Disini, aku tak begitu banyak menanam ekspektasi. Seperti kelas menulis yang sudah-sudah, ku harap hanya mendapat masukan yang membangun agar bisa memperbaiki diri. Sesi feedback adalah yang paling ku tunggu, karena aku sangat antusias mendengarkan komentar orang lain mengenai tulisanku, terutama dari mentor kak rizky yang sudah jauh sangat berpengalaman di dunia yang cukup baru bagiku.
Tapi, tak ku sangka yang ku dapatkan lebih dari itu. Benar, kata orang-orang, jangan pernah berharap dan berekspektasi tinggi pada manusia. Kembali meluruskan niat, menulis karena Allah, hanya Allah, untuk Allah, Allah lagi, dan Allah terus. Dan benar saja, barang siapa yang melakukan segala hal karena-Nya, maka akan diganti dengan sesuatu yang tak dapat disangka-sangka.
Aku tidak hanya mendapatkan ilmu, masukan perbaikan, dan apresiasi. Tapi juga solidaritas dan dukungan, serta reminder dari guardian setiap hari. Hal itu yang membuat berbeda dari kelas-kelas menulis lainnya. Dimana hubungan untuk berjuang bersama-sama penulis lainnya ditumbuhkan dan dirawat dengan telaten. Aku seperti mendapatkan keluarga baru, yang berjuang bersama dan menyambutku di dunia yang benar-benar baru bagiku.
Jumlah anggota di setiap kelompoknya sangat sedikit, bahkan bisa dihitung jari. Tapi siapa sangka, itulah yang menjadi kekuatan dalam kelas ini. Dapat mengenal satu sama lain, memberi semangat dengan tulus, dan berpacu untuk tidak mau kalah dalam perjuangan menulis ini. Walau kadang terseok dengan deadline setoran tugas setiap hari, tapi karena sudah adanya jalinan hubungan satu sama lain, seperti mengikat janji yang tak terlihat, hal itu yang bisa menggerakkan untuk sampai di titik ini.
Lagi-lagi, ini memang akhir dari kelas menulis 30 day writing class, tapi bukan akhir dari perjalanan di dunia kepenulisan. Begitu kelas ini benar-benar selesai, aku sadar harus lebih mandiri dan bertanggung jawab lagi, menuliskan pesan-pesan cinta-Nya dengan konsistensi diri setiap hari.
Terima kasih banyak, atas segala penyambutan dan perlakuan baik selama ini, kakak-kakak tim 30dwc . Walau awalnya sangat asing untuk membuka diri, tapi 30 hari tak terasa membuat seperti rumah sendiri.
Special thanks untuk kak azis sebagai guardian squad 2 yang selalu berbaik hati mengingatkan. Terima kasih untuk selalu ada dan terus "memaksa" tetap menulis pantang menyerah. Kehadirannya setiap hari sudah seperti rentenir yang menagih tulisan. Sangat berkesan sekali kak 😂✌
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Banyak hal baru yang terjadi karena kedatangannya yang tiba-tiba.
Seperti ada dan tiada keberadaannya.
Ingin mempercayainya, tapi ragu saat melihat orang-orang sekita seolah tak peduli kehadirannya.
Sampai pada satu waktu, orang terdekat terkena dampaknya.
---
Vivi, adik bungsu yang tengah belajar di salah satu pondok pesantren, Ngawi. Dia menjadi korban akibat keganasan penyakit ini yang mewabah dengan cepatnya.
Akhir pekan, seperti pagi biasanya aku selalu memulai dengan uring-uringan. Hari minggu selalu menjadi pelampiasan setelah pusing berhari-hari di tempat kerja. Hari yang menjadi ajang refreshing diri dengan sederet kegiatan hobi. Di saat mata sedang setengah terbuka, melirik malas ke arah jam dinding, pukul 06.00 pagi. Tiba-tiba ponsel berdering hebta, memecah kehenigan di pagi hari. Layar ponsel bertuliskan, Ibu.
Dahiku mengernyit, tumben sekali ibu menelpon sepagi ini. Tak sempat pikiran liarku bergerilya, jariku sudah mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum,” ucapku segera. Tapi tak ada jawaban, hening, dan terdengar samar suara sesenggukan menahan tangis dari sebrang.
“Bu?” Panggilku memastikan. Aku menghela nafas panjang, menyiapkan diri atas segala berita yang tak mengenakkan.
“Bu?” Panggilku lagi, karena tak kunjung ada suara.
“Kak, adikmu Vivi kayaknya kena corona.” Nafasku tertahan tanpa sadar. Degup jantung semakin kencang. Fakta yang hanya ku lihat di berita kini terpampang nyata di depan mata. Hening kembali. Aku tak berani bertanya lebih lanjut lagi.
Masih terdengar isak tangis yang semakin menjadi-jadi. Waktu berlalu, lima menit terasa sangat lama. Akhirnya ibu memberanikan diri, dengan suara bergetar dia menjelaskan, “cirinya-cirinya sama persis loh ,Kak, dengan penyakit corona. Barusan dia mengabari, sudah hilang penciuman dan pengecap rasa berhari-hari. Makan terasa hambar, gak bisa nyium bau apa-apa. Badannya lemas, pusing, demam. Katanya disana ada ratusan yang terjangkit. Mereka diasingkan di satu gedung, dipisahkan dari yang lain. Ibu kasihan, gak tega bagaimana nasib dia gak ada yang ngurusin.”
Aku menghela nafas semakin berat. Jika membahas adik bungsu, ibu selalu sedih, dan itu membuatku sedih. Tapi aku juga sedih untuk adikku, tak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menyarankan obat herbal, multivitamin yang bisa dikonsumsi selain obat pemberian dokter. Setelah berbicara kurang lebih setengah jam, akhirnya ibu sudah merasa sedikit membaik. Karena sejatinya yang dia butuhkan bukan kata-kata penguat, hanya saja tempat yang tulus untuk bisa mendengarkan segala keluh kesah dan kesedihannya.
