Antara Syukur dan Dada yang Sesak
Alhamdulillah, sekarang hari-hari tidak lagi sepi dan panjang. Sudah ada banyak kegiatan yang mengisi waktu, mengasah pikiran, meski belum juga ada deretan angka tetap yang menghias buku rekening. Rasanya seperti sedang mempersiapkan panggung, tapi lampunya belum sepenuhnya dinyalakan.
Lalu, datanglah ujian yang lain—bukan untukku secara langsung, tetapi untuk rasa kemanusiaan yang kita punya. Ketika banjir bandang menyapu Padang, aku justru berada di Pasaman Barat. Qaddarullah walhamdulillah, kami selamat, tak tersentuh sedikit pun oleh lumpur dan air yang menghancurkan itu. Itu adalah kemurahan-Nya yang begitu nyata, sebuah perlindungan yang tak ternilai.
Tapi, di balik rasa syukur yang besar, ada sesuatu yang mengendap dan menyesak di dada. Sebuah kenyataan pahit: kami selamat, tapi kami juga tak berdaya. Ketika sahabat-sahabat di sana berjuang, kehilangan, dan mencoba bertahan, aku hanya bisa terdiam dari jauh. Membaca setiap kabar, melihat setiap foto, dengan hati yang teriris. Ingin sekali tangan ini sampai untuk membantu mengangkut barang, membersihkan lumpur, atau sekadar memberikan pelukan. Ingin sekali dompet ini bisa berbicara, mengirimkan sedikit bantuan untuk sebungkus nasi atau sebotol air.
Tapi tidak. Tenaga? Jarak memisahkan. Materi? Keadaan sendiri masih tersandar pada kemurahan hati orang lain. Rasanya seperti mendapat tiket untuk naik sekoci penyelamat, tapi harus meninggalkan orang-orang di kapal yang tenggelam. "Selamatlah kamu, tapi kamu tidak bisa menyelamatkan."
Ah, sudah lah. Dua kata itu sering kali menjadi penutup bagi gejolak yang terlalu berat untuk diungkap, bagi beban yang kita tahu belum mampu kita pikul. Bukan berarti lari, tetapi sekadar mengambil napas sejenak dari rasa bersalah yang sebenarnya tidak perlu ada.
Mungkin ini adalah pelajaran lain tentang makna "membantu" yang lebih luas. Bahwa ada kalanya bantuan yang bisa kita berikan tidak berbentuk fisik atau materi, tapi doa yang tulus dari sepenuh hati. Sebuah pesan, "Aku di sini, aku ingat, aku peduli." Sebuah upaya untuk tidak menyebarkan kepanikan, tetapi menyebarkan informasi yang valid. Atau bahkan, sekadar menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang bisa kita jangkau.
Allah memindahkan kita ke tempat yang aman bukan tanpa alasan. Mungkin untuk suatu saat nanti, ketika kaki sudah lebih kuat berdiri, tangan sudah lebih lapang terbuka, kita akan dikembalikan ke medan yang lain dengan kemampuan yang lebih siap. Atau, mungkin kita ditempatkan di posisi ini untuk belajar mengikis ego, bahwa kita bukan pahlawan yang bisa menyelesaikan semua masalah. Kadang, kita hanyalah makhluk yang sama-sama lemah, yang hanya bisa saling menguatkan dengan doa dan perhatian.
Sekali lagi, aku kembali pada tali yang sama: husnuzon. Berprasangka baik bahwa Allah tidak hanya melindungi jasmani, tetapi juga menjaga hati. Bahwa rasa sesak ini adalah bukti bahwa hati ini masih hidup, masih berempati. Itu sudah sebuah kebaikan. Dari sini, kita mulai lagi. Dengan doa yang lebih khusyuk, dengan ikhtiar yang lebih keras, agar kelak bukan hanya hati yang sampai, tetapi tangan ini pun bisa benar-benar menyentuh dan membantu.
Ya Allah, kuatkan mereka yang terdampak. Lapangkan hati kami yang merasa tak berdaya. Dan berilah kami kesempatan untuk menjadi manfaat, kapan pun dan dalam bentuk apa pun yang Engkau kehendaki.
Pasaman Barat, 3 Desember 2025












