DEAR READER
will byers stan first human second

Discoholic 🪩
sheepfilms
todays bird

titsay
Xuebing Du
Keni
Stranger Things
Acquired Stardust
h

★
Not today Justin


tannertan36
Monterey Bay Aquarium

Origami Around
tumblr dot com
Three Goblin Art
seen from Singapore

seen from Hungary

seen from United States
seen from United States
seen from Switzerland
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from France
seen from Germany
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Spain

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
@lyrarch

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Siapapun kamu, jika kamu harus selalu menjelaskan bagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik dan seharusnya, itu berarti kamu berada ditangan orang yang salah..
Sebab orang yang benar-benar perduli tak memerlukan buku panduan
Kali ini aku akan berusaha yang semampu dan sebisaku untuk kembali kepada Allah dan jalan ketaatan menuju-Nya. Walau sulit aku percaya Allah tidak akan pernah membiarkan langkahku berjalan sendirian. 🤍
Pada akhirnya Allah akan membawaku pada doa-doa baik yang selama ini aku semogakan dan menjauhkanku dari banyak hal yang Ia tahu berpotensi besar melukaiku jika tetap kulanjutkan.
Wa'alaikumsalam
Satu kata sederhana, yang diam-diam memuat segalanya.
Untuk keselamatanmu, di tempat yang sunyi maupun ramai, di saat terang maupun ketika gelap menutup segalanya. Bila badai datang tanpa isyarat, semoga dirimu berada di tempat yang kokoh dan hangat.
Semoga kamu terhindar dari luka yang tak bisa dijelaskan, dari beban yang tak sanggup dibagi, dari hal-hal yang membuatmu kecil di mata sendiri, atau hal-hal yang membuatmu besar dengan mengecilkan yang lain.
Semoga hatimu tak perlu lelah menghadapi hal yang seharusnya mudah. Dan damai yang kamu bangun tak runtuh sebelum berdiri, oleh tangan yang tak kamu undang. Semoga kamu bebas dari urusan yang bukan tanggung jawabmu, dan dari orang-orang yang tak tahu cara memikul miliknya sendiri.
Semoga yang sedang kau jemput tidak lari sebelum sempat mendekat. Semoga arah yang sedang kau tempuh tidak memutar terlalu jauh hanya untuk mengajarkan bahwa yang kau cari sedang mengarah kepadamu juga. Semoga benih yang kau jaga tahu caranya hidup walau langit kadang pelit cahaya.
Semoga rezekimu mencukupi, sebelum kebutuhan mengetuk dengan suara gelegar, agar satu-satunya tempat tanganmu menjulur adalah Yang Maha Besar bukan pada mereka yang sama-sama gemetar.
Semoga malam-malammu dilalui tanpa perlu menghitung apa yang harus dilunasi esok hari. Semoga tak perlu ada tanya yang kau jawab dengan janji tertunda.
Biarlah hidupmu cukup tertutup bagi yang ingin tahu bukan untuk peduli. Dan kebahagiaanmu tak dibangun di atas kesedihan orang lain.
Semoga gemerlap tak menutupi cahaya yang sejati. Semoga indahnya dunia tak memalingkanmu dari yang memberi keindahan itu sendiri. Semoga tak ada kesenangan yang membuatmu lupa untuk menjadi cukup.
Semoga lingkar yang paling dekat denganmu tak pernah menjadi hal yang paling ingin kau jauhi. Semoga engkau tak perlu berpura-pura baik-baik saja di tempat yang seharusnya paling tahu kapan hatimu sedang tidak baik. Semoga kamu tak lagi harus menjelaskan mengapa rumah bisa terasa seperti tempat asing. Semoga cinta tak jadi barang langka di tempat yang seharusnya mengajarkan cara mengucapkannya.
Semoga perasaanmu tak harus menunggu di luar pintu yang tak pernah dibuka. Semoga aspirasimu tak tinggal selamanya di ruang yang tak boleh disebut. Semoga kasihmu menemukan jalan yang halal untuk tumbuh. Semoga kamu tak berbagi atap dengan jiwa yang enggan mengenalmu. Semoga namamu disebut dengan hangat, bukan sekadar dalam daftar tanggung jawab.
Semoga dijauhkan kamu, dari cinta tanpa pernikahan, pernikahan tanpa cinta.
Semoga keselamatan atasmu, dan semoga, semoga yang sama juga kembali padaku, dengan cara yang paling lembut dan penuh rahmat.
— Giza, mendalami arti nama belakangnya. Ditemani lagu-lagu Panji Sakti.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Beberapa hari yang lalu ada seorang teman bertanya kepadaku, “tanda-tanda dia jodoh kita tuh apa?” Sebagai perempuan yang belum menikah, justru aku juga mempertanyakan hal yang serupa. Kalau boleh jawab sotoy, mungkin salah satu tandanya berupa kecocokan. Namun, jawaban itu mengundang pertanyaan lainnya; cocok itu yang bagaimana?
Lalu aku teringat kisah cinta Najmuddin Ayyub. Seorang pemimpin Tikrit yang belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yaitu Asadudin Syirkuh pun bertanya, “wahai saudaraku, mengapa kamu belum menikah?” Najmuddin menjawab, “aku belum menemukan seseorang yang cocok.”
Asadudin Syirkuh kemudian menawarkan bantuan melamarkan perempuan untuk Najmuddin. Perempuan yang ditawarkan Asadudin pun merupakan anak seorang sultan dan putri menteri agung dari para menteri agung zaman Abbasiyah. Namun Najmuddin berkata, “mereka tidak cocok untukku.”
Asadudin Syirkuh yang bingung mendengar jawaban tersebut lalu bertanya, “lantas, siapa yang cocok bagimu?” Dengan lantang Najmuddin menjawab, “aku menginginkan istri yang salihah. Seseorang yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ia tarbiyah dengan baik hingga menjadi ksatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Asadudin tidak heran dengan pernyataan saudaranya tersebut, tapi ia bertanya-tanya, “di mana kamu bisa mendapatkan orang seperti itu?” Dan jawaban Najmuddin adalah, “barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”
Suatu hari, Najmuddin berbincang dengan seorang Syaikh di masjid Tikrit. Kemudian datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan ia berbicara pada gadis itu. Tanpa sengaja Najmuddin mendengar perkataan Syaikh kepada gadis tersebut, “kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk melamarmu?”
