It’s a Wrap ! - 2
Hari ke – 4
Dimulai dengan terdampar di tol pukul tiga pagi, kami menanti sambil mencoba tidur ayam. Bus pengganti pun tiba, sebenarnya busnya cukup bagus, bus tingkat (double decker), R pernah bilang ingin merasakan naik bus seperti itu, eh doanya terkabul meskipun dengan cara yang kurang menyenangkan. Ini seninya pelesiran, kadang ada saja yang tidak sesuai rencana, tapi masih menyenangkan untukdinikmati. Bus yang ini lebih nyaman, karena kursinya lebih luas dan bisa ditidurkan sampai ke belakang. Busnya juga gelap lebih nyaman untuk tidur. Kami naik bus pengganti sekitar pukul setengah lima pagi dan tiba di Johor pukul 5 pagi. Kami turun untuk urusan imigrasi keluar Negara Malaysia. Setelah itu naik bus lagi dan lima menit kemudian kami sudah menyebrangi pulau dna tiba di Singapura. Kami kembali turun di Woodlands untuk urusan imigrasi dan kembali naik bus sampai ke pemberhentian terakhir bus. Seharusnya bus kami turun di Beach Road, dekat dengan daerah Bugis, tapi karena ganti bus, kami di turunkan di Kovan. Dimana itu Kovan? Yah lumayan lah kalau sampai ke daerah hotel kami, harus naik tiga jalur MRT untuk turun di stasiun Aljuneid.
Untungnya stasiun MRT tidak jauh, kami pun turun ke stasiun yang masih super sepi, ya iya lah ya masih pukul setengah 6 pagi, masih gelap kalau di Indonesia masih setengah 5 pagi. Kami membeli tiket dan akhirnya dengan selamat tiba di stasiun MRT Aljuneid. Tip: Untuk membeli tiket MRT uang yang diperlukan adalah pecahan kecil, karena mesin tidak mau mengembalikan lebih dari 4 SGD.
Kami menginap di daerah Geylang. Katanya adalah tempat prostitusi di Singapura. Tapi kalau membayangkan tempat prostitusi seperti di Indonesia, Geylang ini jauhhh banget, bahkan kalau tidak tahu ini tempat prostitusi, saya pasti tidak akan tahu ada apa di tempat ini. Lingkungannya tetap bersih tidak ada sampah, jalanannya rapi tidak ada pedagang kaki lima yang membuat suasana kumuh, banyak food court dari makanan Chinese sampai makanan India (Indonesia juga ada), harganya cukup murah. Daerahnya tidak menyeramkan, kalau pagi buta seperti ini malah sepi, ramai kalau jam pergi dan pulang kantor. Banyak apartemen tinggal juga. Yang membuat saya yakin ini tempat prostitusi adalah banyak ibu-ibu yang menjual obat kuat (pil biru) hahaha, selebihnya saya tidak melihat tanda-tanda apapun soal prostitusi, tidak ada perempuan-perempuan seksi yang berjejer di jalan (ciri khas red light district), semuanya biasa saja, bahkan banyak klenteng hahaha. Hotel - hotel di daerah sini cukup murah (jangan dibandingkan dengan di Malaysia yang jauh lebih murah), bintang tiga tapi tidak dapat sarapan, kamarnya luas dan nyaman, buat kami sudah cukup sih, kan memang hanya sebagai tempat tidur saja.