Kini, setelah dirawat selama 15 hari, diisolasi bersama yang lain, akhirnya adikku sudah sehat kembali. Sudah bisa beraktivitas seperti santri lainnya, dan terakhir menelpon, suaranya terdengar lebih bertenaga.
Dari cerita singkat ini, aku hanya ingin berpesan untuk kita semua termasuk diriku, betapa kesahatan itu penting. Dulu, walaupun aku tak percaya corona itu ada, tapi tetap mentaati protokol kesahatan. Kini, setelah mengetahui dengan sadar bahwa corona benar-benar ada, aku semakin memperketat diri dengan segala aturan. Tidak boleh lengah sedikitpun. Menjaga imun tubuh agar tetap sehat stabil dengan berolahraga, makan makanan sehat, tidur cukup, dan minum apa saja yang bisa meningkatkan imun. Multivitamin atau obat herbal seperti habbatussauda bisa dirutinkan meminumnya setiap hari.
Untuk kamu yang tengah berjuang di masa pandemi ini.
Untuk kamu yang bingung dan bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir?
Untuk kamu yang masih sulit memahami jalan takdir Tuhan yang diberi.
Untuk kamu yang tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi masalah yang tiba-tiba terjadi, menyerang berbagai sisi secara bersamaan.
Aku hanya ingin bilang, “terima kasih ya untuk memilih tetap bertahan. Walaupun sangat ingin menyerah, tapi kamu tetap terseok dan memaksakan diri untuk tidak mundur. Karena aku tahu, sangat sulit menerima kenyataan yang datang tiba-tiba seperti ini. Tapi, jangan pernah meragukan bahwa apa yang digariskan oleh Tuhan pasti selalu menyimpan hikmah di baliknya.”
Dulu, aku pun pernah melakukan kesalahan. Sama seperti yang lain, membuat keputusan yang salah walau sudah dipikirkan masak-masak. Aku pernah terjatuh dalam kegelapan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Kehabisan nafas, sesak, dan buta mencari keluar. Tak bisa berbuat banyak, yang berakhir dengan rasa frustasi dan berujung menyalahkan takdir.
Aku pernah dalam pilihan yang sulit, seperti kebanyakan siswa yang baru lulus: bingung menentukan pilihan selanjutnya karena terlalu banyak hal yang diinginkan. Menuruti permintaan orangtua, mengikuti bakat yang belum jelas titik cerahnya, atau menjalani hidup dalam keahlian yang tak terlalu digemari.
Aku juga pernah berada dalam kegalauan. Setelah lama berada di perantauan, aku ingin sekali pulang, menetap di kampung halaman. Tapi, pekerjaan disana tak begitu menjanjikan. Kegundahan ingin sekali menemani orangtua di masa tua, membuatku memaksa diri untuk nekat kembali tanpa komitmen dan planning yang belum pasti.
Lalu, aku pun pernah berada di fase kufur nikmat. Dari segala hal yang telah Tuhan berikan, aku masih menuntut hal lain yang sulit untuk dipaksakan. Ketika tempat kerja sudah nyaman, karyawannya yang ramah dan bersahabat, lingkungan yang aman, ritme kerja yang bisa diatur sesuka hati, pendapatan yang sangat mencukupi, aku masih menuntut rekan kerja yang bisa memahami.
Kini, dari segala lika-liku ujian kelas yang sudah terlewati menjadikanku sedikit lebih dewasa. Sekarang aku bisa lebih memahami, hikmah apa yang sebenarnya ingin Tuhan sampaikan padaku yang sudah berjalan sejauh ini.
Jika ditarik satu garis benang merah, semua ujian yang Dia berikan memberikan satu kesimpulan, Tuhan sedang ingin membuatku lebih dewasa lagi. Perjalanan 10 tahun di perantauan belum cukup menjadikanku pribadi yang matang. Aku sekarang menyadari, betapa bodohnya dulu dalam membuat keputusan dan cepat sekali menyimpulkan segala sesuatu. Padahal, sejatinya mempercayai takdir Tuhan dengan sangat yakin adalah cara sederhana untuk survive dalam hidup ini.
Aku pernah kecewa tidak masuk perguruan tinggi negeri favorit, salah satu impian yang sangat ingin ku raih. Tapi, kini aku sudah mengerti alasan mengapa Dia tidak mengabulkan permintaanku itu. Jika aku tidak kuliah di tempat yang sekarang, mungkin aku tidak pernah menjadi sedekat ini dengan-Nya. Dikelilingi orang-orang yang baik, selalu mengingatkan dalam kebaikan dan keburukan, bersahabat dengan iman, cinta kasih, tanpa ada kepalsuan, menjadi individu yang lebih membaur, dan lebih menikmati waktu-waktu yang terlewati dengan limpahan rasa syukur. Mungkin, jika aku disana, aku tak akan pernah merasakan itu semua. Sesuatu yang sederhana tapi sangat berharga untuk menjaga ikatan cinta dengan-Nya.
Aku pernah salah dan gegabah dalam mengambil keputusan. Menyesal sedalam-dalamnya, memikirkan hal-hal yang belum terjadi terasa nyata, padahal yang utama bagi orangtua adalah kebahagiaan anaknya. Ibuku pernah berkata, “Ibu kasihan melihat kamu di rumah tidak melakukan ‘apa-apa’, Nak.” Aku terdiam lama setelah mendengarnya. Bahagia mereka adalah bahagiaku, pun, bahagiaku adalah bahagia mereka. Jika aku tak bahagia dengan tak melakukan apa-apa, untuk apa aku bertahan dalam keputusan yang salah ini? Dari keputusan yang salah mengajarkanku untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan tidak mudah menarik kesimpulan, terlebih jika mengutamakan hati dari pada akal sehat, yang ada nantinya kesalahan yang sama akan terulang kembali.