Sang gadis menjawab, “wahai Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang mempunyai ketampanan dan kedudukan. Tetapi ia tidak cocok untukku.” Syaikh kemudian bertanya, “siapa pemuda yang kau inginkan?”
Gadis tersebut pun menjawab pertanyaan Syaikh dengan lantang, “aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak darinya yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Bagai tersambar petir Najmuddin mendengar jawaban gadis itu. Bagaimana mungkin gadis itu menjawab dengan jawaban yang persis sama dengan apa yang pernah Najmuddin ungkapkan kepada saudaranya. Sungguh semuanya tidak mungkin terjadi bila tanpa campur tangan Allah.
Seketika Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “aku ingin menikah dengan gadis ini. Aku ingin istri seperti dia. Seseorang yang salihah. Seseorang yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ia didik dan kelak menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”
Karena kesamaan visi tersebut, menikahlah mereka. Dan dari pernikahan tersebut, lahirlah Salahuddin Al-Ayyubi, seorang pemuda yang mampu menaklukkan banyak peperangan.
Cerita tersebut membuatku semakin mengimani, al-arwahu junudun mujannadah. Sebuah sabda dari Nabi Muhammad SAW. Jiwa-jiwa manusia itu seperti sepasukan. Berada dalam satu barisan dan komando yang sama. Setiap jiwa akan selalu mengajak untuk berkumpul dengan jiwa lainnya yang memiliki kecenderungan yang sama. Baik prinsip, ideologi ataupun keyakinan yang sama.
Sama seperti jiwa Najmuddin dan sang gadis yang sama-sama memiliki impian dan visi yang sama. Maka Allah pertemukan dan satukan mereka dalam pernikahan. Menerbitkan dan menenggelamkan matahari saja Tuhan mampu, apalagi perkara menggerakkan hati dan kaki manusia.
Ada berjuta-juta manusia di muka bumi ini. Dan setiap harinya ada beribu-ribu kesempatan dan juga kemungkinan kita bertemu satu atau dua dari jutaan manusia tersebut. Pertanyaannya, dari jutaan manusia tersebut, bagaimana caranya kita menemukan seseorang yang cocok?
Mungkin jawabannya adalah dengan menemukan diri sendiri. Mengetahui apa yang jiwa kita inginkan, apa yang sebenarnya dibutuhkan. Berpegang teguh dan berperilaku selayaknya kebutuhan atau mimpi tersebut.
Dan meyakini bahwa Tuhan akan membimbing kita dalam pertemuan dan penemuan. Bahkan tanpa kita mencari berlari kesana-kemari.
Sebaik-baiknya cara mencari adalah dengan menjadi. Karena ruh-ruh yang sama akan mengenali satu sama lain….
-Lampung, November 17th 2023
Tuhan Tidak Tendensius
Ada saat di hidup kita, ketika satu kejadian pahit terasa cukup buat bikin kita yakin bahwa Allah sedang melawan kita dan memihak orang lain. Misalnya, doa yang tak kunjung dikabulkan, orang terdekat yang tiba-tiba pergi, takdir menyenangkan orang lain yang keliatan lebih effortless, atau kegagalan yang meruntuhkan semua harapan dan rencana. Tampaknya, semua hal dibuat sulit hanya untuk kita dan orang lain tidak. Jelas geer murahan yang tidak reliabel, yang kita klaim sebagai fakta, padahal itu bias dari sampel tunggal bernama hidup kita.
Agak ngeri juga ya, nantangin by one sama Tuhan Semesta Alam :v
Kita pernah jadi peneliti tolol yang semena-mena bikin kesimpulan besar dari sampel tunggal (yakni pengalaman pribadi). Dalam penelitian, kalau cuma punya sample size = 1, hasilnya nyaris tidak bisa dipakai buat generalisasi, sebab pengalaman pribadi hanyalah satu data point dari "big data" ciptaan Allah. Sedangkan Allah punya akses ke seluruh populasi baik itu masa lalu, masa kini, masa depan, yang kelihatan, maupun yang tersembunyi. Jadi keputusan Allah selalu berdasarkan n = ∞.
Kalau n (jumlah sampel) kecil, maka akurasi rendah, hasilnya bias, dan margin of error besar. Sebaliknya, kalau n besar maka akan mendekati populasi, hasil makin akurat dan representatif, kesimpulan makin bisa dipercaya.
Sekarang, kita punya dua kasus.
Pertama: "kalau kita terluka, maka Allah jahat". Ada banyak bias di pernyataan ini. Negativity bias (satu sakit bisa "menghapus" seribu nikmat sehat sebelumnya), availability bias (pikiran cepat banget mengakses pengalaman yang paling segar/menyakitkan karena data itu yang paling gampang muncul di memori), egocentric bias (semua hal ditafsirkan dengan diri sendiri sebagai pusat), ditambah jumping to a conclusion. Kurang bodoh apa?
Kedua: "kalau kita bahagia, maka Allah sedang berpihak pada kita." Lebih enak sih kedengarannya, tapi tetap pakai cara pikir yang sama dangkalnya. Ada banyak bias juga di pernyataan itu. Confirmation bias (kita suka "menemukan bukti" sesuai keinginan hati), self-serving bias (klaim seolah-olah semesta revolve around me), egocentric bias, lagi, (tolok ukur "Allah baik" diambil dari kenyamanan pribadi, pusatnya ego lagi), dan overgeneralization.
Sama-sama geer, cuma kali ini geernya dibungkus syukur palsu, soalnya lagi-lagi penilaiannya subjektif, bergantung pada mood dan pengalaman sesaat. Plus, dua-duanya pakai ukuran diri sendiri sebagai standar mutlak. Dua-duanya pakai sampel tunggal untuk menilai "populasi" sebesar Allah. Cara pikir kaya gitu memang aneh/keliru, karena pakai logika manusia bias untuk menilai Zat yang tidak terbatas.
Jadi, apa bukti Allah itu baik?