Karena belum bisa masuk kamar, kami akhirnya hanya menitip koper dan pergi jalan-jalan pagi. Mencoba sarapan prata dan kari di food court dekat hotel. Kami berencana jalan-jalan pagi di sekitar Esplanade sampai ke Marina, tapi sebelumnya harus membeli dulu Singapore Tourist Pass, yang lumayan , menghemat budget karena ternyata sekarang kalau ngeteng MRT mahal dan kaki sudah cukup pegal untuk terlalu banyak jalan jadi enak rasanya bisa naik bus kota kapan saja. Tip: Bagi yang akan banyak jalan dan suka nyasar, saya sarankan membeli Singapore Tourist Pass, untuk dua hari 16 SGD dan untuk tiga hari 20 SGD ditambah deposit 10 SGD yang akan dikembalikan saat mengembalikan kartu. STP bisa digunakan untuk MRT, LRT, dan Bus bebas deh selama jangka waktunya. Kami membeli STP di stasiun City Hall, dari situ sudah dekat kalau mau ke Esplanade, Merlion Park, Marina Bay Sands, Garden By the Bays juga. Karena hari ini CNY jadi toko-toko di mall City Link semuanya tutup dan akan buka lebih siang. Jalanan juga sepi sekali, semua orang seperti menghilang. Tapi masih banyak juga yang olahraga pagi dan jalan-jalan pagi. Dari daerah pinggir laut, kami menuju Orchard Road, menggunakan bus kota (Hamdalah ada STP!) Orchard begitu-begitu saja, tidak banyak berubah, ION mall juga masih seperti itu, sama seperti empat tahun yang lalu. Lucky Plaza juga tidak banyak berubah, sejujurnya agak membosankan karena tidak banyak toko yang buka dan atraksinya juga belum banyak, mungkin nanti siang atau malam baru seru. Kami hanya menumpang makan di ION dan beranjak ke Bugis.
Karena kami belum mandi dan agak kucel jadi kurang semangat foto-foto. Di Bugis juga masih sepi, toko-toko di Bugis Junction masih banyak yang tutup, padahal banyak banget toko yang lucu-lucu, hiks. Saya hanya mampir untuk membeli baju, karena lagi-lagi kehabisan pakaian. Setelah selesai, kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih.
Kami lanjut jalan lagi setelah mandi dan bersih-bersih, kali ini memang mau menghabiskan waktu di daerah Arab Street. Foto-foto di gang ini sudah pasti kayak hal wajib yang harus dilakukan. Tapi saya sih kagum saja dengan bagaimana gang kecil begini bisa sangat menarik dan toko-toko di dalamnya juga lucu-lucu banget, meskipun banyak yang tutup, tapi terharu karena mereka menjual karya seniman lokal dan rata-rata handmade. Harganya kalau dikonversi ke rupiah pasti mahal, tapi kalau memposisikan diri sebagai orang lokal termasuk murah ya, secara itu handmade dan keren banget. Setelah puas foto-foto, kami kembali ke Bugis dan jalan-jalan di mall yang sudah ramai. Belanja beberapa barang lagi yang pasti gak ada di Indonesia, kami memutuskan pulang dan istirahat untuk persiapan besok! Ada apa besok?
Hari ke – 5
Yap! Hari ini kami akan ke Universal Studio Singapore! Hamdalah adalah karena dapat tiket promo dua tiket 111 SGD saja (normalnya 67 SGD satu orang dewasa). Tip : Sering-sering browsing dan cari tahu promo-promo, lumayan banget. Niatnya sudah di Sentosa dari pukul 9, telat bangun malah jadi sampai di Sentosa pukul 10. Kami sampai di Vivo City dan memutuskan untuk menyeberangi Sentosa dengan Sentosa Walk, bukan Sentosa Express (monorel). Tip: Bagi yang mau menghemat bisa pulang pergi pulau Sentosa lewat Sentosa Walk, seru kok, bahkan ada escalator datar kalau pegal, banyak spot foto juga,lumayan loh gratis, kalau ingin naik monorel bisa membayar 3 SGD sekali jalan.
Sampai di Sentosa, gate-nya dibiarkan terbuka, biasanya harus bayar 1 SGD, mungkin karena CNY jadi masuk sentosa gratis! Yeay! USS sudah ramai, tempat tiket sudah mengular, untung sudah beli dari Indonesia jadi tidak perlu antri langsung masuk. Kami mencoba permainan yang kami anggap sesuai umur saja, kalau dirasa tidak ada tantangan berarti untuk anak-anak (seperti carousel). USS terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Madagascar, Far Far Away (Shrek), The Lost World, Egypt, Science Fiction, New York, dan Hollywood. Di Madagascar kami tidak menaiki permainan karena semuanya zona anak-anak. Kami mulai di Far Far Away, nonton 4D, naik Puss in Boots dan beli minuman (ini karena botolnya lucu hahaha). Tip: Kalau jalan ke USS lagi musim liburan sudah pasti permainannya penuh, apalagi yang bisa dinaiki oleh anak kecil, jadi harus pintar-pintar memilih permainan agar waktunya tidak hanya habis karena antrian. Sebisa mungkin naik dulu permainan orang dewasa, karena antriannya lebih pendek baru naik yang antriannya panjang.
