16-year-old Syahidah's POV
Saat usiaku 16 tahun dan menginjak kelas 1 SMA, ada mata pelajaran Bimbingan Konseling yang mewajibkan seluruh siswa menulis sebuah autobiografi singkat. Lima tahun kemudian, aku menemukan tulisan ini kembali.
Namaku Syahidah Asma Amani Arifianto, yang dalam bahasa Arab, Syahidah Asma Amani sendiri memiliki arti syahid di jalan Allah cita-cita tertinggiku, sedangkan Arifianto adalah nama belakang dari nama Papaku, Fadjar Arifianto.
Aku tidak terlalu mengerti mengapa Mamaku memberikan nama itu. Apa yang terpikir di otaknya ketika melahirkanku dan memilih mendoakanku untuk mati syahid? Namun, ketika aku membaca sebuah kisah sahabat nabi yang bernama Thalhah bin Ubaidillah, aku pun mengerti. Ada sebuah gelar yang Rasulullah berikan kepadanya, syahid yang berjalan di atas bumi. Thalhah masih hidup di bumi, tetapi ia mewakafkan hidupnya semata-mata untuk Allah SWT sehingga ia bagaikan mati syahid.
Aku adalah seorang siswi MAN Insan Cendekia Serpong yang biasa saja. Tidak ada yang spesial, tidak pintar-pintar amat, tidak ikut KBS apapun, ikut kepanitiaan seadanya, masuk ekskul juga karena ikut-ikutan teman. Menjadi anggota kelas X MIPA 5 atau Mules yang orangnya heboh dan nggak tahu malu. Mungkin karena sikapku yang tidak peduli dan tidak suka dikekang, aku tentu terlihat sangat jauh dari standar anak baik. Ya, apa peduli kata orang, ‘kan? Kita harus mencari kebahagiaan kita sendiri, dan menjadi penjilat tentu bukanlah sumber kebahagiaanku.
Ada sebuah cerita unik tentang kelahiranku. Aku lahir di sebuah rumah sakit di Medan, tepatnya di RS Siti Hajar, pada tanggal 6 April 2002, pukul 03.00 pagi. Mamaku pernah menceritakan, dahulu ketika ia sedang dalam proses melahirkanku, ada seorang anak kecil yang juga sedang berjuang dengan penyakitnya di bilik sebelah. Anak itu terus-terusan menangis.
Ketika aku dilahirkan, Mama sempat panik luar biasa. Bagaimana tidak, aku tidak menangis ketika aku lahir ke dunia. Perawat terus menerus mencoba untuk membuatku menangis. Meskipun aku dicubit, ditepuk-tepuk, dan lainnya, tetap saja aku tidak menangis. Namun, ketika akhirnya aku disentuhkan dengan es batu, aku langsung menangis. Semua yang di ruangan itu lega luar biasa. Namun tanpa disadari, anak kecil di ruangan sebelah malah berhenti menangis, dia mengembuskan napas terakhirnya tepat ketika aku mengeluarkan isak tangis pertamaku di dunia.
Mama bilang, seperti bertukar nyawa.
Aku tidak pernah terlalu memikirkan hal semacam itu, tetapi yang bisa kuambil sebagai pelajaran adalah tentang berharganya sebuah nyawa. Allah memberikan kehidupan kepada kita di dunia ini untuk beribadah, dan nyawalah bekal pertama kita untuk meraih surga dan rida Allah.
Aku selalu takut menjadi orang dewasa. Kini aku berada di usia enam belas tahun, usia di mana aku sudah harus mulai untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa. Aku pernah ingat sebuah kutipan,
“Burung sudah sepatutnya keluar dari telur. Telur itu adalah dunia. Barang siapa yang akan terlahir harus lebih dulu menghancurkan sebuah dunia.”—Hermann Hesse, ‘Demian’.
Sebagian mungkin menafsirkannya sebagai bayi yang lahir ke dunia. Atau seseorang yang keluar dari zona nyamanya. Namun menurutku, itu tentang seorang anak kecil yang menghancurkan ketakutan masa kecilnya dengan menjadi dewasa.
