A Beauty Standard
Lagi-lagi; Ada yang menarik perhatianku.
ketika seseorang menilai, mengkritisi, dan memaklumkan pemahaman mereka tentang; "Kurang cantik apa sih dia; kok bisa sih pria itu nikahnya sama perempuan macem gitu". Atau ada lagi gini, "Si perempuan ini cantik banget loh. Wajahnya juga berkelas gtu. Kok malah ditinggalin? Kok malah nikahin perempuan yang bahkan dari wajahnya aja beda kelas".
Menurutku, ini miris banget sih.
Seseorang dengan enaknya menetapkan standar untuk orang lain; Yang padahal, kita sendiri masih banyak gak taunya tentang orang-orang yang dibanding-bandingkan itu.
Aku teringat dengan perkataan seorang kakak yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Jerman; "Cantik itu relatif kok. Dan definisi cantik menurut pria pun beragam jenisnya kok. Gak melulu dari fisik; Maybe bisa dari skill dia, public speaking dia, keibuan, kelembutan dia, kerajinan dia, atau hal-hal lain yang memang menjadi ciri khas dia yang gak dimiliki orang lain. Sama 1 lagi, Perempuan itu gak dipilih bukan karena dia gak cantik, tapi ya karna dia bukan selera pria itu aja. Kamu cantik, dengan dirimu sendiri, dan setiap manusia itu diciptakan memiliki ciri khas atau kelebihan yang tidak ada dalam diri orang lain".
Sedikit; tapi ngena banget emang.
Btw kita boleh mengkritisi seseorang, tapi dear, ingat, bahwa berkelas atau tidak itu tidak dilihat dari elok tidaknya wajah seseorang. But, menurutku bisa dianggap berkelas itu ketika seseorang pandai menjaga lidah dan sikapnya.
Aku tidak pernah menyalahkan seseorang dalam mengkritik, tapi dear, siapa kita berani mengkritik seperti itu? Sedang wajah, fisik, dan semua yang ada dalam diri kita ini sudah diciptakan sedemikian rupa oleh Tuhan kita.
So, menyalahkan, membandingkan, menghakimi, mengkritisi, artinya sama saja seperti menghinakan Dia. Naudzubillah 🍂
@dianlestari17