Beranjak ke zona The Lost Word, Jurrasic Park, di sini kami naik rapid adventure, mirip seperti arung jeram, tapi memang lebih menantang saja. Kami sudah siap membawa jas hujan plastic dari Indonesia, selain untuk hujan, permainan ini juga akan basah, daripada menyesal ke drying pod 5 SGD keluar, mending keluar kering kan. Kalau beli di sini harga jas hujan plastic 4 SGD (di Indonesia paling mahal 10 ribu rupiah). Setelah rapid adventure, kami lihat hamper semua permainan di zona ini antriannya mengular, jadi kami memutuskan untuk mencari makan sambil melihat-lihat permainan apa lagi yang menantang. Kami makan siang di zona Hollywood, di USS banyak kok tempat makan yang halal salah satunya tempat kami makan Mel’s Diner. Tempat makan yang paling sepi sejauh ini. Memang makan di dalam USS super mahal sekitar (11 – 15 SGD) tapi ini jadi pengalaman berbeda bagi kami, jadi saya putuskan untuk membeli pengalamannya juga. Total makan siang kami 19 SGD (kalau beli warteg sudah dapat makan sampai besok dengan lauk berlimpah hahaha).
Sesudah makan kami masuk wahan yang dibuat Stephen Spielberg, isinya tentang efek dalam film yang berasa nyata. Kami disuguhkan tornado level 4 yang menyerang New York, sungguh, seperti nyata, apinya, barang jatuh , cukup menarik.
Setelah itu kami mau naik The Mummy’s Return, ini semacam roller coaster indoor tanpa cahaya, jadi mau buka mata atau tutup mata sama gelapnya. Sudah diberikan peringatan, roller coaster ini super cepat dengan berbagai manuver yang dramatis bahkan sampai terdorong ke belakang. Sama seperti roller coaster Human v. Cyclone di zona Sci-Fic, hanya saja ini di dalam ruangan gelap, sudah pasti anak-anak tidak boleh masuk, walhasil wahana sepi. Ternyata bagi saya percuma indoor atau outdoor, karena saya selama itu Cuma tutup mata dan berteriak hahaha. Saya dan R tidak tahu akan seseram itu wahananya, jadi kami kaget sendiri dan tertawa sendiri, kalau tahu seram mungkin R menolak naik. Kalau naik wahana seram sendirian itu rasanya mending gak usah deh, masa mau teriak-teriak di muka orang lain, hahaha. Tip: beberapa permainan tidak memperbolehkan membawa barang seperti tas, salah satunya The Mummy ini, jadi barang-barang harus dititipkan di loker. Untuk 40 menit pertama lokernya gratis, untuk selanjutnya bayar 2 SGD.
Keluar wahana kami agak shock, tapi tidak percaya bisa keluar selamat. Kami menenangkan diri dengan berjalan-jalan dan berfoto di jalan-jalan yang sepi. USS punya banyak spot foto yang sangat menarik. Selanjutnya kami berencana untuk naik Transformer 3D, tapi wahana ini punya waktu antrian hingga 80 menit, untung kami taruh di akhir, jadi sudah tidak akan naik wahana lain, kalau di awal pasti sudah lelah mengantri. Wahana ini hanya 5 menit saja, seru juga seperti naik mobil yang sedang off road tapi lebih parah off roadnya sampai dibanting-banting segala. Jadi mengantri 80 menit untuk naik wahana 5 menit. Fiuuhh.
