Sebuah rencana dari Semesta
Suatu ketika disebuah sudut Taman Kota Kuningan, terlihat sesosok wanita turun dari angkutan perkotaan, dengan paduan sempurna antara sepatu Converse, celana Jeans, dan kemeja flanel yang ia kenakan. Ia berjalan menuju sebuah kedai kopi, tangannya menghimpit beberapa buah buku.
Aku menatapnya dengan jeli, sepertinya ia bukanlah orang asing di hidupku. Aku mengenalinya dari cara ia berjalan, raut wajahnya yang khas dengan mata yang tidak terlalu sipit.
Aku mengingat-ingat kembali wajah-wajah orang yang pernah aku kenal sebelumnya. "Ah, sialan." Aku teringat kepadanya (lagi). Wanita itu mirip sekali dengan mantan kekasihku. Bertahun-tahun lamanya aku bersusah payah untuk melupa, pindah dari satu kota ke kota lain. Berharap aku bisa menghapus jejak-jejak kenangan yang begitu pahit tentangnya.
Kini aku bertemu kembali dengannya. Entah bagaimana semesta mengatur semua ini. Sebuah pertemuan yang tak pernah aku inginkan, kehadirannya yang tak pernah lagi aku dambakan.
Dari sebuah kedai kopi, ia menoleh keluar ke-arahku. Sepertinya ia menyadari bahwa sedari tadi aku terus memperhatikannya. Ia bergegas berjalan keluar menghampiriku, aku memalingkan pandanganku kearah lain.
"Permisi, Mas." ucapnya dengan nada santun.
Aku terdiam, aku hanya menoleh kearahnya.
Ia melohok, memandangku dengan terheran-heran. Seraya berkata "Ra? Ini kamu?"
"Iya. Hai apa kabar?" tanyaku canggung.
"Aku baik-baik aja, kok." jawabnya lirih.
Dari sorot matanya, ia masih tak percaya bahwa seseorang yang berdiri tepat di hadapannya adalah aku.
"Kamu apa kabar, Ra?" Tanyanya, seraya memelukku.
"Kelihatannya?" Tukasku sembari melepaskan pelukannya.
Aku hanya terdiam kaku. Padahal ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi bibir ini kelu. Ku sulut kembali sebatang rokok seraya menghela nafas.
3 tahun berlalu, bukan waktu yang mudah bagiku untuk melupakannya. Bersusah payah aku untuk mencoba tak lagi mengingatnya, berbagai cara telah aku lakukan untuk menghapus semua kenangan tentangnya. Bertahun lamanya aku tertatih sendiri, berjalan dengan bayangan-bayangan luka darinya. Bukan waktu yang cepat untuk menyembuhkan sebuah luka yang tak terkira sakitnya.
Kau pergi meninggalkan jejak-jejak luka yang tidak serta-merta akan sembuh dengan sendirinya. Memilih pamit dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal, dengan dalih bahwa aku keras kepala, bahwa aku banyak kurangnya.
Selang beberapa waktu, kau menggandeng tangan orang lain. Dengan mudahnya kau berpaling kepada hati yang lain. Secepat itukah kau mampu melupakanku? Atau mungkin ini alasan yang sebenarnya kau memilih pergi?. Aku yang sedang berada dititik tertinggi dalam mencintai tiba-tiba kau jatuhkan ke titik paling terdalam, kau hempaskan aku dengan begitu mudah, lalu berlalu seolah tak terjadi apa-apa.
Pada bagian ini seolah kau yang merasa paling tersakiti, padahal jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda kau akan tahu siapa yang berada pada posisi paling hancur hatinya, paling tersakiti perasaannya.