena mengingat siang sedikit pasti jalanan sudah macet dan kami berisiko terlambat, itu saja. Belum bisa check in pastinya, kami memutuskan untuk ngopi-ngopi cantik di BNI lounge. Tip : memiliki kartu kredit memang membutuhkan tanggung jawab besar, namun kamu bisa menikmati fasilitas lounge gratis di beberapa bandara domestik dan internasional untuk membuang rasa jenuh dan rasa lapar.
Setelah sampai pada waktunya check-in kami baru beranjak dari lounge dan setelah itu silakan menunggu di ruang tunggu gerbang keberangkatan, tidak senyaman di lounge pastinya.
Kami tiba di bandara KLIA 2, ini bandara khusus untuk pesawat Low Cost Carrier, seperti yang kami tumpangi. Ini kali pertama bagi saya untuk tiba di KLIA 2, biasanya saya mendarat di KLIA, tapi ternyata, KLIA 2 super besar. Keluar dari gate imigrasi yang panjangnya kayak antri sembako terbentang mall di bandara! Kami akan naik KLIA Express, jadi berputar-putar mencari tempat KLIA Express, padahal sebenarnya dekat, saking besarnya sampai bingung, hahaha.
Harga KLIA Express sudah naik menjadi 55 RM, sebelumnya hanya 35 RM, kalau menggunakan Master Card ada promo 40 RM saja, seperti biasa saya tahunya sudah duduk di kereta. Bhay. Saya kembali menginap di Bukit Bintang, jadi seperti pulang kampung saja, tahu seluk beluknya, jalan yg lebih singkat dan sebagainya, hahaha. Bagi R ini pengalaman pertama, dia ke KL waktu itu dari Singapura dan tidak pulang lewat KL. Tip: Menggunakan KLIA Express adalah cara termudah dan cukup murah untuk mencapai pusat kota KL, karena tujuan akhirnya adalah langsung KL Sentral. Menyenangkan karena hanya 28 menit dan ada wifi gratis!
KLIA Express (foto by hubby ngeblur-ngeblur gimana gitu)
Kami sudah bisa check in saat tiba di hotel, salah satu hotel bintang 2 di kawasan Bukit Bintang, murah harganya dikisaran 300 ribu rupiah, cukup nyaman untuk yang solo travelling atau couple, kalau membawa keluarga sebaiknya mencari hotel dengan luas kamar yang lebih besar. Tidak dapat sarapan, tapi bagi kami itu artinya kesempatan wisata kuliner. Kami memang sengaja menjadikan hotel Cuma tempat tidur saja, jadi jangan pilih yang terlalu mahal, yang penting tempatnya strategis dan mudah dijangkau transportasi publik. Bagi R yang suka mall hopping, tempat ini cocok karena dikelilingi mall mulai dari Pavillion sampai yang agak jauh Berjaya Times Square. Bagi saya lokasinya sangat dekat dengan stasiun monorel dan halte Go-KL jadi sangat nyaman.
Hari pertama ini kami hanya makan di jalan Alor (yang katanya terkenal) tapi sejujurnya kalau kalian tidak begitu suka makan seafood mungkin tempat lain lebih oke dan harganya dibandingkan tempat lain sebenarnya lebih pricey.
Nasi Lemak Jalan Alor...
Saya penasaran saja sih sebenarnya, hahaha. Dari jalan Alor kami mall hopping (kegiatan favorit R) dan jujur karena sedang menyambut CNY jadi semua mall didekor sangat cantik, khas CNY. Hari pertama selesai dengan selamat, kaki belum terlalu pegal, masih semangat buat jelajah KL besok hari.
Bukit Bintang
Hari ke- 2
Kami sarapan di food court 24 jam di seberang hotel. Murah meriah, 3 - 4 RM nasi dan lauk pauk khas sarapan sudah di dapat. Kalau kalian suka pedas, di KL seleranya masih sama kok, cuma kadar kepedasaannya saja yang berbeda. Saya selalu puas kalau makan di pinggir jalan, selain murah, enak lagi pas dengan selera. Kami berencana keliling KL menggunakan bis GOKL. Rute bus GOKL yang melalui Bukit Bintang cukup banyak, salah satunya yang ke arah Pasar Seni. Di daerah Pasar Seni ada banyak tempat yang bisa dikunjungi hanya dengan berjalan kaki mulai dari Central Market, Petaling Street (Pecinan), Dataran Merdeka, dan beberapa museum yang masuknya gratis. Kami menghabiskan waktu cukup lama di daerah Pasar Seni dengan hasil hanya membeli dua buah cincin yang terbuat dari kelapa (selera kami memang aneh kalau soal aksesoris hahaha). Kami kembali ke halte bus dan kembali naik GOKL yang ke arah Bukit Bintang, namun kami akan turun di KL Tower.
Pamer cincin, padahal ga keliatan...