Ada satu hal lagi yang baru-baru ini ku pelajari: untuk memahami sesuatu terkadang kita harus terlibat langsung di kondisi itu. Aku tadi mengatakan bahwa rekan kerjaku kurang memahami. Setelah dipikir-pikir, kenyataanya akulah yang terlalu menuntutnya untuk menjadi manusia sempurna.
Beberapa hari yang lalu, aku akhirnya memahami mengapa sikapnya terkadang tidak bisa terkendali, terutama saat pekerjaan yang menumpuk dan sederet projek yang harus segera diselesaikan. Dulu, aku pikir, apa susahnya tersenyum, menerima dengan lapang dada hal itu. Toh, bermuka masam tak mengubah segalanya menajdi lebih mudah. Setidaknya tersenyum tidak akan memperkeruh suasana kerja.
Tapi, setelah aku berada di posisinya, bekerja seorang diri (karena dia cuti dalam waktu lama) mengatur segala hal, aku dapat memahami dirinya. Betapa pusingnya dia meng-handle segalanya sendiri, dan aku hanya terima beres perintahnya. Sedangkan dia harus mengatur apa yang harus diselesaikan lebih dulu, mengirim email pada atasan, membuat janji dengan yang lain, menyiapkan dokumen, dan banyak hal lainnya. Aku menjadi lebih mawas diri setelah kembalinya dia.
Jadi, sebenarnya aku hanya ingin bilang:
Jika sekarang kamu belum bisa melihat hikmahnya, belum bisa memahami takdirnya, maka bersabarlah. Karena tak ada hal yang lebih indah dari mengetahui hikmahnya setelah penantian dengan sabar.
JIka tidak sekarang, mungkin esok, atau lusa. Atau mungkin, satu, dua bulan lagi, bahkan memakan bertahun-tahun untuk kamu dapat memahami pelajarannya. Tidak ada yang bisa mempercepat datangnya pemahaman hikmah selain merenungi dengan sabar. So, semangat untuk kita dalam mencari hikmah dari pelajaran-pelajaran yang Tuhan selipkan di setiap momen kehidupan kita.
Semua orang pernah merasa takut, yang membedakan pemberani dan pengecut adalah berani menghadapinya atau kabur menghindarinya -med.
Setiap pergantian tahun, aku selalu mengalami fase rasa takut yang hampir sama: takut akan mengambil keputusan untuk masa depan, karena trauma mengambil keputusan yang salah di masa lalu. Bayangan masa depan dari berbagai banyak pilihan yang terbentang seakan menghantui dari berbagai sisi.
Kini, aku (lagi-lagi) tengah di persimpangan jalan. Kegalauan menuju umur 25 semakin kuat. Pelbagai pilihan jalan hidup seakan memanggil jiwa, ingin sekali di pilih untuk memasuki tahap hidup selanjutnya. Terus berjuang di karir yang sama, atau berpindah memulai karir impian orangtua, pegawai negeri sipil.
Jika ingin melanjutkan kuliah, apakah terus di jurusan yang sama dengan ikut program extand atau mulai dari nol lagi. Atau bahkan, sekalian saja mulai dari nol dengan jurusan yang lebih diminati.
Menikah? Tentu saja tuntutan itu sudah mulai terdengar nyata, bahkan orangtua kini tak hanya sekedar memberi kode, tapi secara terang-terangan menyuruh, "udah, duluan aja nikahnya. Gak usah nungguin kakakmu." Dan aku, hanya bisa tersenyum kecut, mencoba menutup mulut agar tidak timbul konflik yang baru.
Passion? Di zaman sekarang, sedang booming bukan, bekerja sesuai passion adalah pekerjaan paling enak sedunia, ibarat hobi yang dibayar. Tapi setelah berpikir lebih jauh, tak semudah itu memulainya. Atau, aku saja yang sebenarnya hanya beralibi begitu, karena sebenarnya takut memulai dan gagal.
Aku sudah terlalu banyak melewatkan kesempatan, membuang waktu, dan menyia-nyiakan umur. Jika saja sedari dulu aku sudah mulai merintis hobi yang dibayar, mungkin aku tidak terpenjara menjadi budak koorperat. Ah, lagi-lagi ujung-ujungnya berandai-andai. Dasar aku!
Jika terus begini, sama saja aku membuat lingkaran setan itu sendiri. Jika dipikir-pikir, menurunkan sedikit standar kesuksesan di bidang passion tidak ada salahnya. Memulai berkarya satu persatu, konsisten setiap hari memperbanyak portofolio, bukankah itu akan membuahkan hasil nantinya?
Dibandingkan dengan mengeluh, takut, galau, tapi tak ada aksi perubahan sama sekali. Mungkin itu sebabnya aku mengalami fase rasa takut yang sama bertahun-tahun. Aku selalu mengalaminya dan seperti tak beranjak, tetap berada di titik yang sama, karena aku memang tak pernah melakukan apa-apa. Semua hanya ada dalam pikiran. Ketakutan yang hanya redup beberapa saat, lalu timbul kembali. Ketakutan yang tak pernah dihadapi dan dilawan dengan berani. Ketakutan yang sering kali ku abaikan lalu datang lagi.
Sekarang aku menjadi paham. Bukan hanya sekedar berani menghadapi rasa takut, tapi juga berjuang untuk mengobatinya agar tak datang lagi dengan kasus yang masih sama. Mungkin itu sebabnya, dia kunjung datang berulang kali, menghantui diri sampai ke alam mimpi, karena dia masih tersakiti, tak kunjung diobati, malah aku tak sadar diri dan justru menghindari.
Jadi mulai detik ini, di momen awal tahun yang tepat ini, aku ingin memperbaiki rasa takut itu dengan berani. Agar lain kali, saat dia datang berkunjung lagi, bukan ketakutan untuk mengambil keputusan di masa depan lagi. Aku ingin menjadi lebih maju lagi, mendewasakan diri dengan rasa takut yang tak sama lagi untuk lain kali.