Kalau pakai logika sampel tunggal (n = 1), kita bakal jatuh ke jawaban sepotong, "karena aku pernah senang, karena doa aku pernah dikabulkan, karena aku sehat hari ini." Jawaban itu rapuh karena besok kalau sakit lagi, logika yang sama bisa dipakai untuk bilang "Allah jahat".
Kalau pakai logika populasi (n = ∞), maka Allah punya seluruh data, dan kebaikan-Nya mencakup seluruh aspek. Jadi bukti "Allah baik" tidak berdiri pada 1 pengalaman, tapi pada keseluruhan realitas.
Allah dan Kerangka Empirisme
Jadi, bukti Allah baik bukan cuma soal empiris. Dan sebenarnya Allah tidak bisa didekati secara empiris. Kenapa? Karena Allah bukan objek sains.
Objek sains itu:
Terdefinisi (ada kesepakatan jelas tentang apa itu)
Bisa diukur (kalau bisa diukur, berarti ada batasnya)
Ada di ruang dan waktu (bisa kita jangkau untuk diuji)
Sejak awal, Allah sudah mendefinisikan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha. "Maha" artinya tak terbatas, dan yang tak terbatas itu tidak bisa diukur.
Sekarang bayangkan, logika macam apa yang ingin coba mengukur sesuatu yang Maha? Penggaris macam apa yang ingin kita pakai? Manusia jelas tidak punya instrumen yang valid untuk menakar sifat atau keputusan Allah. Pada kerangka apa kita ingin menguji Tuhan? Perkara bodoh dan dangkal, kan?
"The absence of proof is not proof of absence."
Ketika kamu merasa tidak punya pengalaman pribadi yang bisa dipakai sebagai evidence kebaikan Allah, jangan berhenti di situ. Ketiadaan bukti bahwa "Allah baik" di hidupmu, bukanlah bukti Allah tidak baik.
Bisa jadi datanya ada, tapi kita belum sadar atau belum punya syukur di hati. Atau bukti itu baru akan muncul nanti, atau Allah sengaja sembunyikan demi hikmah yang lebih besar.
Terus gimana kalau belum nemu bukti itu?
Sadar posisi bahwa kita terbatas. Kita hidup dengan "sample size = 1" yang artinya data yang kita pegang itu sangat sedikit dibanding "populasi" realitas yang Allah pegang. Selanjutnya, latih cara dan gaya pandang. Carilah tanda yang mendekatkan diri untuk mengenal-Nya.
Itu sebabnya, saat Allah memerintahkan Iqra' (bacalah), Dia tidak bilang "iqra' rabbaka" (bacalah Tuhanmu) Tapi "iqra' bismi rabbik" (bacalah atas nama Tuhanmu)
Artinya, Allah nyuruh kita membaca ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, ayat-ayat di alam (kauniyah) dan dalam wahyu (qauliyah), untuk mengenal Allah, bukan untuk "mengukur" Allah dengan keterbatasan alat sensori dan persepsi kita.
Maka itulah pentingnya kenalan sama Allah sebelum menerobos realitas. Supaya dalam kedukaan dan keterlukaan pun, kita tetap memiliki rasa hormat kepada Allah, bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap pengambilan keputusan-Nya. Supaya sabar lebih dapat didahulukan daripada marah, menuntut, dan protes. Supaya tidak jadi orang sotoy dan menggurui Allah.
Dan dalam kebahagiaan pun sama. Supaya kita tidak buru-buru merasa semua nikmat adalah hasil usaha sendiri, atau geer bahwa Allah lebih sayang pada kita dibanding orang lain. Supaya syukur lebih didahulukan daripada sombong, bangga diri, atau meremehkan cara hidup yang lain.
Allah al-Wakil bertindak atas dasar populasi total, yang mempertimbangkan semua variabel, semua waktu, semua konsekuensi. Keputusan-Nya mencakup keseluruhan realitas, bukan cuma fragmen hidup seseorang saja. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan Allah tidak baik hanya karena hidupmu belum terasa "dibuktikan" oleh-Nya.
Kalau pengen dipihak oleh Allah, gimana? Banyak caranya di Qur'an, salah satunya bersabar. Kalimatnya jelas, "inna Allaha ma'a shabirin".
Sabar adalah jenis sikap yang sangat bergantung pada kerangka waktu. Artinya, kita tidak menyerah terhadap Allah. Kita tidak buru-buru mundur saat mengenal Allah meski belum paham. Kita tidak mengedepankan logika, nafsu, ego, dan apapun yang sifatnya menambah kesombongan, meski belum dapat hasil. Lagian, makin sombong kita, makin tidak dikenali kita sebagai hamba. Makin susah mengenal diri as human being. Dan makin susah pula berteman dengan sesama human.
Banyak orang cepat kecewa lalu mundur dari iman hanya karena satu episode pahit. Sabar juga berarti tidak kabur hanya karena logika sesaat belum nyambung, dan menahan diri dari dorongan instan yang biasanya bikin kita nge-judge Allah. Banyak tafsiran lainnya lagi soal sabar, baca-baca aja di mana-mana.
Akhir kata, mari kita benahi pemahaman tentang qadha dan qadar, serta konsep diri sebagai manusia yang punya akal dan kemampuan memilih. Supaya ngerti betapa objektif dan tidak memihaknya Allah dalam penyusunan algoritma qadha dan qadar dan penempatan manusia di dalamnya.
Kedua pemahaman ini, jika dikombinasikan, bisa melahirkan sikap haunan, seperti Nabi Adam dalam doanya, rabbana dzalamna anfusana dst.
Life’s path is no fixed line; it is shaped by co-contributors who navigate its branching roads.
(Artinya, bukan Tuhan yang jahat, elu aja yang dzalim ke diri sendiri. Output lu itu bergantung input dan decision making yang lu pilih sendiri. Jangan salahin Tuhan kalo hasilnya malapetaka dan bencana. Stop ngerasa jadi korban di masalah yang lu buat sendiri.)
— Giza, tulisan ini isinya kayak marah-marah tapi jujur emang berangkat dari rasa kesel sama orang-orang masa kini yang asbun soal Allah padahal ga kenal Allah. Iqra lagi sono, jangan cinta-cintaan mulu. Giliran terluka nyalahinnya Allah.
