Menggambar: Meditasi dalam Imajinasi
Para penggiat ilustrasi tentu sudah tak asing lagi dengan Irene Saputra atau lebih akrab dengan sebutan Neng Iren. Karakter gadis murung melekat kuat dalam setiap karyanya.
Keunikannya dalam membuat ilustrasi pencil on sketch dengan menggunakan garis hitam putih yang halus, tidak terlalu menggunakan warna terang, dan cenderung objeknya berwajah sedih, menjadi daya tarik dalam setiap karyanya. Berawal dengan kemunculannya di Instagram dengan akun @nengiren, karya-karya identiknya yaitu sosok wanita yang sebagian besar berekspresi datar dan memandang lekat pada siapapun yang melihatnya, hiasan yang terkesan feminine dengan bunga-bunga, serta gabungan warna monochrome dan popping colors yang manis menghias secarik kertas putih. Kecintaannya terhadap dunia ilustrasi telah dipupuk sejak masa kanak-kanak.
āDari kecil saya tertarik dengan segala sesuatu yg bergambar. Saya ingat betul, kalau Ibu saya membelikan buku cerita, yang saya lihat hanya gambarnya saja, dan saya kemudian berkhayal sendiri lalu menebak apa cerita yang terkandung di dalam buku ituā. Ujarnya sambil tertawa.
Lulusan Universitas Widyatama Bandung jurusan Desain Komunikasi Visual ini, menganggap bahwa menggambar itu seperti mediasi. Pada tahun 2011 ia menemukan bahwa menggambar itu seperti pelampiasan perasaan, media untuk berbicara dengan diri sendiri dan melepas penat. Meskipun ia sempat merasa bahwa ilustrasi bukan bidangnya dan lebih menekuni dunia grafis ketimbang ilustrasi. Ia menyukai karya ilustrasi milik James Jean, Audrey Kawasaki, Julie Verhoeven dan Miss Van, dan selalu tertegun dibuatnya.
āBuat saya, menggambar itu seperti meditasi. Dan dalam beberapa tahun, saya melakukan kegiatan ini (menggambar) dengan intens, hampir tiap hari, dan sampai akhirnya saya menikmati proses yang saya lakukan ini.ā Ujar wanita kelahiran 9 Oktober 1981 ini.
Wanita yang kini bekerja sebagai desainer grafis di sebuah advertising agency ini sudah pasti akan menyempatkan diri untuk menggambar saat malam hari dan mostly di akhir pekan. Membagi dua hal ini antara bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator merupakan tantangan tersendiri baginya. Bagaimana caranya agar kesibukannya di kantor tidak mematikan idealismenya dalam berkarya secara pribadi.
āSejauh ini, saya bersyukur diberi banyak kesempatan baru dari lingkungan sekitar saya, seperti ajakan pameran bersama atau dipercaya untuk mengilustrasikan project tertentu, hal hal seperti ini lah yang selalu memotivasi saya untuk berkarya terus.ā Ujar wanita yang sempat diminta Nike Indonesia
untuk menorehkan ilustrasi pada sepatu yang akan diberikan sebagai tanda mata untuk Allyson Felix ketika berkunjung ke Jakarta.
Proses menggambar baginya layaknya proses berimajinasi. Dan objek yang paling menarik untuk digambar adalah perempuan. Ia senang ābermain-mainā dengan wajahnya perempuan, pattern bajunya dan tentu dengan rambutnya. Ia merasakan lebih mudah mendapat koneksi batin dengan sosok perempuan yang digambarnya. Wanita yang mengaku tidak bisa 'mendandani' diri secara berlebihan ini, bisa melakukan itu di gambar yang ia buat. Meskipun terdengar seperti menggambarkan alter ego, atau tokoh fiktif yang secara tidak sadar ada di dalam dirinya.
Saat Gensindo bertanya mengapa ilustrasi yang ia buat cenderung gadis murung, ia tertawa. Alasan pertama ia memang lebih tertarik pada hal yang minor, seperti lagu yang terasa kosong, warna yang tidak terlalu banyak dan cenderung low saturation. Baginya gadis murung lebih menyimpan banyak cerita di dalamnya, mengajak para penikmatnya untuk masuk lebih jauh ke dalam dunia nya yang sendu. Kemudian penikmat karyanya akan bertanya-tanya mengapa ia murung, apa yang membuat ia diam mematung.
āKekosongan seperti inilah yang menarik buat saya.ā Tutupnya.
artikel ini dimuat di Koran Sindo edisi 07-11-2015