To those walking in the rain, they need someone to walk with them more than an umbrella.
Mask

tannertan36
wallacepolsom
KIROKAZE

JBB: An Artblog!

Love Begins

blake kathryn

titsay

Kaledo Art
TVSTRANGERTHINGS
RMH
trying on a metaphor
Jules of Nature
Stranger Things
Peter Solarz
ojovivo
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Show & Tell
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
dirt enthusiast

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from South Africa
seen from United Kingdom
seen from Slovenia
seen from Venezuela
seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@lindajuliawanti
To those walking in the rain, they need someone to walk with them more than an umbrella.
Mask

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Close observation of life is critical to good writing.
Ernest Hemingway
Bahkan belum sempat aku sentuh pun, Embun telah menyatu bersama tanah.
Bahkan milyaran maaf takkan mampu membayar dukamu, Januari.
Aku merindukanmu seperti biasa, luar biasa.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pramoedya Ananta Toer, Belenggu di Pulau Buru
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” - Anak Semua Bangsa.
Petikan dari karya sastarawan terbaik Indonesia ini lebih dari sekedar kata mutiara. Tulisannya memiliki kekuatan khusus karena ia hidup bersama sejarah itu, ia melakukan banyak pembangkangan hingga membuatnya banyak menikmati masa mudanya dalam tirai besi. Semua karyanya begitu abadi hingga kini. Bahkan, karya yang dulu dilarang beredar dalam negeri, kini telah dicetak ulang dan masuk dalam jajaran Top Ten di toko buku Indonesia. Andai saja hal itu terjadi ketika beliau masih dalam keadaan sehat bugar, penghargaan yang sangat terlambat.
Pramoedya Ananta Toer yang juga dikenal dengan Pram, lahir di Blora, Jawa Tengah, pada tanggal 6 Februari 1925, ketika Indonesia masih dalam jajahan Belanda. Ayah Pram merupakan seorang juru kampanye kemerdekaan karismatik dengan julukan "singa di mimbar", sekaligus seorang pendidik dan anggota dari kelompok pro-kemerdekaan, Budi Otomo. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya digambarkan ayahnya sebagai orang Jawa yang memiliki perasaan mistis tentang kata-kata. Nama Pramoedya dibangun dari suku kata dari slogan revolusioner, Yang Pertama di Medan, atau Pertama di Battlefield.
Pram termasuk dalam kalangan orang terdidik, meskipun tidak tergolong cukup pintar, pada masanya. Setidaknya ia telah menempuh sekolah rendah (sekolah dasar) Institut Boedi Oetomo di Blora dan Sekolah Teknik Radio Surabaya (Radio Volkschool Surabaya) di Surabaya selama 1,5 tahun. Ia lulus sekolah pada tahun 1941, tepat saat Perang Dunia II pecah dan beberapa waktu kemudian Jepang mendarat di Indonesia. Seperti kebanyakan orang Indonesia pada masa itu, Pram awalnya menyambut Jepang sebagai pembebas dari penjajahan kolonial Belanda, bahkan ia bekerja selama perang untuk Kantor Berita Jepang Domei sebagai juru ketik.
Pram pindah ke Jakarta untuk mengisi jurnal pro-kemerdekaan yang membuat ia dipenjarakan oleh pemerintah Belanda selama dua tahun (1947-1949). Dalam penjara, sipir memberi Pram salinan novel epik John Steinbeck Of Mice and Men, yang digunakannya sebagai cara untuk belajar bahasa Inggris. Pram juga mulai memerangi putus asa kehidupan penjara dengan menulis hingga menghasilkan novelnya yang pertama, Perburuan, yang membalut peristiwa sejarah dalam narasi yang menarik dengan karakter dan motivasi pribadi yang kompleks.
Ciri khas karya Pram adalah penuh dengan intrik dan pesan-pesan tersembunyi di dalamnya, seperti Keluarga Gerilya, yang taktik selama perang kemerdekaan Indonesia. Ia juga menulis cerita pendek yang dikumpulkan menjadi beberapa buku; salah satu dari ini, Cerita dari Blora yang merupakan kisahnya di kota kelahirannya. Novel Korupsi yang ditulis setelah Pram menghabiskan satu tahun di Belanda pada program pertukaran budaya, bertujuan untuk mempelajari korupsi di masyarakat Indonesia. Berbicara Pramoedya Ananta Toer, tak pernah lepas dari Pulau Buru, tempat di mana ia menghasilkan maha karya Tetralogi Buru. Setelah merasakan keluar masuk penjara dengan berbagai sebab, Pram kembali merasakan pengapnya jeruji besi pada 13 Oktober 1965 dengan tuduhan sebagai anggota Partai Komunis Indonesia yang pada masa itu sedang hangat-hangatnya diperbincangkan akibat peristiwa G30SPKI.
Di Pulau Buru, Pram merasakan pahitnya kehidupan. Pulau itu masih teramat liar, kondisi yang sangat panas di siang hari, dan dingin di malam hari, banyak hewan buas, penduduknya pun masih tergolong suku kanibal. Bersama lebih dari 800 orang, Pram menuju Buru menggunakan kapal ADRI XV dari penjara sebelumnya di Lapas Nusa Kambangan. Nyaris semua, termasuk Pram, tak pernah mengikuti proses pengadilan. Kekejaman Pulau Buru membuat salah satu telinga Pram nyaris tak berfungsi akibat ulah tentara yang memukul Pram menggunakan popor senapan.