Akutuh apa ga pantes diperjuangin yah?
September, 2025
Kali ini aku akan berusaha yang semampu dan sebisaku untuk kembali kepada Allah dan jalan ketaatan menuju-Nya. Walau sulit aku percaya Allah tidak akan pernah membiarkan langkahku berjalan sendirian. 🤍
Ngelunjak
Aku nggak jadi tidur di kereta karena nemu kalimat yang menarik dari seorang ulama yang juga cicit Rasulullah, Syekh Ali Zainal Abidin. Ini nyambung dengan tulisanku sebelumnya tentang rasa fatal dan sense of severity.
Beliau bilang, "ahwa un-nadhirin," kita meremehkan-Nya.
Bayangkan ada seekor kucing yang melihat kita dan kita melakukan hal yang haram, apakah kita akan peduli?
Beginilah cara kita memperlakukan Allah.
Ketika kamu mengingat dosa-dosamu, ingatlah bagaimana kamu telah meremehkan Allah. Tanyakan pada dirimu, "mengapa saya begitu meremehkan Allah?"
Bersambunglah ke kutipan yang sangat indah yang sering dibaca di malam-malam Ramadhan. Kutipannya berasal dari doa Abu Hamzah Ats-Tsumali, sebuah doa panjang yang diriwayatkan dari Syekh Ali Zainal Abidin.
وَ يُحَمِّلُنِي وَ يُجَرِّئُنِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ حِلْمُكَ عَنِّي
Wa yuhammiluni wa yujarri’uni ‘ala ma’siyatika hilmuka ‘anni
"Dan (aku takut) kelembutan-Mu terhadapku membuatku terbiasa (berani) bermaksiat kepada-Mu."
Syekh berkata, "tahukah kamu mengapa kita tidak peduli kepada Allah? Mengapa kita tidak malu?"
Karena Allah itu toleran, kita berdosa dengan keyakinan yang begitu berani seolah-olah Allah tidak ada, karena kita tahu Allah itu Maha Penyayang. Kita tahu kesabaran-Nya dalam tidak langsung menghukum. Kita tahu Allah akan memberi kesempatan kedua dan ketiga dan sejuta kesempatan. Kita tahu Allah itu pemaaf dan kita memanfaatkan rahmat-Nya.
Kita memanfaatkan Allah. (damn..)
Bayangkan seseorang bersikap baik kepadamu. Setiap kali kamu tidak menghormatinya, dia tidak mengatakan apa pun, seolah-olah ketidakhormatanmu tak cukup berarti untuk mengusiknya. Awalnya, mungkin kau merasa seperti seorang penguasa yang bisa berbuat sesuka hati tanpa konsekuensi. Namun, semakin lama, kebaikan Allah yang tak tergoyahkan itu berubah menjadi cermin yang memantulkan seluruh keburukanmu.
Di situ aku pengen menyanggah bahwa aku nggak pernah menyengaja meremehkan-Nya. Aku nggak pernah bilang bahwa Allah itu nggak penting. Tapi kalau dipikir-pikir, inkonsisten juga ya, dengan tindakanku. Berarti itu udah cukup menjadi pernyataan.
Ternyata jadi shalihin itu susah banget. Lurusnya mulai dari niat, motif, ucapan, pemikiran, sampai tindakan. Hulu ke hilir harus konsisten. Pantesan termasuk "sebaik-baiknya teman" di jajaran setelah nabiyin, shadiqin, dan syuhada. Astaghfirullahal adziim.
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعفو عنى
— Giza, jadi sampai kapan cenah bakal terus ngelunjak?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hanya melalui pertentangan terhadap gagasan-gagasan kita dapat belajar bersikap kritis terhadap diri sendiri, berupaya mencapai kerendahhatian intelektual.
— Tariq Ramadhan
Di usia ini aku baru sadar, sepinter apapun orang, dia nggak bisa pinter sendirian. Setiap orang butuh yang namanya teman sparing mental - emosional - intelektual.
(*mau itu teman, mentor, ortu, saudara, bisa siapa aja)
Yang harus sama-sama cukup tough untuk menangani hard convo (konflik), harus cukup punya energi untuk menyelami deep convo, dan harus cukup punya ketahanan belajar untuk dapat mengikuti heavy convo.
Tentang hard convo bisa rujuk ke sini
Tentang jenis-jenis convo (hard, heavy, deep) bisa rujuk ke sini
Tentang teman sparing (teman melukai ego) bisa rujuk ke sini
Keuntungan punya teman sparing adalah jadi punya "mata lain" yang bisa nge-address blindspots kita di mana. Punya "otak lain" yang kadang-kadang pemrosesan informasinya mungkin aja beda dengan kita. Dengannya kita dapat melihat kehidupan lebih dari satu sudut pandang. Dan konsekuensinya adalah harus siap mendapati diri kita mungkin salah dalam memandang sesuatu. Skill belajar nerima kita bisa salah tuh susah banget karena kecenderungan setiap manusia pengen dianggap bener.
Kalo aku pribadi mah, sebagai bentuk mensyukuri teman, suka bilang, "pengen minjem otak" ke dia pas lagi butuh brainstorm wkwk.
Jadi jangan gampang kesenggol bacok. Namanya juga sparing. Titik-titik sensitif mah mungkin aja kena, baik disengaja ataupun tidak. Yang terpenting adalah harus saling membangun trust bahwa teman sparing kita itu kapabel dan nggak punya motif apapun ke kita selain sama-sama pengen bertumbuh dan pengen selamat. Jadi sekalipun ada konflik, penyelesaiannya juga cepat beres tanpa residu prasangka atau residu feeling too much.
Soalnya dalam hal bersparing, justru butuh orang yang nggak too much di mata kita, dan kitanya nggak too much di mata dia. Harus jadi diri sendiri seapa adanya kita (otentik). Supaya bisa ke-address nih titik-titik mana aja yang harus diimprove.
Apa sih yang teman sparing ini sebenarnya saling lakukan?
Kata Cania, sebenernya sesuatu yang so fvcking obvious sih: FEEDBACK. Tapi ternyata, gak semua orang bisa spot celah improvement dengan tepat, sehingga feedback-nya jadi sia-sia (gak relevan dengan potensi partnernya yang lagi digarap).
