RUMAH INDAH MERTUA
Sudah enam tahun aku bertahan di rumah ini. Rumah orang tuamu.
Yang awalnya terasa asing, perlahan menjadi biasa. Yang awalnya serba canggung, perlahan berubah menjadi keseharian.
Kadang aku berpikir, mungkin aku menantu yang paling tidak tahu diri. Paling banyak merepotkan. Paling sering membuat lelah orang tuamu.
Tapi ada satu hal yang mungkin tidak semua orang tahu: aku juga sedang mati-matian bertahan.
Bertahan karena memilihmu. Bertahan karena percaya bahwa setiap perjuangan yang kita jalani hari ini akan menemukan jalannya sendiri suatu saat nanti.
Tidak mudah hidup di rumah yang bukan rumahku sejak lahir. Tidak semua yang ingin kulakukan bisa kulakukan. Tidak semua yang ingin kukatakan bisa kukatakan.
Begitu juga orang tuamu. Aku tahu mereka pun pasti banyak mengalah.
Yang membuat semuanya terasa berat adalah karena sering kali tidak ada pihak yang benar-benar salah. Orang tuamu sudah berusaha menerima. Aku juga berusaha menyesuaikan diri. Namun hidup bersama tetap membutuhkan banyak kompromi yang diam-diam menguras tenaga.
Apalagi ketika masih berbagi dapur yang sama. Berbagi ruang yang sama. Berbagi kebiasaan yang berbeda-beda.
Ada hari-hari ketika selera makanku berantakan. Ada hari-hari ketika aku ingin memasak sesuatu, tetapi mengurungkannya. Ada hari-hari ketika aku hanya ingin diam tanpa harus menjelaskan apa pun.
Dan semakin ke sini, aku mulai menyadari bahwa kenyamanan terkadang hadir saat rumah sedang sepi. Saat hanya ada aku dan anak-anak.
Aku bisa memasak sesuka hati. Makan kapan saja. Menyusun rumah dengan caraku sendiri. Menjalani hari tanpa banyak rasa sungkan.
Bukan karena aku tidak menyayangi mereka. Bukan karena aku tidak bersyukur.
Justru karena aku bersyukur, aku bisa bertahan selama ini.
Namun ada satu hal yang jarang kuucapkan: aku tidak sedang ingin pergi, aku hanya rindu memiliki ruang yang bisa kuatur tanpa merasa sungkan.
Ruang tempat aku bisa menjadi diriku sendiri sepenuhnya. Ruang tempat anak-anak tumbuh dengan cerita-cera kecil kami sendiri. Ruang yang tidak membuatku merasa harus terus-menerus menyesuaikan diri.
Mungkin terdengar egois. Mungkin terdengar tidak tahu diri.
Tapi setelah enam tahun, aku belajar bahwa rasa syukur dan rasa lelah bisa tinggal di hati yang sama. Rasa sayang dan keinginan untuk memiliki ruang sendiri bisa tumbuh bersamaan.
Dan jika suatu hari nanti kita memiliki rumah kita sendiri, yang paling kuingat dari masa-masa ini bukanlah betapa sulitnya aku bertahan.
Melainkan betapa kerasnya kita semua berusaha saling memahami, meski sering kali sama-sama lelah. πΏ
