Hari pertama di Pulau Buru, Pram bersama para tapol lainnya, dipaksa mencabuti rumput berduri dengan menggunakan tangan kosong selama enam hari tanpa henti untuk membuka jalan, hingga telapak tangannya berdarah-darah. Tak ada perawatan kesehatan di sana, pengawal pun sering kali berlaku keras terhadap para tahanan. Belum setahun di Buru, penyakit mulai menjangkiti para tapol. Kebanyakan dari mereka menderita hepatitis, cacingan, filaria dan malaria, serta TBC. Menyantap apa saja yang dijumpai, bukan pemandangan aneh di sana. Bahkan Pram pernah makan tikus dan ular hingga membuat kulitnya pecah-pecah dan mengeluarkan cacing kecil.
Selama berada dalam pembuangan Pulau Buru, Pram dilarang untuk menulis, hingga mendapatkan izin menulis pada tahun 1973. Sejak saat itu, dia mulai rajin menulis. Meskipun demikian setiap hari Pram hanya dapat menulis selama 15 menit dan membaca selama 5 menit, karena ia sudah letih bekerja di ladang. Kisahnya di Pulau Buru, Pram tuangkan dalam lembaran-lembaran kertas dan menghasilkan karya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Selain itu, ia pun berhasil menorehkan maha karya Tetralogi Buru yang terdiri dari empat novel, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca yang berhasil mendapat pujian internasional dan telah diterjemahkan dalam 20 bahasa. Dengan latar Indonesia pada awal abad kedua puluh, Pram berhasil menelusuri mekanisme represi kolonial melalui cerita seorang pribumi dan keluarga Belanda. Tokoh sentral, seorang bernama Minke yang berdasarkan pada kisah sebenarnya, seorang jurnalis bernama Tito Adi Surya yang berpengaruh dalam nasionalisme Indonesia.
Selama sepuluh tahun Pram dipenjara di Pulau Buru tanpa proses pengadilan. Meski dibebaskan, Pram tetap menjadi tahanan rumah. Beberapa karya yang telah dan sedang ia tulis dilenyapkan. Ketidakadilan mencekik hidup Pram, bahkan ia tidak menyaksikan pertumbuhan anak-anaknya. Hingga Pramoedya menghembus nafas terakhirnya pada 30 April 2006 karena radang paru-paru dan penyakit komplikasi jantung, ginjal dan diabetes yang dideritanya. Kini karya Pram dapat dinikmati secara bebas oleh masyarakat Indonesia. Meskipun ia telah berpulang, karyanya tetap abadi hingga kini.
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. - Pramoedya Ananta Toer
Focus on me.
I love you.
Cantik Itu Luka: Kesuksesan Membalut Sejarah dalam Produk Fantasi.
Sebuah Resensi
Kisah bermula tentang kebangkitan Dewi Ayu setelah dua puluh lima tahun meninggal. Dewi Ayu adalah seorang gadis Indo-Belanda, yang selain dikenal berparas cantik dan bertubuh molek, ia pun cukup cerdas. Kehidupan Dewi Ayu berlatar pada akhir masa kolonial di sebuah tempat bernama Halimunda, di mana seluruh wanita cantik di sana harus menjadi seorang pelacur untuk melayani nafsu para tentara Jepang, termasuk Dewi Ayu yang dipaksa menjadi pelacur karena kecantikannya.
Dewi Ayu dikaruniai 3 anak perempuan yang tidak diketahui siapa sang ayah, seluruh putrinya mewarisi kecantikan sang Bunda. Kecantikan Dewi Ayu dan anak-anaknya justru membawa berbagai petaka dalam kehidupan mereka. Maka, saat Dewi Ayu hamil anaknya yang keempat, ia berharap anaknya terlahir buruk rupa agar tak mengalami nasib yang sama seperti dirinya dan anak-anaknya yang lain. Tuhan rupanya mengabulkan doanya, anak bungsunya terlahir buruk rupa, ironisnya ia diberi nama Cantik. Walaupun terlahir buruk rupa, Cantik tetap tidak bisa terbebas dari tragedi seperti yang dialami ibu dan ketiga kakaknya.
Eka sukses menampilkan masalah-masalah pelik yang berhubungan dengan aspek ideologis, politis hingga filsafat yang muncul dalam sosok seorang preman, partisan, syudanco, serta pelacur kelas atas yang sekaligus seorang ibu. Selain itu, penulis dengan fasih berbicara tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau gaib, supranatural dan misteri.
Eka Kurniawan, pria kelahiran Tasikmalaya yang juga merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada ini, mencoba menyajikan novelnya dalam bentuk lain. Karakter-karakter tokoh dalam Cantik Itu Luka terasa begitu hidup. Alur maju-mundur yang disajikan terasa sangat kuat dan menjadi kelebihan tersendiri dari novel ini. Novel yang telah diterjemahkan kedalam tiga bahasa ini berhasil memberi kesan bahwa cantik bukanlah segala-galanya. Penulis tidak saja menawarkan karya fiksi, tetapi dengan balutan unsur sejarah, ia cukup mahir melakukan pendekatan yang komprehensif dan data yang cukup lengkap.
Hal lain yang menarik, Cantik Itu Luka berhasil memberi kesadaran atas kebebasan berimajinasi, bahkan yang paling liar sekalipun. Sekilas jika membaca buku ini, terlintas bahwa buku ini amat vulgar. Eka Kurniawan menyajikan novel dalam bahasa yang cukup frontal. Ia berhasil membawa pembaca untuk ikut masuk dalam kekejaman dan ketidakadilan serta luka yang mendalam yang dialami oleh tokoh.