Aku lahir di sebuah keluarga yang biasa saja dalam segi ekonomi, ketika itu. Papaku adalah seorang PNS di kantor pajak dan Mamaku adalah ibu rumah tangga. Aku anak kedua, memiliki seorang Abang bernama Muhammad Usamah Arifianto yang biasa kupanggil Bang Usamah. Adikku ada dua, yang pertama perempuan bernama Afifatun Nisa Arifianto yang kupanggil Nisa dan yang kedua laki-laki bernama Muhammad Yusuf Faqih Arifianto yang kupanggil Faqih.
Aku tidak terlalu dekat dan mengenal Mamaku. Yang kuketahui tentangnya adalah bahwa beliau melepas semua karier pekerjaannya ketika melahirkan Bang Usamah. Mama adalah PNS dosen di sebuah universitas di Medan. Melihat semua pengorbanannya demi memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, ketika itu aku bertekad jika suatu saat aku menikah, aku akan mengabdikan diriku untuk mengurusi keluarga.
Keluarga kami sempat berpindah-pindah tempat tinggal. Namun yang baru kusadari sekarang, kami hampir tidak pernah berkumpul dalam satu atap. Kalau tidak Papa yang harus menetap di luar kota, atau adik-adikku yang harus dioper-oper untuk diurus Mbah di Pemalang karena Mama sakit sehingga tidak bisa mengurus dua anak kecil sekaligus.
Tanggal 9 Januari 2013, Mama meninggal. Hampir enam tahun dia berjuang dengan penyakitnya. Yang awalnya kanker payudara, kemudian sembuh dan dilanjut dengan kanker otak hingga beberapa bulan sebelum ia meninggal kanker paru-paru ikut menjangkitnya. Aku sangat mengagumi Mama, meskipun aku tidak terlalu dekat dengannya karena ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, tetapi aku tahu Mama adalah perempuan yang sangat tangguh.
Sejak Mama sakit, rumah keduaku adalah rumah sakit. Sepulang sekolah aku selalu pergi ke rumah sakit bersama Bang Usamah untuk menjenguk Mama. Kadang-kadang menginap hingga subuh-subuh harus bergegas pulang untuk berangkat sekolah, atau kadang-kadang Papa menyuruh kami pulang. Sejak kecil, aku tidak pernah menyukai rumah sakit.
Beberapa bulan setelah Mama meninggal, Papa sempat menikah lagi dengan koleganya. Tidak berawal dengan baik dan wanita itu sempat tidak diterima oleh keluarga karena Papa menikah diam-diam. Bulan September 2013, Papa stroke. Dan sebelum dipindahkan ke rumah sakit yang lebih bagus, dia berbisik lirih, “Maaf, ya, Mbak. Papa sudah menikah lagi.” Duniaku hancur ketika itu. Aku sangat kecewa, Papa tidak memberi tahuku kapan ia menikah, di mana, dengan siapa, apalagi mengundang anak-anaknya! Namun, semuanya juga sudah terjadi, mau bagaimana lagi.
Adaptasi dengan seorang Ibu baru yang notabenenya adalah janda kepala tiga dan membawa tiga anaknya adalah hal paling susah yang pernah aku lakukan. Putri sulungnya seusia dengan Bang Usamah, putra pertamanya seusia denganku, sedangkan putra bungsunya seusia dengan Faqih. Masa-masa awal pernikahan, Papa sibuk memberi dukungan kepada istri barunya yang sedang mencalonkan diri sebagai calon legislatif ketika itu. Baik dukungan waktu, tenaga, dan dana. Aku jarang sekali melihat Papa ada di rumah.
Maka aku, mengobati kepedihanku sendirian setelah kepergian Mama. Papa sibuk dengan istri barunya, Abangku sekolah di Bandung dan sejak kecil kami memang tidak dekat, sedangkan kedua adikku yang tidak mengerti apa-apa malah dengan mudahnya menerima kehadiran perempuan itu di keluarga kami.
Aku melanjutkan studiku di SMP Islam Nurul Fikri Boarding School Lembang, Bandung. Aku langsung bisa beradaptasi. Aku langsung berbaur dengan banyak orang, mengikuti ritme sekolah, dan berprestasi.