Di satu waktu, ada seorang pejalan kaki yang tengah memperhatikan kendaraan melintas di depannya, memandang takzim, penuh harap ingin menjadi salah satu pemiliknya. Kakinya yang kuat dan kokoh menjadi tempatnya bergantung, membawa dirinya kesana kemari karena hanya itu yang dimiliki.
Di lain sisi, ada seseorang yang tengah memandang langit dari balik kaca hitam. Dirinya sangat ingin naik pesawat, terbang kesana kemari, dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Betapa menyenangkannya bukan? Tanpa ada kemacetan, tanpa ada bunyi bising klakson dan pengamen jalanan.
Di detik yang sama, ada orang yang tengah memandang syahdu dari balik jendela burung besi, menilik ke bawah sana, memperhatikan lalu lintas, berharap dapat berjalan santai sambil menikmati udara segar. Tapi, segera tatapannya berganti sendu, saat menyadari kedua kakinya yang tak bisa berbuat banyak di atas kursi roda. Dirinya disibukkan menjalani pengobatan kesana-kemari. Betapa uangnya yang banyak menjadi tak bernilai karena tak bisa mendatangkan kebahagiaan yang dia inginkan.
---
Jika dianalogikan seperti itu, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa rasa ingin tidak akan pernah habis. Selalu ada keinginan lain setelah satu keinginan terpenuhi. Tak pernah puas dan tak pernah ada habisnya. Ingin menjadi seperti ini, itu, yang jika dituruti tanpa diiringi rasa syukur pada keadaan yang sekarang, akan membawa perjalanan yang tak pernah bertemu ujungnya.
selalu ada kekurangan jika memandang orang lain, tapi selalu cukup jika mau bersyukur.
Hiduplah di masa sekarang, dengan kesadaran penuh akan kenyataan. Bersyukur terlebih dahulu atas segala yang dipunya, lalu jadikan apa-apa yang ada di atas menjadi pelecut untuk menjadikan diri lebih baik. Jangan memadangan ke atas jika belum sepenuhnya sadar posisi diri dan memandang ke bawah. Karena sekali memang ke atas tanpa melakukan itu, maka kita akan lupa dimana tempat kita berpijak seharusnya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Alunan melodi klasik menggema di telinga. Lembut, indah, dan merdu berpadu harmoni menenangkan jiwa yang tengah kelabu. Seolah menjadi pengantar memasuki dunia sendiri, yang haus karena kekosongan diri. Redup cahaya menemani, tanpa gangguan luar yang mengusik lebih jauh lagi.
Aku termenung lama, meresapi lebih dalam suara indah ini. Entah mengapa, getaran hebat dari dalam membuat ingin menitikkan air mata. Pikiranku berjalan jauh ke belakang, mengingat langkah demi langkah yang sudah aku lakukan beberapa waktu ini. Rasa bahagia yang tak semestinya, rasa bersalah yang merajalela.
Denting piano itu semakin kuat, memainkan nada sendu yang semakin menyayat rasa. Pertarungan batin dan akal lagi-lagi terjadi, setelah sekian lama redam dan kini hilang kendali. Aliran panas menjalari tempurung kepala diiringi sedikit rasa sakit yang semakin nyata.
Tak seharusnya kamu pulang dan mengabaikan semua tugasmu! Sudah ku peringatkan untuk tidak meninggalkan tempatmu dan tetap disini, menyelesaikan semua yang sudah kamu mulai.
-Tapi aku sudah lelah dan kemarin sekali dalam setahun, aku benar-benar ingin pulang. Bukan sekedar ingin, tapi harus.
Untuk apa? Tak banyak yang bisa kau dapatkan di rumah. Semua yang tetap sama, orang-orang dan keadaan rumah yang tak bisa membantumu menyelesaikan tugas agar cepat selesai, yang hanya akan membebani pikiranmu saja.
-Aku butuh pulang. Bukan untuk diriku, tapi untuk kembali mengingat impian yang sudah mulai terlupakan. Bukan untuk meminta bantuan mereka, tapi dengan menelusuri kembali jejak alasan aku berada disini, aku harap menemukan alasan itu lagi. Alasan mengapa aku harus dan sudah berjalan sejauh ini.
Kamu lihat sekarang, semua tugasmu terbengkalai. Pikiranmu terpecah belah, dan kau tak lagi bisa membedakan yang mana prioritas dan tidak. Kamu sangat paham, pemulihanmu dari perjalanan panjang tak bisa memakan sehari untuk kembali normal. Butuh berhari-hari, bahkan bisa seminggu untuk kembali pada ritme sebelumnya.
-Tapi aku bisa mempercepat prosesnya.
Mana buktinya? Sekarang saja ku lihat kamu seperti ini menangis.
-Ini bukan air mata penyesalan. Ini adalah air mata bahagia, yang ku dapat dari kepulangan kemarin. Aku sangat bahagia, sampai-sampai mendengarkan melodi instrumen membangunkan rasa kemarin yang baru saja aku dapatkan.
Lalu, kenapa kamu merasa kepalamu seperti ingin pecah?
-Izinkan aku berprilaku normal sebagaimana manusia lainnya. Apakah aku tidak boleh sakit kepala jika dilanda setumpuk tugas yang tidak ku ketahui deadlinenya? Apakah aku tidak boleh menangis jika mendengarkan melodi yang mengingatkanku tentang jatuh bangun perjalananku untuk sampai di titik ini? Apakah aku tidak boleh mengeluh sekali saja, walau hanya dengan diriku sendiri?
Akal terdiam. Seperti kalah dari perdebatan. Akal yang selalu merasa mendewakan dirinya, tersadar bahwa dia hanyalah bagian dari manusia, yang harus bersinergi dengan batin. JIka memaksakan, maka akan menjerumuskan manusia ke jurang keegoisan.