Bagi sebagian orang, tentu setuju bahwa Cantik Itu Luka merupakan sebuah terobosan dunia sastra di Indonesia. Karya ini telah melampaui semua batas yang telah dilakukan oleh para penulis pendahulunya. Problematika seksualitas dan kisah percintaan dengan latar sejarah pun berhasil digarap hingga menjadi sebuah drama yang menggugah. Tentu ketika membaca ini, pembaca akan lupa bahwa Cantik Itu Luka jelas sebuah produk fantasi. Meski demikian, tetap saja buku ini memiliki kelemahan, seperti penjelasan yang kurang kompleks dan kurang logis, misalnya kisah pembuka di mana Dewi Ayu yang kembali hidup setelah puluhan tahun dikuburkan tak dijelaskan hingga akhir cerita.
Terlepas dari kelemahan yang tak seberapa itu, Cantik Itu Luka telah berhasil membuat saya sebagai pembaca sangat menikmati alur yang ada. Eka Kurniawa menyampaikan karyanya dengan sangat piawai. Sisi feminitas yang diangkat penulisnya ini begitu kuat. Penulis sukses memperlihatkan bahwa perempuan selalu menjadi korban dalam setiap zaman. Setelah melahap habis buku ini, tanpa sadar saya meyakini bahwa benar, cantik itu luka.
Sekilas
Judul Buku: Cantik Itu Luka Penulis: Eka Kurniawan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jumlah halaman: 537 hlm Terbit: Cetakan Pertama, November 2006. Genre: Fiksi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di Ruang Senja
Bukankah perbedaan harusnya menyatukan. Bukan memisahkan? Ini bukan kisah yang menceritakan bagaimana aku bermimpi, berkhayal dan berisi sejuta harap. Apalagi sebuah dongeng yang berisi hanya bualan yang penuh penderitaan diawal dan kebahagiaan di akhir cerita. Aku menatapmu penuh kasih, begitupun kamu. Aku harap. Meskipun entah sampai kapan kita bisa bertahan seperti ini, dalam sebuah keadaan yang terlalu luar biasa bila hanya sebatas teman, terlalu indah bila hanya sebatas sahabat, dan terlalu berharga untuk aku anggap sebatas kakak. Apapun dirimu, bagaimanapun kamu, aku selalu memanggapmu, sempurna.
Malam semakin larut menyisakan perih. Aku bersama bayangan semu tak menentu menantikan sepucuk harapan tentang perjuangan tak berujung. Sepertinya semua mimpiku tentangmu hanya angan-angan semu. Tak pernah membentuk cumbu, yang ada hanya pilu dan senandung sendu.
Pandanganku tertahan keluar jendela. Menyaksikan jingga yang perlahan-lahan mulai mewarnai langit. Indah. Aku senang menatap senja. Tuhan memang pelukis handal, tak ada satupun yang mampu mengalahkan goresannya.
Terbayang dibenakku tentang cerita seseorang mengenai senja, katanya, jangan terlena oleh indahnya, dia akan mengelabuimu. Keindahannya akan mengantarkanmu kepada kegelapan yang panjang.
Begitulah kamu harus menghadapi hidup, terkadang yang menyenangkanmu seketika, akan membawamu pada penderitaan yang panjang. Bersabarlah menanti pagi datang. Pesannya ketika itu.
Aku ingat dia, seseorang yang pernah hadir dihidupku, lelaki mapan dan cukup tampan, belum lagi sifatnya yang menawan, dia tak pernah meremehkan orang lain, sempurna. Gadis-gadis mengharapkan dia, tapi nyatanya dia malah memilihku.
Apapun yang aku inginkan selalu dia wujudkan. Ketika aku mengeluh, dia selalu menghilangkan keluhanku, menggantikan dengan tawa tanpa jeda, membawaku kepada hari yang indah dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.
“Mau apa lagi, Ra?” Ucapnya ketika telah mengabulkan permintaanku.
Tanpa sadar, aku malah memanfaatkan dia. Semua kebutuhanku menjadi tumpuannya. Namun dia seakan senang-senang saja melakukannya.
“Apapun buat kamu, Ra, pasti aku kabulkan. Seisi bumi kalau ada nilainya sudah aku berikan buat kamu.”
Cih! Sombong sekali! Batinku. *** “Ra, kamu lihatkan apa udah aku lakuin buat kamu? Semua yang aku lakuin bukan tanpa maksud. Aku engga pamrih, sama sekali engga. Aku tulus ngasih semuanya buat kamu. Tapi, aku suka sama kamu. Maukah kamu menganggapku lebih dari teman?”
Aku menatapnya, tak menjawabnya sedikitpun, lantas pergi meninggalkan dia begitu saja saja.
Ya. Aku mencampakkannya begitu saja, kedekatan kami, aku anggap hanya sebatas teman, tapi dia malah mengharapkan lebih. Setelah itu aku menjaga jarak darinya, begitupun dia, tak pernah menghampiriku seperti dulu. Aku tau mereka yang menyukainya pasti senang lalu menyebutku perempuan bodoh. Persetan apa kata mereka. Aku telah mencintai orang lain. *** Namaku Barbara, ya hanya Barbara tanpa embel-embel apapun lagi. Meskipun hanya satu kata, namun nama yang terlalu berlebihan menurutku. Kata Ayah, dalam bahasa Yunani namaku berarti Berbeda dengan yang lain.
“Biar kamu beda sama yang lain, manusia kebanyakan yang hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban, yang hanya merusak tanpa mau memperbaiki, lantas ketika telah rusak, mereka malah menyalahkan pemerintah, orang bodoh.” Ucap Ayah, tak henti-henti membanggakan arti namaku.