Sejak lima tahun lalu, aku kayak menjalani heavy training bersama teman sparingku ini untuk all-in personal development. Intinya optimalize semua potensi yang udah sama-sama kita punya, baik yang belum tergarap sama sekali atau sudah tergarap setengah atau seperempat jalan. Identifikasi bareng-bareng, bentuk mentah atau bentuk paling kekanakan dari satu bakat itu apa. Bentuk paling sehatnya bakal kayak gimana, itu yang dijadiin goals.
Nah, aku banyak banget dibenerin bahkan di bagian fundamental; kayak logika, cognitive empathy, stabilitas dalam merespon (me-non-otomatisasi tombol senggol bacokku), memisahkan kata dari emosiku (pemilihan diksinya bebas nilai), belajar unlearn sesuatu, dsb.
Jadi level kami udah bukan lagi kedekatan emosional. Kayaknya kalau itunya kelebihan, nggak terlalu berguna juga ya ketika mau bertumbuh di mental dan intelektual. Justru secara emosional mah harusnya emang jangan terlalu deket, sebab nanti sensitivitasnya malah tinggi pas sparing, jadi jatuhnya malah sungkan dan tanggung. Maka ada jarak-jarak emosional yang perlu disetting supaya kedekatan mental dan intelektual juga bisa dicapai.
Ini mungkin rada tabu dan pick me ya. Kebanyakan pertemanan di kalangan ukhti tuh masih di level emosional dan kaya akan word of affirmation (fake appreciation, pansos, rentan prasangka, senang dipuji dan menikmati egonya dikasih makan pujian). Nah level ini akan mudah lepas kalau stage emosi masing-masingnya berjalan ke arah yang berbeda/tumbuh dengan kecepatan yang berbeda. Ganti vibes dikit, langsung turn off dan ganti temen :v
Emotional excitement yang berlebihan tanpa diiringi pertumbuhan intelektual juga bakal rentan terkungkung di subjective reality-nya sendiri. Ngerasa deket tapi ya menurut pov dia aja sendiri wkwk kasian.
Kenapa aku coba ngangkat kasus itu, selain pengalaman pribadi ya juga karena ada concern pribadi bahwa menurutku para ukhti juga perlu bertumbuh secara framework, secara mental, dan secara intelektual. Kenapa perlu? Karena hasad tuh bisa diatasi dengan pertumbuhan-pertumbuhan itu.
Kupikir bersyukur soal seseorang tuh nggak melulu tentang berterima kasih ke Allah dan larut menghayati keterharuan emosional. Aku lebih suka mengartikannya memberdayakan diri melalui teman dan sebaliknya, memberdayakan teman melalui diri. Inilah yang dimaksud pertemanan yang tulus. Ga cuma nyentuh emosi, tapi silaturahmi akal juga, adu kuat-kuatan mental tanpa ngotorin emosional juga.
Kita Bukan Anantara
Seperti menanam benih, ada alasan mengapa kita diberi ruang yang cukup. Tidak berimpitan, agar ada tempat untuk kita berkembang; berperan di hadapan dunia, bermakna di hadapan Tuhan. Dan tidak berjauhan, agar ada sempat untuk kita berbincang; bermakna bagi satu sama lain. Dekat tak sikut-sikutan, jauh tetap kedengaran.
Semoga desak tak menghambat gerak. Semoga jarak tak membuat kita saling berteriak.
Akhir kata, semoga setiap orang dapat menemukan tempat di mana dia diterima apa adanya lalu kemudian bisa bertumbuh jadi versi dirinya yang paling otentik. Bagi yang udah punya, semoga dimampukan untuk memberdayakannya (khususnya untuk diri sendiri sih inimah).
Bagi yang udah nikah, mungkin orang itu suami/istrinya yach wkwk. Tapi sebenarnya lebih seru kalau punya temen sparing kayak gini dari sebelum nikah. Karena sehat mental, emosional, dan intelektual (nggak aadatan) tuh emang harus diusahakan dari sebelum nikah. Jadi pas nikah tuh udah clear peer-peer dalam dirinya. Udah dalam versi terbaik dirinya. Udah jadi manusia yang enakeun.
— Giza, pengen jadi manusia yang ngenaheun agar batur tidak sangeunahna
Selesai dengan Diri Sendiri (I)
Seorang teman pernah bertanya padaku, "menurutmu seperti apa selesai dengan diri sendiri?"
Kujawab seperti ini untuk jawaban sementara:
Ibaratnya gini, kita memasak dan mematangkan diri kita sendiri, maka pemetaannya:
Tau masak tuh untuk apa dan untuk siapa? (the root "why")
Tau bentuk "adonan" mentahan diri kita dan bahan dasarnya apa aja (we have our syakilah, right?)
Punya resources yang memadai dan punya kemampuan masak/mematangkan (learning capacity dengan ∆ improvement tertentu)
Punya resep dengan takaran jumlah, task, dan waktu tertentu (keterangan tentang alat, bahan, dan cara memasak sesuatu)
Tau do and don't saat memasak (nentuin keselarasan logika dan action)
Tau mau masak apa/bisa masak apa aja dengan bahan mentah yang dimiliki (connecting mentahan sama produk) serta masakan terbaik yang bisa dibuat (best value, core concern)
Tau rasa terbaik diri kita (unik, khusus, yang bukan karena selera orang lain)
Tau tempat dan cara masaknya di mana dan gimana
Tau siapa yang berhak mencicipi kita yang sudah matang
Ga sekedar tau lagi, semuanya secara kontinu dilakukan
Siap berdamai/selesai dengan resep yang tadinya kita ulik/kita pengenin tapi turns out ga sesuai keinginan Yang Request (Allah). Makanya validasi langit-bumi benar-benar dibutuhin di sini
Minta tolong didamaikan ke Allah perihal "selera pribadi kita" yang sebenarnya itu tuh ngerusak jati diri kita atau ngehambat diri jadi versi terbaik
Sudah tidak punya kepentingan atau keterikatan lain terhadap sesuatu yang kontraproduktif atau nggak relevan dengan purpose awal (al-Wala wal Bara)
Makanya jadi powerful banget kalo kita punya kesadaran kaya gini. Berkarakter gitu, tau jati diri mau berkiprah di bidang apa dan terus mempertajam bakat/kepribadian biar semakin bold di dalam kerangka hidup berdin. Contohnya para sahabat nabi generasi awal yang pada berkarakter semua. Pebisnis, sekretaris, panglima, duta, dll. Rasanya megah ketika nantinya dipersembahkan pada Allah.