Di penghujung tahun 2015, Papa menjemputku ketika hari kepulangan dan sekaligus untuk mengantarkanku ke Kuningan, Cirebon, ikut karantina tahfizh. Ketika itu Papa juga terlambat memberi tahu kepadaku. “Papa sudah bercerai dengan Tante Ratna, Mbak.” Aku hanya terdiam. Mereka sudah bercerai sejak bulan Agustus akhir dan Papa baru memberi tahu kepadaku pada bulan Desember, ketika aku sudah mulai menerima wanita itu sebagai ibu tiriku?
Aku tidak pernah mengerti isi pikiran orang dewasa. Ribet. Aku berharap aku tidak pernah menjadi dewasa.
Di tahun ketigaku di Nurul Fikri, aku sudah bertekad ingin melanjutkan sekolah di SMAN 3 Bandung, sebuah sekolah favorit di Bandung. Aku tidak ingin kembali ke Medan. Aku sudah merencanakan akan indekos di Bandung.
Namun takdir berkata lain, Papa menyuruhku bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong. Ia hanya menyuruhku untuk mengikuti tes, sebagai cadangan jika aku tidak lolos ke SMAN 3 Bandung. Namun, ketika hasil NEM keluar, ternyata Papaku sudah membayar biaya masuk MAN Insan Cendekia Serpong, semuanya. Terpaksa, karena aku tidak enak akhirnya aku pun mencoba mengikhlaskan diri tidak bisa bersekolah di sekolah impianku.
Nyatanya, hingga hampir selesai semester dua kelas sepuluh, aku tetap tidak bisa mengikhlaskan diri berada di sekolah ini.
Sejak MATSAMA, aku juga sudah tidak excited. Selain selama liburan aku sakit-sakitan dan sampai di IC juga masih sakit, aku sudah tahu sejak awal bahwa ada murid yang menjadi mata-mata. Masa’ sekolah seprofesional IC yang awalnya dikatakan seangkatan 140, malah tiba-tiba 144. Selain itu, aku sudah dua kali menjadi panitia MOS sejak SMP dan skenario yang kubuat ketika kelas 9 dulu sangat mirip dengan skenario MATSAMA di IC. Namun, karena aku tidak tertarik mencari masalah di awal, aku masih berlaku baik. Aku bahkan tidak pernah mendapatkan poin minus dan plus. Satu-satunya siswa yang nametag-nya bersih dari poin. Aku tidak pernah terlambat dan melanggar apapun, padahal aku tidak niat menjalankan MATSAMA ini.
Selama matrikulasi pun aku hanya duduk di kelas, paling berisik sendiri dan SKSD ke yang lain sedangkan siswa-siswa yang lain sibuk membaca modul ataupun tidur. Aku tidak berniat juga belajar, bahkan selama beberapa bulan pertama aku tidak pernah menginjakkan kaki ke perpustakaan. Semua orang mempersiapkan diri untuk masuk ke jurusan IPA, sedangkan menurutku apa yang sudah ditakdirkan Allah padaku, ya terjadilah. Mau IPA ataupun IPS bukan masalah.
Aku masih terbayang-bayang masa-masa indah yang akan kuhabiskan di sekolah negeri. Sebagai orang yang pernah menghabiskan masa-masa SMP di pesantren, tentu bersekolah kembali di sekolah berasrama adalah hal yang membosankan dan aku merasa aku butuh hal yang baru daripada dikekang dan diatur.
Sejak TK hingga SD aku terbiasa berpindah-pindah sekolah. Aku sempat menghabiskan satu semester TK A-ku di Medan, di RA Al Bunayya. Kemudian, Papa pindah kerja ke Semarang dan satu semester setelahnya hingga lulus TK B aku habiskan di Semarang, di TKIT Bina Amal. Kemudian, aku melanjutkan satu semester kelas 1 di SDIT Bina Amal Semarang. Namun, karena Papaku harus pindah kerja kembali ke Medan, ditarik oleh Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Utara, aku sempat menghabiskan semester dua kelas 1 di SDN 01 Belik, sebuah desa di pedalaman Kabupaten Pemalang.