Setelah itu kami memutuskan keluar USS karena masih ingin jalan-jalan di Vivo City. Mampir sebentar di toko Hersheys, sumpah rasanya mau borong hahahaha. Teringat sakit gigi jadi sebal. Kami kembali melewati Sentosa Walk, perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat. Kami tiba di Vivo City dan kembali melakukan hal yang sangat turistik, yaitu belanja. Dari di Malaysia kami sudah ingin membeli kacamata. Kacamata di sana sepertinya sedang nge-tren yang fixed price harga lensa plus bingkainya. Modelnya bagus-bagus. R sangat ingin membeli, sedangkan saya sedang membandingkan harga dan menyesal kenapa tidak membeli di KL saja (karena jauh lebih murah, meskipun memang toko yang berbeda, namun sejenis). Pada akhirnya toh dibeli juga, dengan beberapa keajaiban. Cerita lengkapnya akan hadir tersendiri (sekalian review kacamatanya). Hari ini pun selesai dengan bahagia.
Hari ke – 6
Ini hari terakhir, kami yang sudah sangat lelah memutuskan untuk bangun siang saja. Setelah subuh kami kembali tidur, sampai rasa lapar yang membangunkan kami. Karena sudah siang kami keluar sekaligus check out. Kami memutuskan untuk mencari makan di mall saja sekalian jalan. Rencananya kami mau ke City Hall, mengembalikan STP, kemudian jalan ke arah Merlion Park (belum foto-foto, soalnya waktu itu kan belum mandi dan super kucel). Dari situ kami akan berjalan-jalan saja di mall dan langsung menuju Changi. Kami melewati Esplenade Theater, saya sempat melihat-lihat pameran karya seniman Singapura dan Korea Selatan. Menggetarkan jiwa, entah yang lain bagaimana tapi bagi saya, sangat senang rasanya berada di Negara yang tingkat apresiasi seninya sangat tinggi. Sama seperti perasaan saat berada di Perancis atau Belgia, rasanya semua dibuat dengan seni, ruang apresiasi seni yang gratis juga sangat banyak, wajar kalau senimannya juga lebih banyak dan bebas berkarya. Menarik.
Kami akhirnya memutuskan untuk membeli makan siang take away saja, karena masih kenyang. Membeli burger McD ala carte menjadi lebih murah, karena tidak butuh kentang atau minuman. Kami akan minum tap water di bandara. Setelah semua terbeli (lagi-lagi tergoda belanja barang yang tidak ada di Indonesia), kami membeli tiket MRT ke Changi, yang mana hanya ditempuh kurang dari 30 menit.
Kami sampai di Changi dan menuju ke terminal 1 dengan kereta. Changi yang super besar ini memang tidak bisa dijelajahi seharian. Kami berangkat dari terminal 1, karena menggunakan maskapai Perancis, Air France. Seperti biasa, karena mereka tidak ingin rugi tiba di Jakarta dengan penumpang sedikit, mencari penumpang saat transit adalah hal yang cukup menguntungkan. Bagi kami, sangat menguntungkan, dengan harga tiket yang sama murahnya dengan LCC, dapat merasakan kenyamanan terbang dengan Boeing 777-300 ER. Tip: Mencari penerbangan jauh-jauh hari selain lebih murah juga membuat kita lebih banyak pilihan.
Tepat pukul 4 sore kami boarding, selesai sudah pelesiran kami, rasanya tidak ingin selesai, tapi ingin pulang juga, hahaha. Bye Singapore!
Tips: Untuk merencanakan liburan memang harus jauh-jauh hari, apalagi kalau liburannya membutuhkan visa dan biaya yang tidak sedikit. Tapi sebelum itu tentukan dulu tujuan liburannya, saya dan R memang ingin wisata kuliner dan melihat apa yang tidak ada di Indonesia alias membeli pengalaman. Kalau tujuannya adalah untuk belanja lebih baik fokus untuk wisata belanja daripada main di USS/ Sentosa. Selain itu budgeting juga sangat diperlukan agar pulang-pulang tidak bangkrut. Kami tidak mengambil uang lagi selama perjalanan ini, uang yang kami tukar di Indonesia kami cukupkan, tapi memang kami menggunaka kartu kredit untuk membeli beberapa barang yang tidak bisa kami temukan di Indonesia dan harganya cukup mahal.
Cheers!
Manky