Kalo kata Cania mah kematangan tuh ketika kita udah bisa empati kognitif ke diri sendiri alias self-awareness (baca peta realita dengan akurat, butuh apa, mau ke mana, jalannya harus lewat mana, apa yang nggak relevan dan bisa cut it off dari perjalanan, siap untuk terus ngelanjutin perjalanan dengan sambil nambah resource + ngelola itu secara kontinu)
Terus nggak ada unfinished business yang bikin kita ter-pause dari agenda "memasak". Entah trauma, orang di masa lalu, dendam lama, salah masak karena salah tempat/salah resep, ngerasa insecure belum tau/belum punya bahan mentah, ngerasa gabisa masak, ngerasa gatau mau masak apa, dll.
Jangan sampai patah logika. Ibaratnya nih udah tau do and don't tapi nggak ditaati. Jadi belum sampai menuju kematangan, eh malah energi kita fokus ngerjain yang don't-nya. Jatuhnya nggak efektif dan efisien dalam mengalokasikan bahan mentah (sumber daya), gas (energi buat matengin), serta waktu.
Lalu aku nggak puas dengan jawabanku sendiri, sehingga mendorongku mempelajari tentang "framework" atau "belief system" atau "kerangka referensi" apapun itu istilahnya.
Dalam konteks selesai dengan diri sendiri, maka di tulisan selanjutnya Selesai dengan Diri Sendiri (II) akan kubahas konsep framework.
— Giza, mengabadikan pembahasan dengan teman baik sebelum 2024 berakhir
Sense of Urgency and Severity (1)
Kadang dibutuhkan kejujuran brutal untuk ngerti seberapa fatal sesuatu yang telah diperbuat dan seberapa penting hal yang telah disepelekan.
Barangkali ini memang bukan tentang kamu yang "membesar-besarkan masalah" tapi dia yang "menyepelekan hal yang kamu anggap penting".
Karena yang dia sebut "cuma" itu sebenarnya fatal bagi kamu.
Kupikir selain masalah komunikasi dan kepercayaan, isu sense of urgency and severity ini hampir selalu jadi masalah klasik di setiap hubungan, entah keluarga, pertemanan, pekerjaan, akademik, bahkan pernikahan.
Bahkan jika komunikasi telah dilakukan se-clear mungkin, kalau sense of urgency and severity-nya nggak 'sekufu', ya nggak akan ketemu di tengah. Trennya saat ini, mungkin perempuan terlalu banyak menganggap penting sesuatu, sementara laki-laki terlalu banyak menganggap biasa aja sesuatu. Nggak semua, tapi mostly demikian.
Nah, siapa juga (perempuan) yang tahan disepelekan lama-lama? Nah, siapa juga (laki-laki) yang tahan tindakan biasa ajanya dianggap parah?
Belakangan ini juga aku baru ngerti, bahwa di antara alasan utama seseorang marah adalah karena untuk menunjukkan seberapa fatal tindakan seseorang dan seberapa sering dia menyepelekan hal yang penting. Nah, jadi kebayang kan kenapa perempuan itu cerewet? Karena lebih banyak hal yang dianggap penting. Cek aja di rumah masing-masing, ibu mana yang nggak cerewet. Bapak-bapak mah biasanya santuy aja wkwk.
Tapi hati-hati, kadang ketidaksekufuan sense of urgency and severity ini juga yang bikin orang-orang hilang respect satu sama lain.
Karena baik yang menganggap fatal, menganggap penting, maupun menganggap biasa aja, mereka sudah punya "piece of belief system" yang nempel sejak lama. Belief system itu sendiri kan dimulai dari berpikir, berasumsi, dan menganggap, jadi argumen di kepalanya sudah dibangun sehingga melahirkan tindakan yang berulang menjadi kebiasaan.
Berpikir → Tindakan → Kebiasaan → Karakter (syakilah) → Kenyataan, jalan hidup, path (sabilan) → Takdir
Orang tuh bisa aja tau teori, tapi untuk menginternalisasi jadi satu kebiasaan tuh susahnya ampun-ampunan dan menguji tekad wkwk. Makanya, pernah denger kan kutipan: "jangan berharap kamu bisa mengubah orang dengan menikah"? Menikah untuk mengubah karakter tuh kayaknya terdengar sok-sokan juga deh, wkwk.
Sepede itukah bisa ngubah orang? Bisa sabar nggak kalau ∆ improvementnya ga signifikan setelah bertahun-tahun? Punya sumber daya, kapasitas, dan waktu yang cukup ga buat ngubahnya? Bisa cukup tough nggak untuk nggak ikut keubah/kebawa selama proses mengubah orang?
Maka jika nanti kita menikah, perhatikan keselarasan value antara kita dan calon pasangan kita mengenai apa yang penting dan apa yang fatal. Bahkan yang sering terjadi, sesimpel "naro handuk sembarangan" juga bisa jadi masalah kalau sense of urgency dan severity-nya nggak setara. Seumur hidup terlalu lama untuk bersama orang yang kepentingannya tidak sama dengan kita.
Pernah baca juga di X, ada cowok yang menjadikan "standar kerapiannya" sama atau tidak sebagai kriteria. Karena akan repot kalau yang satu nggak masalahin banget rumah yang berantakan, yang satunya gila beberes. Tapi itu mah preferensi masing-masing, disesuaikan aja dengan kebutuhan diri.
Dan untuk saat ini, di lingkup orang-orang yang kita syukuri keberadaannya, sadari seberapa sering kita mengabaikan hal yang penting serta melakukan hal yang sebenarnya fatal. Coba mulai anggap penting juga hal yang memang penting secara umum (dalam hal ini, self awareness juga perlu ditingkatkan) misalnya: shalat, kesehatan, manajemen waktu, integritas, amanah, batasan, dsb.