Setelah Papa benar-benar pindah kerja ke Medan, kelas 2 hingga 6 aku tempuh di SDIT Al Hijrah Medan. Ketika aku melanjutkan pendidikan di Nurul Fikri pun, bukan aku yang merencanakannya. Sejak kematian Mama, aku sudah bertekad untuk selalu mengiyakan permintaan Papa, apa pun. Hingga ketika ia menikah lagi, lalu menyuruhku bersekolah di Bandung, kemudian bersekolah di Serpong, aku selalu menurut.
Dan sejak aku bersekolah di Bandung, secara tidak tertulis Papa sudah memercayakan semua urusanku pada diriku sendiri. Aku mulai berlibur ke rumah teman-temanku tanpa Papa harus tahu ke mana, bersama siapa, dan tetek bengek yang harusnya orang tua ketahui. Ketika teman-temanku yang lain dimarahi orang tuanya karena pulang malam, Papaku malah hanya bergumam iya ketika aku mengabarkannya bahwa hari ini aku berada di Bandung kemudian besoknya sudah di Jakarta. Wajar, sih, karena memang jarak antara Medan dan Bandung tidaklah dekat.
Aku pun mulai berani naik pesawat sendiri bahkan hingga ke luar negeri, naik kereta api, KRL, MRT, kapal laut, angkot, taksi, travel, dan lain-lain yang semuanya kulakukan sendiri ketika usiaku masih 13 tahun. Bahkan sekarang sistem ojek online adalah kebutuhan primer bagiku. ATM dan paspor adalah hal yang wajib kupegang sendiri.
Kata Papa, “Zaman sekarang semua orang seharusnya memegang paspor sendiri, jangan dititipkan. Apalagi kita jauh, kalau ada apa-apa yang mengharuskan kamu ke luar negeri, sedangkan paspor kamu ada di Papa, kan ribet jadinya.” Aku mengenal efisiensi dan kemandirian dari Papa.
Dan ketika aku bersekolah di Insan Cendekia, aku pun mengenal sosok Tante Mira. Beliau adalah teman SMA Papa dulu, seorang dokter spesialis anestesi yang mengambil kursus kecantikan dan sekarang berkerja sebagai dokter kecantikan. Suaminya adalah arsitektur. Rumah mereka di Jakarta dan semenjak aku bersekolah di Serpong, setiap liburan pasti aku sempatkan untuk menginap barang sehari dua hari di sana. Beliau pun mengajariku tentang pentingnya mengetahui asuransi pendidikan, aset kekayaan keluarga, dan sebagainya. Bahkan ia menyuruhku untuk menyatukan keluargaku yang terpencar-pencar.
Ketika aku sudah tidak tinggal di Medan lagi, kedua adikku pun diurus oleh Mbah di Belik hingga sekarang. Aku mungkin hanya bertemu mereka ketika liburan semester jika aku ke sana atau lebaran. Abangku akhirnya SMA di Medan, menemani Papaku. Kami hanya berkumpul ketika lebaran. Dan jelaslah jika orang-orang sering menganggapku anak tunggal atau bungsu karena aku memang jarang mengurusi adik-adikku. Kami bersaudara, tetapi mirisnya tidak dekat.
Begitulah kehidupan seorang Syahidah Asma Amani Arifianto. Dan sekarang aku mencoba untuk menjalani hari-hariku di Insan Cendekia bahagia, meskipun sama sekali tidak ikhlas. Aku hanya ingin cepat lulus dan meraih cita-citaku. Ketika SMP aku ingin berkuliah di FTMD ITB, namun sekarang ketika SMA aku jadi tertarik pada FTSL ITB dan FTI ITB. Ya aku sebenarnya tidak tahu aku mau jadi apa, tetapi yang penting ketika besar aku harus menjadi orang kaya, sukses, berguna bagi umat, dan bisa membalas semua jasa Papaku di hari tuanya nanti. Aamiin.
By the way, sesulit apapun hidup kalian, jangan pernah berputus asa. Semua orang pasti punya hidup yang menyedihkan, mereka hanya pintar berpura-pura seakan mereka baik-baik saja.