Seperti itulah ku menghabiskan sisa malam, dalam perjalanan menuju deadline. Berkutat pada pikiran sendiri, sembari memperhatikan apa yang tengah terjadi dalam diri.
Orang-orang di sekitar menganggap diriku kreatif. Kemampuan bisa menggambar, melukis, sketch, lettering, membuat berbagai jenis kerajinan tangan, memanfaatkan barang tak berguna untuk menyulapnya menjadi benda yang indah. Kesukaanku merombak kamar juga tak kalah sering dikaitkan dengan pujian, “ih, kreatif banget sih kamu!”. Padahal, kenyataannya aku tak pernah merasa begitu. Aku tidak sekreatif itu.
Menurut KBBI, kreatif adalah pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi; memiliki kemampuan untuk menciptakan. Menilik dan mengkorelasikan apa yang bisa aku lakukan dengan istilah tersebut, arti itu menjadi hal yang wajar dan “biasa”.
Mengapa? Karena menurutku, semua orang itu kreatif. Mereka kreatif dengan caranya sendiri, Seorang ibu kreatif dalam menciptakan masak dan rasa yang unik. Seorang ayah kreatif dalam menciptakan mainan atau sekedar mengarang cerita (mendongeng) untuk anak-anaknya. Semua orang mempunyai kemampuan imajinasi dengan jalan masing-masing.
Bohong jika kamu berpikir dirimu tidak kreatif sama sekali. Mungkin standar kreatifmu terlalu tinggi, terlalu menyimpang dari yang semestinya. Pendapatmu dalam mencari jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan masalah adalah salah satu proses kreativitas. Kemampuanmu berimajinasi memikirkan konsekuensi dari segala tindakan juga proses kreativitas. Jika kamu bisa merias wajah, atau sekedar merawat diri, berati kamu juga kreatif! Untukmu yang bisa bermimpi di saat tidur, kamu pun bisa dibilang kreatif. Karena tidak semua orang bisa bermimpi dan berimajinasi dalam lelapnya.
Jadi, aku hanya ingin mengatakan sekali lagi, semua orang itu kreatif dengan caranya masing-masing. Berhenti mengkaitkan standar kreatif hanya dengan melihat kemampuan menggambar, handmade, atau sejenisnya. Karena untuk menyebut orang kreatif tidak setinggi itu, kok, standarnya.
So, don’t insecure and let’s be more creative on your own way!
Aku ingin sepertinya, yang menjulang tinggi dan tak ada yang tahu dimana ujungnya.
Jika memandangnya, aku selalu bertanya-tanya, mengapa dia bisa begitu tegar sekaligus menenangkan?
Aku ingin menggapainya, tapi seketika sadar diri bahwa keberadaannya saja sudah cukup. Memandang dan menyadarinya selalu ada dari kejauhan bahkan sudah lebih dari cukup.
Jika melihat betapa cantik dan berkilaunya, aku ingin sekali menjadi dirinya. Tak ada satupun yang mampu menyaingi keindahannya yang memanjakan mata.
Tapi, ia tak selalu menjanjikan keindahan. Terkadang air mata dan gemuruh marah tampak di wajahnya. Hidupnya pun keras, tak mengenal siang dan malam. Selalu membersamai bulan dan mentari, dari pagi hingga esok lagi.
Semua makhluk sama pada hakikatnya, tak ada yang sempurna, begitupun dengan langit yang selalu membuatku terpesona. Sebagai makhluk dengan ketidaksempurnaannya, di balik tangisnya dia selalu menjanjikan kesuburan. Di balik amarahnya, dia menghapus kekeringan. Di balik kilaunya, dia menjanjikan jalan terang. Bahkan, dibalik kegelapan, dia menjanjikan tidur yang tenang.
Siapalah diri ini yang berandai menjadi langit, padahal manusia adalah makhluk paling sempurna diantara ciptaan-Nya. Jika langit saja bisa menyambut kekurangannya dengan menjadikan kekuatan, mana mungkin manusia tidak bisa?
Berkaca dari langit, mungkin di balik kemiskinan ada kemudahan di hari perhitungan. Di balik penyakit yang diderita, ada dosa yang tengah berguguran karenanya. Di balik penderitaan, ada pahala yang dijanjikan jika bersabar. Dan di balik kesusahan, ada Tuhan yang selalu siap menanti doa hambanya untuk memberi kemudahan.
Tak ada yang sempurna jika selalu memandang satu sisi semata. Selalu mengingatkan diri bahwa koin memiliki dua mata sisi, begitupun kita harus memandang kehidupan yang hanya menjadi tempat singgah ini.
Caelum- yang berarti langit. Diambil dari bahasa latin.
Kotak pandora- suatu istilah yang hadir di kalangan masyarakat, merujuk pada kotak kutukan. Konon katanya, menurut kisah mitologi kuno, Pandora membuka sebuah kotak terlarang yang membuatnya penasaran. Setelah dibuka, ternyata benar saja, kotak itu berisi banyak hal terlarang karena dipenuhi keburukan, kutukan, aib, dan berbagai masalah tak terduga. Oleh sebab itu disebut kotak pandora, untuk mengenang kejadian tersebut.
Menurut sebagian masyarakat, tahun 2020 adalah kotak pandora. Jauh hari sebelum kedatangannya sudah ditunggu-tunggu karena angka cantik yang disematkan padanya. Semua orang berharap dapat memiliki lebih banyak hal di tahun ini, menebus kesalahan-kesalahan sebelumnya, dan melanjutkan segala yang tertunda.
Tapi apalah daya, takdir Tuhan tak pernah ada yang mengira. Tahun yang digadang sebagai tahun perubahan besar, ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Perubahan besar yang tak pernah diharapkan, dampak covid 19 yang tak pernah mereda dan menghilang. Tahun yang merubah harapan menjadi keputusasaan, kekayaan menjadi kemiskinan, kemajuan menjadi kemunduran, kejayaan menjadi keruntuhan, dan kemenangan menjadi kegagalan.
Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih pada tahun 2020. Tahun yang mengajarkan banyak hal baru, dengan kondisi yang tak menentu. Tahun yang membuatku selangkah lebih dewasa, berani, sabar, dan bertanggung jawab dari sebelumnya. Tahun dengan banyak pengalaman untuk berkecimpung langsung pada hal-hal yang ku sukai. Tahun yang membuatku untuk berpikir dan merenung lebih banyak lagi, mengurangi keputusan spontanitas yang berujung sesat.
Tahun ini, aku tak pernah menyesal telah melaluinya. Walau berbarengan dengan kasus pandemi, tapi aku bisa belajar banyak hal dan tak mengurangi ruang gerak sama sekali. Tak lupa pula, tahun ini mengajarkan semua orang, terutama diri sendiri untuk lebih perhatian dengan kebersihan, kesehatan, dan pola makan. Betapa kesehatan itu mahal harganya, dan penyakit tak kenal usia. Covid yang tak kasat mata, membuat diri menjadi lebih waspada.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku berpikir lama, memutar kembali potongan-potongan adegan dan perasaan yang terjadi hari ini. Bingung, kesal, sedih, kecewa, dan juga marah bersatu padu tadi siang. Kenyataan yang tak sesuai harapan membuatku hampir putus asa. Hampir mengakhiri semuanya, tapi setitik cahaya iman kembali mengingatkan.
"Ayo luruskan kembali niatnya, berharap hanya pada Allah. Jika memang semua yang terjadi tak sesuai harapan, yakinkan diri kembali bahwa Allah punya rencana yang lebih baik. Pasti." Dan, disinilah aku tengah terkagum-kagum, setelah mengikuti segala rencana yang sudah Dia atur.
Awalnya aku berencana ingin pulang lebih cepat. Semua jalan sudah ku coba, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Akhirnya aku tetap pulang seperti biasa, lalu bergegas menuju terminal bus, mengejar pemberangkatan sesegera mungkin. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.
Lalu, masalah lainnya muncul. Pertama, aku tidak membawa tanda pengenal resmi, baik ktp maupun sim. Kedua, aku ingin sekali menyaksikan sunrise dari dek kapal. Tapi, aku tidak tahu apakah di pelabuhan bisa menginap atau tidak untuk pemberangkatan pagi, sedangkan diriku tiba jauh sebelum dini hari. Dan ketiga, aku perempuan. Keselamatan adalah prioritas utama, sedangkan aku seorang diri di tempat asing yang jarang ku kunjungi saat malam hari.
Tapi, Maha Sempurna Allah atas segala rencana-Nya. Aku dipertemukan dengan orang baik melalui campur tangan-Nya. Bahkan yang aku terima sungguh benar-benar melampaui perkiraan. Maha Baik Allah kepada hamba-Nya.
Ketiga persoalan yang menyergapku di satu waktu secara bersamaan, langsung Allah berikan jalan keluar sekaligus. Tidak satu persatu, tapi dalam sekejap semua permasalahan tuntas.
Saat tiba di pelabuhan, atas kehendak-Nya kakiku tergerak untuk menyampiri salah satu petugas. Awalnya bertanya terkait jam keberangkatan kapal yang masih lama, apakah di pelabuhan bisa masuk lebih awal dari jadwal dan menginap di dalam.
"Saya mau liat sunrise, Pak!" ucapku bersemangat mengutarakan alasannya. Petugas itu langsung memboyongku ke posko kemenhub yang tepat di sebelahku.
"Tunggu disini aja, Neng. Gak papa, nanti kalau sudah mau naik, baru masuk ke dalam. Istirahat dulu disini," ujarnya dengan sangat ramah.
"Gak papa, Pak?"
"Iya, gak papa."
"Beneran gak papa, Pak?" Tanya ku masih tak yakin.
"Iya, ini kan fasilitas yang memang disediakan buat menunggu. Kamu bisa istirahat disini. Kalau mau minuman hangat tinggal seduh aja. Kalau mau berbaring, itu sudah disediakan tempatnya," ucapnya sangat meyakinkan.
"Tapi pak, perihal ktp, kalau saya tunjukkan lewat foto saja bagaimana, bisa gak?" Saya bertanya permasalahan lain yang masih sangat mengganjal.
Dia tersenyum tulus, "Udah gak usah dipikirin. Itu mah gampang. Tenang aja, nanti saya bantu." Sambil dirinya menunjuk tanda pengenal petugas yang dijepitkan di saku dadanya.
Aku mengangguk takzim, betapa Maha Kuasa Allah atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi. Tujuh jam yang terasa sangat lama. Bolak balik badan karena tempat tidur yang kurang nyaman. "Apa jadinya kalau gak nginep di posko ini, kondisinya bisa lebih parah lagi," batinku.
Semua berjalan lancar sesuai rencana-Nya. Selang solat subuh, diri ini sudah tak sabar disambut sinarnya mentari. Menit demi menit, ternyata skenario Allah tak mengizinkanku untuk melihatnya.
Awan mendung bernaung memanjang di sepanjang selat sunda. Cahaya jingga malu-malu mengintip dibaliknya. Walau sejatinya kekecewaan tak bisa dibendung, tapi menilik kembali nikmatnya yang luar biasa beberapa jam yang lalu membuatku tak menggerutu terlalu lama. Ini salah satu momen yang tak kalah bagusnya. Maha indah pemandangan yang Allah ciptakan.
Dia telah menahannya, berhari-hari, berbulan-bulan, hingga hampir genap satu tahun, akhirnya bom itu meledak diluar perkiraan. Pikirnya dia baik-baik saja, ternyata dia tidak baik-baik saja. Pikirnya semua akan berlalu sebagaimana mestinya, ternyata itu menumpuk, membekas, sampai sulit dihilangkan jejaknya.