Dan coba deh mulai ngeh juga, hal-hal fatal yang masih dilakukan tanpa sadar, misalnya: menunda sholat, menyepelekan amanah, datang terlambat, bermudah-mudahan dengan non-mahram, dsb.
Standar penting dan fatal itu sebenarnya dari mana? Rujukan utama jelas Al-Qur'an, sunnah, dan hadis. Sisanya ada di etika, norma, moral, lingkungan sosial, dsb. Panjang kalo dibahas lebih lanjut tapi pakem/kata kuncinya adalah: relevansi dengan tujuan. Dan tujuan hidup (visi-misi) setiap orang beda-beda.
Fatal kalau kita melakukan hal yang kontraproduktif dengan tujuan. Penting untuk mencari apa aja hal yang perlu dibiasakan karena memang relevan dengan tujuan. Jadi ada kemasuk-akalan dari "memilih orang yang tujuan hidup/visi-misinya sama" yaitu untuk meminimalisir ketidaksekufuan sense of urgency and severity.
Dan bagi seorang muslim, kebutuhan selamat harus selalu ada di puncak prioritas dari semua concern dalam hidupnya. Cek aja doa para nabi.
Maka perhatikan tindakan kita sebagai makhluk sosial. Pinter-pinter lagi juga iqra terhadap diri sendiri dan lingkungan di luar diri. Harapannya buat diri sendiri adalah agar dimampukan oleh Allah untuk menginternalisasi hal-hal yang penting dan aware lebih dini untuk tidak melakukan hal-hal fatal yang akan mengurangi harga diri di hadapan Allah.
Kalau kata Mas Wisnu Suryaning Adji:
Ada kecerdasan intrapersonal—bentuk kecerdasan untuk mengamati, memahami, dan menyimpulkan diri sendiri berikut pemikiran-pemikirannya dengan objektif seperti menilai objek-objek lain di luar dirinya. Alias: kemampuan ngaca. Ternyata, nggak semua orang punya (mencukupi). Jangan-jangan langka.
Semoga akal kita diberikan kemampuan untuk mempertimbangkan sesuatu dan qalbu-nya selalu dipandu oleh Allah dalam setiap decision making. Selamat menginternalisasi hal-hal yang relevan dengan tujuan hidup!
— Giza, ini masih bagian 1 tapi justru bagian 2 udah ditulis duluan dan mengendap di draft
"Your Istighfar Need Istighfar."
Begitulah yang sahabat Ali bin Abi Thalib katakan kepada seseorang yang beristighfar tanpa disertai kesadaran. "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah," kalimat itu keluar dengan sangat mudahnya.
Ini berkaitan dengan ekspektasi, soalnya sebagian orang, jauh di dalam pikirannya, sudah menginternalisasi asumsi bahwa:
"Aku sudah banyak melakukan hal buruk. Aku tau Allah nggak mau aku melakukan hal ini, tapi aku tetap melakukannya dan aku ulangi lagi berkali-kali. Doaku tidak berarti. Apakah taubatku yang sekarang benar-benar dapat menghentikan semuanya secara total?"
Kamu tau nggak? Saat kita berasumsi tentang seseorang, akan muncul kecanggungan atau suasana nggak betah saat berlama-lama berhadapan dengan orang tersebut.
Oalah, makes sense. Ternyata pengen cepet-cepet beres saat shalat, dan beristighfar tanpa melibatkan kesadaran yang lebih dalam, adalah indikator bahwa kita sedang canggung kepada Allah sebab berasumsi tentang Dia yang tidak sesuai dengan sifat-Nya.
Bahkan ya, di momen canggung ke Allah kaya gini, aku sampai di titik seneng/berharap didoain orang lain karena nggak pede dengan doaku sendiri. Karena kupikir orang lain punya hubungan yang jauh lebih baik dengan Allah daripada aku. Pikirku:
"Apakah doa yang datang dari hamba yang kotor ini punya kesempatan untuk di-notice Allah? Masih banyak doa lain dari hamba yang lebih saleh yang perlu diprioritaskan deh kayanya? Aku kurang pantes untuk dapat perhatian itu."
*sebelum lanjut, disclaimer bahwa tulisan ini mungkin tidak bisa diselesaikan dengan 100% consciousness terutama bagi yang memiliki kemalasan emosional untuk berhadapan dengan dirinya sendiri
Tapi surat Nuh (71) memberiku keyakinan yang ingin terus menerus aku re-learn sepanjang hidupku. Omong-omong surat ini punya hubungan paling personal dalam hidupku, surat yang pernah paling jauh mencapai kedalaman hatiku dan punya tempat tersendiri secara emosional di hatiku, seperti kisah Nabi Yunus di urutan kedua.
Bayangkan, untuk ukuran kaum yang dikasih umur panjang dan kesempatan bertaubat lebih banyak, namun terus menerus melakukan kesombongan yang sulit digambarkan (wastakbarustikbaro), Allah saja beri keoptimisan. Apalagi untuk kita yang (mudah-mudahan) tidak sesombong kaum Nabi Nuh.
Bahkan istighfarmu perlu diistighfari.
Emang istighfar itu seharusnya gimana? Kata "istighfar" punya tiga arti:
Meminta ampunan (ask)
Menginginkan ampunan (want)
Mencari ampunan (try to, looking for)
Orang-orang yang punya kemalasan emosional hanya stuck di tahap satu. Kadang-kadang kita meminta ampunan, tapi dari sikap, perhatian, dan kesadaran, keliatan jelas kalau kita ga pengen-pengen amat.
Sama kaya anak kecil yang bertengkar lalu disuruh minta maaf. Ya udah, mereka lakukan sambil memalingkan wajah dan tidak menghadirkan perasaan bersalah. Tidak benar-benar menginginkan pemaafan itu sendiri.
Aku pernah menyuruh seseorang berhenti meminta maaf saking kesalnya karena dia cuma meminta maaf berulang kali tanpa realize seberapa fatal kesalahannya. Kata orang sunda mah haha-hehe dengan watados (wajah tanpa dosa).
Maka kita tidak seharusnya beristighfar, sampai kita sadar (notice-realize-aware) akan hal-hal buruk yang kita lakukan serta menyadari tingkat kefatalannya.