KL Tower menjulang tinggi, pantas saja tinggi, letaknya saja di atas bukit, jalan dari halte sampai pintu masuk KL Tower saja berasa hiking. Lumayan, siang bolong olahraga. Sampai di atas, sebenarnya biasa saja, ya begitu menara. Kalau mau naik ke atas dan melihat KL 360o harus membayar lumayan, di atas sana juga ada restoran yang berputar dan harganya juga lumayan (mahal) ahahaha. Jadi, saya memutuskan untuk hanya duduk-duduk saja dan merasakan angin semilir. Serius deh, Indonesia bisa lebih menarik kalau mau memberikan atraksi seperti ini, di pintu masuk ada atraksi tarian melayu, ada berderet toko-toko dan restoran yang kalau malam ramai dikunjungi karena view-nya pasti spektakuler. Bahkan mereka menjadikan pohon khas mereka yang sudah berusia ratusan tahun sebagai atraksi. Ya, KL adalah kota yang adem menurut saya, karena banyak hutan kota dan pohon-pohon besar berdiri tegak setegak gedung-gedung pencakar langitnya, sangat kontras. Pusat kotanya yang banyak mall dan gedung-gedung tinggi (macam Sudirman – Thamrin) sejuk karena ada banyak pohon dan ada hutan kota di balik gedung-gedung. Kami turun dari KL Tower dan memutuskan untuk berjalan kaki ke KLCC dimana Petronas Twins Tower berada. Kami nyaman berjalan kaki karena tidak panas, hanya sedikit lelah terlalu banyak berjalan kaki. Hari sabtu, tapi jalanan sepi.
Gagal paham semua foto yang ada sayanya nge-blur... Ini di depan CIty
Museum di Dataran Merdeka...
Setiba di KLCC, yang pertama dilakukan adalah ngadem di Suria (mall di bawah PTT). Mendinginkan badan, mengistrihatkan kaki, dan menyegarkan tenggorokan. Sama seperti mall lain, semua dihias khas CNY. Kalau di mall besar seperti ini pilihan makan banyak sekali, mau yang murah sampai yang mahal ada. Kalau di KL mencari yang halal juga mudah. Kami memutuskan untuk membeli snack sebenarnya, tapi super kenyang, seperti baso ikan tusuk dan kawan-kawan, dan ternyata murah juga, hepi! Kalau keluar mall Suria dan berjalan ke taman akan terlihat danau besar lengkap dengan air mancur joged-joged. Kita juga bisa berpose dengan latar PTT. Tapi jangan sampai menginjak rumput ya, nanti dimarahin! Setelah makan, kami menuju Kinokuniya Book Store, ini toko buku ada juga di Indonesia, tapi di sini besarnya gak kira-kira. Sampai bingung mau mulai dari mana. Tapi R sudah tau mau membeli apa jadi mudah sih, kalau saya buku yang saya mau harganya bikin nangis, yasalam saja, mudahan ada rejekinya nanti.
Murah kan, tuhhh.. Kenyang loh beginian doang...
Dari KLCC sudah sore, berencana pulang naik GOKL tapi yang mengantri kayak antri sembako, semua ingin naik GOKL, dan jam pulang kerja juga sepertinya. Kami memutuskan naik LRT dismbung monorel saja, kebetulan R juga belum pernah naik, jadi penasaran. Tip: Pemerintah Malaysia baik memberikan fasilitas bus gratis yang bisa dimanfaatkan pelancong dan warga mereka, cepat dan hemat, dan tentu saja ada wifi gratisnya juga! Jadi silakan dimanfaatkan.
Sejujurnya kami tidak membawa banyak pakaian, jadi sisa waktu di malam hari kami gunakan untuk mencari baju, susah juga ternyata, terlalu banyak pilihan jadi bingung, pas dicoba malah gak muat (gendut sih!).
Hari ke-3
Selamat ulang tahun Manky! Yeay! 26 tahun! Sangat merasa bahagia dan bersyukur, bisa sampai di umur 26 tahun lebih dari seperempat abad, tentu saja ulang tahun kali ini adalah kali kedua sebagai seorang istri. Tanggung jawab bertambah tapi kesenangan juga bertambah, semoga tahun-tahun berikutnya amanahnya bertambah sebagai seorang ibu (amin). Hari ini, kami harus pindah Negara, kami sudah mempersiapkan semuanya, awalnya berencana menggunakan kereta malam menuju Singapore, tapi kereta malam habis, kami memutskan untuk naik bus malam. Busnya berjenis coach (tempat duduknya sekaligus tempat tidur, ada entertainment di masing-masing tempat duduk dan ada makan juga, hore!