Puncaknya benar-benar kemarin. Di saat semua orang bekerja seperti biasanya, namun dirinya tidak. Entah ada angin apa, tiba-tiba amarahnya meledak tak tertahan. Tidak, dia tidak melampiaskan pada orang-orang di sekitarnya. Tapi dia melampiaskan pada orang terkasihi yang datang di waktu tidak tepat.
Menyesal? Iya, sangat. Sampai egonya benar-benar harus diturunkan. Selang beberapa menit, dia baru tersadar dan memberanikan diri meminta maaf. Beruntungnya, orang yang disakiti tak begitu ambil hati. Lapang dada sekali, sampai dia bilang sudah dimaafkan sejak tadi. Lah?
"Aku sudah tidak sehat. Aku harus segera menyelamatkan diri sebelum tenggelam lebih dalam lagi dan tak tertolong!" Pikirnya masak-masak. Kejenuhan yang bertumpuk sekarang sudah benar-benar lewat jenuh, jauh dari kata baik atau tidak baik. Di ambang batas antara tidak waras dan hampir waras.
Spontanitas, dia memutuskan untuk pulang. Nekat memang, menghabiskan banyak biaya hanya untuk hari libur yang tak seberapa. Tapi mau bagaimana lagi? Ini hanya bisa disembuhkan oleh samputan kampung halaman. Teman-teman di sekitarnya sibuk dengan agenda liburan bersama keluarga masing-masing. Dirinya yang merasa diasingkan untuk kesekian kali, akhirnya menyadari, hanya keluarga sendiri yang dapat menyambutnya dengan suka cita tanpa basa-basi.
Berat memang, perjalanan jauh harus ditempuh. Tapi, demi menjaga kewarasan diri, apapun harus berani dilewati. Semoga berlibur disana adalah keputusan yang tepat. Semoga tidak ada penyesalan karena ekspektasi mungkin tak sesuai kenyataan. Semoga semua akan baik-baik saja, seperti sedia kala.
Kaki ini lemas, membawa tubuh sampai terseok-seok. Pundak tak lagi tegap, seolah kehilangan penopang. Berulang kali nafas berhembus kuat, berharap beban terhempas dengan seiring karbondiosida yang menguap.
Tatapan kosong, pikiran kosong, perut keroncong, tapi berulang kali orang-orang yang hilir mudik meneriakkan omong kosong. "Semangat pagi!", "Kamu pasti bisa!", "Senyum, dong. Semangat!" Semua kalimat yang bersifat membangun seakan membal, beban mental yang tidak bisa ditolong dari luar.
Aku tahu dan sangat paham, kebangkitan ini hanya bisa dibantu oleh diri sendiri. Percuma menerima masukkan, jika hati terkunci rapat. Sia-sia menerima nasihat, jika yang dinasihati tak mencoba membuka diri.
Tidak, ini bukanlah futur, hanya semangat juang yang sedang berkurang. Ternyata, kehadiran seorang patner yang juga sosok sahabat sangat berpengaruh dalam hidupku. Aku pikir semua akan baik-baik saja, seperti sedia kala ada atau tidak ada dirinya. Tapi perkiraanku melesat jauh, seperti siput kehilangan cangkangnya, menjadi rapuh dan terancam bahaya.
Aku harap, waktu cepat berlalu. Besok adalah hari terakhir, tapi aku harus hadapi hari ini lebih dulu. Aku harap, dengan sedikit sisa tetes-tetes rasa tanggung jawab, semua bisa terselesaikan dengan benar.
Percakapan panjang dengan seorang teman, membuatku menarik sebuah kesimpulan: aku tidak bisa berjuang seorang diri. Banyak hal yang bisa dilakukan sendiri selama ini, tapi terkait untuk menjaga iman dan istiqomah, bahkan mengupgradenya ke tingkat lanjut itu butuh dukungan orang lain.
Aku dulu selalu berpikir, memahami islam itu bisa dilakukan sendiri. Menonton kajian di youtube dengan berbagai ustadz. Tapi, untuk materi yang dibahas akan random dan tidak urut, sehingga aku tak tahu apakah sudah melangkah atau masih di tempat yang sama. Mendengarkan materi yang hanya ingin diketahui.
Walau ini adalah keputusan berat, dimana harus meluangkan waktu yang biasa digunakan untuk berleha-leha, kini harus menyisihkan untuk belajar agama. Kewajiban seorang muslim untuk berilmu dalam beramal, membulatkan tekadku lebih kuat.
Aku tahu bagi kebanyakan orang ini sangat terlambat. Sudah bertahun-tahun beribadah karena sekedar kebiasaan dari didikan orangtua, membuat sebagian besar terlena dalam zona nyaman. Tapi, bagiku tidak ada kata terlambat. Dengan izin Allah, semoga aku bisa menyusul dan menjadi selangkah lebih baik setiap harinya aamiin.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Deburan ombak terdengar samar, setelah sekian hari akhirnya air laut kembali tenang. Kawanan burung tengah berpesta sambil bernyanyi riang diatasnya. Lembayung senja menyilaukan mata, kehangatannya menyinari kulit wajah, mengeringkan jejak air mata yang masih tersisa. Semburat cahaya jingga yang mengisi cakrawala, membuatku sedikit terhibur karena keindahannya.
Sudah 100 hari terlewati, tapi rasanya masih sama seperti baru saja terjadi. Sudah hampir menjelang empat purnama, tapi aku masih belum ikhlas merelakan kepergiannya.
Rasanya seperti baru kemarin, aku mengobrol dengannya membahas impian dan gambaran masa depan yang ku inginkan. Rasanya seperti baru kemarin, aku menyaksikan senja bersama dengannya, hangat tangannya ku rasakan dalam genggaman. Berbincang dengannya membuatku sedikit terhibur, setelah sepanjang hari bergelut dengan duka.
Tapi, rasanya seperti baru kemarin pula aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa dirinya benar-benar telah pergi, meninggalkan aku seorang diri. Tanpa sadar, air mata itu kembali lagi, menjadi bukti pilu karena kehilangan orang yang sangat dicintai.