Konyolnya kita suka berpura-pura tidak terjadi apa-apa antara kita dengan Allah. Merasa tidak berutang apapun terhadap Dia yang memberi kesempatan hidup. Duh, paling tidak, milikilah rasa bersalah (feeling bad) dan cobalah ubah diri!
Kita harus menginginkan ampunan. Meminta itu perkara lisan, tapi menginginkan itu perkara hati. Dan istighfar menggabungkan kedua perkara ini. Kemudian, mencari ampunan artinya kita mencoba melakukan usaha agar diampuni. Lidahnya terlibat, hatinya terlibat, serta orangnya, waktunya, tindakannya juga terlibat.
Selain mengingat seberapa fatal hal buruk yang kita lakukan, bagian dari mencari ampunan Allah juga adalah membenahi hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan dengan lebih baik serta memperhatikan hal-hal yang selama ini kita sepelekan. Untuk pembahasan fatal dan sepele, bisa merujuk ke tulisanku tentang Sense of Urgency and Severity.
"Innahuu kaana Ghaffaraan."
Dialah yang sudah, masih, akan, terus menerus, mengampuni. Dengan kata lain, bahkan jika kamu tidak meminta ampunan, sudah banyak hal yang Dia ampuni atas perilakumu. Sudah banyak hal-hal yang sebenarnya kamu layak dihukum secara langsung, tapi Allah memberikanmu kesempatan.
Di lain surat, Allah mengatakan, "jika Allah menghukum manusia karena dosa yang diperbuatnya, maka tidak ada satupun manusia yang tersisa."
Artinya, bahkan ketika kita tidak meminta ampunan atas banyak hal, sesungguhnya Allah sudah mengampuni kita. Tapi terlepas itu, ampunan akan berhenti saat kita wafat dan kita akan dihakimi di akhirat jika tidak bertaubat.
Jika Allah sudah selalu mengampuni, lantas untuk apa kita meminta ampun?
Meminta, menginginkan, dan mencari ampunan bukan jaminan akan memperoleh ampunan. Maka fungsi beristighfar di hadapan Allah adalah untuk memposisikan diri kita serendah-rendahnya sebagai makhluk dan hamba yang tidak sempurna, lemah, dan rentan berbuat salah. Untuk melatih ego agar jadi biasa patuh pada perintah Allah. Serta untuk menunjukkan bahwa Allah—tidak diragukan lagi— selalu jadi tempat kembali seburuk apapun kita keadaannya.
Know ur place, human! Jangan karena Allah Maha Pengampun, kita jadi seenaknya berbuat.
Semoga kita punya kesediaan dan energi untuk menyelami dan berhadapan dengan pekatnya lumpur dosa diri sendiri, serta Dia berikan kemampuan untuk "lizzakaati faailuun" alias "proaktif dalam membersihkan diri."
— Giza, re-learn makna istighfar sambil terus unlearn asumsi yang keliru tentang Allah (nangis dikit ga ngaruh)
Sumber rujukan:
Ust. Nouman Ali Khan
Tafsir Abul A'la al-Maududi
Tentang Ujian, Tabiatnya, Hingga Cognitive Reappraisal
@edgarhamas
Wahb bin Munabbih menasihati, "Tiada suatu pun kecuali ia tampak kecil lalu membesar, kecuali musibah. Ia tampak besar di awal, lalu mengecil."
Kalau kita belum merasakannya, mungkin kutipan ini ngga relate. Tapi, ini relevan bagi siapapun yang hidupnya terbiasa hadapi problema.
Bagi siapapun kita yang pernah merasakan musibah, kita akan tahu bahwa penerimaan kita, membuat kita bisa lebih ringan memikul bebannya.
Inilah salah satu dinamika paling universal dalam pengalaman manusia: musibah dan bagaimana kita menghadapinya dari waktu ke waktu.
Biasanya dalam hidup: sesuatu yang kecil bisa membesar, seperti nasihat Wahb.
Tapi musibah berjalan terbalik: besar di awal, lalu mengecil. Ketika musibah pertama kali datang —perginya orang tercinta, kegagalan besar, kehilangan, penolakan, pengkhianatan— kita akan meledak.
Kita merasa tidak akan sanggup melewati hari esok. Tapi waktu berlalu. Rasa sakitnya menurun.
Kita mulai menata ulang makna hidup. Luka perlahan sembuh. Yang dulu menyesakkan dada, sekarang hanya jadi kenangan, bahkan kadang jadi pelajaran. Kuncinya ada pada: Ridha. Penerimaan.
Seorang teman yang bergelut di bidang psikologi mengatakan, bahwa ini bisa disebut bagian dari 'cognitive reappraisal.'
Saat kita mulai memaknai ulang peristiwa itu. Misalnya: "Mungkin ini cara Allah mendidikku." "Allah tunda sesuatu untuk diganti yang lebih baik. insyaallah."
Bahkan dahulu, Sufyan Ats Tsauri pernah menasihati,
لم يفقه عندنا من لم يعد البلاء نعمة والرخاء مصيبة
"Tidaklah seseorang dianggap faqih pada agamanya, jika ia belum menganggap musibah sebagai nikmat dan kelapangan sebagai musibah." (Al Jarh wa At Ta'dil 1/93)
"What doesn’t kill you, makes you stronger." Masalah-musibah yang kita hadapi dengan kuat, sabar dan tawakkal, itulah yang Allah jadikan sebagai penguat kita.
Sama seperti kata Shalahuddin, "ketika aku minta kekuatan, Allah berikan aku masalah untuk aku selesaikan."
2 Juli 2025

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Being Muslim Is Everything. It builds your character, soul, mindset, morals, manners, values, visions and priorities. You will never be lost if you put Allah and your faith first. When you start to grow closer to Allah and Islam, you start to grow out of old habits that made you attached to this dunya. You start to have a different mindset, you remember this world is nothing but a test from Allah. Time becomes precious and haram (forbidden) things no longer interest you.
Ibn Taymiyyah aula said:
"There is no happiness for the hearts neither complete delight [for them] except in the love of Allah and drawing close to Him with that which He loves. And love for Him is not possible except by turning away from every beloved other than Him and this is the true reality of La illaha illAllah. -[Majmoo' Al-Fatawa, (28/32)