Aku sukses menjadi seorang arsitek ternama di Kota ini. Aku berhasil membangun kota dengan indah, tanpa sedikitpun merusak fasilitas Tuhan yang ada. Bangunan-bangunan telah aku buat tanpa melupakan penghijauan. Aku begitu mencintai alam ini, bumi tempatku berpijak. Di tanganku, semua hal yang tak mungkin menjadi mungkin.
Aku berpindah dari satu kota ke kota lain, membangun dan memperindah kota. Menanggulangi kerusakan. Kesibukanku membuatku lupa untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Sedangkan Ayah dan Ibu tak henti-hentinya meminta cucu.
“Sial!” umpatku. “Siapa?”
Aku memalingkan wajah kepada sumber suara, lalu mengerutkan kening. Aku memandangi gadis yang kini duduk disampingku. “Siapa yang sial?” ujarnya.
Aku mengangkat bahu, sambil mengedipkan mata berkali-kali. “Emang siapa yang sial?” ucapku.
Gadis itu berdiri dan membuka jendela dengan lebar. Lalu menatapku penuh selidik. “Tau engga, akhir-akhir ini kamu sering mengumpat. Apa yang kamu pikirkan, Barbara?”
Aku tersenyum. “Bian, kamu memperhatikanku sampai segitunya?”
“Tentu, aku tidak menyukai umpatanmu, kasar. Menyebalkan. Apa yang kau pikirkan?”
“Aku tidak memikirkan apapun, sudahlah. Aku ingin kopi sepertimu. Kau mau disini sendiri? Tutup jendelanya, banyak nyamuk!”
Bian menutup jendela, lalu ku langkahkan kakiku menuju dapur, mengambil cappuccino lalu menyeduhnya. Udara begitu dingin, secangkir cappuccino panas tentu akan sedikit menghangatkan, meskipun aku tau insomnia-ku pasti kambuh. Aku akan terjaga semalaman.
Aku kembali ke ruang senja. Tempat aku biasa menatap senja melalui jendela. Sebenarnya itu hanya sebuah ruangan biasa, dengan jendela yang bisa mengantarkanku ke halaman rumah, tak ada istimewanya. Namun tempat itu menjadi favoritku. Senja begitu indah jika kupandangi disini. Aku sengaja menaruh sebuah kursi sebagai penopangku ketika menatap senja, lalu Bian menambah satu kursi lagi, sehingga kini di tempat itu ada dua buah kursi yang menghadap jendela.
Bian masih duduk disana, meskipun senja kini telah digantikan malam. Ruang senja semakin dekat, aku sengaja melambatkan langkahku, tanpa bersuara. Aku ingin berlama-lama menyaksikan punggung Bian, aku senang menatapnya dari belakang. Oh tentu jika aku menatapnya seperti ini dari depan ini akan mengangguku. Aku selalu senang memandangi punggung Bian. Bian, dia sungguh sempurna. Malam ini ia hanya mengenakan baju berlengan tali, rambut lurusnya ia biarkan terurai hingga menutupi punggung halusnya. Dari kejauhan semerbak wanginya sudah dapat ku cium, membangkitkan nafsuku. Tidak, aku mohon jangan sekarang. Aku menghela nafasku, membuang jauh-jauh kekacauan pikiranku.
“Ra, ngapain kamu disitu?” Dia menatapku lekat-lekat.
Oh, Tuhan. Tatapannya. Dia makhluk Tuhan yang mempunyai mata terindah yang pernah aku temukan, dia mampu menyihirku.
Aku berjalan mendekat. Kembali duduk di kursi semulaku. Kemudian aku kembali menatap jendela, senja telah hilang.
“Huuuhhh..” aku menghela nafas “Kenapa lagi kamu?” Bian, menatapku heran.
Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban atas pertanyaannya. Semua ini karena kamu, Bian.
Bian, gadis ini semakin membuatku gila. Sejak dulu aku memang belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun, aku pun tak pernah tertarik dengan siapapun, tidak pria, tidak juga wanita. Namun, semenjak aku bertemu dengan Bian, dia telah menarik perhatianku. Hingga aku tahu bahwa aku berbeda. Perbedaan satu lagi yang tentunya tidak ada dalam daftar berbeda filosofi namaku menurut Ayah. Tentu Ayah akan sangat kecewa jika tahu jika anaknya seorang lesbian.
Ya. Aku menyukai Bian, sahabatku. Kami sesama jenis. Bentuk tubuh kami nyaris serupa, tak ada bedanya. Kami sama-sama punya rambut panjang terurai menyentuh punggung, tinggi kami pun sama-sama semampai. Kami sama-sama punya payudara, dan lekukan tubuh yang indah. Bisa dibilang, kami idaman lelaki. Tak terhitung pria yang mendekatiku atau pun Bian. Kami sama-sama menyukai Musik Jazz, alunannya yang lembut dan easy listening selalu membawaku kepada kedamaian. Begitu tentram dan menenangkan. Improvisasinya membuat hatiku merasakan kenyamanan tanpa jeda.
Aku suka Tompi, Bian juga. Bian menyukai penyanyi jazz asal Kanada, Diana Krall, aku juga. Selera kami sama tentang musik. Kami senang berkomentar apapun tentang musik. Kesamaan ini membuatku semakin nyaman dengannya, dan malas untuk mengenal dunia lain, selain Bian.