Ruangan ini terasa kosong, hanya suara mesin kulkas berderu kecil yang sesekali terdengar. Terlihat seorang wanita tengah bekerja sendiri, dengan satu kursi tak berpenghuni yang setia menemani.
Bingung dan lesu tampak jelas tercetak di wajahnya. Hari-hari penuh cengkrama bersama temannya kini hilang sementara. Dirinya ditinggal cuti yang menyebabkan harus bekerja seorang diri.
Sunyi semakin mencekam, padahah di luar tidak temaram. Gelisah hati karena sendirian, membuatnya kembali teringat akan seseorang yang masih saja diharapkan. Pemikiran itu mengantarkannya untuk mengetikkan sesuatu di beranda y**t*b*, "nasihat untuk yang masih mengharapkannya."
Beberapa video muncul, dan seperti kebanyakan semuanya tentang lagu dan puisi. Tapi hati ini haus akan hal lain, nasihat agar bisa melupakannya, bukan berkhalwat dengan kegalauan yang tidak memberi manfaat.
Dari sekian banyak pilihan video, ada salah satu judul yang membuatnya tergelitik ingin mendengarkannya: dunia itu remeh, tapi jangan remehkan hisabnya oleh Ustad Oemar Mita. Sebuah judul yang menampar seketika, membuatnya tersadar akan perasaan yang tidak perlu ditanam lebih dalam.
Menit demi menit berlalu, sebuah sudut pandang yang baru disadarinya menamparnya bekali-kali. Begini kurang lebih ringkasan materinya berbunyi:
Adam itu dikeluarkan dari surga hanya karena satu kesalahan. Dia melanggar perintah Allah, memakan buah khuldi. Dia memakannya hanya segigit dan seketika pula Allah marah lalu menghukumnya keluar dari surga. Kalau ditilik kembali, Adam dan Hawa melakukan dosa yang sangat sepele, dan dia pun memakan buah itu hanya segigit, tidak menambah sedikitpun.
Jika Nabi Adam yang memakan segigit buah khuldi itu saja hukumannya diusir dari surga, bagaimana dengan kita yang menganggap remeh dosa-dosa kecil? Itulah mengapa kita tidak boleh meremehkan dosa barang sekecilpun, karena siksa Allah itu sangat pedih. Bahkan, Allah yang Maha Agung menjelaskan bahwa neraka itu siksaannya sangat pedih.
Maka, jangan sekali-kali mengatakan pada diri, "tak apalah mampir ke neraka dulu sebentar, baru masuk ke surga." Jangan sekali-kali menantang Allah dengan meremehkan dosa yang dilakukan. Pun, sebaliknya.
Jangan pula meremehkan amalan baik barang sekecil apapun. Tidak ada yang tahu amalan mana yang dapat menghantarkanmu masuk ke surga atas rahmat Allah. Mungkin karena senyummu pada orang yang kesusahan mampu membuat dirimu masuk ke dalam surga.
Allah yang Maha Indah pun memuji betapa indahnya pemandangan surga. Betapa luar biasanya berati indahnya surga itu.
Analoginya seperti ini, jika ada seorang kuli bangunan mengatakan masakanmu enak, maka omongannya tidak bisa dipercaya. Tapi, jika chef berpengalaman, bahkan skalanya sudah internasional yang mengatakan masakanmu enak, berati sudah pasti enak.
Kenapa bisa begitu? Karena yang mengatakannya adalah orang yang terpercaya, tak perlu di ragukan lagi pernyataannya. Kuli bangunan itu kalau makan yang terpenting asal banyak dan murah, enak atau tidak bukan prioritas yang utama. Tapi jika chef, dia benar-benar melihat dari segala aspek, wawasan dan pengetahuannya menjadi standarnya dalam penilaian.
Maka dari itu, jika Allah sang Maha Indah mengatakan bahwa surga itu sangat indah dengan pendeskripsiannya yang sempurna, tidak akan sampai akal manusia membayangkan betapa sangat indahnya yang dimaksud. Begitupun dengan neraka. Tidak akan terbayangkan betapa pedihnya siksa api neraka, jika Allah yang Maha Perkasa mengatakan bahwa siksa neraka itu pedih.
Seperti disengat listrik, dirinya merinding mengetahui kenyataan yang sudah jelas namun baru dia sadari. Kegalauannya tadi seketika menguap begitu saja. Sebuah kesia-siaan jika hanya memikirkan segala hal yang berkaitan dengan dunia, dunia, dan dunia.
Dia melangkahkan kaki menuju jendela besar di ruangan itu. Memperhatikan keindahan alam sekitar yang diciptakan oleh zat Maha Indah. Betapa hinanya dunia ini di mata orang-orang yang benar-benar orientasinya pada akhirat, kehidupan yang sudah pasti kekal abadi.
Lalu dia melihat ke dalam diri, sudah mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan menuju tempat yang kekal, tapi tetap saja pasang surut dalam ibadah.
Dirinya mulai menyederhanakan prinsip hidup yang selama ini selalu menjadi momok karena terlalu luas dan tinggi. Benar, dunia ini adalah tempat untuk mendapat ridho dan rahmat Allah sebanyak-banyaknya. Jadi yang terpenting, lakukanlah segala hal yang dapat mengundang rahmat dan ridho-Nya dan tinggalkanlah segala hal yang dapat memicu murka juga menjauh dari rahmat-Nya.
Sesimpel itu. Sesederhana itu. Jika pola pikir sudah begitu, maka bukanlah lebih mudah menjalani hidup? Menjadikan surga sebagai tujuan dan neraka sebagai pengingat.
Senyumnya tersungging lebar. Matanya penuh kilau keyakinan dan semangat. Langkahnya kini lebih hidup, seolah menemukan oase di padang pasir, tujuan hidup yang sebenarnya kini telah hadir.