Pagi hari kami sarapan nasi lemak di depan hotel, yang jualan mak cik (persis ibu-ibu yang jualan nasduk), makanannya nasi lemak dengan berbagai lauk dan ada gorengan, pas banget! Harganya sudah pasti murah meriah berkisar 2-4 RM saja. Nasi lemak kali ini benar-benar memuaskan, karena sambalnya pedas gak main-main, saya sampai ketagihan, mau lagi hahaha, sarapan terakhir yang tidak mengecewakan. Rencana kami pagi ini adalah membeli oleh-oleh di daerah Chow Kit, kami mau membeli sesuatu yang bukan coklat seperti yang kami biasa beli, bosan. Hasil browsing di internet, di daerah Chow Kit ada tempat grosir yang menjual kebutuhan sehari-hari termasuk jajanan. Jadi kami memutuskan mencoba hal baru dan melipir ke Chow Kit. Sempat nyasar sebentar, tapi akhirnya menemukan tempatnya dan memang seperti toko grosir pada umumnya, harganya jauh lebih murah (dari mall dan supermarket pastinya) dan lebih murah lagi kalau beli banyak. Jajanannya memang seperti jajanan anak sekolahan, ini tempat untuk warung dan toko berbelanja untuk dijual kembali jadi dipak bal-balan. Rasanya ingin borong semuanya tapi baru ingat harus pindah Negara, geret-geret koper pasti repot. Jadi memang beli sedikit, yah biar bagi-bagi saja, toh niatnya memang bukan untuk belanja beginian, hanya pelengkap saja, yang penting ada (Sampai di rumah semua langsung di bagi-bagi dan sudah tak bersisa, hahaha).
Chow Kit... Katanya pasar tapi kok ya rapi...
Setelah dari Chow Kit kami kembali ke Suria, karena ingin membeli buku lagi (bukan buku saya pastinya). Buku yang susah dicari dan direimburse kantor jadi kenapa tidak dibeli saja , begitulah pastinya bukunya R. Sebelumnya kami mau makan siang dulu, sekaligus merayakan ulang tahun Manky, yeay! Jam makan siang semua tempat penuh, kami memutuskan untuk makan di restoran sushi. Tak disangka enak dan murah, kalau makan di gerai sushi terkenal di Indonesia kami minimal menghabiskan 300 ribu rupiah, di sini sudah super kenyang hanya habis kurang lebih 150 ribu rupiah, lumayan banget!
Kami kembali ke hotel, tapi sebelumnya kami sudah check out, hanya menitip koper saja. Di jalan pulang kami kembali tergoda masuk salah satu mall yang belum selesai kami jelajahi. Eh, malah menemukan barang yang kami cari di toko ini, hahaha padahal dekat dengan hotel. Alhamdullilah, semua sudah selesai dibeli dan kami siap melanjutkan perjalanan menuju KL Sentral.
KL Sentral adalah stasiun pusat bagi kereta, LRT, monorail, juga bus, namun bus kami bukan berangkat dari KL Sentral melainkan Stasiun Lama Kuala Lumpur (Old Railway Station) yang hanya berjarak satu stasiun dari KL Sentral. Berhubung masih sore, kami memutuskan jalan-jalan dulu di mall yang terintegrasi dengan KL Sentral yaitu NU Sentral. Sekalian numpang internetan gratis. Toko-toko di mall ini sudah cukup banyak yang tutup di jam 5 sore, karena libur CNY. Mall jadi lebih sepi, beberapa toko yang ingin kami datangi malah sudah tutup. Tepat pukul 7 kami beranjak ke Stasiun Lama dengan menggunakan kereta (KTM), bukan LRT. Masih terlalu awal sebenarnya, tapi karena takut ada apa-apa dengan tiket yang kami beli dari Indonesia jadi lebih baik tiba awal waktu.
Stasiun Lama memang megah, tapi sepi karena sudah malam juga sih. Seperti staiun kereta pada umumnya, meskipun tua tapi tetap terawat. Lounge bus malam kami ada di luar stasiun, tempatnya lumayan. Kami menggunakan jasa Nice Bus. Dengan pelayanan komplet itu kami hanya membayar 54.8 RM saja (sekitar 160 ribu rupiah), lumayan dong. Makanannya juga lumayan nasi lemak dan sandwich untuk yang vegetarian. Tip: Pergi ke Singapura dari KL sangat mudah dan banyak pilihan, daripada naik pesawat yag lebih mahal, bisa dicoba menggunakan jalan darat kereta atau bus yang cukup murah dan nyaman. Pengalaman baru juga bukan? Kami hampir mati gaya menunggu bus berangkat, dan karena ingin sholat Isya kami dengan sotoynya menyalakan lampu mushola di kantor bus yang sebenarnya sudah tutup hahaha. Akhirnya bus berangkat, tidak ribet, tiket kami diambil dan kami duduk di kursi yang kami pesan, all set, bye bye KL!
Tapi, dalam keadaan tidur lelap, tiba-tiba kami terbangun di tengah tol, yup busnya mogok! Ahahaha, tidak ‘Nice’ ternyata. Pukul tiga pagi kami terdampar di pinggir tol menunggu bis lain yang akan membawa kami ke Singapura. Bagaimana nasib kami? Kelanjutannya ada di bagian 2!