Bian penggemar berat kopi. Tak heran jika waktu tidurnya seperti burung hantu. Sedangkan aku hanya menyukai cappucinno tidak yang lain. Dua tahun aku dekat dengannya. Dekatan yang terlalu indah jika ku anggap hanya sebatas sahabat. Perasaanku menampiknya jika mengatakan bahwa dia sahabatku. Semakin aku berusaha sadar, aku malah semakin tertekan. Setiap hari aku semakin tertekan. Beruntung dia pun seorang lesbian, sama sepertiku. Hingga akhirnya ketertekananku hilang. Aku kembali hidup. “Ra, kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita. Jangan dipendem sendiri.” Perhatiannya semakin membuatku terlihat miris, aku semakin jatuh dalam perasaanku sendiri, dalam penderitaanku sendiri.
“Yakin kamu mau denger masalah aku, Bi?” Ujarku memberanikan diri. “Tentu.” Bian membenarkan letak duduknya, hingga kini kita berhadap-hadapan. Dia menatapku dalam, penuh perhatian. Aku balas menatapnya. Selama dua tahun tinggal bersama, aku selalu senang bertatapan lama dengannya.
“Aku mencintaimu, Bi.”
Bian memelukku, aku pun membalas pelukannya. Hampir setiap malam aku habiskan waktukku dengannya dengan cumbuan. Sepanjang waktu selama kami tinggal bersama dan menjadi sepasang kekasih lesbian. Malam-malam yang dingin selalu dia sulap dengan sentuhan-sentuhan hangatnya di sepanjang tubuhnya.
Aku begitu menikmati sensasi yang aku rasakan ketika dengannya. Getaran-getaran hebat yang menyerbuku ketika dia bertubi-tubi menciumiku dan memelukku, selalu mampu membuaiku. Seperti alunan musik jazz, tenang, damai, dan menjadi canduku setiap waktu.
Aku merasa cocok dengannya, tak ada keluhan sedikitpun. Aku bahagia sangat bahagia. Betapa menyenangkannya mempunyai seseorang yang mengertimu, yang mengajari banyak hal, yang memberi ketenangan ketika kesedihan menerpa, yang selalu memelukmu ketika rapuh, dan mencintaimu dengan sangat dalam. Mungkin yang menjadi keluhan hanya satu, kita sama-sama perempuan.
Hubungan kami salah. Aku akui itu. Pernikahan sejenis takkan pernah dihalalkan di negara terkutuk ini. Apa salahnya dua orang yang saling mencintai menjadi bersatu? Apa tidak senang mereka membuat kami bahagia? Toh pernikahan kami tak akan menghasilkan keturunan. Bagus bukan, agar negeri ini tidak dipenuhi lagi manusia terkutuk. Yang hanya merusak.
Jika dibandingkan dengan seorang pria yang menikahi banyak wanita lalu meninggalkan banyak keturunan, lantas mengabaikannya begitu saja, dan malah hanya menambah populasi dunia saja, tentu hubungan kami lebih baik. Kami hanya saling mencintai, takkan meninggalkan keturunan, tentu akan mengurangi populasi dunia.
Sejak kecil aku terlahir sebagai anak yang pendiam. Ibuku pernah bercerita bahwa aku pernah mencoba digugurkan, hanya karena aku hasil dari hubungan di luar pernikahan. Segala macam cara telah ia lakukan, banyak pil telah ia telan untuk membunuhku, namun gagal. Ayah dan Ibuku menyerah, lalu mereka menikah diam-diam, dan akhirnya aku tetap lahir. Dan obat-obat aborsi itu membuatku terlahir menjadi lesbian.
Meski begitu, aku tak pernah sedikitpun kehilangan kasih sayang. Walaupun aku tidak terlahir sebagai anak manja, namun mereka selalu memberikan apapun yang bahkan tidak aku inginkan. Tumpukan mainan barbie dengan aneka replika rumah-rumahannya selalu mereka berikan. Aku tidak menyukai barbie, sehingga barbie-barbie itu aku hancurkan, rambutnya aku pangkas habis, kepala, kaki, tangannya aku uraikan. Hingga berakhir di tempat sampah. Berbeda dengan Bian, ia tidak terlahir sebagai lesbian. Bian terlahir sebagai lesbian yang beruntung. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Ia tinggal bersama Ibunya hanya berdua. Dengan hidup yang pas-pasan, Ibunya harus menyekolahkan Bian, meski hanya sampai kelas 2 SMA, karena setelah itu Ibu Bian meninggal karena radang paru-paru. Sehingga setelahnya Bian harus hidup sendiri bekerja sambil sekolah. Sampai lulus dan berhasil kuliah, hingga menjadi seorang akuntan.
Namun masa kecil Bian ternodai oleh pamannya yang begitu ia banggakan. Ketika Ibunya bekerja, ia tinggal di rumahnya sendirian, lantas Pamannya menjenguk Bian. Bian diperkosa ketika usianya 10 tahun. Hingga setelahnya, ia muak dan benci terhadap omnya, dan pria-pria lain. Baginya semua pria sama. Ia menjadi seorang lesbian.
“Bi, aku kangen Ayah sama Ibu.” Ucapku. “Yaudah kamu pulangg aja. Udah lama kan kamu gak ke Bandung nengokin mereka?”
Aku menggeleng. “Setiap aku pulang, pasti mereka nanyain calon suami. Aku muak.”
Bian menghela nafas, aku menunduk.
“Sampai kapan kita seperti ini ya, Ra.” Ucap Bian. “Entahlah, aku sayang kedua orangtuaku, aku ingin membahagiakan mereka. Tapi aku juga sayang kamu, aku gak mau ninggalin kamu, Bian.” Lirihku.
Bian memelukku. Aku balas memeluknya.
Apa salah kami Tuhan. Salahkan obat-obat aborsi yang menghancurkanku, yang menjadiikanku terlahir sebagai seorang lesbian. Salahkan paman Bian, yang merenggut masa kecil Bian, yang tega memperkosa Bian hingga dia pun menjadi seorang lesbian!
“Bian orangtua ku menjodohkanku dengan seorang pria anak teman Ayahku. Dia seorang pengusaha gorden ternama di Bandung.”
Bian memandangku, mungkin menerka-nerka apakah aku berbohong atau tidak. Hendak menelusuri kebenaran yang terkandung di dalam tatapan mataku. Tentu aku tidak berbohong dia tau itu.
“Terus, jawaban kamu apa?” ucapnya lirih. “Aku tak memberikan jawaban apapun, Bi.”
“BODOH!!! Bukankah itu artinya kamu menyetujuinya? Diammu artinya iya! Orangtuamu tau itu!”
Aku diam. Terpaku. Dia benar. Aku terlahir sebagai wanita pendiam, tentu diamku akan diartikan iya.
“Terus aku? GIMANA? Bukankah kamu udah janji gakkan pernah mau menikahi pria? Kamu gak akan ninggalin aku kan?” ucap Bian lagi. Aku masih tak berani menjawab.
“JAWAB RA. JAWAB!!!”
“Bian, aku semakin tua. Usiaku kini udah hampir 30 taun, orangtuaku pun semakin layu. Mereka terus menuntut cucu. Aku tak tega menolak mereka. Aku ingin membahagiakan mereka.” Ucapku pelan, sangat pelan.
“Tapi Ra,kamu udah janji gak akan ninggalin aku. Kamu udah janji bakal nemenin aku, bakal selalu jagain aku, bakal terus sama-sama aku. Kamu udah janji, Ra!!!!!”
“Aku gak akan ninggalin kamu. Aku bakal terus sama kamu. Meskipun aku udah jadi suami orang, tapi hati aku masih terus utuh buat kamu. Kita bakal terus sama-sama. Orangtuaku butuh cucu. Kita gak bisa ngasilin itu.” Kataku.
“Kamu jujur sama mereka, kamu bilang kalau kamu terlahir jadi lesbian. Kamu gak boleh nyalahin kodrat Tuhan, Ra!”
“Gila kamu! Kamu mau mereka mati? Mereka bakal kena serangan jantung kalau tau aku gak normal. Aku mau berbakti sama mereka. Kamu ngertiin aku.”
“Terus kamu mau aku mati?”
“Gak usah gila, Bian. Aku mohon, kamu ngerti. Sekali ini aja.”
“Aku gak mau ngerti,aku gak mau kamu nikah sama orang lain. Aku gak ikhlas.”
Bian menghambur ke kamar, meninggalkan ruang senja kami. Dia membanting pintu. Lalu menangis sejadi-jadinya.
Aku bertahan disini, di ruang senja. Aku memutuskan menulis sepucuk surat untuk Bian.
Jakarta, 21 Februari 2015 Bian kekasihku, wanita terindah yang pernah aku temui, dan wanita terbaik setelah Ibuku.. Kamu tau aku mencintaimu dengan sangat. Harapan kita menjadi tumpuanku. Aku berharap lebih dari hubungan kita. Aku berharap kita bisa menikah. Namun engkau tau Bi, negara kita tidak akan pernah menghalalkan hubungan sejenis. Ayah Ibuku akan malu dan terkena serangan jantung jika tau Aku, anakknya adalah seorang lesbian. Tetangga akan mencibirku, ya persetan apa kata tetangga. Tapi aku peduli Ayah dan Ibuku. Aku sangat mencintai mereka. Aku tak pernah menyesal di pertemukan denganmu, anugrah terindah bagiku bisa mengenalmu dan memilikimu. Aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu, kehangatanmu, cumbuanmu, semua akan terekam rapi dalam memoriku. Aku tak mau terlahir menjadi durhaka, setidaknya di akhir hayat orangtuaku, mereka bisa melihat cucunya. Bukan inginku untuk pergi, aku hanya ingin membahagiann kedua orangtuaku. Jika kelak aku menikahi pria bodoh, tentunya hati ini masih tetap utuh untukkmu. Tentu aku tak bisa mendapatkan sperma darimu, bukan? Kelak jika anakku lahir dan seorang wanita, akan ku beri nama Sabian Prinanta, namamu. Agar aku selalu mengingatmu, kekasihku. Tetaplah berdoa Bian, jika kelak negara kita menghalalkan hubungan seperti kita. Agar tak banyak yang tersakiti, agar orang-orang berhenti mencibir dan mengolok-olok, agar kita bisa menikah diresmikan penghulu. Maafkan aku Bian. Aku mohon jangan membenciku.
Dari Aku yang mencintaimu, Barbara.
Aku lipat surat itu, aku letakkan di kursi tempat biasa Bian duduk di ruang senja. Dan esok pagi-pagi sekali aku akan meninggalkan rumah ini, meninggalkan ruang senja, dan meninggalkan Bian. *** Efek cappuccino mulai terasa. Tak ada sedikitpun rasa kantuk yang menghinggapiku. Aku terpaku, disini, di ruang senja, aku menatap langit, gelap, kelap dan mengerikan. Tak ada bulan, apalagi bintang. Kosong. Dan aku tetap tertahan disini, menanti pagi datang.
Menggambar: Meditasi dalam Imajinasi
Para penggiat ilustrasi tentu sudah tak asing lagi dengan Irene Saputra atau lebih akrab dengan sebutan Neng Iren. Karakter gadis murung melekat kuat dalam setiap karyanya.
Keunikannya dalam membuat ilustrasi pencil on sketch dengan menggunakan garis hitam putih yang halus, tidak terlalu menggunakan warna terang, dan cenderung objeknya berwajah sedih, menjadi daya tarik dalam setiap karyanya. Berawal dengan kemunculannya di Instagram dengan akun @nengiren, karya-karya identiknya yaitu sosok wanita yang sebagian besar berekspresi datar dan memandang lekat pada siapapun yang melihatnya, hiasan yang terkesan feminine dengan bunga-bunga, serta gabungan warna monochrome dan popping colors yang manis menghias secarik kertas putih. Kecintaannya terhadap dunia ilustrasi telah dipupuk sejak masa kanak-kanak.
“Dari kecil saya tertarik dengan segala sesuatu yg bergambar. Saya ingat betul, kalau Ibu saya membelikan buku cerita, yang saya lihat hanya gambarnya saja, dan saya kemudian berkhayal sendiri lalu menebak apa cerita yang terkandung di dalam buku itu”. Ujarnya sambil tertawa.
Lulusan Universitas Widyatama Bandung jurusan Desain Komunikasi Visual ini, menganggap bahwa menggambar itu seperti mediasi. Pada tahun 2011 ia menemukan bahwa menggambar itu seperti pelampiasan perasaan, media untuk berbicara dengan diri sendiri dan melepas penat. Meskipun ia sempat merasa bahwa ilustrasi bukan bidangnya dan lebih menekuni dunia grafis ketimbang ilustrasi. Ia menyukai karya ilustrasi milik James Jean, Audrey Kawasaki, Julie Verhoeven dan Miss Van, dan selalu tertegun dibuatnya.
“Buat saya, menggambar itu seperti meditasi. Dan dalam beberapa tahun, saya melakukan kegiatan ini (menggambar) dengan intens, hampir tiap hari, dan sampai akhirnya saya menikmati proses yang saya lakukan ini.” Ujar wanita kelahiran 9 Oktober 1981 ini.
Wanita yang kini bekerja sebagai desainer grafis di sebuah advertising agency ini sudah pasti akan menyempatkan diri untuk menggambar saat malam hari dan mostly di akhir pekan. Membagi dua hal ini antara bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator merupakan tantangan tersendiri baginya. Bagaimana caranya agar kesibukannya di kantor tidak mematikan idealismenya dalam berkarya secara pribadi.
“Sejauh ini, saya bersyukur diberi banyak kesempatan baru dari lingkungan sekitar saya, seperti ajakan pameran bersama atau dipercaya untuk mengilustrasikan project tertentu, hal hal seperti ini lah yang selalu memotivasi saya untuk berkarya terus.” Ujar wanita yang sempat diminta Nike Indonesia
untuk menorehkan ilustrasi pada sepatu yang akan diberikan sebagai tanda mata untuk Allyson Felix ketika berkunjung ke Jakarta. Proses menggambar baginya layaknya proses berimajinasi. Dan objek yang paling menarik untuk digambar adalah perempuan. Ia senang ‘bermain-main’ dengan wajahnya perempuan, pattern bajunya dan tentu dengan rambutnya. Ia merasakan lebih mudah mendapat koneksi batin dengan sosok perempuan yang digambarnya. Wanita yang mengaku tidak bisa 'mendandani' diri secara berlebihan ini, bisa melakukan itu di gambar yang ia buat. Meskipun terdengar seperti menggambarkan alter ego, atau tokoh fiktif yang secara tidak sadar ada di dalam dirinya.
Saat Gensindo bertanya mengapa ilustrasi yang ia buat cenderung gadis murung, ia tertawa. Alasan pertama ia memang lebih tertarik pada hal yang minor, seperti lagu yang terasa kosong, warna yang tidak terlalu banyak dan cenderung low saturation. Baginya gadis murung lebih menyimpan banyak cerita di dalamnya, mengajak para penikmatnya untuk masuk lebih jauh ke dalam dunia nya yang sendu. Kemudian penikmat karyanya akan bertanya-tanya mengapa ia murung, apa yang membuat ia diam mematung. “Kekosongan seperti inilah yang menarik buat saya.” Tutupnya.
artikel ini dimuat di Koran Sindo edisi 07-11-2015
Amaze Moonlight.
Mereformasi Transportasi, Koran Sindo edisi Sabtu, 17 Oktober 2015.
Writer: Linda Juliawanti, Rahmat Mustakim, Mehran Ilma, dan Afim Firman.
aku akan berjuang sampai Tuhan berkata “ya” untuk semua tentang kita.
S.A (via pena-kecil)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
God, save him to always be mine.
Nasib Buku Anak.
Narasumber: Clara Ng
Karakter buku anak yang evergreen, tidak terikat oleh trend, layaknya karakter anak-anak yang apa adanya - membaca karena keinginan, bukan karena ikut-ikutan- membuat industri buku anak tak pernah padam. Nielsen BookScan melakukan penelitian pada awal tahun 2015 tentang industri buku cetak, baik fiksi maupun nonfiksi yang melemah bahkan mengalami penurunan hingga 21 persen atau lebih dari Rp. 3,2 triliyun, tetapi buku anak-anak mengalami peningkatan, yakni sebesar 9,1% pada tahun 2015.
Penjualan buku anak di Indonesia pun tak kalah melesat, bahkan menempati urutan pertama disusul oleh buku religi dan fiksi. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menghimpun data dari Toko Buku Gramedia tahun 2012-2013, buku anak mencapai 10,9 juta eksemplar, bahkan dari sisi judul memberi kontribusi yang besar yaitu hampir 20 ribu judul, dan selalu muncul buku baru setiap tahunnya.
Clara Ng, penulis fiksi dewasa dan sastra anak-anak berpendapat mengenai industri buku di Indonesia. Menurut wanita kelahiran Jakarta yang mempunyai nama asli Clara R. Juana ini, industri anak mengalami kemajuan. “Senang dengan kemajuannya, tapi menyadari masih banyak sekali kekurangan. Masih jauh sekali Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.” Ujarnya.
Di negara maju, seperti Jepang dan Amerika buku anak adalah bagian dari kehidupan anak-anak. Bahkan, di Jepang pemerintah mendukung terus berkembangnya industri anak, siswa tingkat Taman Kanak-Kanak secara rutin mendapatkan e-hon, atau buku bergambar yang di dalamnya terdapat kisah-kisah klasik khas anak-anak, seperti cerita rakyat Jepang yang terkenal, Momotaro.
Adapun Perancis yang mengemas buku anak-anak mereka dengan sangat apik, ditambah ilustrasi yang sangat mendukung cerita, serta imajinasi pengarangnya yang liar, membuat buku anak khas Perancis selalu best seller, seperti Putri Tidur, dan Cinderella karya Charles Perrault, bahkan tak sedikit ceritanya diangkat oleh Disney.
Menurut Clara Ng di Indonesia sendiri masih banyak masalah terkait hal ini, pertama Cerita masih dianggap sepele dan tidak selevel dengan buku-buku praktis dan nonfiksi berbasis ilmu pengetahuan oleh orangtua dan guru. Yang kedua, Pendidikan (dan orangtua) tidak atau belum menyadari tentang tangga membaca anak sehingga ketika anak sudah bisa membaca, maka anak dilepas begitu saja. Tidak didampingi memperkuat pembacaannya. Lalu ada anak yang tidak tertarik pada fiksi, namun diabaikan. Padahal anak tidak bisa begitu saja dilempar buku fiksi dan disuruh membaca. Dan yang terakhir, para penulis fiksi anak lebih suka menekankan aspek pendidikan anak, dibandingkan aspek estetika sastra dan kemampuan penceritaan.
Buku anak di Indonesia kerap kali menjadikan cerita rakyat yang kental dengan unsur budaya dan kedaerahan, menjadi ide cerita. Disisi lain, cerita mengenai Si Kancil pun tetap eksis dan terus berkembang. Adapun cerita-cerita yang mengandung tema pendidikan, seperti mengenal huruf, angka atau jenis buah-buahan pun tak pernah hilang dan pudar oleh waktu. Atau dari sisi religi, banyak kisah-kisah teladan yang diambil dari kitab suci dan didukung oleh ilustrasi, dapat menjadi penerapan karakter sejak dini untuk menerapkan perilaku baik dan taat terhadap Tuhan.
Eksistensi Indonesia terhadap buku anak pun cukup tinggi. Pameran buku anak internasional, Bologna Children’s Book Fair yang digelar di Bologna, Italia, dalam merayakan Hari Buku Anak Internaional pada 2 April, Indonesia turut menjadi peserta BCBF 30 Maret-2 April 2015 lalu. Saat pameran berlangsung, stand Indonesia selalu dipenuhi pengunjung, bahkan sejumlah negara tertarik membeli hak cipta buku-buku Indonesia maupun membeli langsung dalam bentuk cetak. Misalnya buku yang berjudul The Story of Days dan The Books Of Bunnies karya Arleen Amidjaja – penulis buku anak yang telah menerbitkan 220 buku anak di lebih dari 20 penerbit di Indonesia- yang diminati oleh NavNeet, penerbit buku edukasi dari India. Hal ini membuktikan bahwa industri buku anak Indonesia masih diminati oleh internasional.
Disamping itu, meskipun jumlah penulis buku anak di Indonesia cukup banyak, namun secara kualitas masih rendah. Akibatnya, jumlah penerbit yang mau menerbitkan buku anak sedikit, mereka malah berlomba-lomba ingin mengedarkan buku luar, Harry Potter misalnya, sehingga buku anak asli penulis Indonesia kalah jumlahnya dengan buku anak karya negara luar. keengganan penerbit menerbitkan buku anak ini pun berdampak pada pembunuhan kreativitas penulis buku anak.
Meski demikian, bagaimanapun kondisi zaman, dan walau teknologi terus berkembang, selama orangtua masih membutuhkan referensi untuk menambah wawasan anak mereka, serta memberikan penambahan kosakata tentu buku anak tak akan pernah padam. Disisi lain fungsi buku anak adalah menasehati anak secara halus.
“Membaca dan mencintai fiksi seharusnya dianggap seperti duduk di meja makan dan makan saat perut lapar. Membaca buku dilakukan saat otak kita lapar dan haus. Jika orangtua bisa mengajarkan anak duduk di meja makan dan makan bersama-sama, maka tentu juga bisa mengajarkan anak membaca buku. “ Tuturnya.
Kedepannya buku anak di Indonesia diharapkan akan terus berkembang serta tidak kalah dengan negara lain, sehingga anak-anak dapat mencicipi buku-buku asli khas Indonesia. Penulis buku anak pun semakin bertambah dan berkualitas, karena penulis berkualitas akan menghasilkan bacaan yang berkualitas dan bacaan yang berkualitas akan menghasilkan pembaca yang berkualitas.
“Harapanku sebenarnya tidak terletak pada industri, harapanku hanya terletak pada diriku sendiri untuk bisa menulis sastra anak dengan lebih baik. Jika setiap penulis meletakkan harapan di bahunya dengan serius, maka industri buku anak dengan sendirinya maju. Kepenulisan adalah pekerjaan soliter dan terisolasi, bukan bareng-bareng dan bergerombol. “ Tutupnya.